Bromo Itu Seperti Candu


Bromo Itu Seperti Candu

Percayalah, sekali datang ke Gunung Bromo rasanya Anda ingin datang lagi dan lagi. Panorama alam di sana memang sungguh luar biasa indah, dari suasana sunrise sampai tempat yang bernama pasir berbisik. Gunung Bromo jadi bukti salah satu keindahan Indonesia!

Gunung Bromo selalu menjadi destinasi wisata yang menarik minat traveler baik itu turis lokal maupun turis asing. Pesonanya selalu menghipnosis siapa saja yang berkunjung ke sana.

Pukul setengah empat subuh, kami bersiap berangkat menuju Pananjakan untuk menyaksikan sunrise di sana. Jaket tebal, topi kupluk, sarung tangan, kaos kaki sudah melekat di tubuh saya agar badan tetap hangat. Mobil Jeep yang kami sewa telah siap di depan halaman penginapan yang kami tempati untuk 1 malam itu. Setelah semua siap akhirnya kami berangkat.

Untuk sampai ke Pananjakan membutuhkan waktu satu jam saja menggunakan Jeep. Sesampainya di sana hari masih gelap. Sunrise akan muncul kisaran pukul lima lebih sepuluh menit. Sambil menunggu kami bercengkrama menikmati dinginnya udara pegunungan sambil membeli mie instan hangat beserta gorengannya yang dijual oleh penduduk lokal yang membuka warung sangat sederhana di area Pananjakan. Ada juga minuman hangatnya.

Akhirnya yang dinantikan pun tiba. Sunrise nan cantik menyapa kami di pagi hari Minggu itu. Perlahan sinarnya terpancar dan menerangi sehingga terlihat oleh kami pemandangan sekitar yang luar biasa indahnya. Mulai dari Gunung Semeru di ujung sana, Kawah Bromo dan Gunung Batok yang berdiri kokoh nan megahnya.

Kami takjub menyaksikan pesona Bromo yang tak pernah lekang oleh zaman yang semakin kekinian ini. Semua orang telah siap dengan kamera masing-masing. Ada yang menggunakan kamera handphone sampai kamera profesional. Jepret sana jepret sini, seolah tak ingin kehilangan satu momen indah yang jarang kami temukan.

Setelah dari Pananjakan perjalanan berlanjut menuju Kawah Bromo. Jeep kembali melaju melewati jalan pegunungan yang berkelok, sekitar 15 menit kemudian kami tiba. Jeep diparkir di area parkir di mana semua Jeep berkumpul pada satu titik area. Untuk menuju Kawah Bromo, kita bisa menggunakan jasa kuda yang disewakan oleh penduduk lokal atau dengan berjalan kaki.

Tapi kami memutuskan untuk berjalan kaki saja, hitung-hitung olahraga. Cukup melelahkan untuk sampai atas kawah ditambah menaiki tangga yang katanya berjumlah 250 anak tangga. Saya tidak sempat membuktikan dengan menghitungnya, karena berjalan menaikinya saja sudah sangat melelahkan.

Selain pemandangan kawah yang mengepulkan sapanya kerumunan para turis juga menjadi pemandangan menarik. Di pagi yang sudah mulai terik itu mereka termasuk kami rela berdesakan demi untuk melihat Kawah Bromo.

Setelah Kawah Bromo, kami berlanjut ke Pasir berbisik. Di sana kita bisa melihat hamparan yang luas. Dinamakan pasir berbisik karena ketika kita berjalan diatasnya akan menimbulkan suara yang gemerisik seperti sedang berbisik. Spot ini ini juga cocok dijadikan spot untuk berfoto.

Perjalanan kami pun berakhir sudah melihat indahnya semua spot di area Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Akan tetapi kami berniat suatu hari akan mengunjungi surga ini kembali. Karena keindahannya seperti candu yang membuat siapa saja rindu ingin ke sana lagi.

Bromo Itu Seperti Candu | jati | 4.5