KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) Online

KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) Online dikenal dengan sebutan KBBI terbit pertama 28 Oktober 1988 saat Pembukaan Kongres V Bahasa Indonesia. Sejak itu kamus tersebut telah menjadi sumber rujukan yang dipercaya baik di kalangan pengguna di dalam maupun di luar negeri. Setiap ada permasalahan tentang kata, selalu dianggap sebagai jalan keluar penyelesaiannya. Selain muatan isi, memang disusun tidak sekadar sebagai sumber rujukan, tetapi menjadi sumber penggalian ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni, serta peradaban Indonesia. Oleh karena itu, rujukan tersebut kemudian semakin mengakar di dalam kehidupan berbahasa Indonesia walaupun upaya penyempurnaan isi tidak selamanya mengimbangi perkembangan kosakata.
SEJARAH KBBI

Perkembangan perkamusan di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari peran lembaga pemerintah yang mengurusi masalah kebahasaan, yaitu Pusat Bahasa–yang pada awalnya merupakan lembaga bahasa di Universiteit van Indonesia.

Namun, sebelum lembaga bahasa berdiri di Nusantara, sekumpulan daftar kata sudah lebih dulu ada. Seperti dilansir dari Wikipedia, karya leksikografi tertua dalam sejarah studi bahasa di Indonesia adalah daftar kata Tionghoa-Melayu pada awal abad ke-15 yang berisi 500 lema (kata)
Selain itu, ada daftar kata Italia-Melayu yang disusun oleh Pigafetta pada 1522. Kamus antarbahasa tertua dalam sejarah bahasa Melayu adalah Spraeck ende woord-boek, Inde Malaysche ende Madagaskarsche Talen met vele Arabische ende Turcsche Woorden karya Frederick de Houtman yang diterbitkan pada 1603.

Selanjutnya, pada abad 19, kamus ekabahasa bahasa Melayu pertama di Nusantara yang ditulis Raja Ali Haji, berjudul Kitab Pengetahuan Bahasa, yaitu Kamus Loghat Melayu-Johor-Pahang-Riau-Lingga penggal yang pertama, terbit. Kitab ini sebenarnya bukan kamus murni, tapi kamus ensiklopedia untuk keperluan pelajar.

Barulah pada pertengahan abad ke-20, Pusat Bahasa—kala itu bernama Lembaga Penyelidikan Bahasa dan Kebudayaan Universitas Indonesia—menerbitkan Kamus Umum Bahasa Indonesia (1953) karya Wilfridus Joseph Sabarija Poerwadarminta. Kamus karya Poerwadarminta ini dianggap sebagai tonggak pertumbuhan leksikografi Indonesia.

Pada edisi cetak ke-5 pada 1976, tim Bidang Perkamusan Pusat Bahasa Republik Indonesia yang terdiri atas Harimurti Kridalaksana (konsultan), Sri Timur Suratman (koordinator), Sri Sukesi Adiwimarta (koordinator), serta beberapa anggota lain menyusun dan menyesuaikan ejaannya. Tercatat, seribu lema ditambahkan pada Kamus Umum Bahasa Indonesia edisi ke-5 ini. Hingga 1987, kamus ini telah dicetak ulang hingga 10 kali.

Usai terbitnya Kamus Umum Bahasa Indonesia (1953) karya Poerwadarminta, Pusat Bahasa kembali menerbitkan kamus ”generasi baru”, yaitu Kamus Bahasa Indonesia. Meski hanya beredar di kalangan tertentu, kamus ini diproyeksikan menjadi kamus besar dan baku. Namun karena jumlah lema dan informasi yang disajikan di dalamnya masih sedikit, Pusat Bahasa berpendapat kamus ini belum layak disebut kamus besar.

Karena itulah, Pusat Bahasa membentuk sebuah tim yang bertugas menyusun sebuah kamus besar. Tim ini dipimpin oleh Anton M Moeliono yang bertindak sebagai penyunting penyelia. Kamus yang diberi nama Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) ini diterbitkan saat Kongres Bahasa Indonesia V pada 28 Oktober 1988.

KBBI edisi pertama ini memuat kurang lebih 62.100 lema. KBBI menjadi acuan tertinggi bahasa Indonesia yang baku karena menjadi yang terlengkap dan terakurat. KBBI edisi pertama dicetak ulang sekaligus mengalami empat kali revisi, yaitu 1988, 1989, 1990, dan 1990.

Karena banyaknya saran dan kritik dari berbagai pihak, disusun dan direvisilah edisi pertama ini, sehingga terbit KBBI edisi kedua pada 1991 yang disusun di bawah pimpinan Hasan Alwi. Jumlah lema yang ada dalam edisi ini sekitar 72.000. Edisi kedua ini juga mengalami cetak ulang dan tentu saja revisi.

Edisi kedua ini juga mendapat perbaikan, sehingga terbitlah Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi ketiga pada 2001 yang disusun di bawah pimpinan Dendy Sugono. Jumlah lema yang ada dalam edisi ini kurang lebih 78.000 dan 2.034 peribahasa. KBBI edisi ketiga ini dicetak ulang dan tiga kali direvisi, yaitu pada 2001, 2002, dan 2005.

Selanjutnya, bersamaan dengan peringatan Bulan Bahasa Indonesia 2008, Pusat Bahasa kembali menerbitkan Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi keempat pada bulan Oktober. Di edisi keempat ini terdapat peningkatan jumlah lema. Dalam edisi keempat ini, ada 90.049 lema yang terdiri dari 41.250 buah lema pokok dan 48.799 buah sublema. Selain itu, peribahasa dalam edisi ini juga bertambah dua buah menjadi 2.036 buah peribahasa.

Tak hanya perkembangan jumlah lema dan sublema, KBBI edisi keempat juga mengalami perbaikan definisi atau penjelasan lema dan sublemanya. Di antaranya, penambahan makna, perbaikan untuk penulisan nama Latin hewan dan tumbuhan, perubahan urutan sublema, dan perbaikan isi lampiran. Perbaikan-perbaikan ini dilakukan berdasarkan saran dan kritik masyarakat yang disampaikan kepada Pusat Bahasa.

Pemutakhiran KBBI

Kini, sembilan tahun setelah KBBI edisi keempat diluncurkan, Pusat Bahasa yang telah bersalin nama menjadi Badan Bahasa kembali berencana menelurkan KBBI edisi kelima. Gagasan menerbitkan edisi lanjutan dari KBBI sebenarnya sudah sejak tahun lalu (2016) digaungkan. Pada peringatan Sumpah Pemuda 28 Oktober 2016, Badan Bahasa meluncurkan empat aplikasi baru dalam bidang kebahasaan, salah satunya Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi kelima.

KBBI kelima edisi daring ini kemudian dapat diakses melalui laman kbbi.kemdikbud.go.id. Melalui laman itu, masyarakat dapat memberikan saran atas entri atau definisi yang termuat dalam kamus daring ini.
Beberapa bulan setelah itu, Badan Bahasa berencana untuk mencetak secara massal KBBI edisi kelima.
Rencana itu disampaikan dalam “Lokakarya Pemutakhiran Kamus Besar Bahasa Indonesia” yang dihelat Badan Bahasa, pada Jumat, 31 Maret 2017. Seperti yang disampaikan Kepala Bidang Pengembangan, Dr Dora Amalia, lokakarya ini bertujuan agar masyarakat dapat memberikan saran dan perbaikan untuk KBBI edisi lima sebelum dicetak secara massal.

Untuk itu, beberapa panelis dalam berbagai bidang dan beberapa perwakilan seperti dari akademisi, himpunan penerjemah, dan jurnalis diundang untuk memberikan pandangan serta saran. Panelis yang hadir menyampaikan pandangannya adalah Hasan Ashapani (penyair, jurnalis, penulis), M Djoko Yuwono (penulis, pegiat sosial dan budaya), Pendeta Daniel Budiman (rohaniwan GKI Depok), Junayah HM (pemerhati bahasa), Relly Komaruzaman (pemerhati bahasa), dan Totok Suhardijanto (akademisi FIB UI).

Dora berjanji seluruh masukan, saran, dan kritik yang disampaikan para panelis dan para peserta lokakarya akan dicatat demi perbaikan KBBI edisi terbaru.

Qodratillah (2009) menegaskan sebuah kamus yang hidup adalah kamus yang terus mengikuti perkembangan zaman. Dalam tradisi leksikografi, sebuah kamus setidaknya direvisi dan diperbaharui lima tahun sekali demi selalu mengikuti perkembangan zaman.

Meski sedikit terlambat—berjarak sembilan tahun dari edisi sebelumnya—rencana pencetakan KBBI edisi kelima secara massal oleh Badan Bahasa patut diapresiasi. Lokakarya yang digelar Badan Bahasa juga perlu dipuji. Dengan ini, masyarakat dapat pula merasa “memiliki”bahasa Indonesia karena mereka turut berperan aktif mengusulkan dan mengoreksi kamus edisi sebelumnya.

Kedudukan dan Fungsi Kamus KKBI

Kamus adalah buku yang berisi daftar kosakata suatu bahasa yang disusun secara alfabetis dengan disertai penejalsan makna dan keterangan lain yang diperlukan serta dilengkapi dengan contoh pemakaian entri (KBBI, 2008:671). Sedangkan Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah kamus ekabahasa yang berisi tentang makna kata yang terdapat dalam bahasa Indonesia. Menurut Wikipedia, Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah kamus resmi bahasa Indonesia yang disusun oleh Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa dan diterbitkan oleh Balai Pustaka. Kedudukan kamus ini menjadi acuan tertinggi bahasa Indonesia baku. Undang-undang Dasar 1945 menempatkan bahasa Indonesia pada posisi yang amat kuat. Bab XV Pasal 36 menyatakan, “Bahasa negara ialah Bahasa Indonesia, bukan saja sebagai bahasa penghubung melankan menajdi bahasa resmi kenegaraan.
Dewasa ini, kekayaan khazanah kosakata yang idealnya mempunyai jumlah kata yang tidak terbatas. Ketidakterbatasan merupakan akibat dari entri kamus yang selalu berkembang dan sangat dinamis. Istilah kamus besar yang menjadi judul kamus bahasa Indonesia ini bukan semata-mata menyiratkan ukuran atau bobot fisiknya, melainkan lebih mempunyai makna yang bersangkutan dengan banyaknya informasi yang terkandung di penggalian ilmu pengetahuan, teknologi, seni, serta peradaban Indonesia. Bukan persoalan mudah bila kekayaan suatu bahasa sampai pada waktu tertentu yang disusun dalam lema lengkap dengan segala nuansa maknanya. Nuansa makna diuraikan dalam bentuk definisi, deskripsi, contoh, sinonim, atau parafrasa.
Pada saat Indonesia menyatakan kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945, kata yang hendak dipakai untuk “pernyataan kemerdekaan” itu dalam bahasa Indonesia belum ada. Konsepnya ada, yaitu pernyataan kemerdekaan, tetapi istilah yang akan dipakai untuk itu belum ada. Peristiwa serperti itu tidak ada dalam bahasa Melayu dan bahasa daerah seluruh Indonesia. Untuk keperluan tersebut, bahasa Indonesia harus mencari sebuah kata yang dapat mengisi konsep itu. Kita akhirnya memilih kata proklamasi yang kita serap dari bahasa Inggris, proclamation. Pemunculan kata proklamasi merupakan hasil kegiatan pengembangan bahasa.
Pengembangan bahasa itu antara lain meliputi penelitian, pembakuan, dan pemeliharaan. Menurut Samuel Johnson, bapak leksikografi Inggris dan penyusunn Dictionary of Language (1755), menyatakan bahwa kamus berfungsi untuk menjaga kemurnian bahasa. Pendapat yang sama juga dinyatakan oleh Noah Webster, bapak leksikografi Amerika yang menyusun An American Dictionary of the English Language (1876), kamus yang menurunkan beberapa generasi kamus yang memakai nama Webster di Amerika. Pembuatan kamus adalah salah satu cara pengembangan bahasa dan hasil kodifikasi bahasa yang menjadi bagian dari pembakuan bahasa tersebut.

KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) Online

 











KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) Online | jati | 4.5