Perairan Darat, Klasifikasi dan Manfaatnya

Perairan Darat, Klasifikasi dan Manfaatnya


Perairan Darat, Klasifikasi dan Manfaatnya - Air permukaan dapat dibagi menjadi dua bagian yaitu perairan darat dan perairan laut. Perairan darat, misalnya sungai, danau, rawa. Perairan laut merupakan perairan yang sangat luas dan volumenya relatif lebih besar daripada perairan darat, contohnya laut, samudra, teluk, selat. Air bawah tanah, yaitu air yang ada di bawah permukaan tanah.
Perairan darat adalah semua bentuk air yang terdapat di daratan. Air dapat berwujud benda cair atau benda padat (es dan salju), sedangkan yang banyak dimanfaatkan oleh manusia berwujud cair yaitu berupa air, baik air permukaan, air tanah, sungai, danau, dan sebagian air rawa. 
Perbandingan antara banyaknya air yang meresap dan mengalir di permukaan, bergantung pada berbagai faktor, yaitu:
  1. jumlah curah hujan yang jatuh;
  2. kekuatan jatuhnya butiran air hujan di permukaan bumi;
  3. lamanya curah hujan;
  4. penutupan vegetasi di permukaan bumi;
  5. derajat permeabilitas dan struktur bumi;
  6. kemiringan topografi
1. Klasifikasi perairan darat
Air tanah, sungai, danau, dan rawa merupakan bentangan perairan darat. Baik sungai, danau, maupun rawa merupakan air permukaan. Sebab ketiga jenis air ini terdapat di atas permukaan tanah. Dengan demikian, perairan darat dapat dibedakan atas dua kelompok, yaitu air tanah dan air permukaan.
a. Air tanah (ground water)
Air tanah adalah massa air yang ada di bawah permukaan tanah. Lebih dari 98 % dan semua air di daratan tersembunyi di bawah permukaan tanah 2% terlihat sebagai air di sungai, danau, dan reservoir. Setengah dari 2% ini disimpan di reservoir buatan.  Air tanah berasal dari air hujan yang meresap melalui berbagai media peresapan, yaitu sebagai berikut: 
  1. Pori-pori tanah. Tanah yang gembur atau berstruktur lemah akan meresapkan air lebih banyak daripada tanah yang pejal.
  2. Retakan-retakan lapisan tanah akibat kekeringan yang pada musim hujan sangat basah dan becek, seperti tanah liat dan lumpur.
  3. Rongga-rongga yang dibuat binatang (cacing dan rayap).
  4. Rongga-rongga akibat robohnya tumbuh-tumbuhan yang berakar besar.
  5. Rongga-rongga akibat pencairan berbagai kristal yang membeku pada  musim dingin. 
Air tanah mengalami proses penguapan melalui dua cara, yaitu sebagai berikut:
  1. Penguapan langsung melalui pori-pori di permukaan tanah sebagai akibat pemanasan lapisan tanah oleh sinar matahari. Jenis penguapan ini dalam bahasa Inggris, disebut evaporasi.
  2. Penguapan yang tidak langsung, yaitu yang melalui permukaan daun tumbuhtumbuhan. Jenis penguapan ini dinamakan transpirasi. 
Di dalam klimatologi dan hidrologi, kedua jenis penguapan ini dinamakan evapotranspirasi. Lapisan tanah yang dipengaruhi evapotranspirasi hanya sampai kedalaman 30 cm saja. Di daerah gurun menjadi lebih dalam lagi karena curah hujan rendah dan pemanasan terus-menerus. Lapisan atas tanah gurun itu menjadi kering. 
Berdasarkan jenisnya, air tanah dapat dikelompokkan ke dalam tujuh bagian, yaitu sebagai berikut:
  1. Meteoric water (vadose water), yaitu air tanah yang berasal dari air hujan, dan terdapat pada lapisan tanah yang tak jenuh.
  2. Connate water (air tanah tubir), yaitu air tanah yang terperangkap dalam rongga-ronggga batuan endapan, sejak pengendapan itu terjadi, termasuk juga air yang terperangkap pada rongga-rongga batuan beku leleran (lelehan) sewaktu magma tersembur ke luar ke permukaan. Asalnya mungkin dari air laut atau air darat.
  3. Fossil water (air fosil), yaitu air yang terperangkap dalam rongga-rongga batuan dan tetap tinggal di dalam batuan tersebut sejak penimbunan itu terjadi. Kadang-kadang istilah ini disamakan dengan Connate water.
  4. Juvenil water (air magma), yaitu air yang berasal dari dalam bumi (magma). Air ini bukan dari atmosfer atau air permukaan.
  5. Pelliculkar water (air pelikular/ari), yaitu air yang tersimpan dalam tanah karena tarikan molekul-molekul tanah.
  6. Phreatis water (air freatis), yaitu air tanah yang berada pada lapisan kulit bumi yang poreus (sarang). Lapisan air tersebut berada di atas lapisan yang tidak tembus air (pejal/kedap) atau di antara dua lapisan yang tidak tembus air.
  7. Artesian water (air artesis), yaitu air yang berada di antara dua lapisan batuan yang kedap (tidak tembus) air sehingga dapat menyebabkan air tersebut dalam keadaan tertekan. Oleh karena itu, air artesis dinamakan juga air tekanan (pressure water).Apabila air tanah ini memperoleh jalan keluar, baik disengaja maupun tidak, maka akan keluar dengan kekuatan besar ke permukaan bumi dan terjadilah sumber air artesis. 

Air tanah mempunyai berbagai kegunaan bagi kehidupan manusia, yaitu untuk keperluan rumah tangga seperti untuk minum, memasak makanan, dan mencuci; untuk keperluan industri, misalnya industri tekstil dan industri farmasi; untuk keperluan pertanian, misalnya pengairan sawah dan palawija di daerah yang sukar dibuat irigasi, seperti di daerah-daerah gurun, daerah karst (di Gunung Kidul Yogyakarta). 
Air tanah yang digunakan untuk berbagai keperluan tersebut, pada zaman sekarang lebih banyak dikeluarkan melalui sumur bor. Pengeluaran air tanah yang tidak seimbang dengan penambahannya secara alamiah akan menyebabkan terjadinya tanah amblas (subsidence). Penyedotan air tanah secara besar-besaran juga akan menurunkan permukaan air tanah dalam, terutama pada musim kering. 
Di daerah pantai yang dijadikan kota atau pemukiman lain, penyedotan air tanah melalui sumur pompa menyebabkan intrusi air asin ke arah darat. Di daerah itu seringkali air tanah yang rasanya payau atau sedikit asin. 
 
b. Sungai
Sungai adalah bagian dari muka bumi yang karena sifatnya menjadi tempat air mengalir. Sifat yang dimaksud adalah bagian permukaan bumi yang paling rendah bila dibandingkan dengan daerah sekitamya. Sungai dapat dibedakan dari massa airnya, karena:
  1. kebanyakan mengalir di permukaan bumi ke tempat yang lebih rendah, kadang-kadang di bawah permukaan tanah,
  2. pengalirannya tidak tetap, kadang-kadang deras, kadang-kadang lambat, dan di beberapa tempat membentuk riak,
  3. mengangkut beban dari mulai lumpur yang halus, pasir, kerikil sampai batu-batu guling,
  4. mengalir mengikuti saluran tertentu yang di kanan-kirinya dibatasi oleh suatu tebing yang biasanya curam.
Secara garis besar, bagian-bagian sungai terdiri atas bagian hulu, tengah, dan hilir. Pada bagian hulu, sungai memiliki karakteristik:
  1. arus air deras;
  2. arah erosi ke dasar sungai (erosi vertikal);
  3. lembahnya curam ;4) lembahnya berbentuk V;
  4. kadang-kadang terdapat air terjun;
  5. terdapat erosi mudik;
  6. tidak terjadi pengendapan (sadimentasi).
Berbeda dengan bagian hulunya, maka karakteristik fisik sungai di bagian tengah, adalah:
  1. arus air sungai tidak begitu deras;
  2. erosi sungai mulai ke samping (erosi horizontal);
  3. aliran sungai mulai berkelok-kelok;
  4. mulai terjadi proses sedimentasi (pengendapan) karena kecepatan air mulai berkurang.
Begitu pula, pada bagian hilir sungai memiliki karakteristik sebagai berikut:
  1. arus air sungai tenang;
  2. banyak terjadi sedimentasi;
  3. erosi ke arah samping (horizontal);
  4. sungai berkelok-kelok (terjadi proses meandering);
  5. kadang-kadang ditemukan meander yang terpotong sehingga membentuk kali mati atau danau tapak kuda (oxbow lake);
  6. di bagian muara kadang-kadang terbentuk delta.
1) Klasifikasi sungai
Jenis-jenis sungai dapat dibedakan atas beberapa macam, yaitu sebagai berikut:
a) Menurut arah alirannya
Menurut arah alirannya, sungai dapat dibedakan atas beberapa macam,yaitu sebagai berikut:
  1. Sungai konsekwen, yaitu sungai yang alirannya searah dengan lerengnya.
  2. Sungai insekwen yaitu sungai yang arah alirannya tidak teratur.
  3. Sungai subsekwen yaitu anak sungai yang arah alirannya tegak lurus terhadap sungai konsekwen.
  4. Sungai obsekwen yaitu anak sungai dari sungai subsekuen yang arahnya berlawanan dengan induk sungai konsekwen.
  5. Sungai resekwen yaitu sungai subsekwen yang arahnya sejajar dengan induk sungai konsekwen.
b) Menurut sumber airnya
Berdasaikan sumber airnya, sungai dibagi atas tiga macam, yaitu sebagai berikut:
  1. Sungai hujan yaitu sungai yang sumber airnya berasal dari air hujan.
  2. Sungai gletser yaitu sungai es. Sungai ini terdapat di daerah beriklim dingin (bersalju).
  3. Sungai campuran yaitu sungai yang airnya berasal dari air hujan dan dari gletser (es mencair).Contohnya: di Indonesia adalah Sungai Memberamo dan Sungai Digul di Irian Jaya
c) Menurut kondisi airnya
Menurut kondisi airnya sepanjang tahun, sungai dibedakan atas dua jenis, yaitu sebagai berikut:
  1. Sungai episodik, artinya sungai yang alirannya tetap sepanjang tahun. Pada umumnya sungai jenis ini terdapat di daerah curah hujannya besar dan di daerah yang berhutan lebat.
  2. Sungai periodik, yaitu sungai yang massa airnya tidak tetap di sepanjang tahun. Biasanya pada waktu datangnya musim hujan airnya meluap, dan pada waktu musim kemarau airnya kering. Contohnya di Indonesia sungai Benain di Timor dan sungai Kandaha di Sumba.
Di Indonesia terdapat sungai-sungai yang panjang, seperti terlihat pada tabel di bawah ini.
No
Nama Sungai
Letak
Panjang (Km)
1
Kapuas
Kalimantan
998
2
Barito
Kalimantan
704
3
Membramo
Irian Jaya
684
4
Digul
Irian Jaya
546
5
Musi
Sumatera
507
6
Batanghari
Sumatera
485
7
Indragiri
Sumatera
415
8
Khahayan
Kalimantan
343
9
Mahakam
Kalimantan
334
2) Pengaruh air sungai terhadap kehidupan manusia
Air merupakan sumber kehidupan. Ini berarti bahwa makhluk hidup tidak dapat tumbuh, atau berkembang tanpa adanya air. Adapun manfaat sungai sebagai salah satu bentangan perairan darat, mulai dari yang sederhana seperti keperluan minum, mandi, dan mencuci, hingga kebutuhan yang lebih kompleks, seperti:
a) Irigasi atau pengairan
Khususnya di daerah kering orang membutuhkan air untuk mengairi sawah. Dalam sistem pertanian intensif sekarang ini, di daerah basah pun perlu pengairan agar diperoleh hasil yang lebih menguntungkan.
b) Sumber tenaga
Di daerah industri yang kondisinya memungkinkan, air dimanfaatkan sebagai penggerak turbin yang dihubungkan dengan generator, sehingga menghasilkan pembangkit tenaga listrik (PLTA).
c) Keperluan domestik
Air dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan primer rumah tangga, seperti air minum, memasak, mencuci, mandi. Bahkan bagi masyarakat kota, air juga dipergunakan untuk menyiram tanaman dan rumput hias di halaman.
d) Sebagai sumber penghasil bahan makanan mentah.
Di sungai terdapat bermacam-macam ikan, udang, dan sebagainya yang dapat dijadikan sebagai sumber bahan makanan.
e) Industri
Sebagian besar industri, terutama di daerah perkotaan air juga sangat penting sebagai pencuci bahan dasar, pencair, atau pelarut bahan.
f) Transportasi
Sejak zaman dahulu, manusia telah memanfaatkan air sebagai sarana perhubungan. Sebab, hingga sekarang transportasi di perairan relatif lebih murah.
g) Rekreasi dan olah raga
Di sungai-sungai atau danau orang mengadakan rekreasi dan sekaligus merupakan sarana olah raga, seperti berenang, dayung, arung jeram, selancar angin, dan sebagainya.

3) Pola aliran sungai
Aliran sungai akan menyusun pola tertentu yang disebut pola aliran sungai. Pola aliran sungai dipengaruhi oleh struktur geomorfologi dan geologi daerah yang dilaluinya. Pola aliran sungai yang dijumpai antara lain sebagai berikut:
  • Pola dentritis, yaitu pola aliran yang anak-anak sungainya bermuara pada sungai induknya secara tidak teratur yaitu membentuk sudut yang berlain-lainan besarnya dan tidak tentu besarnya. Pola ini terdapat di daerah yang menunjukkan tidak adanya pengaruh struktur. Pola ini sering terdapat pada batuan yang horizontal (mendatar).
  • Pola memusat (centripetal), yaitu pola aliran yang memusat ke suatu depresi, seperti cekungan, kawah, dan sebagainya
  • Pola menyebar radial (centrifugal), yaitu pola aliran yang tersebar dari suatu puncak, seperti pada kubah, gunung berapi, bukit terpencil.
  • Pola trellis, yaitu sungai yang memperlihatkan letak yang paralel. Anakanak sungainya bergabung secara tegak pada sungai yang paralel (sejajar) tadi. Pola ini terjadi di daerah dengan struktur lipatan.
  • Pola aliran rektangular. Pada pola ini, sungai induk dengan anak-anak sungainya membelok dengan membentuk sudut 90°. Pola aliran ini terdapat di daerah patahan
  • Pola annular. Pola ini terdapat pada kubah yang telah mengalami pengirisan yang lebih lanjut dan dikelilingi oleh lapisan yang berganti antara yang keras dan yang lunak. Pada keseluruhannya pola ini hampir membentuk cincin.
  • Pola aliran pinnate. Pola ini menunjukkan kecuraman lereng yang besar.
4) Daerah aliran sungai serta pemanfaatan dan pelestariannya

Sungai bermula dari sejumlah aliran-aliran air yang berasal dari mata air, pencairan gletsyer, atau sumber lain dari dalam gunung yang menjadi anak-anak sungai dan kemudian bergabung dengan aliran lain menjadi sebuah sistem sungai, yang kemudian kita sebut Daerah Aliran Sungai (DAS). Daerah aliran sungai (drainage area/riverbasin) yang disingkat menjadi DAS adalah bagian dari muka bumi yang airnya mengalir ke dalam sungai tertentu. Dengan perkataan lain, daerah aliran sungai yaitu wilayah tampungan air hujan yang masuk ke dalam wilayah air sungai. Jadi, sebuah sungai beserta anak-anak sungainya membentuk satu daerah aliran. Misalnya sungai Cimanuk dengan anak-anak sungainya disebut daerah aliran sungai Cimanuk. DAS, Citarum, DAS Bengawan Solo dan sebagainya.

Daerah yang memisahkan antara daerah aliran sungai yang satu dengan daerah aliran sungai yang lainnya merupakan daerah punggungan, dinamakan watershed atau stream devide. Dalam satu DAS hanya ada satu induk sungai dan memiliki percabangan anak-anak sungai. Perhatikan satu satuan DAS pada gambar di bawah ini!
 
Daerah aliran sungai itu merupakan daerah tangkapan air hujan (catchment area). Pembangunan di daerah pertanian, pemukiman, dan industri, tidak terlepas dari kebutuhan sumber daya air. Sebagai akibat pemanfaatan air di atas, air akan menampung buangan limbah dari akibat pembangunan tersebut, sehingga terjadilah pencemaran (polusi) air. Pentingnya pengolahan DAS jelas barkaitan dengan penyediaan air bersih, mengamankan sumber air dari pencemaran, mencegah banjir dan kekeringan, mencegah erosi serta mempertahankan dan meningkatkan kesuburan tanah.

c. Danau
Danau adalah suatu cekungan (basin) di permukaan bumi yang digenangi air dalam jumlah yang relatif banyak. Air danau berasal dari banyak sumber, seperti sungai, air tanah, atau hujan. Pengaliran air danau dapat terjadi karena penguapan, perembesan ke dalam tanah, dan pengaliran air melalui sungai.
Berdasarkan proses terjadinya, danau dapat diklasifikasikan ke dalam beberapa jenis, yaitu sebagai berikut:
1) Danau tektonik, yaitu danau yang terbentuk karena proses tektonik, seperti proses patahan dan lipatan. Tenaga tektonik menyebabkan retakan atau cekungan pada lapisan kulit bumi. Retakan ini terisi air dalam jumlah yang banyak, sehingga terbentuklah danau. Contoh danau ini adalah Danau Tempe (Sulawesi Selatan), Danau Poso (Sulawesi Tengah), Danau Singkarak dan Danau Maninjau (Sumatera Barat).
2) Danau vulkanik, yaitu danau yang terbentuk di kawah bekas letusan gunung api yang terisi oleh air dalam jumlah banyak. Danau vulkanik dapat dibagi menjadi beberapa golongan yaitu:
  • Danau maar adalah danau yang terjadi akibat letusan gunung api menimbulkan lubang yang terisi oleh air hujan. Contohnya, Danau Grati (Jawa Timur).
  • Danau kawah adalah danau yang terjadi karena kawah atau lubang kepundan terisi oleh air hujan. Contohnya, danau Kelimutu (Flores).
  • Danau tektovulkanik merupakan jenis danau yang terbentuk akibat dari gabungan tektonik dan vulkanik. Pada saat terjadi erupsi gunungapi, sebagian badan gunung api patah dan merosot menutupi lubang kepundan. Contoh, Danau Toba (Sumatera Utara).
  • Danau karst atau dolina adalah danau yang terjadi di daerah kapur sebagai hasil proses pelarutan batu kapur, sehingga membuat cekungan. Danau Karst ini lebih dikenal dengan sebutan Dolina. Contohnya, banyak terdapat di daerah Gunung Kidul (Yogyakarta).
  • Danau glasial, adalah danau yang terjadi karena erosi glasial pada zaman es dilluvium. Contohnya, Danau Michigan, Danau Superior, dan Danau Ontario, semuanya dekat perbatasan antara Amerika Serikat dan Kanada.
  • Danau bendungan adalah danau yang terjadinya karena terbendungnya aliran sungai oleh lava sebagai akibat letusan gunung api. Contohnya, Danau Laut Tawar (Aceh Tengah), Danau Tondano (Sulawesi Utara).
  • Danau buatan adalah jenis danau yang sengaja dibuat oleh manusia, misalnya untuk kepentingan irigasi atau PLTA. Danau buatan ini sering pula dinamakan waduk atau bendungan. Contohnya, Waduk Jatiluhur (Jawa Barat), Saguling (Jawa Barat), Cirata (Jawa Barat), Riam Kanan (Kalimantan Selatan), dan Waduk Sempor (Jawa Tengah).
d. Rawa
Rawa adalah lahan genangan air secara alamiah yang terjadi terus menerus atau musiman akibat drainase alamiah yang terhambat serta mempunyai ciri-ciri khusus secara fisik, kimiawi, dan biologis. Rawa selalu digenangi air karena kekurangan saluran atau letaknya yang rendah, baik yang bersifat sementara maupun sepanjang waktu, sehingga pelepasan air dari lahan tersebut lambat. Genangan ini disebabkan oleh kondisi pembuangan (drainase) yang buruk. Rawa bisa juga merupakan suatu cekungan yang menampung luapan air
disekitarnya.

Manfaat rawa yaitu sebagai tempat pemeliharaan ikan tambak, misalnya bandeng dan udang atau bisa juga untuk sawah pasang surut. Di rawa-rawa yang airnya asam, tidak terdapat kehidupan binatang. Berdasarkan sifat airnya, rawa terbagi atas rawa air payau; rawa air tawar; dan rawa air asin. Keadaan air di rawa, ada yang tidak mengalami pergantian (tidak mengalir). Ciri airnya sangat asam, berwarna merah, tidak dapat dijadikan air minum, tidak ada organisme yang hidup, dan sukar dimanfaatkan. Akan tetapi banyak juga rawa yang keadaan airnya selalu mengalami pergantian, misalnya karena pengaruh pasang surut air laut atau karena luapan sungai. Gambut yang terdapat di rawa untuk masa yang akan datang bisa dipergunakan untuk bahan bakar karena gambut itu sifatnya mudah terbakar.

Gambut juga berguna untuk bahan isolasi panas dan untuk bahan pupuk. Di daerah yang mengalami pasang surut, kadang-kadang rawa masih dapat diusahakan dalam bentuk sawah pasang surut.

Advertisements
Back To Top