Pendapat Para Ahli Tentang Pengertian Berbicara


Pendapat Para Ahli Tentang Pengertian Berbicara -Dalam mengungkapkan pengertian berbicara, para ahli menggunakan sudut
pandang yang berbeda. Oleh karen itu terdapat perbedaan pengertian
berbicara satu sama lain. Muljana mengtakan bahwa suatu
pengertian harus dilihat kemanfaatannya dalam menjelaskan fenomena yang
dibatasi (2002:42). Sesuai dengan kebutuhannya, dapat saja berbicara
didefinisikan secara sempit, misalnya berbicara adalah bentuk komunikasi
dengan menggunakan media bahasa lisan.

Secara umum berbicara merupakan proses penuangan gagasan dalam bentuk ujaran. Dalam hal ini Suhendar mengatakan,
“Berbicara adalah proses perubahan wujud pikiran/perasaan menjadi wujud
ujaran.” (1992:20). Ujaran yang dimaksud disini adalah bunyi-bunyi
bahasa yang bermakna. Dapat kita bayangkan jika seseorang meminta
sesuatu kepada orang lain dengan menggunakan gerak dan isyarat tangn
saja tanpa menggunakan ujaran. Mungkin komunikasi yang seperti ini masih
tetap bisa berjalan tetapi komunikasi tidak akan selancar dengan ujaran
karena akan ada gagasan yang tidak saling dipahami oleh kedua belah
pihak.
Lalu apakah hakikat berbicara sebenarnya? Berikut uraian atau pendapat beberapa pakar komunikasi tentang pengertian berbicara;

1. Berbicara Merupakan Ekspresi Diri

Keperibadian seseorang dapat dilihat dari pembicaraannya. Kemarahan,
kesedihan, kebahagiaan, bahkan ketidakjujuran seseorang tidak dapat
disembunyikan selama dia masih berbicara. Kartapati mengatakan bahwa
berbicara merupakan ekspresi diri. Dengan berbicara seseorang dapat
menyatakan kepribadian dan pikirannya, berbicara dengan dunia luar, atau
hanya sekedar pelampiasan uneg-uneg (1981:9)

2. Berbicara Merupakan Kemampuan Mental Motorik.

Berbicara tidak hanya melibatkan kerja sama alat ucap secara  harmonis
untuk menghasilkan bunyi bahasa. Akan tetapi berbicara juga melibatkan
aspek mantal. Bagaimana bunyi bahasa dikaitkan dengan gagasan yang
dimaksud pembicara merupakan suatu keterampilan tersendiri. Kemampuan
mengaitkan gagasan dengan bunyi-bunyi bahasa (kata dan kalimat) secara
tepat merupakan kemampuan yang mendukung keberhasilan berbicara.

3. Berbicara Terjadi Dalam Konteks Ruang dan Waktu

Berbicara harus memperhatikan ruang dan waktu. Tempat dan waktu
terjadinya pembicaraan mempunyai efek makna pembicaraan. Muljana
memberikan contoh betapa tempat pembicaraan dapat menentukan efek makna.
Topik-topik yang lazim dipercakapkan di rumah, tempat kerja, atau
tempat hiburan akan terasa kurang sopan apabila diperbincangkan di
masjid (2001:103). Orang yang mendengar percakapan tersebut akan
memersepsikan kurang baik terhadap orang yang terlibat dalam percakapan
tersebut.

 

Selain
itu waktu juga sangat mempengaruhi makna ucapan seseorang. Seseorang
yang mengucapkan selamat pagi pada karyawan yang baru tiba di kantor
pukul 10.00 WIB, akan dimaknai sebagai sindiran oleh orang yang
mendengar ujaran itu.

 

Disamping itu, suasana atau situasi juga sangat berpengaruh dalam
kegiatan berbicara. Misal, suatu saat kita sedang membutuhkan bantuan
seoran teman, ketika kita akan berbicara kepadanya kita melihat raut
wajahnya sedang murung atau susah. Tentu kita akan mengurungkan niat
membicarakan kesulitan kita. Contoh lain, seorang pemberi sambutan di
acara pernikahan yang dilaksanakan dalam suasana banjir tentu kata-kata
yang dipilih dan kalimat-kalimat yang disusun tidak sama dengan ketika
memberi sambutan pada acara yang sama dalam keadaan yang tidak
kebanjiran. Dengan demikian, pembicara yang baik adalah pembicara yang
selalu berbicara sesuai dengan ruang, waktu, dan suasana.



4. Berbicara Merupakan Keterampilan Berbahasa yang Bersifat Produktif

Produktif disini bukan berarti menghasilkan suatu produk berupa barang.
Akan tetapi produk yang dihasilkan adalah berupa ide, gagasan, atau buah
pikiran. Ide, gagasan, buah pikiran seorang pembicara memiliki hikmah
atau dapat dimanfaatkan oleh penyimak. Misal, seorang guru, instruktur,
atau dai yang sedang berbicara dalam rangkan mentransfer ilmu
pengetahuan kepada para siswa atau penyimak. Ilmu tersebut dapat
dipraktikkan  dan dimanfaatkan oleh siswa, pendengar/penyimak dalam
kehidupan sehari-hari.

 

Jadi, orang yang terampil berbicara bukanlah orang yang banyak berbicara
tanpa dapat ditangkap isi pembicaraannya atau pembicaraan tidak
memiliki makna dan manfaat bagi orang yang mendengarkannya. Orang yang
terampil berbicara adalah orang yang pandai menyampaikan buah pikiranny
dengan bahasa yang baik dan benar, serta isi pembicaraannya bermakna dan
bermanfaat bagi pendengarnya.
Pendapat Para Ahli Tentang Pengertian Berbicara | jati | 4.5