Sejarah,Pengertian,Latar Belakang,Dampak, Revolusi Perancis, Semboyan

Sejarah,Pengertian,Latar Belakang,Dampak, Revolusi Perancis, Semboyan – Revolusi Perancis yang ditandai penyerangan Penjara Bastille pada 14 Juli 1789 dan berdampak tumbangnya Dinasti Bourbon dan Kerajaan Perancis ialah peristiwa urgen di sejarah Eropa. Revolusi Perancis ialah peristiwa perumahan yang diakibatkan oleh sekian banyak  peristiwa dan situasi sosial, ekonomi dan politik yang saling berkaitan.

Sejarah,Pengertian,Latar Belakang,Dampak, Revolusi Perancis, Semboyan

Latar Belakang Revolusi Perancis

1.Kondisi kelaparan dan krisis pangan di Perancis
Pada tahun 1774, menteri finansial Perancis, Robert Jacques Turgot menerbitkan edik yang melepaskan perdangangan gandum. Namun pada ketika yang sama terjadi tidak berhasil  panen. Akibatnya terjadi penimbunan gandum oleh semua spekulan dan terjadi kelangkaan dan eskalasi harga gandum. Hal ini mengakibatkan kelaparan dan kerusuhan dampak kelangkaan gandum yang adalahbahan roti, makanan pokok rakyat Perancis.

2.Hutang Kerajaan Perancis yang menumpuk dampak perang melawan Inggris dalam Perang Tujuh Tahun dan Perang Kemerdekaan Amerika
Perancis mempunyai hutang yang paling besar untuk para bankir, khususnya di Belanda, dampak pengeluaran besar untuk ongkos perang melawan Inggris yang adalahmusuh besarnya. Perang ini ialah Perang Tujuh Tahun (1756 sampai 1763) dan Perang Revolusi Amerika (1775 sampai 1783).
Pada Perang Tujuh Tahun, Perancis merasakan kekalahan besar dan mesti kehilangan koloninya di Kanada dan India. Sementara walau Perancis dan Amerika dapat menang dalam Perang Revolusi Amerika, Perancis tidak mendapatkan deviden apapun secara keuangan, walau sudah mengeluarkan ongkos perang besar.
Beban ongkos perang ini paling memberatkan finansial Perancis.

3.Penyalahgunaan dominasi oleh semua bangsawan yang beraksi semena-mena
Perancis pada masa sebelum revokusi ialah negara Feudal. Para bangsawan dan anggota kerajaan pada masa Kerajaan Perancis mempunyai hak luar biasa. Mereka mempunyai “letre du catchet” yang bisa memenjarakan siapapun yang dirasakan ancaman untuk para bangsawan. Mereka pun mempunyai tanah yang luas dan hak atas panen rakyat di wilayah dominasi mereka. Akibatnya semua bangsawan dapat hidup mewah dan diatas hukum sedangkan rakyat menderita.

4.Pajak yang memberatkan rakyat Perancis
Di Kerajaan Perancis semua bangsawan dan agamawan Katolik bebas pajak, sedangkan rakyat biasa mesti membayar sekian banyak  pajak dalam jumlah besar yang meberatkan. Pajak yang memberatkan ini misalnya ialah “gabelle” atau pajak garam, sebab garam sangat dibutuhkan untuk keperluan sehari-hari laksana memasak oleh rakyat.

5.Gaya hidup mewah semua bangsawan dan anggota kerajaan, khususnya Ratu Marie Antoinette
Ketika rakyat hidup kesusahan dan kelaparan, semua bangsawan dan anggota kerajaan hidup mewah di chateau atau istana mereka. Kemewahan ini contohnya terlihat pada perhiasan dan pakaian yang dipakai para bangsawan. Ini menimbulkan keirihatian dan kemarahan rakyat.

6. Ide dominasi rakyat dan demokrasi dari Abad Pencerahan dan Revolusi Amerika
Suksesnya Revolusi Amerika dan ide-ide Abad Pencerahan memberikan usulan pada kaum terpelajar di Perancis bahwa terdapat sistem pemerintahan beda yang memperhatikan suara rakyat. Mereka berjuang merubah kerajaan Perancis yang mempunyai sifat autokratik menjadi demokrasi laksana di Amerika Serikat.

7.Munculnya kalangan ruang belajar menengah (borgeouis) yang mempunyai kekayaan tetapi dipinggirkan secara politik
Parlemen Perancis terbagi menjadi tiga kamar, Estate Pertama (agamawan Katolik), Estate Kedua (bangsawan) dan Estate Ketiga (rakyat biasa). Akibatnya kalangan menengah yang terdiri dari borgeouis (saudagar dan rakyat biasa) mempunyai suara kecil karena melulu mempunyai sepertiga suara di Parlemen meskipun jumlahnya sangat banyak. Selain tersebut Perancis pun tidak mempunyai konstitusi guna membatasi dominasi para bangsawan dan raja.
Karenanya, saat raja Perancis, Raja Louis XVI memanggil Parlemen untuk mengabsahkan pajak dampak kondisi finansial yang buruk, semua anggota Estate Ketiga menampik pajak baru dari rakyat, sebelum Raja Louis XVI mengabsahkan konstitusi, menghapus feudalisme, dan memberi batas kesewenangan semua bangsawan.
Ketika Raja Louis XVI menampik tuntutan ini dan membebastugaskan menteri Jacques Necker yang menyokong rakyat kecil, terjadilan kerusuhan dan berdampak diserangnya Penjara Bastille, yang secara resmi mengawali Revolusi Perancis.

Pengertian Revolusi Perancis

Revolusi Perancis adalah suatu periode sosial radikal dan pergolakan politik di Perancis yang memiliki dampak abadi terhadap sejarah Perancis, dan lebih luas lagi, terhadap Eropa secara keseluruhan. Monarki absolut yang telah memerintah Perancis selama berabad-abad runtuh dalam waktu tiga tahun.
Rakyat Perancis mengalami transformasi sosial politik yang epik; feodalisme, aristokrasi, dan monarki mutlak diruntuhkan oleh kelompok politik radikal sayap kiri, oleh massa di jalan-jalan, dan oleh masyarakat petani di perdesaan. Ide-ide lama yang berhubungan dengan tradisi dan hierarki monarki, aristokrat, dan Gereja Katolik digulingkan secara tiba-tiba dan digantikan oleh prinsip-prinsip baru; Liberté, égalité, fraternité (kebebasan, persamaan, dan persaudaraan). Ketakutan terhadap penggulingan menyebar pada monarki lainnya di seluruh Eropa, yang berupaya mengembalikan tradisi-tradisi monarki lama untuk mencegah pemberontakan rakyat. Pertentangan antara pendukung dan penentang Revolusi terus terjadi selama dua abad berikutnya.

Semboyan Revolusi Perancis

Semboyan “Liberte, Egalite, Fraternite” merupakan sebuah semboyan populer yang menggambarkan perjuangan rakyat Perancis di masa-masa Revolusi Perancis. Semboyan yang memiliki arti “Kebebasan, Keadilan, Persaudaraan” digunakan oleh kaum liberan yang mendukung demokrasi dan ingin menggulingkan pemerintahan Kerajaan Perancis yang telah menindas rakyatnya.
Maximilien Robespierre, seorang pengacara dan politisi Perancis membuat motto ini pertama kali dalam sambutannya pada “Organisasi Garda Nasional” (Discourssur l’organisasi des gardes Nationales) yang berlangsung pada 5 Desember 1790. Semboyan ini akhirnya disebarkan secara luas di seluruh Perancis dan akhirnya menjadi populer di masyarakat Perancis dalam waktu singkat.
Seiring kepopulerannya, semboyan ini pun semakin berkembang. Kemudian Antoine Francois Momoro, seorang penjual buku dan politisi memodifikasi semboyan ini pada tahun 1793 dengan: Unite, indivisibilite de la Republique; Liberte, Egalite, Fraternite ou la mort Yang artinya: Kesatuan dipisahkan dari Republik; Kebebasan, Kesetaraan, Persaudaraan, atau mati.
Pada tahun 1839, Pierre Leroux, seorang filsuf Perancis mengaku sudah menciptakan semboyan yang populer. Menurut sejarawan Mona Ozouf, meskipun Liberte dan Egalite dikaitkan sebagai semboyan selama abad ke-18, namun ternyata Fraternite tidak selamanya masuk di dalamnya. Biasanya kata ini digantikan dengan istilah lain, seperti: Amitite (Persahabatan) dan Charite (Beramal). Penekanan pada kata “Fraternite” selama masa revolusi Perancis dipimpin oleh seorang jurnalis wanita, Olympe De Gouges
yang menulis tentang “Deklarasi Hak Perempuan dan Warganegara Perempuan”. Namun sebelum penggunaan semboyan “Liberte, Egalite, Fraternite“, sebenarnya sudah ada semboyan lainnya yang digunakan terlebih dulu oleh kaum masonik seperti “Force, Egalite, Justice” atau “Kekuatan, Kesetaraan, Keadilan” serta “Liberte, Surete, Propriete” atau “Kebebasan, Keamanan, Hak Milik“.

Sejarah Rovolusi Perancis

Revolusi Perancis (1789-1799) adalah suatu masa dimana pergolakan politik dan sosial terjadi di Perancis yang dominan  pada evolusi struktur sosial politik Perancis. Monarki Absolut yang sekitar ratusan tahun tegak berdiri mesti terdampar oleh pergerakan rakyat melulu dalam masa-masa tiga tahun. Berbagai stratifikasi sosial laksana feodalisme, aristokrasi, dan monarki diruntukhlan oleh kumpulan radikl sayap kiri, oleh waktu dijalan, dan oleh masyarakat petani di pedesaan yang melululantahkan Paris.

Kondisi Sosial politik sebelum Revolusi Perancis ditandai oleh dominasi absolute yang pada era ini dipegang oleh Raja Louis XIV. Louis menjunjung tinggi kekuasaannya, dan berbicara bahwa “La Etat C’est Moi!´ (negara ialah saya). Kekuasaan raja tidak terbatasi oleh undang-undang oleh atau lembaha dewan legislatif semenjak masa Louis XIV. Badan legislatif yang ada yakni Etats Generaux sudah dinonaktifkan.

Sifat Absolut dijalankan oleh Raja Raja Perancis ini terinspirasi oleh pemikiran niccolo machiavelli yang menulis kitab yang berjudul “Il principe” (sang pangeran) yang diterjemahkan dalam bahasa Inggris dengan judul “the prince.”

Raja Louis XIV dan permaisurinya, Marie Antoinette mengerjakan pemborosan finansial kerajaan ditengah krisi ekonomi yang melanda Perancis yang disebabkan membiayai Perang Tujuh Tahun melawan Inggris dan menolong Revolusi Amerika.

Revolusi Perancis mengakibarkan Raja Louis XIV pada tanggal 17 Januari 1793, dituntut hukuman mati. Raja Louis juga menghadapi eksekusi mati pada tanggal 21 Januari 1793 lewat pemenggalan kepala dengan guillotine.

Eksekusi tersebut memunculkan peperangan dengan negara-negara Eropa lain. Kemudian pada tanggal 16 Oktober 1793, Marie Antoinette yang adalahpermaisuri Raja Louis pun dipenggal dengan guillotine.

Pembagian Golongan Masyarakat
Golongan masyarakat di Perancis sebelum Revolusi Perancis :

  • Golongan Pertama : Kaum Bangsawan (Aristokrat)
  • Golongan Kedua : Pendeta dan Biarawan (Kaum Rohaniawan) 
  • Golongan Ketiga : Kaum Borjuis (Pedagang dan Pengusaha) dan Rakyat Jelata (Petani dan Buruh)

Golongan kesatu dan kedua merupakan ruang belajar elit yang menemukan hak-hak istimewa, laksana bebas pajak bahkan mendapat beberapa persentase pajak yang diambil dari rakyat

Keadaan Ekonomi
Louis XVI naik takhta menjadi raja Perancis di tengah-tengah krisis keuangan; negara sudah nyaris bangkrut dan pengeluaran negara melebihi pendapatan. Krisis ini khususnya sekali diakibatkan oleh keterlibatan Perancis dalam Perang Tujuh Tahun dan Perang Revolusi Amerika.Pada bulan Mei 1776, menteri finansial Turgot dipecat sesudah ia gagal mengemban reformasi keuangan.

Kehancuran perekonomian Perancis terjadi sebab banya mengongkosi peperangan, seperti pertempuran dengan Austria, Perang Tujuh Tahun melawan Inggris, termasuk pertempuran yang dilaksanakan membantu Revolusi Amerika melawan Inggris. Peperangan pertempuran tersebut tidak sedikit menguras finansial negara, selain tersebut pemborosan finansial para pejabat kerajaan pun menyebabkan perekonomian memburuk diantaranya ialah pemborosan yang dilaksanakan oleh istri Louis ke 16 Marie Antoinette, yang mendapat julukan “madame defisit”

Sebab Terjadinya Revolusi Prancis

Sebab eksklusif terjadinya Revolusi Perancis ialah muncul lah kebencian rakyat untuk keluarga kerajaan yang dirasakan sebagai penyebab utama kerusakan perekonomian Perancis

Salah satu hukum yang berlaku di dalam sejarah ialah kausalitas (hubungan karena akibat) adanya kontinuitas antara satu peristiwa dengan peristiwa lainnya. Begitu pula dengan revolusi Perancis tersebut sendiri yang meletus karena sejumlah faktor inilah ini :

Munculnya pemikiran pemikiran tentang kemerdekaan dan demokrasi oleh Voltaire (1694-1778) adalahpejuang humanisme Perancis yang tidak sedikit memperjuangkan hak-hak kemerdekaan beragam untuk kaum hugenot(Protestan Perancis). Ia pun mengutuk kemunafikan semua pemuka gereja yang tidak sedikit melakukan penindasan terhadap rakyat Perancins. Ia tidak sedikit menentang mayoritas dogma agama

Montesquieu(1689-1755) Pemikiran Monstesquieu mengenai sistem ketatanegaraan (Trias Politica) dalam kitab karangannya L’Esprit des Lois yang diterjemahkan dalam bahasa Inggris dengan judul The Spirit of Law. Di dalamnya ia mengemukakan sistem pemerintahan monarki konstitusionalnya dengan adanya: Pemisahan lembaga kenegaraan(legislatif, yudikatif, dan eksekutif), pembagian kekuasaan, dan perimbangan dominasi diantaranya ketiga lembaga tersebut

Jean – Jasques Rousseau (1712 – 1778) melewati tulisannya “Du Contract Social” (1762) mengemukakan teori mengenai sistem pemerintahan demokrasi yang menanam rakyat sebagai pemenangn kedaulatan tertinggi. Pemikiran ini kemudian disebut sebagi teori kedaulatan rakyat, yang mengupayakan mengantikan Teori Kedaultan Tuhan yang dianut oleh Perancis sebelum revolusi.

Perlawanan terhadap Absolutisme Kerjaan

Lord acton menuliskan bahwa kekuasaan seringkali mempunyai kecenderungan korup, sedangkan dominasi Tanpa Batas sudah tentu akan mengerjakan tindakan korupsi. Itulah yang terjadi di Prancis menjelang revolusi, Raja berserta aparaturnya sering beraksi sewenang-wenang terhadap rakyat baik dengan memberi beban pada pajak maupun dengan menghilangkan hak-hak politik rakyat laksana membungkam pemikiran-pemikiran kemerdekaan dan demokrasi.

Pengaruh Revolusi Amerika

Pasca Revolusi di Amerika selesai dan Amerika Serikat hadir sebagai suatu negara Demokrasi, yang sejalan dengan pemikiran filsuf Perancis laksana Voltaire dan Montesquieu. Jenderal Lafayette yang sebelumnya ialah pemimpin pasukan Perancis dalam Revolusi Amerika kembali kembali ke Perancis dan menyebarkan gagasan pembaharuan dan paham demokrasi yang dirasakan jauh lebih baik dibanding sistem monarki absolut yang dijalankan oleh Perancis.

Kronologis Jalannya Revolusi Prancis

1. Sidang Etats Generaux (lembaga perwakilan) 
Karena merasakan krisis finansial maka Raja Perancis pada masa-masa itu, louis XVI berencana guna memberlakukan pajak untuk kalangan bangsawan. Mereka membangkang rencana itu dan menggagas pembentukan etat generaux. Pada tahun 1789 Louis XVI mulai menghidupkan pulang etat generaux yang sekitar ini di nonaktifkan. Lembaga ini difungsikan pulang sebagai lembaga perwakilan yang bertugas menyimpulkan kebijakan-kebijakan yang berhubungan dengan upaya penyelamatan perekonomian Perancis. Tetapi Lembaga ini kemudian dirasakan oleh rakyat kelompok III Tidak Efektif sebab terlihat melulu sebagai badan yang memperjuangkan kepentingan kelompok bangsawan dan gereja

2. Dibentuknya Assemble Nationale
Ketidakpuasan kelompok III terhadap sistem pengambilan suara didalam Etats Generaux yang lebih menguntungkan Golongan I dan II mengakibatkan mereka unik diri terbit lembaga itu dan menegakkan lembaga perwakilan tandingan yang mempunyai nama asambel nationale. Dengan pembentukan lembaga ini pada tanggal 20 Juni 1789 maka jalan mengarah ke revolusi semakin tersingkap lebar.

3. Penyerbuan Penjara Bastille.
Pada tanggal 14 Juli, semua pemberontak membidik sejumlah besar senjata dan amunisi yang dipercayai berada di benteng dan penjara Bastille, yang juga dirasakan sebagai simbol dominasi monarki. Setelah sejumlah jam pertempuran, benteng jatuh ke tangan pemberontak pada senja harinya. Meskipun terjadi gencatan senjata untuk menangkal pembantaian massal, Gubernur Marquis Bernard de Launay dipukuli, ditusuk, dan dipenggal, kepalanya ditaruh di ujung tombak dan diarak ke sekeliling kota.Setelah kejatuhan Bastille, lantas rakyat menyusun pemerintahan kota yang mempunyai nama pemerintah Commune Paris.

4. Pembentukan Dewan Nasional
Dewan Nasional lantas terbentuk dengan nama Asamblee Nationale Constituante. Perwakilan Dewan Konstituante diantaranya, Mirabeau (bangsawan), Lafayette (bangsawan), dan Sieyes (kaum agama). Asamblee Nationale Constituante lantas menyusunan pernyataan hak asasi insan Prancis (1789-1791).

Pada tanggal 27 Agustus 1789, Dewan Konstituante memberitahukan Hak Asasi Manusia dan Warga (Declaration des Droits de l’homme et du Citoyen) sebagai dasar dari pemerintah baru. Pada tanggal 14 juli 1790 UUD Perancis disahkan. Dengan demikian pemerintahan Perancis pulang menjadi Monarki Konstituonal yang membatasi dominasi Raja.

Salah satu dokumen urgen yang didapatkan pada ketika terjadi Revolusi Perancis merupakan
“Pernyataan Hak-Hak Asasi Manusia danWarga” Hak-hak asasi insan yang dirasakan telah dipunyai manusia dan warga semenjak lahir ialah sebagai berikut.

  • Hak atas kebebasan pribadi
  • Hak diperlakuan sama dengan hukum
  • Hak kebebasan berlokasi tinggal
  • Hak atas kepunyaan pribadi
  • Hak atas ketenteraman pribadi
  • Hak guna membela diri
  • Hak kemerdekaan menyatakan pendapat
  • Hak kemerdekaan memeluk agama.

Semenjak tersebut Prancis menjadi negara monarki konstitusional, dimana Louis XVI diwajibkan untuk bersumpah serta untuk mengemban UUD tersebut.

5. Perpecahan Golongan Ketiga
Perpecahan Golongan Ketiga (1791 1792) sesudah UUD berlalu disahkan, kelompok ketiga mulai merasakan perpecahan. kumpulan borjuis dalam kelompok ketiga tetap mempertahankan format monarki konstitusional Perancis. Mereka bergabung dalam partai girodin, sedangkan kumpulan rakyat jelata yang tergabung dalam partai montagne, memilih tuntutan radikal. Mereka mengharapkan Prancis berbentuk republik. Persaingan antara keduanya selesai dengan kemenangan montagne yang lantas dilanjutkan dengan pembentukan pemerintah rakyat jelata yang mempunyai nama pemerintah konvensional

6. Pemerintahan Konvensi Nasional
Pemerintah Konvensi nasional (1792-1795) pemerintah Konvensi nasional ini dipimpin oleh Robespierre pada masa pemerintahannya Iya menjalankan pemerintahan teror dengan mengerjakan serangkaian pembunuhan massal terhadap orang-orang yang membangkang revolusi. Banyak kaum bangsawan yang dibunuh karena dalil tersebut bahkan pada 21 Januari 1793 louis XVI di Gillotin(pancung) dihukum mati di place de la Concorde Paris. selain tersebut harta individu milik kaum bangsawan dan kepunyaan gereja pun disita oleh pemerintah. Dalam upaya menghadapi ancaman dari luar berupa perang Koalisi Robespierre ia berjuang memobilisasi rakyat guna menjadi tentara sampai terkumpul selama 6 juta Tentara.

Maximilien Robespierre, Jacobin, dan kediktatoran virtual oleh Komite Keamanan Publik sekitar Pemerintahan Teror dari tahun 1793 sampai 1794. Selama periode ini, antara 16.000 sampai 40.000 rakyat Perancis tewas. Setelah jatuhnya Jacobin dan pengeksekusian Robespierre, Direktori mengambilalih kendali negara pada 1795 sampai 1799, kemudian ia digantikan oleh Konsulat di bawah pimpinan Napoleon Bonaparte pada tahun 1799.

Pemerintah Directoire (1795-1799) kaum bangsawan mulai menyerahkan reaksi terhadap pemerintahan teror robespierre kaum bangsawan di dalam partai Girodin lalu menyelenggarakan pemberontakan terhadap pemerintah Convention pimpinan robespierre. Setelah pemerintah robespierre jatuh dan robespierre sendiri lantas di guillotine come Geraldine lalu menyusun pemerintahan baru yang mempunyai nama directoire. Pemerintah ini ialah pemerintah kolektif dengan dominasi eksekutif terdapat ditangan 5 orang direktur di antara direktur pada pemerintahan ini ialah Napoleon Bonaparte yang namanya mulai familiar sejak mendapat  kemenangan dalam perang koalisi 1 yang terjadi antara Prancis dan negara-negara monarki absolut Eropa laksana Austria dan prusia pada masa pemerintahan Konvensi nasional.

7. Pemerintahan Konsulat
Pemerintahan Konsulat (1799-1804) jalannya pemerintahan direktori Tidak Efektif mendorong Napoleon mengerjakan kudeta dengan mengajak bubar pemerintah directoire 1799 dan menggantikannya dengan pemerintahan yang baru mempunyai nama pemerintahan konsulat, dan Napoleon Bonaparte mengusung dirinya menjadi konsul kesatu.

8. Kekaisaran Perancis
Kekaisaran Prancis (1804-1815) dibubarkannya directoire oleh Napoleon menandakan berakhirnya revolusi Prancis siklus revolusi mulai merasakan titik balik sesudah Napoleon Bonaparte lantas mengusung dirinya sebagai Kaisar Prancis yang dinobatkan oleh Paus Pius VII pada tahun 1804. Setelah penobatan itu maka Perancis pulang berbentuk monarki.

Dampak Revolusi Perancis

Bidang politik

  • Nasionalisme menjadi diperkuat dan mencapai puncak pada masa pemerintahan Kaisar Napoleon.
  • Undang-Undang Dasar merupakan kekuasaan tertinggi
  • Timbulnya pengertian republik. Mula-mula revolusi Perancis bersifat liberal (1789-1792), kemudian bersifat radikal (1792-1795). Dalam masa radikal inilah pemerintahan disusun secara republik. Pemerintahan raja dianggap dianggap kurang tepat karena secara turun temurun. Timbullah ide republik yang kepala negara dipilih oleh rakyat.
  • Timbulnya ide tentang aksi revolusioner, yaitu penggunaan kekuatan rakyat dalam revolusi. 

Bidang ekonomi
  • Kapitalisme berkembang karena yang berkuasa adalah golongan borjuis.
  • Petani menjadi pemilik tanah, bukan lagi penyewa tanah.
  • Penghapusan sistem pajak feodal.
  • Penghapusan gilde dan berkembang perdagangan bebas.
  • Timbulnya industri besar. Hal ini dimungkinkan karena Napoleon banyak memberi subsidi pada industri-industri besar. 

Bidang sosial
  • Dihapuskannya feodalisme.
  • Adanya susunan masyarakat yang baru, yakni petani, buruh, golongan pertengahan, dan kapitalis.
  • Terciptanya bangsawan baru dalam masyarakat bukan karena keturunan, tapi karena berjasa pada negara.
  • Pendidikan dan pengajaran yang merata untuk semua lapisan masyarakat. 

Dampak Revolusi Perancis Bagi Dunia

Akibat Politik

  • Tersebarnya paham liberalisme ke berbagai negara di Eropa. 
  • Semboyan Revolusi Perancis “Liberte, Egalite, Fraternite” (Kebebasan, Persamaan, Persaudaraan) menggema ke berbagai negara Eropa dan menjadi spirit dalam melawan raja-raja absolut.
  • Tersebarnya paham demokrasi.
  • Nasionalisme di Eropa timbul sebagai akibat tindakan sewenang-wenang Napoleon terhadap negara-negara Eropa yang hampir seluruhnya berhasil dikuasai.
  • Aksi revolusioner di Perancis dalam masa revolusi ditiru oleh negara-negara Eropa lainnya. 

Akibat Ekonomi

  • Berkembangnya industri-industri di Eropa.
  • Kehidupan perdagangan baralih dari daerah pantai Eropa ke pedalaman.
  • Inggris kehilangan pasar di Eropa.

Akibat Sosial

  • Penghapusan feodalisme.
  • Pendidikan dan pengajaran yang merata untuk semua lapisan masyarakat.
  • Code Napoleon digunakan oleh masyarakat Eropa. Belanda menerapkannya hingga tahun 1838, Jerman sampai tahun 1910. Code Napoleon besar pengaruhnya dalam hukum di negara-negara Eropa.