Pengertian, Sejarah, Teknik, Peralatan, Panahan

Pengertian, Sejarah, Teknik, Peralatan, Olahraga Panahan – Panahan ialah olahraga yang mengkhususkan ketenangan serta penguasaan busur dan panah. Terdapat 2 jenis busur yang dilombakan di Asian Games: busur recurve dan compound. Panahan dilombakan dalam nomor perorangan dan rombongan untuk lelaki dan wanita. Olahraga ini kesatu kali dimasukkan dalam Asian Games VIII di Bangkok tahun 1978. Korea Selatan menjadi negara terkuat di cabang ini, dengan kemenangan di Asian Games IX New Delhi tahun 1982 dan belum tergeser sampai saat ini.

Pengertian Panahan

Panahan awalnya ialah alat berburu dan menjaga hidup. Kini, panahan tercatat sebagai cabang olahraga yang dilombakan di Olimpiade.

Panahan ialah kegiatan memakai busur panah guna menembakkan anak panah. Bukti-bukti mengindikasikan panahan dibuka sejak 5.000 tahun lalu. Awalnya, panahan dipakai dalam berburu sebelum berkembang sebagai senjata dalam peperangan dan lantas jadi olahraga ketepatan.

Sejarah Panahan

Berbagai literatur mencerminkan bahwa orang purbakala telah mengerjakan panahan yaitu memakai busur dan panah guna berburu dan untuk menjaga hidup. Bahkan dari sejumlah buku melukiskan bahwa lebih dari 100.000 tahun yang kemudian suku Neanderathal telah memakai busur dan panah. Ahli-ahli purbakala dalam ekskavasi di Mesir pun telah mengejar tubuh seorang prajurit Mesir Kuno yang mendatangi ajalnya karena dimasuki anak panah.
Data mengindikasikan bahwa kejadian tersebut terjadi kira-kira 2100 tahun sebelum masehi. Dari sejumlah buku pun mengemukan bahwa hingga kira-kira tahun 1600 setelah Masehi, busur dan panah adalahsenjata utama masing-masing negara dan bangsa guna berperang.
Hingga kinipun masih terdapat suku-suku bangsa yang mempergunakan busur dan panah dalam penghidupan keseharian mereka, laksana : suku-suku bangsa di hutan-hutan wilayah hulu sungai Amazone, suku-suku Veda di terpencil Srilangka, suku-suku Negro di Afrika, suku-suku Irian di Irian Jaya, suku Dayak dan suku Kubu Dari buku-buku dan keterangan-keterangan yang didapatkan maka ada dua kelompok berpengalaman yang menyampaikan dua teori yang berbeda.
Yang kesatu berasumsi bahwa panah dan busur mulai digunakan dalam peradaban insan sejak “era mesolitik” atau kira-kira antara 5000 – 7000 tahun yang silam, sedang pendapat kedua percaya bahwa panahan lebih mula dari masa itu, yakni dalam “era paleolitik” antara 10.000 – 15.000 tahun yang lalu.
Terlepas dari mana yang benar, maka yang jelas bahwa sebelum panahan mendatangi bentuknya sebagai olahraga laksana yang anda kenal ketika ini, ternyata telah melewati masa perkembangan yang panjang. Melalui peranan yang berbeda-beda, terdahulu panahan dipergunakan orang sebagai perangkat untuk menjaga diri dari serangan bahaya hewan liar, sebagai perangkat untuk menggali makan, atau guna berburu, guna senjata perang dan baru lantas berperan sebagai olahraga baik sebagai rekreasi ataupun prestasi.
Dari daftar sejarah dapat disalin bahwa baru pada tahun 1676, atas prakarsa Raja Charles II dari Inggris, panahan mulai di anggap sebagai sebuah cabang olahraga. Dan kemudian tidak sedikit negara-negara beda yang pun memandang panahan sebagai olahraga dan tidak lagi sebagai senjata guna berperang.
Pada tahun 1844 di Inggris diadakan perlombaan panahan kejuaraan nasional yang kesatu dibawah nama GNAS (Grand National Archery Society), berada di Amerika Seirkat mengadakan kejuaraan nasionalnya yang kesatu pada tahun 1879 di kota Chicago.
Perkembangan Panahan di Indonesia tak berbeda dengan sejarah panahan di dunia, begitu pula tidak seorangpun yang bisa meyakinkan semenjak kapan insan di Indonesia memakai panahan dan busur dalam kehidupannya. Tetapi bilamana kita menyimak cerita-cerita wayang purwa misalnya, jelas bahwa sejarah panah dan busur di Indonesiapun telah lumayan panjang, dan tokoh-tokoh pemanah laksana Arjuna, Sumantri, Ekalaya, Dipati Karno, Srikandi begitu pula Dorna sebagai Coach panahan familiar dalam kisah Mahabharata.
Kalau PON I anda pakai sebagai batasan masa-masa era kebangunan olahraga Nasional, maka Panahan sudah ikut ambil unsur dalam era kebangunan Olahraga Nasional itu. Dalam sejarah PON, Panahan adalahcabang yang tidak jarang kali diperlombakan, walaupun secara yang resmi Persatuan Panahan Indonesia (Perpani) baru terbentuk pada tanggal 12 Juli 1953 di Yogyakarta atas prakarsa Sri Paku Alam VIII. Dan Kejuaraan Nasional yang kesatu sebagai kompetisi yang terorganisir, baru diadakan para tahun 1959 di Surabaya.
Sri Paku Alam VIII selanjutnya menjabat sebagai Ketua Umum Perpani nyaris duapuluh empat tahun dari tahun 1953 hingga tahun 1977. Dengan terbentuknya Organisasi Induk Perpani, maka tahapan kesatu yang dilakukan ialah menjadi anggota FITA (Federation Internationale de Tir A L’arc).
Organisasi Federasi Panahan Internasional yang berdiri semenjak tahun 1931. Indonesia diterima sebagai anggota FITA pada tahun 1959 pada konggresnya di Oslo, Norwegia. Sejak saat tersebut Panahan di Indonesia maju pesat, walaupun pada tahun-tahun kesatu pekerjaan Panahan melulu ada di sejumlah kota di pulau Jawa saja. Kini boleh disebutkan bahwa nyaris di masing-masing penjuru tanah air, Panahan telah mulai dikenal.
Dengan diterimanya sebagai anggota FITA pada tahun 1959, maka pada waktu tersebut di Indonesia di samping dikenal jenis Panahan tradisional dengan ciri-ciri menembak dengan gaya duduk dan instinctive, maka dikenal pula jenis ronde FITA yang adalahjenis ronde Internasional, yang memakai alat-alat pertolongan luar negeri yang lebih canggih dengan gaya menembak berdiri. Dan dengan demikian tersingkap pulalah kesempatan untuk pemanah Indonesia untuk memungut bagian dalam pertandingan-pertandingan Internasional.
Bersamaan dengan tersebut timbul masalah perlengkapan yang mesti ditanggulangi untuk dapat mengambil unsur dalam pertandingan Internasional, pemanah anda harus mempunyai peralatan yang memadai, supaya dapat bersaing dengan lawan-lawannya secara berimbang. Kenyataannya alat-alat ini paling mahal harganya dan susah di dapat. Hanya sejumlah pemanah saja yang dapat menunaikan harga alat-alat tersebut. Keadaan ini merupakan hal penghambat untuk perkembangan olahraga ini.
Untuk menanggulangi masalah ini, pada tahun 1963 Perpani membuat Ronde baru dengan nama Ronde Perpani. Pokok-pokok peraturan pada perpani pada dasarnya sama dengan ronde FITA, kecuali mengenai peralatannya yang digunakan dan jarak tembak dicocokkan dengan keterampilan peralatan yang diciptakan di dalam negeri. Mengenai perlengkapan Ronde Perpani ini diputuskan bahwa melulu busur dan panah yang diciptakan dan dengan bahan domestik yang boleh dipakai.
Dengan peraturan tadi dua urusan yang berkeinginan dicapai, kesatu guna pemasalan belum dibutuhkan peralatan yang mahal, yangg mesti diimport, tetapi lumayan alat-alat yang dapat dibuat di Indonesia. Kedua, Ronde Perpani memiliki peranan guna mempersiapkan pemanah-pemanah anda untuk dapat mengambil unsur dalam pertandingan Internasional, tanpa menantikan tersedianya perangkat yang mesti dibeli dengan harga mahal.
Bagi mereka yang terbukti sukses membuktikan kemampuannya melewati ronde Perpani, diberi peluang memakai perlengkapan Internasional. Sedangkan Ronde Tradisional dengan ciri-ciri dilaksanakan dengan gaya duduk dan instinctive, sulit memungut sumber pemanah langsung dari ronde Tradisional, sebab perbedaan-perbedaan yang sifatnya prinsipil tadi.
Kemudian dengan adanya tiga ronde panahan tersebut, Perpani menata waktu guna kejuaraan nasional inilah ini : Setiap tahun genap diadakan Kejuaraan Nasional guna Ronde Perpani dan Ronde Tradisional, sedang pada tahun ganjil diadakan Kejuaraan Nasional guna ronde FITA.
Kebijaksanaan ini ialah dalam hubungannya dengan peraturan dari FITA yang mengadakan Kejuaraan Dunia pada masing-masing tahun ganjil. Sehingga Kejuaraan Nasional Ronde FITA itu dimaksudkan guna persiapkan dan memilih semua pemanah Indonesia yang bakal diterjunkan ke kejuaraan Dunia. Sedangkan pada PON diperlombakan ketiga ronde sekaligus.
Sejak Konggres Perpani tahun 1981 bersamaan dengan PON X, pola kearifan Perpani dirubah, yakni bahwa Kejuaraan Nasional diadakan setiap tahun (kecuali tahun diselenggarakannya PON tidak terdapat Kejuaraan Nasional) dan diperlombakan ketiga ronde Panahan sekaligus yakni Ronde FITA, Ronde Perpani dan Ronde Tradisional.
Perlu diajukan disini bahwa sebelum tahun 1959 yakni tahun diterimanya Perpani sebagai anggota FITA, pada PON – I tahun 1948 di Solo, PON II/1951 di Jakarta, PON – III/1953 di Medan, PON – IV/1957 di Makasar, panahan melulu memperlombakan Ronde Tradisional, yakni ronde duduk, dengan melulu satu jarak 30 meter, dengan 48 ekstra @ 4 anak panah dan dengan sasaran bulatan dengan hanya dipecah tiga unsur saja.

Selanjutnya sejumlah kejadian urgen yang dapat diajukan mengenai dunia Panahan Indonesia, antara beda :

1.Tahun 1959 : Kejuaraan Nasional I di Surabaya.
2.Tahun 1961 : Kejuaraan Nasional II di Yogyakarta.
3.Tahun 1962 : Kejuaraan Nasional III di Jakarta.
4.Asian Games IV di Jakarta, dimana rombongan Panahan Indonesia menempati tempat kedua di bawah Jepang.
5.Tahun 1963 : Kejuaraan Nasinal IV di Jakarta.
6.Genefo I di Jakarta, dimana rombongan Indonesia (Putera) menempati tempat keempat dan rombongan puterinya kedua.
7.Tahun 1964 : Perlawatan rombongan Nasional ke RRC dan Phlipina. Selama di RRC pemanah-penahan lelaki kita dalam tiga pertandingan menempati tempat teratas. Sedangkan puteri anda tetap harus mengakui kelebihan pemanah-pemanah puteri RRC. Di Philipiina kebalikannya pemanah-pemanah tuan rumah, sedang pemanah puteri anda unggul dari pemanah-pemanah Philipina.
8.Tahun 1965 : Kejuaraan Dunia di Vesteras, Swedia, dimana rombongan puteri Indonesia ketiga belas dan rombongan puteri kesembilan terbaik di dunia.
9.Tahun 1966 : Ganefo Asia I di Phnom Penh, Kamboja. Regu putera menduduki urutan teratas, dan dua orang jago kita sukses merebut medali emas dan perak guna kejuaraan perorangan. Regu puteri kita menempati tempat kedua di bawah RRC.
Untuk selanjutnya, pertumbuhan dan prestasi Panahan Indonesia tidak mengecewakan. Kejuaraan Nasional selalu diadakan setiap tahun, yakni tahun genap guna Ronde Perpani dan Ronde Tradisional, sedang pada tahun aneh untuk Ronde FITA (sejak tahun 1982 Kejuaraan Nasional diadakan setiap tahun guna ketiga ronde Panahan yakni Ronde FITA, Ronde Perpani dan Ronde Tradisional sekaligus).

Demikian pula Perpani selalu berjuang dan sukses mengikuti kejuaraan-kejuaraan Dunia, walaupun hasilnya masih di bawah pemanah-pemanah Asia masih menduduki urutan teratas. Juga pada pertandingan-pertandingan Internasional lainnya laksana Asian Games, SEA Games, Asian Meeting Championships, Asia Oceania Target Archery Championships, Perpani tidak jarang kali ikut memungut bagian.

Demikialah pertumbuhan Panahan dan Perpani sampai ketika ini, dimana cabang Panahan tergolong di dalam cabang yang diprioritaskan, bahkan tergolong cabang super-prioritas, di dalam persiapan menghadapi Asian Games XIII/1986 di Seoul – Korea Selatan. Hal ini tentunya sebab prestasi cabang Panahan yang telah dijangkau selama ini.

Perlu disalin bahwa dalam forum Olympic Gamespun Panahan sudah ikut berbicara, walaupun pihak Pemerintah selalu mengantarkan pemanah-pemanah anda dalam jumlah yang minim, yakni satu putera dan satu puteri. Tetapi sejarah telah menulis bahwa pada Olympic Games tahun 1976 di Montreal – Kanada pemanah puteri kita yakni Leane Suniar sukses menempati urutan kesembilan dan pada Olympic Games Tahun 1988 di Seoul – Korea Selatan, pemanah team puteri kita sukses menempati urutan kedua dan kesatu kalinya Indonesia mendapat perak di arena yang bertaraf Internasional. Suatu prestasi yang paling membanggakan.



Teknik Dasar Panahan

1.Standing (posisi berdiri)
Posisi berdiri selebar bahu dengan badan tegak. rileks n nyaman. terdapat 3 macam posisi berdiri, yakni open stance, square dan close stance. untuk pemula sangat dianjurkan menggunakan square (sejajar). urusan ini untuk menyusun tehnik yang baik dan benar terlebih dahulu.

2.Memasang anak panah pada string panah
Pasang n kaitin nock ato nyit-nyit panah pada string unsur nocking point.

3.Posisi hock (jari penarik string)
Jari yang dipakai untuk unik string ialah jari telunjuk, jari tengah dan jari manis. posisi string pada jari ini ialah pada ruas kesatu. pembagian kekuatan tarikan pada jari telunjuk sebesar 15-20%, jari tengah 60-70% dan jari manis 25-35%. nyit-nyit jangan diapit oleh jari telunjuk maupun jari tengah. tetap rileks selama mengerjakan tarikan.

4.Grip (tumpuan pada pegangan busur)
Tumpuan /grip yang nyaman. terbagi menjadi 3 bagian, yakni grip tinggi, sedang dan rendah. setiap pemanah dapat menyesuaikan dengan style masing-masing. desakan pada grip terletak pada tapak tangan antara jempol dan jari telunjuk. handle busur tidak boleh digenggam, selalu pakai sling untuk mengerjakan tembakan.

5.Pre-draw (posisi awalan tarikan)
Tangan yang memegang busur diluruskan kedepan bersamaan dengan tersebut siku tangan yang satunya diusung hingga setinggi telinga. tangan kiri (pemegang busur) lurus tidak boleh ditekuk guna menghindari sabetan string busur dan laju panah supaya lurus cocok dengan bidikan.

6.Draw (tarikan)
Lakukan tarikan sepanjang barangkali sesuai dengan panjang lengan.

7.Posisi angker
Posisi seram string lurus dari hidung, celah bibir atas dan bawah sampai dagu masing-masing. unsur atas telunjuk kanan (hock) menyentuh pada unsur dasar rahang kanan.

8.Bidikan
Bidikkan fisir (alat bidik) ke arah target tembakan. tetap simaklah line up sebagai patokan tembakan yang terbaik. line up dapat menggunakan patokan tepi daun busur unsur atas, tepi handle unsur atas, atau tepi fisir. patokan diciptakan dengan menyaksikan string pada posisi draw dan siap tembak.

9.Release (melepaskan panah)
Saat release seluruh jari-jari hock rileks. secara tidak langsung string bakal lepas dengan sendirinya. badan dan semua anggotanya tetap diam sampai panah mengenahi sasaran.

10.Gerak Lanjutan
Gerakan ini secara otomatis terjadi sesat sesudah relesae. tapak tangan kanan (jari-jarai hock) bergerak kebelakang sepanjang rahang sampai leher.

Manfaat Olagraga Panahan

1. Meningkatkan konsentrasi
Satu detik sebelum tali busur panah ditarik, pemanah masuk ke dalam ruang hening. Yang terdapat hanyalah dirinya sendiri, busur, anak panah, dan sasaran.
Ia berkonsentrasi penuh, berjuang fokus untuk titik merah di tengah papan sasaran. Ia hendak menggapai ruang di tengah papan sasaran itu. Titik merah yang bakal memberinya poin sangat tinggi. Sebuah pencapaian paripurna dari seorang pemanah. Bagi menggapai pusat sasaran itu, ia bergulat dengan dirinya sendiri. Mematian seluruh suara yang mengusik dirinya.
Seorang pemanah, lagipula yang profesional, mesti punya “ruang hening” ini. Ia berkonsentrasi penuh, yang mana sebuah kegiatan berat dan dapat membuat pemanah mandi keringat. Yang butuh ia lakukan ialah fokus.

2. Membangun kesabaran
Ketika tali busur panah telah terentang sempurna, seorang pemanah tak bakal langsung melepas anak panah. Ia hirup udara satu per satu, kemudian menghembuskannya dengan perlahan, merasakan udara yang masuk dan keluar.
Ketika seorang pemanah terburu-buru melepas anak panah, ia malah akan tidak berhasil menggapai titik merah di pusat papan sasaran.

3. Baik guna mata
Dari konsentrasi, lalu konsentrasi dengan satu titik pada sasaran, seorang pemanah dapat melatih otot-otot matanya. Fokus dan fokus pada satu titik dengan jarak yang lumayan jauh, yang dilaksanakan berulang-ulang, bakal memperkuat otot mata.

4. Menambah kecerdasan
Olahraga panahan menuntut si pemanah untuk beranggapan lebih. Misalnya, si pemanah mesti memperkirakan arah berhembusnya angin. Tak melulu soal arah, namun pun kuat dan lembutnya hembusan angin tersebut.

5. Olahraga sosial
Olahraga panahan pasti saja diikui oleh tidak sedikit orang. Dari pelatih, anak didik, sampai orang tua yang tengah menunggui anak-anak mereka. Oleh karena itu, terbuka tidak sedikit peluang guna bersosialisasi. Akibatnya, seorang pemanah, seringkali punya keyakinan diri yang tinggi dan gampang bergaul sebab komunikasi yang intens, kecuali saat ia tengah mengincar sasaran.

Peralatan Panahan

1. Arrow ( Anak panah )

Ada 3 jenis arrow yang biasa digunakan dalam olahraga panahan, yakni yang terbuat dari kayu, fiberglass, dan alumunium. Tiap jenis arrow memiliki karakteristik tersendiri dan menghasilkan penampilan yang berbeda dengan bow yang sama. Dalam membeli arrow, ukuran shaft dan bow harus dipertimbangkan. Panjang draw dari shooter menentukan yang mana ukuran shaft yang terbaik karena panjang arrow dapat mengubah rusuk dari ukuran shaft tertentu. Jenis- jenis anak panah :

  • Arrow dari Kayu

Arrow yang paling mudah didapat adalah yang terbuat dari kayu. Namun, arrow ini tidak tahan lama karena dapat diserang rayap, terutama jika disimpan di tempat lembap. Arrow dari kayu biasanya dipakai untuk nomor tradisional dan jemparingan . harga untuk anak panah bambu berkisar dari harga 300 ribu-500 ribu.

  • Arrow Carbon

Anak panah jenis carbon digunakan dalam nomor FITA recurve dan FITA compound. Harga untuk anak panah jenis ini lebih mahal dari pada anak panah bambu dan anak panah alumunium . satu lusin anak panah carbon seharga 6 juta rupiah.

  • Arrow Alumunium

Anak panah jenis ini digunakan untuk nomor nasional dengan busur standart bow. Harga untuk anak panah alumunium berkisar 1 juta 400 ribu rupiah.

2. Bow (Busur)

Busur terdiri dari beberapa komponen , diantaranya adalah :
a. Handle Section/riser : merupakan bagian yang berguna sebagai pegangan grip saat memegang busur.
b. Dahan busur ( Limbs) : adalah sebuah sayap atas pada busur yang berguna menghasilkan kekuatan lecutan pada anak panah saat ditarik oleh pemanah.
c. Tali Busur ( BowString ) : terdapat bagian-bagian dari tali busur yaitu mata tali (loop) yang dimasukkan pada ujung sayap atas dan bawah , nocking point yang digunakan sebagai tempat anak panah di tali dan balutan tali ( serving ).
d. Alat Pembidik ( visir ) : Penggunaan alat pembidik ini sangat penting karena dalam pertandingan panahan jarak yang digunakan setiap ronde berbeda-beda setiap jaraknya, maka dari itu setiap pemanah akan selalu mengubah alat pembidik dalam setiap jarak apabila pemanah dalam bertanding lupa dalam mengubah alat tersebut ketika terjadi perpindahan jarak, maka akibatnya fatal dalam perolehan point.
e. Klicker : Klik anak panah biasanya dipakai oleh pemanah yang sudah menguasai tehnik-tehnik dasar panahan . klicker berfungi sebagai penanda saat anak panah ditari maksimal, setelah aanak panah ditarik maksimal, maka klicker akan berbunyi dan anaak panah harus segera dilepaskan.
f. Sandaran Anak panah ( Arrow rest ) : Sandaran anak panah berungsi sebagai tempat/ menyandarkan batang anak panah sebelum anak panaah melesat. Tempat arrow rest terletak menempel dibagian handle.
g. Peredam Getaran ( Stabilisator ) : Peredam getaran yang terbuat dari campuran alumunium ataupun fiber berfungsi meredam getaran, getaran yang terjadi setelah pemanah melesatkan anak panah. Peredam getaran yang bentuknya panjang disebut dengan long stabilisator, dan peredam getaran yang berbentu pendek disebut dengan short stabilisator.

3. Aksesoris Pelindung Pemanah

a. Pelindung tangan penarik ( Finger Tab ) : pelindung tangan penarik berfungsi melindungi tangan khususnya di 3 jari penarik yaitu jari telunjuk, jari tengah, dan jari manis. Pemanah dalam menarik tali pada saat bertanding dilakukan secara berulang-ulang, sehingga kekuatan daya tahan terutama pada ketiga jari tersebut penting, maka finger tab diperlukan untuk melindungi tangan saat menarik tali busur agar tidak sakit. Bahan untuk finger tab ini terbuat dari kulit.

b. Pelindung lengan (Arm Guard) : Bahan yang terbuat dari campuran plastik, pelindung lengan dipakai dibagian lengan depan kiri. Pelindung lengan berfungsi melindungi lengan dari gesekan tali ke lengan, sehingga pemanah yang sudah mahir selalu menggunakan alat tersebut, terlebih sebagai pemanah pemula.

c. Kantong Panah (Quiver) : Kantong panah berfungsi untuk menempatkan anak panah. Anak panah apabila ditempatkan sembarangan tempat akan mudah rusak terutama bulunya. Bahan yang digunakan ada yang terbuat dari kulit, tetapi ada juga yang terbuat dari campuan plastik. Panjang kantong anak panah yang bagus disesuaikan dengan panjang anak panah yang dimiliki masing-masing anak pemanah.

d. Pelindung dada (Chest Guard) : berfungsi sebagai peindung dada agar tali saat dilepaskan tidak mengenai dada/kaos yang dipakai seorang pemanah. Jika tali selalu mengenai kaos maka lesatan anak anah tidak akan bisa berjalan dengan baik dan sempurna.

e. Penopang Busur (Ground) : Ground berfungsi sebagai tempat penopang / meletakkan busur saat latihan maupun bertanding. Selain itu fungsinya agar posisi busur maupun tali tidak akan berubah-ubah karena sudah diletakkan pada ground. Bagian busur yang diletakkan pada ground yaitu bagian handle.

f. Penarik Anak Panah (Puller) : Puller berfungsi sebagai penarik anak anah yang menancap di target . karena ada saat anak panah menancap kedalamannya berbeda-beda. Anak panah yang sangat dalam menancap akan sulit ditarik, apabila tidak menggunakan bantuan puller. Maka dengan menggunakan puller akan mempermudah pemanah dalam mengambil anak panah.

Share