Kamus Translate Bahasa Jawa Online

Kamus Translate Bahasa Jawa – Kamus Translate Bahasa Jawa atau mengenai google translate Jawa  Online sering juga disebut Literatur Indonesia jawa secara online. Translate ini merupakan kamus secara online yang kegunaan nya memudahkan pengguna internet untuk belajar bahasa Indonesia dan bahasa Jawa umum nya,tinggal tuliskan kan saja kalimat kalian dan terjemahan langsung muncul,dalam bentuk paragraf dan tentu nya dapat mudah di artikan,bisa dibilang ini cara praktis untuk kalian dengan mudah belajar bahasa jawa,kalian tak perlu repot menerjamah kan dari indonesia ke jawa bahkan satu lembar halaman pun langsung dapat mudah diterjemahkan,hebat bukan.Cara penggunaan tinggal tuliskan.

Kamus Translate Bahasa Jawa

Sejarah bahasa jawa : Dialek Banyumasan atau sering disebut Bahasa Ngapak Ngapak adalah kelompok bahasa bahasa Jawa yang dipergunakan di wilayah barat Jawa Tengah, Indonesia. Beberapa kosakata dan dialeknya juga dipergunakan di Banten utara serta daerah Cirebon-Indramayu. Logat bahasanya agak berbeda dibanding dialek bahasa Jawa lainnya. Hal ini disebabkan bahasa Banyumasan masih berhubungan erat dengan bahasa Jawa Kuna (Kawi).Bahasa Banyumasan terkenal dengan cara bicaranya yang khas. Dialek ini disebut Banyumasan karena dipakai oleh masyarakat yang tinggal di wilayah Banyumasan.

Seorang ahli bahasa Belanda, E.M. Uhlenbeck, mengelompokan dialek-dialek yang dipergunakan di wilayah barat dari Jawa Tengah sebagai kelompok (rumpun) bahasa Jawa bagian barat (Banyumasan, Tegalan, Cirebonan dan Banten Utara). Kelompok lainnya adalah bahasa Jawa bagian Tengah (Surakarta, Yogyakarta, Semarang dll) dan kelompok bahasa Jawa bagian Timur.

Kelompok bahasa Jawa bagian barat (harap dibedakan dengan Jawa Barat/Bahasa Sunda) inilah yang sering disebut bahasa Banyumasan (ngapak-ngapak).

Secara geografis, wilayah Banten utara dan Cirebon-Indramayu memang berada di luar wilayah berbudaya Banyumasan tetapi menurut budayawan Cirebon TD Sudjana, logat bahasanya memang terdengar sangat mirip dengan bahasa Banyumasan. Hal ini menarik untuk dikaji secara historis.

Dibandingkan dengan bahasa Jawa dialek Yogyakarta dan Surakarta, dialek Banyumasan banyak sekali bedanya. Perbedaan yang utama yakni akhiran ‘a’ tetap diucapkan ‘a’ bukan ‘o’. Jadi jika di Solo orang makan ‘sego’ (nasi), di wilayah Banyumasan orang makan ‘sega’. Selain itu, kata-kata yang berakhiran huruf mati dibaca penuh, misalnya kata enak oleh dialek lain bunyinya ena, sedangkan dalam dialek Banyumasan dibaca enak dengan suara huruf ‘k’ yang jelas, itulah sebabnya bahasa Banyumasan dikenal dengan bahasa Ngapak atau Ngapak-ngapak.
dialek Cirebonan berkaitan erat dengan kultur Jawa-Pantura, yaitu Cirebon, Indrmayu sampai dengan Serang; oleh karenanya bahasa yang mereka gunakan pun memiliki ciri khas dengan icon jawa-pantura.Kosa-kata bahasa jawa-pantura boleh jadi “ada yang sama” dengan bahasa banyumasan; hal itu boleh jadi disebabkan oleh fungsi bahasa komunikasi (jawa, kawi, sanskerta) yang bersifat universal. Akan tetapi sesungguhnya dialek jawa-pantura tetap mempunyai ciri khas yang tidak dapat disamakan dengan dialek banyumasan. Dengan demikian, kita juga sulit mengatakan bahwa wong Cirebon, Indramayu, Serang disebut ngapak-ngapak. Tidak pula untuk dialek Tegal.

Ngapak, tetap lebih pas dialamatkan kepada (khusus) dialek banyumasan. Namun demikian dalam menyikapi siapa yang berbahasa Ngapak, kita tidak bisa membandingkan-lurus dengan area administratif-geografis. Misalnya, tidak seluruh kawasan Kab. Cilacap disebut Ngapak. Cilacap Barat, seperti di beberapa desa di Kecamatan Karang Pucung, Cimanggu, Wanareja, dan Majenang, malah sudah agak “bengkok” ke dialek “kulonan” atau — pinjam istilah dalam seni karawitan, disebut dialek “jaipongan.”
Saya berharap istilah Ngapak tidak dipolitisasi untuk “lawan-kata” dialek “wetanan” (Yogya-Sala) atau dialek “bandhek.” Diskusi ini tentu akan menjadi sangat panjang, apabila para pihak tidak saling menerima keadaan.

Di antara permasalahan yang sering mencuat, adalah bahwa bahasa jawa berasal dari bahasa jawa-kuna, kawi; sebagaimana bahasa tutur orang-orang kuna. Kita bisa berpedoman pada aksen Ha Na Ca Ra Ka,,,
buka Ho No Co Ro Ko…

Bahasa Ngapak juga terncam punah karena (mungkin) akan ditinggalkan oleh warganya. Generasi sekarang (maaf, para kawula muda) nyaris kesulitan cara menulis bahasa jawa dengan aksara latin. Apalagi dengan huruf jawa Ha Na Ca Ra Ka… Disamping itu, pihak Pemerintah (Jawa Tengah) belum memberikan dukungan terhadap kelestarian bahasa Ngapak. Sebagai misal bahasa pengantar di sekolah-sekolah di kawasan Ngapak (mungkin) tidak diwajibkan mengunakan bahasa Ngapak, tetapi malahan menggunakan bahasa bandhek. Nah.

Para sedulur, nuwun sewu, cara nulis basa jawa “sing bener” ya kudu nurut maring aksara jawa Ha Na Ca R Ka. Aksara jawa langka vokal “O” anane “A”.
Jajalen panjenengan tindak maring Yogya, aksara jawa neng papan-papan Nama Jalan, Gedung, mesthi apa anane ora nganggo “taling-tarung.” Contone : Pasar Beringharjo; nulise ya Beringharja. Kota Solo, jan-jane asline ya “SALA.” Jajalen sih dibukak nek ana neng musium Pustakaraja (angger ana).

Menurut sejarahnya, bahasa Jawa Banten mulai dituturkan di zaman Kesultanan Banten pada abad ke-16. Di zaman itu, bahasa Jawa yang diucapkan di Banten tiada bedanya dengan bahasa di Cirebon, sedikit diwarnai dialek Banyumasan. Asal muasal kerajaan Banten memang berasal laskar gabungan Demak dan Cirebon yang berhasil merebut wilayah pesisir utara Kerajaan Pajajaran. Namun, bahasa Jawa Banten mulai terlihat bedanya, apa lagi daerah penuturannya dikelilingi daerah penuturan bahasa Sunda dan Betawi.

Bahasa ini menjadi bahasa utama Kesultanan Banten (tingkatan bebasan) yang menempati Keraton Surosowan. Bahasa ini juga menjadi bahasa sehari – harinya warga Banten Lor (Banten Utara).

Bahasa Jawa Banten atau bahasa Jawa dialek Banten ini dituturkan di bagian utara Kabupaten Serang, Kota Serang, Kota Cilegon dan daerah barat Kabupaten Tangerang. Dialek ini dianggap sebagai dialek kuno juga banyak pengaruh bahasa Sunda dan Betawi.

Bahasa Jawa di Banten terdapat dua tingkatan. Yaitu tingkatan bebasan (krama) dan standar.
Dalam bahasa Jawa dialek Banten (Jawa Serang), pengucapan huruf ‘e’, ada dua versi. ada yang diucapkan ‘e’ saja, seperti pada kata “teman”. Dan juga ada yang diucapkan ‘a’, seperti pada kata “Apa”. Daerah yang melafalkan ‘a’ adalah kecamatan Keragilan, Kibin, Cikande, Kopo, Pamarayan, dan daerah timurnya. Sedangkan daerah yang melafalkan ‘e’ adalah kecamatan Serang, Cipocok Jaya, Kasemen, Bojonegara, Kramatwatu, Ciruas, Anyer, dan seberang baratnya.

Contoh :

‘kule’, dibaca ‘kula’ atau ‘kule’. (artinya, saya)
‘ore’, dibaca ‘ora’ atau ‘ore’. (artinya, tidak)
‘pire’, dibaca ‘pira’ atau ‘pire’ (artinya, berapa)

Contoh :
(B.Jawa Banten tingkat bebasan)

Pripun kabare? Kakang ayun ning pundi?
Sampun dahar dereng?
Permios, kule boten uning griyane kang Haban niku ning pundi?
Kasihe sinten?
Kasihe Haban Ghazali lamun boten salah.
Oh, wenten ning payun koh.
Matur nuhun nggih, kang.
Yewis, napik dolanan saos nggih!
Kang Haban! Ning pundi saos? boten ilok kepetuk!
Napik mengkoten, geh!
Kule linggar sareng teh Toyah ning pasar.
Ayun tumbas sate Bandeng sios.

(B.Jawa Banten tingkat standar)

Kepremen kabare? Sire arep ning endi?
Wis mangan durung?
Punten, kite ore weruh umahe kang Haban kuwen ning endi?
Arane sape?
Arane Haban Ghazali ari ore salah.
Oh, ning arep koh.
Nuhun ye, kang.
Yewis, aje memengan bae ye!
Kang Haban! Ning endi bae? ore ilok kependak!
Aje mengkonon, Geh!
Kite lunge kare teh Toyah ning pasar.
Arep tuku sate Bandeng siji.

(B.Indonesia)

Bagaimana kabarnya? Kamu mau kemana?
Sudah makan belum?
Maaf, saya tidak tahu rumahnya kang Haban itu dimana?
Namanya siapa?
Namanya Haban Ghazali kalau tidak salah.
Oh, di depan tuh.
Terima kasih ya, kang.
Ya sudah, jangan bermain saja ya!
Kang Haban! Kemana saja? tidak pernah bertemu!
Jangan begitu, geh!
Saya pergi dengan teh Toyah ke pasar.
Mau beli sate Bandeng satu.

Berikut ini ada beberapa kata-kata dalam bahasa Jawa yang sering dipakai dalam percakapan sehari-hari:
Nglilir = terbangun saat tidur malam
Nggacor = ngerumpi/bergosip
Podo-podo = sama-sama (respon setelah mengucapkan terima kasih)
Tas = baru
Tangi = bangun
Jenengane = dinamakan
Nggolek = cari
Ape = akan
Keplak = memukul dengan telapak tangan
Karep = ingin
Disik = dahulu
Ngerasani = Membicarakan orang
Ngece = ngejek
Ketoke = kelihatannya
Dolan = main
Ketlisut = lupa menaruh barang dimana
Puehh = hebat
Ngglender = lancar
Gaple = telo = ubi ketela (biasanya untuk menunjukkan kekesalan)
Rencek = remuk
Lali = lupa
Nesu = marah
Ojo = jangan
Iki = ini
Mesem = senyum
Seng/sing = yang
Koe = kamu
Sampeyan = kamu
Iso = bisa
Piye = gimana
Ono = ada (misalnya ono opo = ada apa)
Opo = apa
Tak = saya, aku
Gebetan = orang yang lagi didekatin/PDKT
Tutuk = pukul
Nek = tapi
Apik = baik (kondisi misalnya apik-apik ae = baik-baik saja)
Jo = jadi
Isin = malu
Ngono = begitu
Plek = hubungan baik/dekat (misalnya teman plek = teman baik/dekat)
Sakjane = sebenarnya
Ora = tidak
Nylimur = mengalihkan pembicaraan
Guyon = bercanda
Sampekno = lanjutkan keperluanmu
Wareg = kenyang
Temenan = sungguhan
Kari = tinggal
Ngenteni = menunggu
Ben = biar
Lemu = gemuk
Peteng = gelap
Turu/Tilem = tidur
Pisan = sangat/sekali (misalnya ngantuk pisan = ngantuk sekali)
Empet = tahan
Turu = tidur
Mateni = mematikan
Mlungker = telungkup, meringkuk
Maringono = setelah itu
Ambung = cium (dengan bibir)
Biyen = dahulu
Akeh = banyak
Kuru = kurus
Delok = lihat
Jarene = katanya
Suwi = lama
Teko = datang
Duduk = bukan
Mesakno = kasihan
Kongkon = suruh
Kon = kamu
Koyok = mirip
Lapo = kenapa
Pangling = terpesona
Mrene = kemari
Takok = tanya
Iku = itu
Tok = saja
Mek = hanya
Lak = kan
Konco = teman
Arek = anak
Rodo = rada
Kelakon = selamat (menujukkan kondisi/situasi)
Alon = lambat
Ngene = begini
Piye = gimana
Rak = tidak (misalnya rak yo aneh? = tidakkah aneh?)
Sugeng = selamat (ucapan misalnya sugeng dalu = selamat malam)
Kabeh = semua
Mangan = makan
Dalu = malam
Ing = di (penunjuk tempat)
Dadi = jadi
Utawa = atau
Saiki = sekarang
Karo = dengan (misalnya karo sopo? = dengan siapa?)
Engko = nanti
Adus = mandi
Enek = ada
Ndeloke = melakukan/berbuat
Sak = se-
Durung = belum
Tuek = tua
Saru = tabu
Nang = ke (penunjuk tempat)
Rabi = nikah
Rodokan = agak/agakan
Ngapusi = bohong
Suwi = lama
Gelem = mau
Jek = masih
Meneh = lagi (misalnya opo meneh = apa lagi)
Panggah = tetap
Piro = berapa
Selak = keburu
Cupet = berpikiran sempit
Garai = membuat
Ajur = hancur
Dee = dia
Je = masih
Elek = jelek
Podo = pada/sampai
Seklebat = sekilas

Translate Bahasa Jawa Online

Nah jika ingin otomatis translate bahasa jawa anda dapat menggunakan translate ini https://ms91.ilovetranslation.com/

Contoh gambar seperti ini :

Contoh jika saya menggunakan kata “saya pergi kepasar” (boleh beberapa paragraf jika anda ingin), maka hasil nya Aku lunga menyang pasar

Kamus Translate Bahasa Jawa Online | jati | 4.5