MAKALAH LANDASAN YURIDIS


Makalah Landasan Yuridis – Kata Pengantar Assalamualaikum. Wr. Wb
Segala puji dan syukur
saya panjatkan kepada Allah SWT karena atas berberkat dan limpahan rahmatnya
maka saya bisa menyelesaikan sebuah makalah dengan tepat waktunya.
berikut ini penulis
mempersembahkan sebuah makalah yang berjudul Landasan Yuridis, Filsafat, Ilmu
dan Teori Pendukung pendidikan Nonformal yang dapat memberikan manfaat besar
bagi kita untuk mempelajari Pendidikan Nonformal.
Penulis meminta maaf
dan mohon pemaklumannya bila mana isi makalah ini ada kekurangan dan ada
tulisan yang saya buat kurang tepat atau menyinggung perasaan pembaca.
Dengan ini saya
mempersembahkan makalah ini dengan penuh rasa terimakasih dan semoga Allah SWT
memberkahi makalah ini sehingga dapat memberikan manfaat bagi pembaca dan kita
semua..amien

MAKALAH LANDASAN YURIDIS

 

BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Kesulitan Dan tantangan dalam
kehidupan manusia baik yang diakibatkan oleh lingkungan maupun alam yang kurang
bersahabat, sering memaksa manusia untuk mencari cara yang memungkinkan mereka
untuk keluar dari kesulitan yang dialaminya. Masih banyaknya warga yang tidak
melanjutkan pendidikan ke taraf yang memungkinkan mereka menggeluti profesi
tertentu, menuntut upaya-upaya untuk membantu mereka dalam mewujudkan potensi
yang dimilikinya agar dapat bermanfaat bagi pembangunan bangsa.
Sejauh ini, anggran yang berkaitan dengan pendidikan mereka masih terbatas,
sehingga berbagai upaya untuk dapat terus mendorong keterlibatan masyarakat
dalam membangun pendidikan terus dilakukan oleh pemerintah. Hal ini dimaksudkan
agar makin tumbuh kesadaran akan pentingnya pendidikan dan mendorong masyarakat
untuk terus berpartisipasi aktif di dalamnya.
Bertitik tolak dari permasalahan yang
dihadapi, pendidikan luar sekolah berusaha mencari jawaban dengan menelusuri
pola-pola pendidikan yang ada, seperti pesantren, dan pendidikan keagamaan
lainnya yang keberadaannya sudah jauh sebelum Indonesia merdeka, bertahan hidup
sampai sekarang dan dicintai, dihargai dan diminati serta berakar dalam
masyarakat.
Kelanggengan lembaga-lembaga
tersebut karena tumbuh dan berkembang, dibiayai dan dikelola oleh dan untuk
kepentingan masyarakat. Di sisi lain, masyarakat merasakan adanya kebermaknaan
dari program-program belajar yang disajikan bagi kehidupannya, karena
pendidikan yang diselenggarakan sesuai dengan kebutuhan dan kondisi nyata
masyarakat.
Dalam hubungan ini pendidikan
termasuk pendidikan nonformal yang berbasis kepentingan masyarakat lainnya, perlu
mencermati hal tersebut, agar keberadaannya dapat diterima dan dikembangkan
sejalan dengan tuntutan masyarakat berkaitan dengan kepentingan hidup mereka
dalam mengisi upaya pembangunan di masyarakatnya.Ini berarti bahwa pendidikan
nonformal perlu menjadikan masyarakat sebagai sumber atau rujukan dalam
penyelenggaaraan program pendidikannya.
Hasil kajian Tim reformasi
pendidikan dalam konteks Otonomi daerah (Fasli Jalal, Dedi Supriadi. 2001)
dapat disimpulkan bahwa apabila pendidikan luar sekolah (pendidikan nonformal)
ingin melayani, dicintai, dan dicari masyarakat, maka mereka harus berani
meniru apa yang baik dari apa yang tumbuh di masyarakat dan kemudian diperkaya
dengan sentuhan-sentuhan yang sistematis dengan ilmu pengetahuan dan teknologi
yang sesuai dengan lingkungan masyarakatnya. Strategi itulah yang perlu terus
dikembangkan dan dilaksanakan oleh pendidikan luar sekolah dalam membantu
menyediakan pendidikan bagi masyarakat yang karena berbagai hal tidak terlayani
oleh jalur formal/sekolah.
Bagi masyarakat yang tidak mampu,
apa yang mereka pikirkan adalah bagaimana hidup hari ini, karena itu mereka
belajar untuk kehidupan; mereka tidak mau belajar hanya untuk belajar, untuk
itu masyarakat perlu didorong untuk mengembangkannya melalui Pendidikan nonformal
berbasis masyarakat, yakni pendidikan nonformal dari, oleh dan untuk kepentingan
masyarakat.
Pendidikan
Nonformal merupakan jalur pendidikan diluar pendidikan formal untuk melayani
kebutuhan pendidikan masyarakat dalam rangka menigkatkan
pendidikan,keterampilan,sikap dan nilai yang dilaksanakan secara berjenjang dan
berstruktur dengan sistem yang luwes, fungsional dan mengembangkan kecakapan
hidup untuk belajar sepanjang hayat.
Pendidikan
nonformal meliputi pendidikan kecakapan hiduf,pendidikan anak usia
dini,pendidikan pemberdayaan perempuan, pendidikan kepemudaan,pendidikan
keaksaraan,pendidikan keterampilan dan pelatihan kerja,pendidikan kesetaraan,
serta pendidikan lain yang ditujukan untuk mengembagkan kemampuan peserta
didik.
Dari apa
yang telah diuraikan dapatlah ditarik beberapa kesimpulan berkaitan dengan
Pendidikan Nonformal berbasis Masyarakat sebagai berikut :
• Pendidikan berbasis masyarakat merupakan upaya untuk lebih melibatkan
masyarakat dalam upaya-upaya membangun pendidikan untuk kepentingan masyarakat
dalam menjalankan perannya dalam kehidupan.
• Pendidikan nonformal berbasis masyarakat merupakan suatu upaya untuk
menjadikan pendidikan nonformal lebih berperan dalam upaya membangun masyarakat
dalam berbagai bidangnya, pelibatan masyarakat dalam pendidikan nonformal dapat
makin meningkatkan peran pendidikan yang dapat secara langsung dirasakan oleh
masyarakat.
• Untuk mencapai hal tersebut pemberdayaan masyarakat melalui pengelolaan
pendidikan nonformal menjadi suatu keharusan, dalam hubungan ini diperlukan
tentang pemehaman kondisi masyarakat khususnya di desa berkaitan dengan hal-hal
yang dibutuhkan dalam rangka meningkatkan kualitas hidupnya, serta turut
bertanggungjawab dalam upaya terus mengembangkan pendidikan yang berbasis
masyarakat, khususnya masyarakat desa.
B.
Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan
makalah ini untuk menambah ilmu pengetahuan penulis dalam bidang  landasan Yuridis, filsafat, ilmu dan teori
pendukung pendidikan nonformal dan agar bisa memahami lebih baik lagi tentang
pendidikan nonformal.
C.
Rumusan Masalah
disini akan membahas yang mempunyai
hubungan erat dengan pendidikan nonformal;
       
tentang
Pancasila

 

  •  Undang-undang
    Dasar 1945
  • Garis
    Besar Haluan Negara
  • Filsafat
    Pendidikan
  •  Teori-teori
    Pendikan
  • dan
    sebagainya


 BAB II
Landasan Yuridis,
Filsafat, Ilmu dan Teori Pendukung
PENDIDIKAN NONFORMAL
Pendidikan
nonformal didukung oleh ketentuan yuridis, filsafat ilmu-ilmu dan teori-teori
yang relevan dengan subsistem pendidikan ini. Pendidikan nonformal, selain
bersumber pada kaidah-kaidah agama dan adat istiadat serta tradisi didasari
pula oleh filsafat pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, Garis-Garis Besar
Haluan Negara, Undang-Undang Tentang Sistem Pendidikan Nasional, dan Peraturan
Pemerintah sebagai penjabaran undang-undang tersebut. Dukungan lainya adalah
filsafat pendidikan, ilmu pengetahuan dan humaniora, teori-teori pendidikan,
serta teori sosial-ekonomi yang mempunyai kaitan erat dengan pendidikan
nonformal.
A.
Pancasila
Pancasila,
sebagai falsafah bangsa indonesia dan landasan pendidikan nasional, memberikan
dukungan kuat bagi pembinaan dan perkembangan pendidikan nonformal. atas dasar
filsafah pancasila ini, pendidikan nonformal membantu peserta didik untuk
memiliki dan mengembangkan, pertama,
wawasan ketuhanan yang maha esa memberi arah pada pendidikan nonformal untuk
menbina, mengembangkan, dan melestarikan sikap dan perilaku peserta didik,
sebagai insan indonesia. kedua,
wawasan kemanusiaan yang adil dan beradab memberik landasan untuk terbinanya
insan indonesia yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, yaitu insan
yang berbudi pekerti luhur, menghormati hak-hak asasi manusia, adil dan
beradab, memiliki rasa persaudaraan. ketiga,
wawasan persatuan indonesia, melandasi pembinaan insan indonesia yang mencintai
tanah air dan bangsa, mengakui dan menghayati keragaman, memahami persamaan,
dan membina kehidupan bersama dalam keberagaman. keempat, wawasan kerakyatan yang di pimpin oleh hikmah
kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan memberi landasaan pada
pendidikan nonformal untuk berorientasi kepada kebutuhan dan kepentingan rakyat
banyak direncanakan dan dilaksanakan secara bersama, dan kemajuan bersama dalam
upaya mencapai tujuan nasional. kelima,
wawasan keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia, memberi landasan untuk
menumbuhkan dan mengembangkan berbagai program pendidikan nonformal yang
berkaitan erat dengan peningkatan aspek kehidupan rakyat indonesia.
Pancasila
memberi landasan kuat untuk pembinaan dan pengembangan pendidikan nonformal
yang berakal pada budaya bangsa indonesia sendiri dan bertujuan untuk
mengembangkan kualitas manusia indonesia yang berketuhanan yang Maha Esa.
B.
Undang-Undang
Dasar 1945
Sebagai
pedoman pokok untuk menjabarkan Pancasila dalam pendidikan bangsa,
Undang-undang Dasar 1945, sebagai sumber dari semua perundang-undangan dan
sumber tatanan hidup bermasyarakat dan bernegara, memberikan pedoman dasar yang
kuat bagi pembinaan dan pengembangan berbagai satuan, jenis dan bentuk program pendidikan
nonformal.
pembukaan
Undang-undang Dasar 1945 menandaskan bahwa tujuan kemerdekaan adalah untuk “memajukan kesejahteraan umum dan
mencerdaskan kehidupan bangsa
” Pembukaan Udanga-undang Dasar 1945
menjelaskan bahwa dua tujuan kemerdekaan yang paralel adalah. (1) mewujudkan
kesejahteraan umum dan (2) mencerdaskan kehidupan bangsa. Pasal-pasal dalam
Undang-Undang Dasar 1945 memberikan dukungan kuat terhadap pendidikan nonformal
untuk membina dan mengembangkan kegiatan pendidikan yang erat kaitannya dengan
peningkatan kualitas masyarakat indonesia dan untuk menegaskan keberpihakan
terhadaporang banyak yang berada pada lapisan bawah (the grass-root level). Pendidikan nonformal, bersama-sama dengan
pendidikan formal memiliki misi yang sama yaitu membina dan mengembangkan
manusia cerdas. manusia cerdas tidak identik dengan manusia pandai, manusia
cerdas pada umumnya adalah pandai, tetapi tidak setiap manusia pandai adalah
cerdas.
C.
Undang-Undang
Sistem Pendidikan dan Peraturan Pemerintah yang Berkaitan dengan Pendidikan
Nonformal
Undang-Undang
tentang sistem pendidikan nasional, memberikan arah bahwa pembangunan
pendidikan termasuk di dalamnya pembangunan pendidikan nonformal, adalah upaya
mencerdaskan kehidupan bangsa dan meningkatkan kualitas manusia indonesia dalam
mewujudkan masyarakat yang maju, adil dan makmur, serta memungkinkan para
warganya mengembangkan diri baik berkenaan dengan aspek jasmaiah maupun
rohaniah berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Nasional adalah
satu keseluruhan yang terpadu dari semua satuan dan kegiatan pendidikan yang
berkaitan satu dengan lainya untuk mengusahakan tercapainya tujuan Pendidikan
Nasional.
Peraturan
Pemerintah (PP) Nomor 73 Tahun 1991 tentang pendidikan nonformal merupakan
peraturan pelaksanaan Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional.Menurut PP ini
pendidikan nonformal adalah pendidikan yang diselenggarakan di luar sekolah
baik dilembaga maupun tidak. Tujuan pendidikan
nonformal adalah untuk Pertama, melayani warga negara belajar supaya
dapat tumbuh dan berkembang sendiri mungkin dan sepanjang hayatnya guna
meningkatkan martabat dan mutu kehidupannya. Kedua, membina warga belajar agar
memiliki pengetahuan, keterampilan dan sikap mental yang diperlukan untuk
mengembangkan diri.Ketiga, memenuhi kebutuhan belajar masyarakat yang tidak
dapat dipenuhi dalam jalur pendidikan formal.
Tenaga
kependidikan pada pendidikan nonformal diatur dalam perturan pemerintah nomor
38 tahun 1992.tenaga kependidikan adalah anggota masyarakat yang mengabdikan
diri secara langsung dalam penyelenggaraan pendidikan. dalam Undang-Undang
No.20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dikemukakan bahwa sistem
pendidikan nasional adalah keseluruhan komponen pendidikan yang saling
berkaitan secara terpadu untuk mencapai tujuan pendidikan nasional. Pendidikan
formal adalah jalur pendidikan yang terstruktur dan berjenjang.Pendidikan
nonformal adalah jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang dapat
dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang.pendidikan informal adalah jalur
pendidikan keluarga dan lingkungan.
D.
Garis-
Garis Besar Haluan Negara
Garis-Garis
Besar Haluan Negara (GBHN) merupakan penjabaran Pancasila, Undang-Undang Dasar
1945, dan Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional di dalam pembangunan
nasional. GBHN menegaskan bahwa pendidikan nasional berdasarkan pancasila dan
bertujuan untuk meningkatkan kualitas manusia indonesia, yaitu manusia yang
beriman dan bertaqwa kepada tuhan yang maha esa, berbudi pekerti luhur, berkepribadian,
berdisiplin, bekerjakeras, tangguh, bertanggung jawab, mandiri, cerdas dan
terampil, serta sehat jasmani dan rohani.
GBHN
menjelaskan pula bahwa pendidikan nasional perlu dilakukan secara lebih terpadu
dan serasi baik antara sektor pendidikan dan sektor-sektor pembangunan lainnya,
antar daerah maupun antar berbagai jenjang dan jenis pendidikan.dalam GBHN
1993-1998 dikemukakan bahwa pendidikan nasional yang bertujuan mencerdaskan
kehidupan bangsa diselenggarakan secara terpadu dan diarahkan pada peningkatan
kualitas serta pemertaan pendidikan, terutama kualitas pendidikan dasar serta
jumlah dan kualitas pendidikan kejuruan, sehingga memenuhi kebutuhan
pembangunan nasional dengan memperhatikan perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi.
E.
Filsafat
Pendidikan
Filsafat
pendidikan merupakan bagian dari filsafat umum.Berdasarkan tipe kajiannya
filsafat dapat di golongkan menjadi tiga macam yaitu spekulatif, preskriptif,
dan analitik (Sahakinan, 1971:1).Filsafat spekulatif adalah car berpikir yang
sismatik mengenai sesuatu kenyataan yang ada secara luruh.Filsafat preskriptif
adalah upaya kajian yang berkaitan dengan penetapan standar (ukuran)
nilai-nilai, penentuan kegiatan, dan kiat tanggap.Filsafat analitik memusatkan
kajiannya pada kata (istilah) dan arti.
Permasalahan
umum pendidikan nonformal yang dikaji secara filsafat pada umumnya berkaitan
dengan empat hal.pertama, hakekat
kehidupan baik yang menjadi rujukan tentang kemana pendidikan nonformal harus
mengarah tujuannya. kedua, ialah
hakekat manusia yang menjadi peserta didik (warga belajar). ketiga, hakekat masyarakat itu sendiri.keempat, ialah hakekat kenyataan atau
realitas. realitas ini menurut Babbie
(1986)
terdiri atas kenyataan yang disepakati (agreement reality) dan kenyataan yang dialami (experiential reality).
Hakekat
masyarakat dikaji oleh para penyelenggara pendidikan nonformal berdasarkan atas
dua alasan pokok.Pertama, masyarakat itu merupakan masukan lingkungan
(environmental input) utama dalam sistem pendidikan nonformal.Kedua, masyarakat
itu sendiri pada umumnya menerima akibat dari upaya pendidikan nonformal.Bedasarkan
filsafat idealisme, pendidikan nonformal perlu mendinamisasi dua hal.pertama,
meningkatkan kesadaran dan keakraban peserta didik (warga belajar) terhadap
seluruh potensi-potensi rohaniah yang dimiliki oleh dirinya. Kedua,
mengembangkan hubungan yang selaras antara unsur rohaniah peserta didik dengan
lingkungan.Filsafat pragmatisme menganggap bahwa realitas atau kenyataan itu
ialah yang dialami manusia melalui panca indera.aliran pragmatis yang dianut Sanders Pierce dipengaruhi oleh kemajuan
fisika dan matematika. Aliran yang dikembangkan John Dewey dipengaruhi oleh ilmu pengetahuan dari psikologi.Aliran
yang di ikuti William James
memperoleh pengaruh dari psikologi dan agama.Aliran pragmatis memiliki bermacam
ragam penamaan seperti instrumentalisme,
fungsionalisme dan eksperimentalisme
.
F.
Teori-teori
pendidikan
Pendidikan
nonformal didasarkan pula atas berbagai teori yang mendukung.yaitu Pertama,
teori yang merujuk pada hipotesa-hipotesa yang di verifikasi melalui observasia
atau eksperimen dan Kedua, teori yang mengandung arti sebagai
cara berpikir sistimatis dan taat asas (konsisten). Menurut teori
perenialisme, penyelenggaraan pendidikan nonformal hendaknya di dasarkan atas enam
hal, Pertama, oleh karena hakekat manusia adalah sama di setiap tempat walaupun
situasi lingkungannya berbeda-beda maka isi pendidikan nonformal terutama yang
menyangkut kebutuhan nasional. Kedua, oleh karena akal pikiran merupakan unsur
utama pada setiap manusia maka setiap peserta didik harus di bantu untuk
menggunakan akal pikiran itu baik dalam mengkaji alasan-alasan tentang suatu
kenyataan dan tindakan maupun dalam mengendalikan kehendaknya. Ketiga, tugas
pendidikan nonformal adalah untuk membantu peserta didik (warga belajar) dalam
menemukan kebenaran. Keempat, kegiatan pendidikan nonformal bukanlah suatu
proses peniruan melainkan sebagai upaya persiapan untuk memasuki dan
meningkatkan kehidupan. Kelima, peserta didik perlu mempelajari bahan-bahan
belajar yang pokok yang berkaitan dengan alam dan lingkungan sekitar. Keenam,
peserta didik mengkaji karya-karya besar yang telah dihasilkan dalam bidang
kesusateraan, filsafat, sejarah, ilmu pengetahuan, dan lain sebagainya yang
telah mempengaruhi timbulnya aspirasi dalam masyarakat dan penemuan besar yang
telah dilakukan umat manusia.
Progresivime telah berkembang sejalan
dengan gerakan perubahan sosial di dunia ini. Menurut progresivime, enam
prinsip pendidikan yang perlu diterapkan dalam program-program pendidikan
nonformal adalah (1) belajar adalah bagian dari kehidupan itu sendiri (2)
kegiatan belajar berhubungan erat dengan kebutuhan belajar dan minat peserta
didik, serta berpusat pada peserta didik (warga belajar) (3) kegiatan belajar
tentang cara pemecahan masalah perlu dilakukan terlebih dahulu sebelum
mempelajari materi pelajaran (4) peranan pendidik bukan untuk menuntun dan
menjejali otak peserta didik tetapi untuk memberi dorongan dan bantuan sehingga
peserta didik mampu merencanakan pengalaman belajar yang akan di tempuhnya
melalui kegiatan belajar (5) pendidik mengembangkan semangat kerjasama,
hubungan akrab dan saling menyenangi diantara peserta didik (6) hanya suasana
demokratis yang mempunyai nilai kondusif untuk mengembangkan urun pendapat,
tukar menukar gagasan dan pengalaman antar peserta didik dalam proses
pembelajaran.
Teori
esensialisme
menitikberatkan terhadap pentingnya
upaya pengkajian kurikulum yang dilakukan secara berlanjut.Teori rekonstruksionisme menjelaskan bahwa pendidikan nonformal
memiliki tanggung jawab sosial dalam mewujudkan lahirnya masyarakat baru.enam
prinsip pendidikan yang perlu di terapkan dalam pendidikan nonformal adalah
Pertama, pendidikan melibatkan diri dalam pembentukan aturan-aturan masyarakat
baru dan dalam mengembangkan nilai-nilai budaya baru. Kedua, masyarakat baru
itu adalah masyarakat madani yang domakratis, adil dan damai sehingga semua
lembaga dan sumber-sumber potensial yang ada di masyarakat dapat dikelola oleh
masyarakat untuk kemajuan masyarakat itu sendiri. Ketiga, peserta didik,
lembaga pendidikan, dan proses kegiatan pembelajaran di kondisikan secara terus
menerus atas dasar nilai-nilai sosial-budaya masyarakat baru tersebut. Keempat,
adanya kelompok belajar merupakan bagian yang amat penting dalam proses
pembelajaran. Kelima, tugas pendidik ialah memotivasi pserta didik untuk
memilih bahan dan sumber belajar yang cocok dalam kegiatan belajar dan untuk
melakukan pemecahan masalah melalui cara belajardemokratis. Keenam, tujuan
pendidikan nonformal dan upaya untuk mencapai tujuan itu senantiasa ditata
ulang sedemikan rupa sehingga dapat memenuhi perkembangan budaya dan
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi perilaku manusia, terutama yang
berhubungan dengan nilai-nilai budaya ragam (multicultural) dalam tata kehidupan kesejagatan (globalisasi).
G.
Ilmu
Pengetahuan dan Humaniora
Pendidikan
nonformal telah memperoleh dukungan dari ilmu pengetahuan alam, ilmu
pengetahuan sosial, dan humaniora.Ilmu pengetahuan alam (natural sciences),
digunakan untuk mempelajari mahluk hidup dan benda-benda alam yang terdapat
dalam wilayah sasaran pendidikan nonformal.Ilmu pengetahuan Sosial digunakan
untuk mempelajari dan menafsirkan aspek-aspek tertentu yang berkaitan dengan
tingkah laku manusia, baik tingkah laku individual maupun tingkah laku
kelompok, dan kehidupan bermasyarakat.humaniora adalah salah satu ilmu
pengetahuan yang mempelajari apa yang diciptakan atau diperhatikan manusia.
perlu
dikemukakan disini bahwa batas antara ketiga pendukung pendidikan nonformal
itu, yaitu ilmu pengetahuan alam, ilmu pengetahuan sosial, dan humaniora, tidak
ditandai oleh garis pemisah yang tegas karena diantara ketiganya terdapat
hubungan yang erat baik dalam objek yang dipelajari maupun dalam metode kajian
yang digunakan. Objek kajiannya adalah manusia, dan metode kajian yang
digunakan oleh ketiga pendukung pendidikan nonformal itu mempunyai kaitan
antara satu dengan yang lainya.
H.
Teori-teori
Sosial Ekonomi
Paulston
(1977) menjelaskan bahwa teori-teori ekonomi dan sosial yang menompang
pendidikan nonformal diantaranya ialah; Pertama,
Teori Fungsi (Functional Theory), menekankan tentang pentingnya hubungan yang
erat antara pendidikan nonformal dengan pengembangan sosial ekonomi.Kedua, Teori Modal Manusia (Human
Capital Theory), telah diterapkan dalam pendidikan nonformal sejak tahun tujuh
puluhan. teori ini mempunyai pandangan bahwa manusia merupan sumber daya utama
sebagai subjek baik dalam upaya meningkatkan taraf hidup dirinya maupun dalam
melestarikan dan memanfaatkan lingkungannya. Ketiga, Teori Gerakan Masyarakat (Social Movement Theory) berkaitan
dengan upaya masyarakat baik dalam memecahkan masalah yang dihadapi peserta
didik maupun dalam memajukan taraf hidup masyarakat.
Untuk
penyelenggaraan program dan proses pembelajaran dalam pendidikan nonformal yang
dijiwai prinsip pendidikan nasional yang telah dikemukakan oleh Ki Hajar
Dewantara, ketiga prinsip itu adalah tut
wuri handayani, ing madya mangun karsa, dan ing ngarsa sung tulada.
I.
Strategi
Umum Pengelolaan Pendidikan Nonformal
Secara
umum pengelolaan program pendidikan nonformal meliputi siklus kegiatan yang
terdiri atas enam tahapan. Pertama ialah tahapperencanaan (planning), Kedua ialah tahappengorganisasian (organizing), Ketiga ialah tahappenggerakan (motivating), Keempat tahappembinaan yang mencakup pengawasan
(controlling) dan supervisi (supervizing)
, Kelima ialah tahap evaluasi (evaluating), Keenam ialah
tahap pengembangan (developing).Secara
singkat dapat dikemukan bahwa fungsi pengelolaan pendidikan nonformal terdiri
atas perencanaan, pengorganisasian, penggerakan, pembinaan, penilaian, dan
pengembangan.
BAB III
KESIMPULAN
Maka
dapat diambil kesimpul bahwa pendidikan nonformal hanya adan lima fungsi, yaitu
Pertama, mengembangkan nilai-nilai rohaniah dan jasmaniah peserta didik (warga belajar)
dengan mengaktualisasikan potensi-potensi yang dimiliki peserta didik sehingga
terwujud insan indonesia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa,
Kedua. mengembangkan cipta, rasa dan karsa peserta didik agar mereka memahami
lingkungan, menganalisis lingkungan dan bertindak kreatif dan inovatif terhadap
lingkungannya. Ketiga, membantu peserta didik dalam membentuk dan menafsirkan
pengalaman mereka, mengembangkan kerja sama dan partisipasi dalam memenuhi
kebutuhan bersama dan kebutuhan masyarakat. Keempat, mengembangkan cara
berpikir dan bertindak kritis terhadap dan di dalam lingkungannya, serta untuk
memiliki kemampuan dalam menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologi walaupun
dalam bentuknya yang paling sederhana sehingga dapat memberikan nilai tambah bagi
penghidupan dan kehidupan dirinya dan masyarakatnya. Kelima, mengembangkan
aspek-aspek alamiah seperti semangat, emosi, sikap dan moral, etika, tanggung
jawab sosial, pelestarian nilai-nilai budaya, serta keterlibatan diri peserta
didik dalam pemberdayaan masyarakat dengan berorientasi kemasa depan.
  DAFTAR PUSTAKA

Pendidikan
Nonformal Oleh Prof.H.D.Sudjana.S,S.Pd.M.Ed.PhD Penerbit : Falah Bandung 2010.

Siraj-Pendidikan
untuk http://www.jatikom.com Landasan Yuridis

Advertsiment
MAKALAH LANDASAN YURIDIS | jati | 4.5