Pengertian,Tujuan,Fungsi, Prinsip, Supervisi Pendidikan

Pengertian,Tujuan,Fungsi, Prinsip, Supervisi Pendidikan –  Pendidikan adalahpersoalan vital untuk setiap segi kamajuan dan perkembangan insan pada khusunya dan bangsa pada umumnya. Kemajuan dalam segi edukasi maka bakal menilai kualitas sumber daya insan dan pertumbuhan bangsa yang kearah lebih baik dan maju. Peningkatan kualitas edukasi tidaklah mudah tetapi membutuhkan masa-masa yang panjang dan keterlibatan sekian banyak komponen dan elemen.
Dewasa kini tidak sedikit orang berkata tentang merosotnya bobot pendidikan. Di beda pihak tidak sedikit pula yang mengembor-gemborkan dan menandaskan bahwa butuh dan pentingnya rekonstruksi atau pembaharuan edukasi dan pengajaran, ironinya paling sedikit sekali semua pemerhati dan pengkritisi edukasi yang berkata mengenai soal solusi masalahnya (problem solving) perbaikan edukasi dan pengajarannya supaya lebih maju dan menjangkau tujuan edukasi yang hakiki.
Sekolah sebagai lembaga edukasi yang berperan sebagai di antara wakil dari pemerintah pusat Indonesia maka peran sekolah berkewajiban guna dapat menjangkau tujuan edukasi nasional. Dalam organisasi sekolah, status kepala sekolah merupakan hal penentu, pengerak segala sumber daya yang terdapat dalam sekolah, supaya segala komponen yang di dalamnya dapat bermanfaat secara maksimal dalam menambah mutu pendidikan. Kelapa sekolah yang bermanfaat sebagai edukator, manajer, administrator, leader, motivator dan supervisor sekolah.
Guru mempunyai peran yang paling besar, besarnya tanggung jawab guru dalam edukasi adalahtantangan bila dikaitkan dengan mutu edukasi dewasa kini. Keluhan masyarakat terhadap merosotnya mutu edukasi seharusnya bisa menjadi refleksi untuk para guru yang tidak kompeten dan profesional. Guru profesional tidak saja sekedar bisa menguasai pelajaran dan sebagai alat guna transmisi kebudayaan namun dapat mentransformasikan pegetahuan, nilai dan kebudayaan kearah yang dinamis yang menuntut produktifitas yang tinggi dan kualitas karya yang bisa bersaing.

Dalam konteks ini sebetulnya guru yang tidak cukup profesional paling membutuhkan tuntunan dan arahan dari orang beda atau supervisor dalam memecahkan masalah-masalah yang mereka hadapi untuk menjangkau tujuan pendidikan, contohnya seperti masalah tidak cukup pahamnya destinasi pendidikan, destinasi kulikuler, serta destinasi instruksional dan oprasional. Sehingga peran guru yang paling besar dalam menambah mutu edukasi akan bisa tercapai andai semua persoalan yang dihadapi oleh semua guru bisa dipecahkan dengan baik. Dan seorang yang di sebut supervisor yang mempunyai faedah sebagai pembimbing, mengarahkan, menolong dalam urusan ini ialah Kepala Sekolah (supervisor) yang masing-masing hari langsung berhadapan dengan guru.

Supervisi adalah salah satu faedah kepala sekolah untuk menambah kualitas dan profesionalisme guru dalam mengemban pengajaran. Sehubungan dengan pentingnya kegiatan supervisi sekoalah yang sehubungan dengan penambahan kualitas guru pada terutama dan penambahan mutu edukasi pada umumnya, maka dalam penulisan makalah ini akan dibicarakan seputar kegiatan supervisi edukasi atau sekolah dalam upaya menambah kualitas mutu edukasi Indonesia.

PENGERTIAN SUPERVISI PENDIDIKAN

Supervisi adalah kegiatan yang ditujukan untuk memperbaiki dan meningkatkan proses dan prestasi pendidikan. Atau bantuan yang diberikan kepada guru dan seluruh staf untuk mengembangkan situasi pembelajaran yang lebih baik.

  • Arti morfologis

Supervisi berasal dari bahasa inggris “ supervision” yang tersdiri dari dua perkataan “suoer” dan “vision”.super berarti atas atau , sedangkan vision berarti melihat atau meninjau .

  • Arti semantic

Supervisi pendidikan adalah pembinaan yang berupa bimbingan atau tuntunan kearah perbaikan situasi pendidikan pada umumnya dan peningkatan pada mutu mengajar dan belajar pada khususnya.

Pengertian Supervisi Menurut Pendapat Para Ahli :

  1. Good Carter, Memberi pengertian supervisi adalah usaha dari petugas-petugas sekolah dalam memimpin guru-guru dan petugas lainnya, dalam memperbaiki pengajaran, termasuk menstimulir, menyeleksi pertumbuhan jabatan dan perkembangan guru-guru dan merevisi tujuan-tujuan pendidikan, bahan-bahan pengajaran, dan metode mengajar dan evaluasi pengajaran. God Carter melihatnya sebagai usaha memimpin guru-guru dalam jabatan mengajar,
  2. Boardman. Menyebutkan Supervisi adalah salah satu usaha menstimulir, mengkoordinir dan membimbing secarr kontinyu pertumbuhan guru-guru di sekolah baik secara individual maupun secara kolektif, agar lebih mengerti dan lebih efektif dalam mewujudkan seluruh fungsi pengajaran dengan demikian mereka dapat menstmulir dan membimbing pertumbuan tiap-tiap murid secara kontinyu, serta mampu dan lebih cakap berpartsipasi dlm masyarakat demokrasi modern. Boardman. Melihat supervisi sebagai lebih sanggup berpartisipasi dlm masyarakat modern.
  3. Wilem Mantja (2007) Mengatakan bahwa, supervisi diartikan sebagai kegiatan supervisor (jabatan resmi) yang dilakukan untuk perbaikan proses belajar mengajar (PBM). Ada dua tujuan (tujuan ganda) yang harus diwujudkan oleh supervisi, yaitu; perbaikan (guru murid) dan peningkatan mutu pendidikan. Willem Mantja memandang supervisi sebagai kegiatan untuk perbaikan (guru murid) dan peningkatan mutu pendidikan
  4. Kimball Wiles (1967) Konsep supervisi modern dirumuskan sebagai berikut : “Supervision is assistance in the development of a better teaching learning situation”. Kimball Wiles beranggapan bahwa faktor manusia yg memiliki kecakapan (skill) sangat penting untuk menciptakan suasana belajar mengajar yg lebih baik.
  5. Mulyasa (2006) supervisi sesungguhnya dapat dilaksanakan oleh kepala sekolah yang berperan sebagai supervisor, tetapi dalam sistem organisasi modern diperlukan supervisor khusus yang lebih independent, dan dapat meningkatkan obyektivitas dalam pembinaan dan pelaksanaan tugas.
  6. Ross L (1980), mendefinisikan bahwa supervisi adalah pelayanan kapada guru-guru yang bertujuan menghasilkan perbaikan pengajaran, pembelajaran dan kurikulum. Ross L memandang supervisi sebagai pelayanan kapada guru – guru yang bertujuan menghasilkan perbaikan.
  7. Purwanto (1987), supervisi ialah suatu aktivitas pembinaan yang direncanakan untuk membantu para guru dan pegawai sekolah dalam melakukan pekerjaan secara efektif.

TUJUAN SUPERVISI PENDIDIKAN

Adapun tujuan supervisi pendidikan dapat dirinci sebagai berikut :

  • Meningkatkan efektivitas dan efisiensi proses belajar mengajar.
  • Mengendalikan penyelenggaraan bidang teknis edukatif di sekolah sesuai dengan ketentuan dan kebijakan yang telah ditetapkan.
  • Menjamin agar kegiatan sekolah berlangsung sesuai dengan ketentuan yang berlaku, sehingga berjalan lancar dan berhasil secara optimal.
  • Menilai keberhasilan sekolah dalam pelaksanaan tugasnya.
    Memberikan bimbingan langsung untuk memperbaiki kesalahan dan kekurangan, serta membantu memecahkan masalah yang dihadapi sekolah sehingga dapat dicegah kesalahan yang lebih jauh.

PRINSIP SUPERVISI PENDIDIKAN

Prinsip Ilmiah, dengan ciri-ciri :

  • Kegiatan supervisi dilaksanakan berdasarkan data yang objektif yang diperoleh dalam kenyataan proses pelaksanaan PBM (Proses Belajar Mengajar).
  • Untuk memperoleh data diperlukan alat perekam data (angket, observasi, percakapan pribadi, dan lain-lain).
  • Setiap kegiatan supervisi dilaksanakan secara sistematis, terencana dan kontinu.

Prinsip Demokratis

  • Yakni dilaksanakan berdasarkan hubungan kemanusiaan yang akrab sehingga guru merasa perlu untuk mengembangkan tugasnya. Demokratis mengandung makna menjunjung tinggi harga diri dan martabat guru.

Prinsip Kerja Sama

  • Yakni mengembangkan usaha bersama atau “sharing of idea, sharing of experience” serta memberi support, dorongan dan menstimulasi guru sehingga mereka merasa tumbuh bersama.

Prinsip Demokratis dan Kreatif



  • Setiap guru akan merasa termotivasi dalam mengembangkan potensi kreativitasnya jika supervisi mampu menciptakan suasana kerja yang menyenangkan, bukan menakutkan.

FUNGSI SUPERVISI PENDIDIKAN

  • Mengadakan penilaian terhadap pelaksanaan kurikulum dengan segala sarana dan prasarana.
  • Membantu serta membina guru dengan cara memberikan petunjuk sehingga keterampilan dan kemampuannya meningkat.
  • Membantu kepala sekolah/ guru untuk menghadapi dan menyelesaikan masalah.

Sasaran supervisi pendidikan

Secara umum sasarannya adalah proses pembelajaran peserta didik dengan tujuan meningkatkan mutu proses dan hasil pembelajaran. Karena itu supervisi pendidikan menaruh perhatian utama pada upaya-upaya peningkatan provesionalitas guru sehingga memiliki kemampuan:

  • Merencanakan kegiatan pembelajaran,
  • Melaksanakan pembelajaran,
  • Menilai proses dan hasil pembelajaran,
  • Memanfaatkan hasil penilaian
  • Memberikan umpan balik,
  • Melayani peserta didik yang mengalami kesulitan,
  • Menciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan,
  • Mengembangkan dan memanfaatkan alat bantu pembelajaran,
  • Memanfaatkan sumber-sumber pembelajaran yang tersedia,
  • Mengembangkan interaksi pembelajaran (strategi, metode, dan teknik),
  • Melakukan penelitian praktis untuk perbaikan pembelajaran.

Secara khusus dapat diklasifikasikan:

  • Sasaran administratif (teknis administratif) misal perangkat pembelajaran
  • Sasaran edukatif (teknis edukatif) misal pelaksanaan pembelajaran.

Teknik-teknik supervisi pendidikan

1.Kunjungan Kelas

Supervisor menginjak ruang ruang belajar pada pelaksaan KBM. Teknik ini dilaksanakan dengan tiga cara, yaitu:

  • Direncanakan pengawas dan diumumkan kepada guru yang bersangkutan
  • Direncanakan oleh pengawas, namun tidak diumumkan kepada guru yang bersangkutan
  • Direncanakan oleh guru, lantas mengundang pengawas.
    Kunjungan ruang belajar ini bertujuan untuk mengoleksi informasi dalam rangka penambahan kualitas proses dan hasil pembelajaran bukan menilai kondite.

2.Pertemuan Pribadi

Pertemuan pribadi ialah dialog antara pengawas dan guru tentang usaha-usaha meningkatkan keterampilan profesional guru. Pertemuan pribadi dilaksanakan dengan dua cara, yaitu:

  • Pertemuan individu sebelum trafik kelas
    Pertemuan ini merundingkan upaya perbaikan proses pembelajaran sampai-sampai akan menjadi konsentrasi obserfasi kelas.
  • Pertemuan individu sesudah trafik kelas.
    Pertemuan ini membicarakan keunggulan dan kelemahan proses pembelajaran yang telah dilakukan sehingga menjadi umpan balik bagii guru untuk membetulkan dan meninghkatkan proses pembelajaran.

3.Rapat Dewan Guru

Rapat dewan guru adalahpertemuan antar seluruh guru dan kepala sekolah yang membicarakan sekian banyak hal yang mencantol penyelenggaraan edukasi dan proses pembelajaran. Maksud rapat dewan guru:

  • Mengatur semua anggota staff supaya memiliki keserupaan tujuan
  • Mendorong anggota supaya mengetahui tangung jawab masing-masing
  • Bersama-sama menilai teknik yang dapat dilaksanakan perbaikan PBM
  • Meningkatkan arus komunikasi dan informasi.

4.Kunjungan Antar Kelas

Guru dikelas yang satu berangjangsana ke ruang belajar yang beda dalam satu lingkungan sekolah.

5.Kunjungan Sekolah

Pengawas mendatangi sekolah secara tertata untuk menyerahkan pembinaan, baik dengan pengumuman maupun seketika atau atas undangan guru atau kepala sekolah.

6.Kunjungan antar sekolah

Guru-guru atau staff mendatangi sekolah-sekolah yang dinilai sukses dan patut dijadikan contoh. Pengawas bisa memanfaatkan guru sekolah beda untuk menyerahkan pembinaan.

7.Penerbitan buletin profesional

Buletin profesional merupakan selebaran rutin yang mengandung topik-topik tetentu sehubungan dengan usaha penambahan proses belajar-mengajar. Buletin ini tidak haru sditulis oleh semua ahli, tetapi seluruh guru atau staff yang telah memiliki pengalaman keberhasilan dalam proses pembelajaran.

8.Penataran atau edukasi dan pelatihan

Penataran atau diklat dapat dilakukan dari sekolah sendiri atau mengekor program yang dilakukan oleh pihak-pihak tertentu.

Tipe-tipe Supervisi

1.Tipe Inspeksi

Tipe ini adalahtipe supervisi yang mengharuskan supervisor turun menyaksikan langsung hal-hal yang digarap targer supervisi. Kegiatan supervisi yang menggunkan tipe ini, bilamana target supervisi mengerjakan dalam kegiatan kerjanya, supervisor bisa menginformasikannya secara langsung untuk target supervisi supaya langsung menyadari kesalahannya dalam proses untuk menjangkau tujuan edukasi sekolah.

Ketika supervisor menjalankan tipe ini, maka yang mesti diacuhkan adalah:

  • Supervisi tidak boleh dilaksanakan menurut hubungan individu maupun keluarga.
  • Supervisi hendaknya tidak bisa jadi terhadap pertumbuhan dan hasrat guna maju untuk bawahannya. Supervisi tidak boleh terlampau cepat menginginkan hasil, mendesak.
  • Supervisi jangan menuntut prestasi di luar keterampilan bawahannya.
  • Supervisi jangan egois, tidak jujur dan memblokir diri terhadap kritik dan saran dari bawaannya.

2.Tipe Laisses Faire

Tipe ini target supervisi diserahkan kebebasan dalam menjalankan aktifitasnya. Sebab yang dutamakan dalam supervisi model ini ialah hasil akhir sampai-sampai supervisor tidak begitu intens daslam memusatkan proses kerja yang dilakukan target supervisi. Di samping itu bilamana kita memakai tipe inii, supervisor jangan memaksakan kemauannya (otoriter) untuk orang-orang yang disupervisi.

Supervisor juga diwajibkan memberikan argumentasi atau dalil yang rasional mengenai tindakan-tindakan serta instruksinya. Hendaknya tidak menonjolkan jabatan atau kekuasaannya supaya tidak menghambat kreativitas bawahannya.

3.Tipe Coersive

Tipe coersive (paksaan) supervisor dalam mengemban tugasnya turut campur dalam mengembangkan pendidiknya. Tipe supervisi laksana ini diperuntukan untuk para pendidik dan tenaga kependidikan yang masih lemah daslam mengetahui tugas dan tanggung jawabnya. Tipe laksana ini “terpaksa” dilaksanakan karena pendapat A. Sitohang yang mengaku bahwa pengembangan sumber daya insan masih paling dibutuhkan. Karena ternyata dari hasil riset menunjukan masih tidak sedikit kekurangan dan kekurangan yang masih mesti diperbaiki, khususnya dalam bidang pengetahuan, kemampuan, dan ketrampilan yang cocok dengan target organisasi. Dalam urusan ini ialah seperti lembaga edukasi Islam.Dengan adanya tipe ini, diinginkan problem laksana ini bakal cepat teratasi.

4.Tipe Training and Guidance

Tipe training and guidance (pelatihan dan pendampingan) adalahtipe supervisi yang menekankan keefektifan target supervisi. Kegiatan supervisi dilakukan dengan berbasis untuk pengembangan minat dan bakat target supervisi. Tipe training and guidance ini sesuai digunakan bilamana target supervisi masih belum kawakan dalam mengemban tugas keprofesian pendidikan. Namun, tipe ini bisa diterapkan untuk target supervisi yang sudah berpengalaman.

Agar tipe training and guidance ini bisa dijalankan secara efektif, maka supervisor hendaknya pun menyiapkan sekian banyak macam sikap yang bersinergi dengan tugasnya. Teori Kiyosaki, maka sejumlah sikap yang diperlukan supervisor itu antara lain:

  • Supervisor hendaknya bersikap positif terhadap segala macam persepsi baik yang positif maupun negatif untuk dirinya.
  • Supervisor dituntut guna dapat memimpin organisasi profesi pengawas guna dapat menambah kinerjanya dalam hal pemantauan dan pengawasan baik secara institusional (satuan pendidikan) maupun personal (pendidikan dan tenaga kependidikan).
  • Supervisor hendaknya mempunyai sikap yang superl dalam berkomunikasi untuk segenap stakeholders pendidikan. Sikap yang aktif, efektif dan mengasyikkan dalam berkomunikasi bakal memperlancar tugas supervisi. Sehinggak pencapaian target bakal terealisasi dengan tepat.
  • Supervisor mesti bersikap berani terhadap usaha intimidasi atau desakan dari pihak beda dalam menjalankan tugas pemantauan dan pembinaan.
  • Supervisor dituntut bertanggung jawab atas hasil supervisi terhadap satuan edukasi yang dibinanya.  Pertanggungjawaban atas hasil kerja adalah indikasi bahwa supervisor mengerjakan pembinaan dan pemantauan dengan baik untuk satuan edukasi yang dibinanya.

5.Tipe Demokratis

Keterlibatan target supervisi paling diandalkan dalam tipe supervisi demokratis. Hal utama yang hendak dituju ialah adanya kerjasama pembinaan antara supervisor dan target supervisor dan target supervisor. Langkah ini dilakukan supaya target supervisi ikut menikmati sendiri terhadap program supervisi yang dijalankan kepadanya. Bagi itu, supervisor jangan boleh mempunyai sifat otoriter dalam menjalankan pekerjaan supervisi.[6] Keseluruhan tipe supervisi demokratis ini difokuskan ke dalam satuan pendidikan mencakup manajemen kurikulum pembelajaran; kesiswaan; sarana prasarana; ketenagaan; keuangan; hubungan sekolah dengan masyarakat dan layanan khusus.

Share