MAKALAH KATA SERAPAN


Makalah Kata Serapan – Kata Pengantar Puji syukur
saya ucapkan atas kehadirat Allah SWT, karena dengan rahmat dan karunia-Nya
kami masih diberi kesempatan untuk menyelesaikan makalah ini. Tidak lupa saya
ucapkan kepada dosen pembimbing yang telah memberikan dukungan dalam menyelesaikan
makalah ini.
Kami
menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih banyak kekurangan, oleh sebab
itu kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun. Dan semoga dengan selesainya makalah ini dapat
bermanfaat bagi pembaca. Amin…

MAKALAH KATA SERAPAN

 

 

BAB I

 

  PENDAHULUAN
   A.
Latar
Belakang Masalah
Setiap masyarakat bahasa memiliki tentang cara yang digunakan untuk
mengungkapkan gagasan dan perasaan atau untuk menyebutkan atau mengacu ke benda-benda
di sekitarnya. Hingga pada suatu titik waktu, kata-kata yang dihasilkan melalui
kesepakatan masyarakat itu sendiri umumnya mencukupi keperluan itu, namun
manakala terjadi hubungan dengan masyarakat bahasa lain, sangat mungkin muncul
gagasan, konsep, atau barang baru yang datang dari luar budaya masyarakat itu.
Dengan sendirinya juga diperlukan kata baru. Salah satu cara memenuhi keperluan
itu–yang sering dianggap lebih mudah–adalah mengambil kata yang digunakan
oleh masyarakat luar yang menjadi asal hal ihwal baru itu.
Salah satu bentuk perkembangan bahasa Indonesia adalah
berupa penyerapan kata ke dalam bahasa Indonesia yang berasal dari
bahasa-bahasa asing pemberi pengaruh. Penyerapan kata-kata asing ke dalam
bahasa Indonesia ini melahirkan permasalahan-permasalahan kebahasaan yang dapat
disoroti dari perspektif analogi dan anomali bahasa.
Perdebatan mengenai analogi dan anomali bahasa telah
berlangsung sejak zaman Yunani kuno, dan sampai sekarang masih ada
pendukung-pendukungnya. Pendapat masing-masing pendukung didasarkan pada
kenyataan realita bahasa yang sama-sama akuratnya dan dengan argumen yang sama
kuatnya. Perdebatan ini nampaknya seperti rel kereta api yang tidak memiliki
ujung temu, masing-masing berpijak pada kutub yang berbeda.
Kalaupun perdebatan analogi dan
anomali ini sudah berkembang sejak sekian waktu yang lama namun dalam kenyataan
realita bahasa hal ini masih saja merupakan issu yang relevan dan aktual dengan
perkembangan zaman. Issu analogi dan anomali memang merupakan issu yang
menyangkut tentang perkembangan bahasa. Selagi bahasa masih berkembang, maka
issu analogi and anomali masih selalu menyertainya.
 B.
Tujuan
Penulisan
Tujuan dalam penulisan makalah ini adalah untuk
menambah pengetahuan dan diharapkan bermanfaat bagi kita semua.
 C.
Metode
Penulisan
Penulisan menggunakan
metode observasi dan kepustakaan. Cara-cara lain yang dapat dipergunakan
penulis adalah study pustaka dalam metode ini penulis membaca buku yang
berkaitan dengan penulisan makalah.
          BAB II
KATA
SERAPAN DALAM BAHASA INDONESIA
Bahasa
Indonesia merupakan bahasa asing yang dinamis, yang selalu berkembang dari
waktu ke waktu sesuai dengan tuntutan kebutuhan masyarakat pemakai dan
penuturnya. Salah satu akibat dari sifat dinamis tersebut adalah masuknya
berbagai unsur kebahasaan dari bahasa asing, baik yang berupa afiks (imbuhan,
awalan, akhiran) maupun berupa kata. Inilah yang kemudian dikenal dengan Unsur
Serapan
.
Asal Bahasa
Jumlah Kata
Arab
1.495 kata
Belanda
3.280 kata
Tionghoa
290 kata
Hindi
7 kata
Inggris
1.610 kata
Parsi
63 kata
Portugis
131 kata
Sanskerta-Jawa Kuna
677 kata
Tamil
83 kata
Dalam perkembangannya bahasa
Indonesia mengambil unsur atau kata dari bahasa lain, seperti bahaa daerah atau
bahasa asing. Sudah banyak kosa kata dari bahasa asing dan daerah yang
digunakan dalam bahasa Indonesia. Terlebih dahulu kata-kata itu disesuaikan dengan
kaidah yang berlaku dalam bahasa Indonesia, baik itu dalam hal pengucapan
maupun penulisannya. Kata-kata sepeerti itulah yang dinamakan dengan Kata-Kata
Serapan
.
Bahasa Indonesia adalah bahasa yang terbuka.
Maksudnya ialah bahwa bahasa ini banyak menyerap kata-kata dari bahasa lainnya.
 Proses penyerapan itu dapat
dipertimbangkan jika salah satu syarat dibawah ini terpenuhi, yaitu :
 1.  Istilah serapan yang dipilih cocok konotasinya
 2.  Istilah yang dipilih lebih singkat dibandingkan
dengan terjemahan Indonesianya
 3. Istilah serapan yang dipilih dapat mempermudah
tercapainya kesepakatan jika istilah Indonesia
  terlalu banyak sinonimya
 Kata Serapan Masuk Ke Dalam Bahasa Indonesia
Dengan 4 Cara Yaitu :
1.
Cara
Adopsi
    Terjadi apabila pemakai bahasa mengambil
bentuk dan makna kata asing itu secara
keseluruhan.
Contoh : supermarket, plaza, mall
2.
Cara
Adaptasi
Terjadi apabila pemakai bahasa hanya mengambil
makna kata asing itu, sedangkan ejaan atau penulisannya disesuaikan dengan
ejaan bahasa Indonesia
Contoh :
Pluralization → pluralisasi
Acceptability → akseptabilitas
3.
Penerjemahan
Terjadi apabila pemakai bahasa mengambil konsep
yang terkandung dalam bahasa asing itu, kemudian kata tersebut dicari padanannya
dalam Bahasa Indonesia
Contohnya :
           Overlap
→ tumpang tindih
           Try out → uji coba
4.
Kreasi
Terjadi apabila pemakai bahasa hanya mengambil
konsep dasar yangada dalam bahasa Indonesia. Cara ini mirip dengan cara
penerjemahan, akan tetapi memiliki perbedaan. Cara kreasi tidak menuntut bentuk
fisik yang mirip seperti penerjemahan.
Boleh saja kata yang ada dalam bahasa aslinya
ditulis dalam 2 atau 3 kata, sedangkan bahasa Indonesianya hanya satu kata
saja.
Contoh :
Effective → berhasil guna
           Spare
parts → suku cadang
Selain kata serapan, ternyata bahasa Indonesia
juga memunyai beberapa afiks atau imbuhan serapan. Imbuhan serapan dalam bahasa
Indonesia ditulis serangkai dengan bentuk dasarnya.
Beberapa imbuhan serapan itu antara lain :
1. An -, a –              [= tidak] ; anarki, amoral, anorganik
2. Ab –                    [= dari] ; abrasi, abnormal
3. Tele
–                   [= jauh] ; televisi, telepon
4. Mini
–                  [= kecil] ; miniatur, mini bus
5. Super
–                [= di atas] ; supersonik, super power,
supervisi
6. Uni
–                   [= satu] ; unilateral, universitas
7. Nomo
–               [= satu] ; monoton, monogami, ,monofobia
8. Sub
–                   [= dibawah] : subversi, subsidi, subordinasi
9. Trans
–                 [= seberang, lewat] ; transisi, tranfusi
10. Semi
–               [= setengah, sebagian] ; semiautomatis, semiformal, semifinal.
KATA
SERAPAN SEBAGAI BAGIAN PERKEMBANGAN BAHASA INDONESIA
Soal kata serapan dalam bahasa atau lebih tepatnya antar bahasa adalah
merupakan suatu hal yang lumrah. Setiap kali ada kontak bahasa lewat pemakainya
pasti akan terjadi serap menyerap kata. Unit bahasa dan struktur bahasa itu ada
yang bersifat tertutup dan terbuka bagi pengaruh bahasa lain. Tertutup berarti sulit menerima pengaruh,
terbuka berarti mudah menerima pengaruh.
Bunyi bahasa dan kosa kata pada umumnya merupakan unsur bahasa yang
bersifat terbuka, dengan sendirinya dalam kontak bahasa akan terjadi saling
pengaruh, saling meminjarn atau menyerap unsur asing. Peminjaman ini dilatar
belakangi oleh berbagai hal antara lain kebutuhan, prestise kurang faham
terhadap bahasa sendiri atau berbagai latar belakang yang lain.
Tidak ada dua bahasa yang sama persis apalagi bahasa yang berlainan rumpun.
Dalam proses penyerapan dari bahasa pemberi pengaruh kepada bahasa penerima pengaruh
akan terjadi perubahan-perubahan. Ada proses penyerapan yang terjadi secara
utuh, ada proses penyerapan yang terjadi dengan beberapa penyesuaian baik yang
terjadi dalam bahasa lisan maupun bahasa tulis. Dalam penyesuaian itu akan
terjadi, pergeseran baik dalam ucapan maupun ejaan antar bahasa pemberi dan
penerima pengaruh maupun pergeseran sistematis.
Bahasa Indonesia dari awal pertumbuhannya sampai sekarang telah banyak
menyerap unsur-unsur asing terutarna dalam hal kosa kata. Bahasa asing yang memberi
pengaruh kosa kata dalam bahasa Indonesia antara lain : bahasa Sansekerta,
bahasa Belanda, bahasa Arab dan bahasa Inggris. Masuknya unsur-unsur asing ini
secara historis juga sejalan dengan kontak budaya antara bangsa Indonesia
dengan bangsa-bangsa pemberi pengaruh. Unsur-unsur asing ini telah menambah
sejumlah besar kata ke dalam bahasa Indonesia sehingga bahasa Indonesia
mengalami perkembangan sesuai dengan tuntutan zaman. Dan sejalan dengan
perkembangan itu muncullah masalah-masalah kebahasaan. Ada kosa kata yang
diserap secara utuh tanpa mengalami perubahan dan penyesuaian. Dan ada kosa
kata yang diserap dengan mengalami penyesuaian-penyesuaian. Kata-kata serapan
ini ternyata tidak lepas dari permasalahan analogi dan anomali bahasa yang
secara khusus akan diuraikan dalam bab berikut.
 BAB III
PERSPEKTIF
ANALOGI DAN ANOMALI
KATA SERAP-AN DALAM BAHASA INDONESIA
Analogi adalah keteraturan bahasa dan anomali adalah penyimpangan atau
ketidak teraturan bahasa. Di dalam bab III ini akan dilihat perspektif analogi
dan anomali di dalam kata-kata serapan bahasa Indonesia. Di depan telah
dikemukakan bahwa kata serapan adalah merupakan bagian perkembangan bahasa
Indonesia, sebagaimana telah kita pahami bahwa dimana ada perkembangan pasti
selalu disertai dengan issu analogi dan anomali.
A.    PERSPEKTIF ANALOGI
Analogi adalah keteraturan bahasa, suatu satuan bahasa dapat dikatakan
analogis apabila satuan tersebut sesuai atau tidak menyimpang dengan
konvensi-konvensi yang telah berlaku.
Pembicaraan mengenai kata serapan apabila bertujuan untuk mengetahui
perubahan-perubahan atau penyesuaian-penyesuaian yang terjadi tentu dilakukan
dengan memperbandingkan antara bahasa pemberi pengaruh dengan bahasa penerima
pengaruh. Untuk membicarakan kata serapan ke dalam bahasa Indonesia tentu
dilakukan dengan memperbandingkan kata-kata sebelum masuk ke dalam bahasa
Indonesia dan setelah masuk ke dalam bahasa Indonesia.
Akan tetapi dalam pembicaraan kata serapan yang dikaitkan dengan analogi
bahasa justru dilakukan dengan memperbandingkan unsur-unsur intern bahasa
penerima pengaruh itu sendiri. Artinya suatu kata serapan perlu dilihat aslinya
hanya sekedar untuk mengetahui bahwa kata tersebut benar-benar kata serapan,
tanpa harus mengetahui bagaimana proses perubahan atau penyesuaian yang
terjadi, yang lebih proporsional perlu dilihat adalah bagaimana keadaan setelah
masuk ke dalam bahasa Indonesia, kemudian diperbandingkan dengan
konvensi-konvensi yang lazim yang berlaku sekarang ini. Karena analogi
berbicara mengenai keteraturan bahasa yang berkaitan dengan konvensi bahasa,
tentu saja disini lebih banyak berkaitan dengan kaidah-kaidah bahasa, bisa
dalam bentuk sistem fonologi, sistem ejaan atau struktur bahasa.
1.1 Analogi
Dalam Sistem Fonologi
Banyak sekali kata-kata serapan ke dalam bahasa Indonesia yang tenyata
telah sesuai dengan sistem fonologi dalam bahasa Indonesia baik melalui proses
penyesuaian atau tanpa melalui proses penyesuaian. Di antara kata-kata tersebut
misalnya :
Aksi – action
(Inggris)
Dansa – dance
(Inggris)
Derajat – darrajat
(Arab)
Ekologi – ecology
(Inggris)
Fajar – fajr
(Arab)
Galaksi – galaxy
(Inggris)
Hikmah – hikmat
(Arab)
Insan – insan (Arab)
Fonem-fonem /a/, /b/, /d/, /e/, /f/, /g/, /h/, /i/, /k/, /l/, /m/, /n/,
/0/, /r/, /s/, dan /t/ yang digunakan dalam kata-kata sebagaimana tersebut di
atas adalah fonem-fonem yang sesuai dengan sistem fonologi dalam bahasa
Indonesia, dengan demikian termasuk pada kriteria yang analogis, artinya yang
sesuai dengan fonem yang lazim dalam bahasa Indonesia. Tentu contoh-contoh
tersebut masih merupakan sebagian fonem dalam bahasa Indonesia selain
fonem-fonem tersebut tentu juga masih ada fonem-fonem yang lain yang lazim
dalam sistem fonologi dalam bahasa Indonesia yaitu : /c/, /j/, /p/, /q/, /v/,
/w/, /x/, /y/, /z/, /kh/, /sy/, /u/ dan /a/.
Apabila dikaitkan dengan kenyataan historis ternyata ada kenyataan yang
menarik untuk dicermati yaitu misal fonem /kh/ dan /sy/ kedua fonem ini diakui
sebagai fonem lazim dalam sistem fonologi bahasa Indonesia (Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan, 1994:15). Namun apabila diselidiki lebih teliti
secara historis, ternyata kedua fonem ini bukan fonem asli Indonesia, ini bisa
dibuktikan bahwa semua kata-kata yang menggunakan fonem /kh/ dan /sy/ masih
bisa dilacak aslinya berasal dari bahasa Arab.
Kalau kedua fonem /kh/ dan /sy/ ini bukan asli Indonesia tentu saja pada
awal munculnya dalam bahasa Indonesia bisa dianggap sebagai gejala penyimpangan
atau gejala yang anomalis, tetapi setelah demikian lama berlangsung serta
dengan frekuensi kemunculan yang cukup tinggi, lama-kelamaan akan dianggap
sebagai gejala yang wajar, tidak lagi dianggap gejala penyimpangan dengan
demikian dapat dikatakan sebagi gejala yang analogis.
Dari kenyataan historis ini memperlihatkan bahwa ada suatu peristiwa
perubahan-perubahan dimana suatu gejala bahasa yang pada awalnya kemungkinan
dianggap anomalis, setelah berlangsung terus menerus dengan frekuensi yang
tinggi maka hal yang dianggap anomalis tersebut bisa berubah kondisinya
sehingga dianggap analogis. Fonem-fonem yang lain yang juga merupakan fonem
serapan- serapan lain adalah : /f /, /q/, /v/, dan /x/.
1.2 Analogi Dalam Sistem Ejaan
Sistem ejaan adalah hal yang berhubungan dengan pembakuan. tentu saja
pembicaraan mengenai analogi bahasa disini disandarkan pada ejaan yang berlaku
sekarang yaitu ejaan bahasa Indonesia yang disempurnakan. Mengenai hal ini ada pembicaraan
yang khusus yaitu tentang penulisan unsur serapan (Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan, 1994:38).
Menurut taraf integrasinya unsur pinjaman ke dalam bahasa lndonesia dapat
dibagi ke dalam dua golongan besar. Pertama unsur pinjaman yang belum sepenuhnya
terserap ke dalam bahasa Indonesia .seperti kata : reshuffle, shuttle cock.
Unsur-unsur seperti ini dipakai dalam konteks bahasa Indonesia tetapi penulisan
dan pengucapannya masih :mengikuti cara asing. Kedua unsur pinjaman yang
pengucapan dan tulisannya telah disesuaikan dengan kaidah bahasa Indonesia
(Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1994:38).
Tentu saja yang termasuk kriteria analogi bahasa adalah kategori kedua
yaitu unsur serapan yang telah disesuaikan dengan kaidah bahasa Indonesia baik
dalam pengucapan maupun dalam penulisan. Di dalam Pedoman Ejaan Bahasa
Indonesia yang Disempurnakan telah tersusun kaidah ejaan yang berlaku bagi
unsur serapan. Contohnya :
Kaustik – caustic
Sentral – central
Akomodasi –
accomodation
aksen – accent
kolera – cholera
efek – effect
Contoh-contoh di atas hanya merupakan sebagian kecil dari contoh yang telah
dikemukakan dalam pedoman tersebut, dan untuk selengkapnya bisa dilihat
langsung dari pedoman yang telah ada yang ternyata aturan-aturannya tidak cukup
mudah dihafal, karena meliputi seperangkat aturan berjumlah 56 point.
PERSPEKTIF
ANOMALI
Anomali adalah penyimpangan atau ketidak teraturan bahasa. Suatu satuan
dapat dikatakan anomalis apabila satuan tersebut tidak sesuai atau menyimpang
dengan konvensi-konvensi yang berlaku.
Metode yang digunakan untuk menentukan anomali bahasa pada kata-kata
serapan dalam bahasa Indonesia disini adalah sama dengan metode yang digunakan
untuk menetapkan analogi bahasa yaitu dengan memperbandingkan unsur intern dari
bahasa penerima pengaruh, suatu kata yang tampak sebagai kata serapan
dibandingkan atau dilihat dengan kaidah yang berlaku dalam bahasa Indonesia.
Apabila kata tersebut ternyata tidak menunjukkan kesesuaian dengan kaidah yang
berlaku berarti kata tersebut masuk kata yang anomalis. Sama seperti pada kata
yang analogis, kata-kata yang anomalis juga bisa dalam bentuk fonologi, ejaan
maupun struktur.
2.1 Anomali Dalam Sistem Fonologi
Kata-kata asing yang diserap ke dalam bahasa
Indonesia secara utuh tanpa mengalami perubahan penulisan memiliki kemungkinan
untuk dibaca bagaimana aslinya, sehingga menyebabkan timbulnya anomali dalam
Fonologi.
Contoh-contoh anomali dalam fonologi antara lain adalah :

Indonesia aslinya

Export export
Expose expose
Exodus exodus
2.2 Anomali Dalam Sistem Ejaan
Semua kata-kata yang asing yang masih
diserap secara utuh tanpa melalui penyesuaian dengan kaidah di dalam penulisan,
pada umumnya merupakan kata-kata yang anomalis di dalam bahasa Indonesia.
Contoh kata-kata
tersebut antara lain adalah :
Bank – bank (Inggris)
Intern – intern (Inggris)
Modem – modem (Inggris)
qur’an – qur’an (Arab)
jum’at – jum’at (Arab)
fardhu – fardhu (Arab)
Kata-kata
seperti tersebut di atas temasuk anomali bahasa karena tidak sesuai dengan
kaidah di dalam bahasa Indonesia. Hal-hal yang tidak sesuai disini adalah :
<nk>, <m>, <‘> dan <dh>. Ejaan-ejaan ini tidak sesuai
dengan ejaan dalam bahasa Indonesia.
Kadang-kadang
juga ditemukan kata-kata asing yang diserap kedalam bahasa Indonesia dan
ditulis sebagaimana aslinya, akan tetapi untuk muncul sebagai gejala anomalis
karena secara kebetulan kata-kata tersebut tidak rnenyimpang dengan kaidah
dalam bahasa Indonesia.
Contoh kata-kata ini antara lain adalah :
Indonesia
aslinya
era era (Inggris)
label label (Inggris)
formal formal (Inggris)
edit edit (Inggris)
 
2.3 Anomali Dalam Struktur
Karena pembicaraan kita adalah tentang kata
maka yang dimaksud disini adalah juga struktur tentang kata. Kata adakalanya
terdiri dari satu morfem, tetapi adakalanya tersusun dari dua morfem atau
lebih.
Kata-kata asing yang diserap ke dalam bahasa
Indonesia adalah kata-kata sebagai satu satuan utuh baik terdiri dari satu morfem,
dua morfem atau lebih.
Misalnya :

Indonesia aslinya

federalisme federalism (Inggris)
bilingual bilingual (Inggris)
dedikasi dedication (Inggris)
edukasi education (Inggris)
eksploitasi exploitation (Inggris)
Kata-kata seperti
tersebut dalam contoh, proses penyerapannya dilakukan secara utuh sebagaii satu
satuan. Jadi kata “Federalisme” tidak diserap secara terpisah yaitu
“Federal” dan “isme”. Kata “bilingual” tidak diserap
“bi”, “lingua” dan “aI”. Kata dedikasi tidak
diserap dari “dedicate” dan “tion” demikian seterusnya kata
“edukasi” tidak diserap dari “educate” dan
“tion”.
Kata serapan dari bahasa Inggris yang aslinya berakhir dengan
“tion” yang diserap ke dalam bahasa Indonesia dengan mengalami penyesuaian
sehingga berubah menjadi “si” diakhir kata berlangsung dengan
frekwensi sangat tinggi. kenyataan ini melahirkan masalah kebahasaan yaitu
munculnya akhiran sasi yang melekat pada kata-kata yang tidak berasal dari
bahasa Inggris sehingga timbul kata-kata seperti :
Islamisasi – islam + sasi
kristenisasi – kristen + sasi
neonisasi – neon + sasi
polarisasi – pola + sasi
jawanisasi – jawa + sasi
Proses pembentukan
seperti ini dalam linguistik lazim disebut “anologi” (bedakan istilah
analogi dalam linguistik dengan istilah dalam filsafat bahasa). Penggunaan
istilah anologis ini memang wajar karena maksudnya adalah menggunakan bentuk
yang sesuai dengan bentuk yang telah ada. artinya penggunaan struktur neonisasi
didasar kata pada kata: mekanisasi dan sejenisnya yang telah ada.
Akan tetapi apabila kita bandingkan dengan
kaidah gramatikal khususnya yang berkaitan dengan struktur morfologi kata,
sebenanya akhiran (sasi) di dalam bahasa Indonesia tidak ada. Dengan demikian
hal ini termasuk gejala anomali bahasa. Namun masalah selanjutnya adalah
tinggal masalah pengakuan dari para pakar yang memiliki legalitas di dalam
bahasa. Apakah akhiran (sasi) ini dianggap resmi atau tidak di dalam bahasa
Indonesia, kalau dianggap tidak resmi berarti akhiran (sasi) ini benar murupakan
gejala anomali. Tetapi kalau akhiran (sasi) inii sudah bisa diterima sebagai
akhiran yang lazim dalam bahasa Indonesia maka Ada perubahan dari anomali
menjadi anologi.
Kasus seperti ini tidak hanya terjadi pada
proses penyerapan dari bahasa Inggris, tetapi ternyata terjadi juga pada bahasa
Arab, yaitu adanya akhiran (i), (wi), (ni). Pada awalnya akhiran ini memang
melekat langsung pada kosa kata bahasa Arab yang diserap secara utuh ke dalam
bahasa ldonesia. Kata kata seperti :
Indonesia aslinya
msanl msanl
duniawi dunyawi
ruhani ruhani
Diserap secara utuh dari bahasa Arab,
akhirnya akhiran (i), (wi) dan (ni) ini digunakan di dalam bahasa Indonesia,
dilekatkan pada kata-kata yang tidak berasal dari bahasa Arab, seperti :
aslinya
gerejani gereja + ni
ragawi raga + wi
Kasus akhiran (ni) dan (wi) dalam bahasa
Indonesia ini sama seperti kasus akhiran (sasi) hanya saja berbeda dari sudut
frekwensinya yakni frekwensi akhiran (wi) dan (ni) lebih jarang dibandingkan
dengan akhiran (sasi).
  
BAB IV
KESIMPULAN DAN
SARAN
KESIMPULAN
 Analogi dan
anomali bahasa terjadi di dalam bahasa Indonesia dan secara khusus terjadi di
dalam kata-kata serapan ke dalam bahasa Indonesia.
Suatu gejala bahasa pada awalnya bisa
dianggap anomali, namun setelah berlangsung terus menerus dengan frekwensi yang
tinggi bisa berubah menjadi analogi. Suatu gejala bahasa apakah termasuk ke
dalam kriteria analogi atau anomali sebenarnya tergantung pada keberteriman
masyarakat terutama mereka yang memiliki legalitas tentang bahasa. Penyimpangan
bahasa dari konvensi dengan frekwensi yang kecil cenderung dikatakan sebagai
gejala yang anomalis.
SARAN
Bahasa
Indonesia tidak akan tetap terjaga apabila tidak diadakan pusat bahasa dan
balai bahasa serta tempat pelatihan dan pengajaran tentang tata bahasa. Maka
pembelajaran bahasa disetiap sekolah-sekolah pada setiap jenjang pendidikan
nyata diperlukan karena akan membantu memlihara kesucian dan keaslian bahasa,
agar selalu tehindar dari kontaminasi budaya bahasa asing.
   KATA PENUTUP
Demikianlah hasil dari makalah
yang telah saya buat dalam rangka memperdalam wawasan tentang kata serapan
dalam bahasa indonesia. Semoga dengan terbentuknya makalah ini, saya dapat
memberikan pengetahuan yang luas kepada semua orang yang membacanya. saya juga
berharap bahwa dengan terbentuknya makalah ini, semua orang yang membutuhkan
bahan-bahan yang terkait dengan kata serapan dalam bahasa indonesia menjadi
tertolong dan tidak kesulitan dalam mencari bahan-bahan yang dibutuhkan.
Semoga apa yang tertulis di
dalam makalah ini selalu abadi dan memberikan berkah yang tiada hentinya dalam
kehidupan kita bersama
Terima kasih atas segala
terbentuknya makalah ini. Semoga dapat bermanfaat bagi pembacanya.amin…
   DAFTAR PUSTAKA
Darmawati, Uti. 2009. Detik Detik Ujian
Nasional Bahasa Indonesia. Klaten: PT Intan Prawira

Taufik, Imam. 2007.
Kompeten Berbahasa Indonesia. Jakarta: Erlangga

Advertsiment
MAKALAH KATA SERAPAN | jati | 4.5