10 Tokoh Penemu Muslim di Dunia Gambar dan Keterangan

10 Tokoh Penemu Muslim di Dunia Gambar dan Keterangan – Tidak sedikit yang memahami peradaban Islam yang kini dirasakan kuno dan ketinggalan zaman, sebetulnya sudah lebih dulu maju dikomparasikan bangsa Barat pada zaman dahulu. Tidak sedikit semua ilmuwan dari dunia Islam yang sudah menemukan tidak sedikit juga pengetahuan dan menjadi fondasi untuk peradaban canggih saat ini. Ilmuwan Muslim memang sudah lebih dulu melakukannya. Berikut berikut 10 penemu Muslim yang paling dominan di dunia.

1.IBNU AL-BAITAR (1197-1248)

Nama lengkapnya Abu Muhammad Abdallah Ibn Ahmad Ibn al-Baitar Dhiya al-Din al-Malaqi. Namun salah satu ilmuwan Muslim terbaik yang pernah ada ini lebih dikenal sebagai Ibnu Al-Baitar. Dia dikenal sebagai ahli botani (tetumbuhan) dan farmasi (obat-obatan) pada abad pertengahan. Dilahirkan pada akhir abad 12 di kota Malaga (Spanyol), Ibnu Al-Baitar menghabiskan masa kecilnya di tanah Andalusia tersebut.
Minatnya pada tumbuh-tumbuhan sudah tertanah semenjak kecil. Beranjak dewasa, dia pun belajar banyak mengenai ilmu botani kepada Abu al-Abbas al-Nabati yang pada masa itu merupakan ahli botani terkemuka. Dari sinilah, al-Baitar pun lantas banyak berkelana untuk mengumpulkan beraneka ragam jenis tumbuhan.
Tahun 1219 dia meninggalkan Spanyol untuk sebuah ekspedisi mencari ragam tumbuhan. Bersama beberapa pembantunya, al-Baitar menyusuri sepanjang pantai utara Afrika dan Asia Timur Jauh. Tidak diketahui apakah jalan darat atau laut yang dilalui, namun lokasi utama yang pernah disinggahi antara lain Bugia, Qastantunia (Konstantinopel), Tunisia, Tripoli, Barqa dan Adalia.
Setelah tahun 1224 al-Baitar bekerja untuk al-Kamil, gubernur Mesir, dan dipercaya menjadi kepala ahli tanaman obat. Tahun 1227, al-Kamil meluaskan kekuasaannya hingga Damaskus dan al-Baitar selalu menyertainya di setiap perjalanan. Ini sekaligus dimanfaatkan untuk banyak mengumpulkan tumbuhan. Ketika tinggal beberapa tahun di Suriah, Al-Baitar berkesempatan mengadakan penelitian tumbuhan di area yang sangat luas, termasuk Saudi Arabia dan Palestina, di mana dia sanggup mengumpulkan tanaman dari sejumlah lokasi di sana.
Sumbangsih utama Al-Baitar adalah Kitab al-Jami fi al-Adwiya al- Mufrada. Buku ini sangat populer dan merupakan kitab paling terkemuka mengenai tumbuhan dan kaitannya dengan ilmu pengobatan Arab. Kitab ini menjadi rujukan para ahli tumbuhan dan obat-obatan hingga abad 16. Ensiklopedia tumbuhan yang ada dalam kitab ini mencakup 1.400 item, terbanyak adalah tumbuhan obat dan sayur mayur termasuk 200 tumbuhan yang sebelumnya tidak diketahui jenisnya. Kitab tersebut pun dirujuk oleh 150 penulis, kebanyakan asal Arab, dan dikutip oleh lebih dari 20 ilmuwan Yunani sebelum diterjemahkan ke bahasa Latin serta dipublikasikan tahun 1758.
Karya fenomenal kedua Al-Baitar adalah Kitab al-Mughni fi al-Adwiya al-Mufrada yakni ensiklopedia obat-obatan. Obat bius masuk dalam daftar obat terapetik. Ditambah pula dengan 20 bab tentang beragam khasiat tanaman yang bermanfaat bagi tubuh manusia. Pada masalah pembedahan yang dibahas dalam kitab ini, Al-Baitar banyak dikutip sebagai ahli bedah Muslim ternama, Abul Qasim Zahrawi. Selain bahasa Arab, Baitar pun kerap memberikan nama Latin dan Yunani kepada tumbuhan, serta memberikan transfer pengetahuan.
Kontribusi Al-Baitar tersebut merupakan hasil observasi, penelitian serta pengklasifikasian selama bertahun-tahun. Dan karyanya tersebut di kemudian hari amat mempengaruhi perkembangan ilmu botani dan kedokteran baik di Eropa maupun Asia. Meski karyanya yang lain yakni kitab Al-Jami baru diterjemahkan dan dipublikasikan ke dalam bahasa asing, namun banyak ilmuwan telah lama mempelajari bahasan-bahasan dalam kitab ini dan memanfaatkannya bagi kepentingan umat manusia.

2.IBNU KHALDUN

Ibnu Khaldun bernama lengkap Waliuddin Abdurrahman bin Muhammad bin Abi Bakar bin Muhammad bin Al-Hasan dilahirkan di Tunisia pada tanggal 1 Ramadhan 732 Hijriah atau 27 Mei 1332 Masehi. Ia dikenal sebagai sejarawan dan bapak sosiologi Islam yang telah hafal Al-Quran sejak usia dini. Ibnu Khaldun juga merupakan seorang yang ahli di bidang politik Islam dan dijuluki bapak Ekonomi Islam atas pemikirannya tentang teori ekonomi yang logis dan realistis sebelum adanya Adam Smith (1723 – 1790) dan David Ricardo (1772 – 1823). Pemikiran Ibnu Khaldun didapatkan dari pengamatan masyarakat serta pengalaman mengembaranya yang luas pada masanya.
Ibnu Khaldun pernah menduduki jabatan penting di Fes, Granada, serta Afrika Utara serta pernah menjadi guru besar di Universitas Al-Azhar, Kairo yang dibangun oleh Dinasti Fathimiyyah. Dari sinilah Ibnu Khaldun melahirkan banyak karya – karya serta pemikirannya yang bisa kita rasakan saat ini. Bila kita bicara mengenai biografi Ibnu Khaldun, biografinya dapat dibagi dalam tiga periode kehidupan.
Periode pertama merupakan masa dimana Ibnu Khaldun menuntut ilmu pengetahuan yaitu belajar Al-Quran, tafsir, hadis, usul fikih, tauhid, fikih madzhab maliki, ilmu nahwu dan sharaf, ilmu balaghah, fisika dan matematika. Dalam berbagai bidang studi, ia mendapatkan nilai yang sangat memuaskan dari para gurunya. Namun studinya terhenti karena Ibnu Khaldun terserang penyakit pes di selatan Afrika pada tahun 749 H. Bahkan, karena penyakit ini ayahnya yang juga seorang guru besarpun terenggut nyawanya. Ia kemudian berhijrah ke Maroko dan dilanjutkan ke Mesir.
Pada periode kedua, Ibnu Khaldun telah terjun ke dunia politik kenegaraan seperti qadhi al-qudhat (Hakim Tertinggi). Namun, akibat sebuah fitnah yang dilakukan lawan politiknya, Ibnu Khaldun sempat dipenjara. Sekembalinya dari penjara, dimulailah periode ketiga yaitu periode dimana Ibnu Khaldun berkonsentrasi pada penelitiannya dan penulisan. Ibnu Khaldun juga merevisi catatan – catatannya yang pernah ia buat seperti Kitab Al-Ibar (tujuh jilid) yang kemudian berganti nama menjadi Kitab Al-Ibar wa Diwanul Mubtada’ awil Khabar fi Ayyamil ‘Arab wal ‘Ajam wal Barbar wa man ‘Asharahum min Dzawis Sulthan al-Akbar.
Kitab ini telah diterjemahkan dan diterbitkan oleh De Slane pada tahun 1863 dengan judul Prolegomenes d’Ibn Khaldoun. Pengaruh buku ini baru terlihat selang 27 tahun kemudian yaitu pada 1890 yaitu ketika dilakukan pengkajian pada pendapat Ibnu Khaldun oleh sosiolog Jerman dan Austria yang dianggap memberikan pencerahan bagi para sosiolog modern.
Karya lain dari Ibnu Khaldun yang juga bernilai tinggi adalah at-Ta’rif bi Ibn Khaldun (autobiografi dan catatan dari kitab sejarahnya); Muqaddimah (pendahuluan atas kitabu al-‘ibar yang bercorak sosiologis – historis dan filosofis); Lubab al-Muhassal fi Ushul ad-Diin (sebuah kitab tentang permasalahan dan pendapat – pendapat teologi, yang merupakan ringkasan kitab Muhassal Afkaar al-Mutaqaddimiin wa al-Muta’akh-khiriin karya Imam Fakhruddin ar-Razi).
Sebuah artikel berjudul “The Islamic Review & Arabic Affairs” karya DR. Bryan S. Turner seorang guru besar sosiologi di Universitas of Aberdeen pada tahun 1970-an mengomentari karya – karya Ibnu Khaldun. Ia menyatakan “Tulisan – tulisan sosial serta sejarah ibnu Khaldun hanya satu – satunya tradisi intelektual yang diterima dan diakui di dunia Barat terutama ahli – ahli sosiologi dalam Bahasa Inggris (yang menulis karya – karyanya dalam Bahasa Inggris)”.
Salah satu tulisan yang sangat menonjol adalah tulisan Muqaddimah (pendahuluan) yang merupakan buku terpenting dan masih dikaji hingga saat ini. Buku ini bahkan sudah diterjemahkan ke berbagai bahasa. Ibnu Khaldun menganalisis gejala – gejala sosial dengan metode yang logis dan dapat dilihat bahwa ia sangat menguasai gejala – gejala sosial tersebut.
Ada beberapa catatan yang dapat kita pelajari dari Ibnu Khaldun, bahwa ia menjunjung tinggi ilmu pengetahuan dan tidak meremehkan sebuah sejarah. Ia selalu memperhatikan komunitas – komunitas di dalam masyarakat. Ia menghargai tulisannya sendiri dengan merevisi atau memperbaharui yang bahkan membutuhkan waktu dan kesabaran sehingga karyanya benar – benar berkualitas serta bisa beradaptasi di situasi dan kondisi.
Karena pemikiran – pemikirannya yang brilian, ia kemudian dijuluki sebagai peletak dasar ilmu – ilmu sosial dan politik Islam. Dasar pendidikan Islam yang diterapkan oleh ayahnya mejadikan Ibnu Khaldun mengerti tentang Islam serta giat mempelajari ilmu – ilmu Islam. Jadi nilai – nilai spiritual sangat diutamakan disamping mengkaji ilmu lain. Ibnu Khaldun wafat pada tanggal 25 Ramadhan 808 H atau 19 Maret 1406 di Kairo Mesir.

3.Al-Farabi

Abu Nasir Muhammad bin al-Farakh al-Farabi (870-950) atau disingkat Al-Farabi adalah ilmuwan dan filsuf Islam yang berasal dari Farab, Kazakhstan.
Ia juga dikenal dengan nama lain Abu Nasir al-Farabi (dalam beberapa sumber ia dikenal sebagai Abu Nasr Muhammad Ibn Muhammad Ibn Tarkhan Ibn Uzalah Al- Farabi, juga dikenal di dunia barat sebagai Alpharabius, Al-Farabi, Farabi, dan Abunasir.
Kemungkinan lain adalah Farabi adalah seorang Syi’ah Imamiyah (Syiah Imamiyah adalah salah satu aliran dalam islam dimana yang menjadi dasar aqidah mereka adalah soal Imam) yang berasal dari Turki.
Kehidupan dan pembelajaran
Al-Farabi memiliki Ayah seorang opsir tentara Turki keturunan Persia, sedangkan ibunya berdarah Turki asli. Sejak dini ia digambarkan memiliki kecerdasan istimewa dan bakat besar untuk menguasai hampir setiap subyek yang dipelajari. Pada masa awal pendidikannya ini, al-Farabi belajar al-Qur’an, tata bahasa, kesusasteraan, ilmu-ilmu agama (fiqh, tafsir dan ilmu hadits) dan aritmatika dasar.
Al-Farabi muda belajar ilmu-ilmu islam dan musik di Bukhara, dan tinggal di Kazakhstan sampai umur 50. Ia pergi ke Baghdad untuk menuntut ilmu di sana selama 20 tahun.
Setelah kurang lebih 10 tahun tinggal di Baghdad, yaitu kira-kira pada tahun 920 M, al Farabi kemudian mengembara di kota Harran yang terletak di utara Syria, dimana saat itu Harran merupakan pusat kebudayaan Yunani di Asia kecil. Ia kemudian belajar filsafat dari Filsuf Kristen terkenal yang bernama Yuhana bin Jilad.
Tahun 940M, al Farabi melajutkan pengembaraannya ke Damaskus dan bertemu dengan Sayf al Dawla al Hamdanid, Kepala daerah (distrik) Aleppo, yang dikenal sebagai simpatisan para Imam Syi’ah. Kemudian al-Farabi wafat di kota Damaskus pada usia 80 tahun (Rajab 339 H/ Desember 950 M) di masa pemerintahan Khalifah Al Muthi’ (masih dinasti Abbasiyyah).
Al-Farabi adalah seorang komentator filsafat Yunani yang ulung di dunia Islam. Meskipun kemungkinan besar ia tidak bisa berbahasa Yunani, ia mengenal para filsuf Yunani; Plato, Aristoteles dan Plotinus dengan baik. Kontribusinya terletak di berbagai bidang seperti matematika, filosofi, pengobatan, bahkan musik. Al-Farabi telah menulis berbagai buku tentang sosiologi dan sebuah buku penting dalam bidang musik, Kitab al-Musiqa. Selain itu, ia juga dapat memainkan dan telah menciptakan bebagai alat musik.
Al-Farabi dikenal dengan sebutan “guru kedua” setelah Aristoteles, karena kemampuannya dalam memahami Aristoteles yang dikenal sebagai guru pertama dalam ilmu filsafat.
Dia adalah filsuf Islam pertama yang berupaya menghadapkan, mempertalikan dan sejauh mungkin menyelaraskan filsafat politik Yunani klasik dengan Islam serta berupaya membuatnya bisa dimengerti di dalam konteks agama-agama wahyu.
Al-Farabi hidup pada daerah otonomi di bawah pemerintahan Sayf al Dawla dan di zaman pemerintahan dinasti Abbasiyyah, yang berbentuk Monarki yang dipimpin oleh seorang Khalifah. Ia lahir dimasa kepemimpinan Khalifah Mu’tamid (869-892 M) dan meninggal pada masa pemerintahan Khalifah Al-Muthi’ (946-974 M) dimana periode tersebut dianggap sebagai periode yang paling kacau karena ketiadaan kestabilan politik.
Dalam kondisi demikian, al-Farabi berkenalan dengan pemikiran-pemikiran dari para ahli Filsafat Yunani seperti Plato dan Aristoteles dan mencoba mengkombinasikan ide atau pemikiran-pemikiran Yunani Kuno dengan pemikiran Islam untuk menciptakan sebuah negara pemerintahan yang ideal (Negara Utama).

Buah Pemikiran

Karya

Selama hidupnya al Farabi banyak berkarya. Jika ditinjau dari Ilmu Pengetahuan, karya-karya al- Farabi dapat ditinjau menjdi 6 bagian yaitu:

  1. Logika
  2. Ilmu-ilmu Matematika
  3. Ilmu Alam
  4. Teologi
  5. Ilmu Politik dan kenegaraan
  6. Bunga rampai (Kutub Munawwa’ah).

Karyanya yang paling terkenal adalah Al-Madinah Al-Fadhilah (Kota atau Negara Utama) yang membahas tetang pencapaian kebahagian melalui kehidupan politik dan hubungan antara rejim yang paling baik menurut pemahaman Plato dengan hukum Ilahiah islam. Filsafat politik Al-Farabi, khususnya gagasannya mengenai penguasa kota utama mencerminkan rasionalisasi ajaran Imamah dalam Syi’ah.

Pemikiran tentang Asal-usul Negara dan Warga Negara

Menurut Al-Farabi manusia merupakan warga negara yang merupakan salah satu syarat terbentuknya negara. Oleh karena manusia tidak dapat hidup sendiri dan selalu membutuhkan bantuan orang lain, maka manusia menjalin hubungan-hubungan (asosiasi). Kemudian, dalam proses yang panjang, pada akhirnya terbentuklah suatu Negara. Menurut Al-Farabi, negara atau kota merupakan suatu kesatuan masyarakat yang paling mandiri dan paling mampu memenuhi kebutuhan hidup antara lain: sandang, pangan, papan, dan keamanan, serta mampu mengatur ketertiban masyarakat, sehingga pencapaian kesempurnaan bagi masyarakat menjadi mudah. Negara yang warganya sudah mandiri dan bertujuan untuk mencapai kebahagiaan yang nyata , menurut al-Farabi, adalah Negara Utama.

Menurutnya, warga negara merupakan unsur yang paling pokok dalam suatu negara. yang diikuti dengan segala prinsip-prinsipnya (mabadi) yang berarti dasar, titik awal, prinsip, ideologi, dan konsep dasar.
Keberadaan warga negara sangat penting karena warga negaralah yang menentukan sifat, corak serta jenis negara. Menurut Al-Farabi perkembangan dan/atau kualitas negara ditentukan oleh warga negaranya. Mereka juga berhak memilih seorang pemimpin negara, yaitu seorang yang paling unggul dan paling sempurna di antara mereka.
Negara Utama dianalogikan seperti tubuh manusia yang sehat dan utama, karena secara alami, pengaturan organ-organ dalam tubuh manusia bersifat hierarkis dan sempurna. Ada tiga klasifikasi utama:

  1. Pertama, jantung. Jantung merupakan organ pokok karena jantung adalah organ pengatur yang tidak diatur oleh organ lainnya.
  2. Kedua, otak. Bagian peringkat kedua ini, selain bertugas melayani bagian peringkat pertama, juga mengatur organ-ogan bagian di bawahnya, yakni organ peringkat ketiga, seperti : hati, limpa, dan organ-organ reproduksi.
  3. Organ bagian ketiga. Organ terbawah ini hanya bertugas mendukung dan melayani organ dari bagian atasnya.

Al-Farabi membagi negara ke dalam lima bentuk, yaitu:

  1. Negara Utama (Al-Madinah Al-Fadilah): negara yang dipimpin oleh para nabi dan dilanjutkan oleh para filsuf; penduduknya merasakan kebahagiaan.
  2. Negara Orang-orang Bodoh (Al-Madinah Al-Jahilah): negara yang penduduknya tidak mengenal kebahagiaan.
  3. Negara Orang-orang Fasik: negara yang penduduknya mengenal kebahagiaan, tetapi tingkah laku mereka sama dengan penduduk negara orang-orang bodoh.
  4. Negara yang Berubah-ubah (Al-Madinah Al-Mutabaddilah): pada awalnya penduduk negara ini memiliki pemikiran dan pendapat seperti penduduk negara utama, namun kemudian mengalami kerusakan.
  5. Negara Sesat (Al-Madinah Ad-dallah): negara yang dipimpin oleh orang yang menganggap dirinya mendapat wahyu dan kemudian ia menipu orang banyak dengan ucapan dan perbuatannya.

Pemikirannya Tentang Pemimpin

Dengan prinsip yang sama, seorang pemimpin negara merupakan bagian yang paling penting dan paling sempurna di dalam suatu negara. Menurut Al Farabi, pemimpin adalah seorang yang disebutnya sebagai filsuf yang berkarakter Nabi yakni orang yang mempunyai kemampuan fisik dan jiwa (rasionalitas dan spiritualitas).
Disebutkan adanya pemimpin generasi pertama (the first one – dengan segala kesempurnaannya (Imam) dan karena sangat sulit untuk ditemukan (keberadaannya) maka generasi kedua atau generasi selanjutnya sudah cukup, yang disebut sebagai (Ra’is) atau pemimpin golongan kedua. Selanjutnya al-Farabi mengingatkan bahwa walaupun kualitas lainnya sudah terpenuhi , namun kalau kualitas seorang filsufnya tidak terpenuhi atau tidak ambil bagian dalam suatu pemerintahan, maka Negara Utama tersebut bagai “kerajaan tanpa seorang Raja”. Oleh karena itu, Negara dapat berada diambang kehancuran

4.Al-Battani

Al-Battani adalah ilmuwan Irak yang hidup pada tahun 850-923 M . Dia adalah ahli astronomi terbesar di kalangan orang Arab. Nama lengkapnya Abu Abdullah Muhammad ibn Jabir ibn Sinan al-Raqqa al-Harrani al-Sabiʾ al-Battani. Dia lahir di Harran dekat Urfa. Salah satu pencapaiannya yang terkenal adalah tentang penentuan tahun matahari sebagai 365 hari, 5 jam, 46 menit dan 24 detik.
Al-Battani mendalami astronomi sejak berusia 20 tahun hingga akhir hayatnya. La Lande, ahli Astronomi dari Perancis mengatakan bahwa Al-Battani termasuk salah seorang dari 20 orang besar ahli astronomi dalam sejarah manusia. Ia juga mengatakan dalam bukunya yang berjudul Sejarah Alam Semesta bahwa Al-Battani merupakan ahli astronomi paling besar pada bangsa dan zamannya, selain salah seorang ilmuwan besar Islam.
Para ilmuwan astronomi sebelumnya banyak merujuk kajian astronomi kepada ilmu astronomi Yunani terutama kepada karya-karya Ptolomeus dan ilmu astronomi India. Naskah teoritis dan mendasar mereka adalah buku Ptolomeus yang dikenal oleh orang Arab dengan judul Al-Majesty.
Para ahli astronomi Arab banyak yang mengikuti Ptolomeus yang berpendapat bahwa bumi dian dan dikitari oleh delapan planet: Matahari, bulan, 5 planet dan bintang. Untuk membuktikan kesesuaian antara tatanan seperti itu dan kenyataan yang ada, dia meletakkan aturan perputaran dan hitungan matematisnya. Akan tetapi dengan berlalunya waktu tahu, Bangsa Arab tahu mengenai kelemahan Ptolomeus sehingga mereka mengkritiknya tanpa memberikan jalan keluar.
Kegiatan Al-Battani tercurahkan kepada yang dinamakan al-zayj atau kalender astronomi yang dia buat pada tahun 900 masehi dengan sangat cermat dan akurat. Pengamatannya yang sangat akurat mengenai gerhana matahari menjadi dasar yang pasti bagi pengamatan sejenis hingga tahun 1749 Masehi.
Bukunya Al-Zayj berisi hasil-hasil peneropongannya terhadap bintang-bintang tetap. Buku tersebut telah diterjemahkan juga ke dalam bahasa Latin dan bahasa Spanyol. Namun buku-bukunya yang jumlahnya 4 jilid tidak sampai ke tangan kita.
Pengaruhnya sangat besar bukan saja dalam bidang ilmu astronomi untuk kalangan bangsa Arab saja, melainkan juga dalam ilmu astronomi dan hitungan segitiga lingkaran pada bangsa Eropa pada abad pertengahan dan awal renaissance. Dia telah menetapkan hitungan yang sangat akurat mengenai panjang hitungan tahun dan pembagian musimnya serta peredaran yang pasti untuk Matahari.
Al-Battani juga membenarkan ucapan Ptolemeus mengenai tetapnya posisi bumi yang berjauhan dengan matahari, dengan membangun dalil atas perubahan yang terjadi pada teori yang ditemukan Ptolomeus dan dengan mengikuti gerakan rata-rata planet tersebut. Akhirnya Al-Battani mendapatkan kesimpulan bahwa penyesuaian waktu berubah sangat lamban. Al-Battani juga memastikan perubahan sudut tampak matahari, dan kemungkinan terjadinya gerhana matahari total.
Selain itu, Al-Battani juga meluruskan sejumlah pengetahuan mengenai gerakan bulan dan bintang bergerak. Dia membuat teori baru yang menunjukkan tingkat kecerdasan dan keluasan wawasannya, yang menjelaskan kondisi dimana bulan bisa terlihat, dan memantapkan gerakan rata-rata yang ditemukan oleh Ptolemeus.
Dia juga memiliki hasil peneropongan gerhana bulan dan gerhana matahari yang dijadikan patokan oleh Dantrhone pada tahun 1749 M tentang batas kecepatan bulan dalam satu abad. Dia memberikan pemecahan yang sangat bagus melalui pencarian titik tengah bagi segitiga lingkaran.
Dalam bidang ilmu pasti Al-Battani adalah orang yang pertama kali memasukkan sinus dan cosinus dalam ilmu pasti. Dia menggunakan sinus dan cosinus sebagai ganti hypotenuse yang banyak digunakan oleh orang Yunani. Lalu dia menyempurnakan definisi bayangan semu dan bayangan inti, selain membuat daftar untuk dua hal tersebut.
Penemuan hukum segitiga sama sisi yang sempurna pun dinisbatkan kepadanya. Selain itu dia juga memecahkan berbagai persoalan hitungan ala Yunani dengan menggunakan cara ilmu ukur untuk mengetahui detail ukurannya.
Hasil yang dicapai oleh Al-Battani dalam ilmu Astronomi mendapatkan tempat dalam sejarah ilmu pengetahuan. Dia adalah seorang ahli ilmu astronomi yang brilian tanpa menggunakan peralatan yang canggih yang baru ditemukan pada abad ke-17. Kesuksesannya kembali kepada dua hal berikut.
Pertama dia menggunakan metode dan alat teropong yang jauh lebih maju daripada yang dimiliki oleh orang Yunani. Bahkan sebagian peralatan yang ada yang tidak diketahui sama sekali oleh mereka.
Kedua, dia menggunakan hitungan yang akurat dalam menghitung persoalan-persoalan yang dihadapinya dalam ilmu astronomi. Hitungan yang dipergunakan jauh lebih maju daripada yang dipergunakan oleh orang Yunani, termasuk hitungannya dalam berbagai segitiga yang juga belum dikenal oleh mereka.
Yang membuat mereka gagal dalam kajian di bidang ilmu astronomi dan geografi adalah karena mereka mengandalkan cara hitung yang konvensional.

5. Ibnu Sina



Nama lengkap Ibnu Sina adalah Abu Ali Husain bin Abdullah bin Hasan bin Ali bin Sina. Dikalangan masyarakat barat ia dikenal dengan nama “Avicienna”. Selain sebagai ahli kedokteran, Ibnu Sina juga dikenal sebagai filosof, psikolog, pujangga, pendidik dan sarjana Muslim yang hebat, makanya ia di sebut sebagai bapak kedokteran dunia.
GambarIbnu Sina lahir pada bulan Shafar 370 H atau di bulan Agustus 985 M. Keluarga Ibnu Sina kebanyakan bekerja dengan mengabdi pada negara. Ayahnya bekerja di pemerintahan, selain itu juga sebagai pendidik.
Ibnu Sina beruntung lahir di keluarga yang memiliki latar belakang pendidikan tinggi. Sejak kecil sang ayah mengajarinya untuk cinta ilmu. Oleh sang ayah, Ibnu Sina diajari Qur’an dan Sastra. Seorang guru pun didatangkan khusus untuk mengajari Ibnu Sina menghafal Al Qur’an. Di usia 10 tahun Ibnu Sina telah berhasil menghafal isi Al Qur’an dan mendalami berbagai karya sastra.
Tetapi sebelum itu, Ibnu Sina sudah tekun mempelajari ilmu fiqih dari seorang ulama besar bernama Ismail yang tinggal di luar kota Bukhara. Dengan semangat yang tinggi, Ibnu Sina tidak keberatan harus bolak-balik ke rumah gurunya. Kecerdasan Ibnu Sina semakin terlihat saat beliau berusia 16 tahun. Ia sudah sanggup menerangkan kembali pada gurunya isi dari buku Isagoge (ilmu logika), buku al-Mages (ilmu astronomi kuno) dan buku Ecludis (ilmu arsitektur).
Beliau memang benar-benar murid yang cerdas. Di depan guru-gurunya, ia dapat menerangkan rumus-rumus dan berbagai kesulitan yang terdapat dalam buku-buku tersebut. Bahkan konon dalam bidang ilmu astronomi (perbintangan), beliau sudah sanggup menciptakan sebuah alat yang belum pernah dibuat para ahli sebelumnya.
Setelah berhasil mendalami ilmu-ilmu alam dan ketuhanan, Ibnu Sina pun merasa tertarik untuk mempelajari ilmu kedokteran, mulai mendik di bidang kedokteran, sehingga dalam waktu singkat ia meraih hasil yang luar biasa. Berkat ketekunan dan semangatnya yang tinggi dalam mempelajari ilmu tersebut, Ibnu Sina sanggup mengobati orang-orang yang sakit. Semakin lama nama Ibnu Sina semakin terkenal, bukan saja disekitar wilayah yang dia tinggal melainkan juga diberbagai pelosok wilayah. Orang-orang yang tertarik di bidang kedokteran mulai mendatangi Ibnu Sina untuk menimba ilmu darinya. Mereka juga mengadakan eksperimen-eksperimen mengenai berbagai cara pengobatan dibawah pengawasan dan bimbingan Ibnu Sina. Selain sebagai dokter, Ibnu Sina juga dikenal sebagai psikolog yang sanggup mengobati orang yang sakit jiwanya.
Sesungguhnya Ibnu Sina adalah salah seorang tokoh besar Islam. Ia adalah filosof dari timur. Hal itu bukan saja diakui orang-orang Arab melainkan juga ilmuwan barat. Menurut mereka Ibnu Sina adalah orang yang jenius, cerdik, dan pintar. Selain terkenal sebagai ahli kedokteran, ia juga seorang ahli filsafat, astronom dan ahli ilmu jiwa (psikolog handal). Ibnu Sina telah meninggalkan karya-karya agung yang dapat membantu meningkatkan keluhuran harkat umat manusia. Tidak berlebihan jika para penulis Prancis memberinya gelar “Aristoteles Islam” atau juga “Hipocrates Islam”.
Diantara tulisan Ibnu Sina yang cukup terkenal adalah al-Qanun (Kedokteran), al-Syifa, al-Isyarat (filsafat), dan as-Siyasah (pendidikan). Bahkan Al-Qanun dijadikan salah satu literatur utama ilmu kedokteran pada sejumlah universitas Eropa hingga abad 18. Ibnu Sina juga menemukan obat-obatan dari tumbuh-tumbuhan yang berguna bagi kesehatan umat manusia. Bahkan ia adalah seorang dokter yang pertama kali melakukan penyuntikan dibawah kulit pasien, dan menggunakan cara pembiusan untuk mengobati luka.
Apa yang dilakukan Ibnu Sina tersebut jauh lebih maju daripada yang terjadi di negara-negara Eropa saat itu yang masih menganut takhayul dan sihir dalam mengobati berbagai penyakit. Yang terjadi di Eropa saat itu adalah zaman kegelapan, konon apabila ada orang sakit, ia disalib pada sebatang pohon. Kemudian tabib atau dukun memukulinya dengan kejam sampai setan atau roh halus lainnya keluar dari tubuh orang tersebut. Menurut mereka, setan dan roh halus itulah penyakitnya.
Begitulah perbedaan peradaban Eropa dan Muslim saat itu. Ini adalah fakta, penulis bukan melebih-lebihkan namun itulah faktanya. Saat Eropa berada di zaman kegelapan, Islam justru berada di zaman kegemilangan.
Berikut ini adalah daftar buku-buku yang dihasilkan oleh Ibnu Sina :

  • Al-Qanun (Aturan) 10 jilid
  • Al-Syifa’ (Penyembuhan atau Pengobatan) 8 jilid
  • Al-Isyarat (Petunjuk) 1 jilid
  • AL-Majmu’ (Himpunan) 1 jilid
  • Al-Biir wa a-l Itsm (Perbuatan baik dan dosa) 2 jilid
  • Al-Arshad al-Kulliyyat (Petunjuk Lengkap) 1 jilid
  • Al-Hashil wa Al-Mahshul (pokok-pokok) 2 jilid
  • An-Najad (pembebasan) 3 jilid
  • Al-Inshaf (keputusan) 20 jilid
  • Al-Hidayat (petunjuk) 1 jilid Dan masih banyak lagi karyanya
Baca :  Contoh cover Makalah dan Cara Membuatnya

6.Ibnu Batutah

Nama lengkapnya Abu Abdullah Muhammad bin Abdullah bin Muhammad bin Ibrahim al-Lawati atau Shams ad – Din atau lebih dikenal orang dengan nama Ibnu Batutah bermunculan pada 24 Februari 1304 M (723 H) di Tangier Maroko. Ibnu Batutah dikenal sebab petualangannya mengelilingi dunia. Hampir 120.000 kilometer sudah ditempuhnya sekitar rentang masa-masa 1325-1354 M atau tiga kali lebih panjang dari jarak yang sudah ditempuh oleh Marco Polo. Seluruh daftar perjalanan dan empiris Ibnu Batutah sekitar pengembaraan ditulis ulang oleh Ibnu Jauzi seorang penyair dan penulis kitab kesultanan Maroko.
Ibnu Jauzi menyebutkannya menurut penyampaian lisan yang didiktekan langsung oleh Ibnu Batutah. Penulisan kitab ini diprakarsai oleh Sultan Maroko ketika itu, Abu Inan. Buku ini dibentuk selama dua tahun dan diberi judul “Tuhfat al-Nuzzar fi Ghara’ib al-Amsar wa-’Aja’ib al-Asfar” atau lebih dikenal dengan “Rihla Ibnu Batutah”.
Pada umur sekitar dua puluh tahun, Tujuan mula perjalanan Ibnu Batutah ialah menunaikan ibadah haji pada tahun 1325 M, namun tujuan tadinya itu sudah membawanya mengarah ke penjelajahan 30 tahun yang gemilang. Perjalanan mula Ibnu Batutah di mulai dari Tangier mengarah ke Mekkah. Bagi Menghindari sekian banyak resiko buruk laksana diserang perampok, sekitar perjalanan Ibnu Batutah bergabung dengan kafilah yang akan mengarah ke Mesir. Bersama Kafilah itu, Ibnu Batutah dengan menyusuri hutan, bukit dan pegunungan bergerak mengarah ke Tlemcen, Bejaia lalu lantas tiba di Tunisia dan bermukim di sana sekitar dua bulan. Dari Tunisia, Ibnu Batutah dan rombongan lantas melanjutkan perjalanannya mengarah ke Libya. Sejak meninggalkan Tangier sampai Libya Ibnu Batutah sudah menempuh perjalanan darat sejauh nyaris 3.500 km mengarungi Afrika Utara. Delapan bulan sebelum musim ibadah haji dibuka Ibnu Batutah menyimpulkan untuk mendatangi Kairo. Pada tahun 1326 M, Ibnu Batutah dan rombongannya mendarat di Pelabuhan Alexandria di ujung barat delta sungai Nil. Ibnu Batutah paling terkesan menyaksikan pelabuhan Alexandria dan menurutnya Alexandria ialah satu dari lima tempat sangat menakjubkan yang pernah dia kunjungi. Saat tersebut Alexandria adalahpelabuhan yang paling sibuk dengan berbagai kegiatan dan sedang di bawah kendali Kerajaan Mamluk.

Setelah sejumlah pekan di Alexandria kemudian Ibnu Batutah singgah di Kairo sejumlah saat dan langsung melanjutkan perjalanannya ke Damaskus dengan pemantauan ketat dari Kerajaan Mamluk. Di Damaskus Ibnu Batutah menguras bulan Ramadhan dan memakai waktunya guna belajar, bertemu dengan sejumlah guru, orang-orang terpelajar dan semua hakim setempat. Selama 24 hari di Damaskus, lantas Ibnu Batutah melanjutkan perjalanannya ke Mekkah melewati Jalur Suriah. Sepanjang jalur tersebut Ibnu Batutah tidak sedikit mengunjungi tempat-tempat suci. Al-Khalil (Hebron), Al-Quds (Jerusalem), Bethlehem ialah beberapa lokasi yang dikunjunginya. Selama seminggu di Jerusalem, Ibnu Batutah mendatangi Masjid Al-Aqsa dan Kubah Batu.
Menjelang musim haji dibuka dan sesudah bulan ramadhan selesai, Ibnu Batutah meninggalkan Damaskus dan bergabung pulang dengan regu haji lainnya guna melanjutkan perjalanannya ke Madinah. Di bawah pemantauan Kerajaan Mamluk yang menjamin ketenteraman para jemaah haji, maka Ibnu Batutah dan rombongannya bisa tiba di Madinah dengan selamat. Setibanya di Madinah Ibnu Batutah tinggal sekitar empat hari kemudian bergegas mengarah ke Mekkah untuk mengemban ibadah hajinya. Setelah menyempurnakan ritual hajinya, Ibnu Batutah tidak kembali ke Tangier namun dia menyimpulkan untuk melanjutkan pengembaraannya ke Irak dan Iran. Setelah pengembaraannya dari Irak dan iran, Ibnu Batutah kembali lagi ke Mekkah untuk mengemban ibadah Hajinya yang kedua. Garis besar perjalanan Ibnu Batutah bermula dari Maroko mengarah ke Aljazair, Tunisia, Mesir, Palestina, Suriah dan mendarat di Mekkah. Setelah menjelajah ke Irak, Shiraz dan Mesopotamia Ibnu Batutah mengemban ibadah haji yang kedua dan bermukim di Mekkah sekitar tiga tahun. Kemudian dia pergi ke Jeddah dan melanjutkan perjalanan ke Yaman melewati jalur laut lantas singgah di Aden dan meneruskan perjalanannya ke Mombasa Afrika Timur.

Pada tahun 1332 sesudah dari Kulwa, Ibnu Batutah pergi ke Oman melewati Selat Hormuz, Siraf, Bahrain dan Yamama guna kembali mengemban ibadah haji di Mekkah. Setelah tersebut Ibnu Batutah menyimpulkan untuk pergi ke India melewati Jeddah, tetapi dia berubah benak dan menyimpulkan untuk kembali mendatangi Kairo, Palestina dan Suriah.Setibanya di sana, Ibnu Batutah melanjutkan pulang perjalanannya ke Asia Kecil (Aleya) melewati jalur laut mengarah ke Anatolia dan meneruskan petualangannya dengan mengarungi laut hitam. Setelah sejumlah lama dan berada dalam perjalanan yang sarat bahaya, kesudahannya Ibnu Batutah mendarat di Turki melewati Selatan Ukraina. Ibnu Batutah lantas meneruskan penjelajahannya ke Khurasan dan mendatangi kota-kota urgen seperti Bukhara, Balkh, Herat dan Nishapur. Ibnu Batutah mengarungi pegunungan Hindukush guna tiba di Afghanistan guna selanjutnya masuk ke India melewati Ghani dan Kabul. Dia terus menyusuri Lahri (dekat Karachi Pakistan), Sukkur, Multan, Sirsa dan Hansi kesudahannya Ibnu Batutah mendarat di Delhi. Selama sejumlah tahun di sana Ibnu Batutah disambut keramahan Sultan Mohammad Tughlaq. Setlah kunjungannya di Delhi Ibnu Batutah pulang meneruskan perjalanannya melalui India Tengah dan Malwa lantas dia memakai kapal dari Kambay mengarah ke Goa. Setelah mengunjungi tidak sedikit tempat sebelumnya, lantas Ibnu Batutah mendarat di Pulau Maladewa melewati jalur Pantai Malabar dan selanjutnya terus menyeberang ke Srilanka. Ibnu Batutah masih terus melanjutkan penjelajahannya sampai mendarat di Coromandal dan pulang lagi ke Maladewa sampai akhirnya dia berlabuh di Bengal dan mendatangi Kamrup, Sylhet dan Sonargaon dekat Dhaka.

Ibnu Batutah berlayar sepanjang Pantai Arakan dan lantas Ibnu Batutah mendarat di Aceh, Indonesia. tepatnya di Samudera Pasai. Di sana Ibnu Batutah tinggal sekitar 15 hari dan berjumpa dengan Sultan Mahmud Malik Zahir. Setelah kunjungannya di Aceh Ibnu Batutah kemudian meneruskan perjalannya ke Kanton lewat jalur Malaysia dan Kamboja. Setibanya di Cina, Ibnu Batutah terus berpetualang ke Peking melewati Hangchow. Setelahnya Ibnu Batutah lantas kembali ke Calicut dan dengan memakai kapal dia mendarat di Dhafari dan Muscat guna meneruskan perjalanan pulang ke Iran, Iraq, Suriah, Palestina dan Mesir kemudian kembali beribadah haji guna yang ketujuh kalinya di Mekkah pada November 1348 M. Setelah ibadah haji terakhirnya tersebut Ibnu Batutah kembali ke dusun halamannya, Fez. Namun, perjalanannya tidak berhenti hingga di sana, setelah kembali ke Fez, Ibnu Batutah kembali menjelajah ke negeri muslim lainnya laksana Spanyol dan Nigeria mengarungi gurun sahara. Tahun 1369 pada umur 65 tahun Ibnu Batutah meninggal dunia.12 tahun sesudah dia selesai mencatat rihla. Ibnu Batutah meninggalkan warisan berharga untuk dunia berupa daftar perjalannya yang bakal selalu diingat oleh umat manusia.

7.Ibnu Rusyd (595H/ 1126-1198M)

Nama lengkap Ibn Rusyd adalah Abu al-Walid Muhammad Ibn Muhammad Ibn Rusyd. Beliau Lahir di Kordoba Spanyol pada tahun 5H/1126M, dibesarkan dalam keluarga hakim-hakim yang teguh menegakan agama dan berpengetahuan luas. Neneknya adalah seorang ahli fiqih dan tokoh politik yang berpengaruh serta hakim agung di Andalusia. Ia juga pernah menjadi dokter istana, di cordoba, filosof dan ahli hukum yang berpengaruh di kalangan istana.
Ibnu Rusyd belajar matematika, astronomi,filsafat, kedokteran kepada Ibnu Basy kawal, Ibnu Masarroh dan Abu Ja’far Harun. Beliau dikenal orang barat dengan nama Averries, lewat karyanya Al-Kulliyyat yang telah diterjemahkan dalam berbagai bahasa. Pemikiran-pemikiran Ibnu Rusyd sangat berpengaruh di Negara-negara Eropa, dan banyak di kaji di tingkat universitas. Ia adalah seorang muslim yang ahli bidang filsafat dan kedokteran.
Tahun 1169-1195 menulis sejumlah komentar terhadap karya-karya Aristoteles, seperti De Organon, De Anima, Phiysica, Metaphisica, De Partibus Animalia, Parna Naturalisi, Metodologica, RhetoriC, Dn Nichomchen Ethick. Dengan kecerdasannya, komentarnmya seolah menghadirkan kembali pemikiran Aristoteles secara lengkap, dan telihatlah kemampuannya yang luar biasa dalam melakukan pengamatan. Ini sangat berpengaruh kepada pemikiran kaum Yahudi di kemudian hari, dan membuka Jalan Ibnu Rusyd mengunjungi Eropa untuk mempelajari warisan Aristoteles dan Filsafat Yunani.
Dibidang Agama Ibnu Rusyd menghasilkan sejumlah karya seperti Tahafut tahafut, kitab yang menjawab serangan Abu Hamid al-Ghazali terhadap para Filosof terdahulu. Beliau ahli ilmu agama, dan filsafat, dianggap cukup berhasil mempertemukan hikmah(filsafat) dengan syariat(agama dan wahyu).
Menurut Ernest Renan(1823-1892) karyanya mencapai 78 juful yang terdiri 39 judul tentang filsafat, 5judul tentang kalam, 8 judul tentang fiqih, 20 judul tentang kedokteran, 4 judul tentang ilmu Falak, matematika dan astronomi, 2 judul tentang nahwu dan sastra, diantara karangan Ibnu Rusyd adalah:

  • Bidayatul Mujtahid wa Nihayah al-Muqtashid(bidang hukum), berisi perbandingan mazhab(aliran-aliran fiqih dengan alas an-alasannya).
  • Kitab kuliyat at-Tib (buku ensiklopedi kedokteran kedokteran).
  • Falsafah Aristolteles dan Claudius.
  • Syarh sa-Sama
  • Syarh kitab an-nafs.
  • Tahafut al- Tahafut, buku yang terkenal dalam bidang filsafat dan ilmu kalam, ini adalah pembelaan Ibnu Rusyd terhadap kritikan Al-Ghazali terhadap para filosof dan masalah filsafat.
  • Al-Kasyf an Manahij al-‘Adillah fi’Aqaid ahl al-Millah, buku tentang metode-metode demonstrative yang berhubungan dengankeyakinan pemeluk agama.
  • Fashl alMaqal fi Ma Baina al-Himah Wa asy Syirah Min al-Ittishal, buku penjelasan adanya persesuaian antara filsafat dan syariat.
  • Risalah al-Kharraj, buku tentang perpajakan.
  • Al-Mukhtashar fi Ushul al-Ghazali, ringkasan atas kitab al-Musytashfa al-Ghazali.
  • Dhaminah li Mas’alah al-‘ilm al-Qadim, buku apendis ilmu qadimnya tuhan terdapat dalam buku Fashl al-Maqal.
  • Al-Dawi, buku acara pengadilan.
  • Makasih al-Mulk wa al-Murbin al-Muharramah, buku tentang perusahaan-perusahaan Negara dan system ekonomi yang terlarang.
  • Durusun fil al-Fiqh, buku beebrapa masalah fiqih.

8.Muhammad Bin Musa Al-khawarizmi

Nama : Muḥammad bin Mūsā al-Khawārizmī
Dikenal : Al Khawarizmi
Lahir : Khwarezmia , Uzbekiztan, 780 M
Wafat : Bagdad, Irak, 850 M
Asal : Persia, Iran
Sumbangsih : Aljabar, Angka Nol, Geometri
Biografi Al Khawarizmi
Nama Asli dari Al-Khawarizmi ialah Muhammad Ibn Musa al-khawarizmi. Selain itu beliau dikenali sebagai Abu Abdullah Muhammad bin Ahmad bin Yusoff.
Al-Khawarizmi dikenal di Barat sebagai al-Khawarizmi, al-Cowarizmi, al-Ahawizmi, al-Karismi, al-Goritmi, al-Gorismi dan beberapa cara ejaan lagi. Ia dikenal sebagai penemu dari Aljabar dan juga angka nol. Tak heran orang barat menjulukinya sebagai father of algebra atau bapak aljabar
Al Khawarizmi dilahirkan di Bukhara.Tahun 780-850M adalah zaman kegemilangan al-Khawarizmi. al-Khawarizmi telah wafat antara tahun 220 dan 230M. Ada yang mengatakan al-Khawarizmi hidup sekitar awal pertengahan abad ke-9M.
Sumber lain menegaskan beliau hidup di Khawarism, Usbekistan pada tahun 194H/780M dan meninggal tahun 266H/850M di Baghdad.
Dalam pendidikan telah dibuktikan bahawa al-Khawarizmi adalah seorang tokoh Islam yang berpengetahuan luas. Pengetahuan dan keahliannya bukan hanya dalam bidang syariat tapi di dalam bidang falsafah, logika, aritmatika, geometri, musik, ilmu hitung, sejarah Islam dan kimia.
Al Khawarizmi telah menciptakan pemakaian Secans dan Tangen dalam penyelidikan trigonometri dan astronomi. Dalam usia muda beliau bekerja di bawah pemerintahan Khalifah al-Ma’mun, bekerja di Bayt al-Hikmah di Baghdad.
Beliau bekerja dalam sebuah observatory yaitu tempat belajar matematika dan astronomi. Al-Khawarizmi juga dipercaya untuk memimpin perpustakaan khalifah. Beliau pernah memperkenalkan angka-angka India dan cara-cara perhitungan India pada dunia Islam.

9.Umar Kayyam

Umar Kayyam lahir pada tahun 1048 di Khurasan. Nama lengkapnya adalah Ghyasiddin Abul Fatih ibn Ibrahim al-Khayyam. Sejak kecil, Khayyam sudah memperoleh pendidikan yang baik dari orang tuanya. Salah seorang gurunya adalah Imam Muwaffak, seorang pendidik yang terkenal pada masa itu.
Umar Khayyam dikenal sebagai ilmuwan cerdas abad pertengahan. Ia memiliki nama besar di bidang matematika, astronomi, dan sastra. Sehubungan dengan itu, ia mendapat julukan Tent Maker dari para ilmuwan semasanya.
Tanpa diduga, kecemerlangan nama Umar Khayyam menarik perhatian Sultan Malik Syah. Pada suatu ketika, Sultan menawarkan kedudukan tinggi di istana pada Khayyam, namun ditolaknya dengan sopan. Khayyam lebih memilih menekuni dunia ilmu pengetahuan dari pada menjadi pejabat. Akhirnya, Khayyam pun diberi fasilitas oleh Sultan. Ia diberi dana yang besar untuk membiayai penelitian khususnya di bidang matematika dan astronomi. Sultan juga mendirikan sebuah pusat observasi astronomi yang megah, tempat Khayyam mempersiapkan dan menyusun sejumlah tabel astronomi di kemudian hari. Di samping itu, Umar Khayyam juga diangkat menjadi ketua dari sekelompok sarjana yang terdiri dari delapan orang. Kedelapan orang sarjana tersebut adalah orang-orang pilihan Sultan yang ditunjuk untuk mengadakan sejumlah penelitian astronomi di Perguruan Tinggi Nizamiah, Baghdad.
Para ilmuwan inilah yang kemudian berhasil melakukan modifikasi terhadap perhitungan kalender muslim. Menurut perhitungan Khayyam, masa satu tahun adalah 365,24219858156 hari. Ia menghasilkan perhitungan yang sangat akurat hingga membuat para ilmuwan memuji kecerdasannya. Pada akhir abad XIX, para astronom menyatakan bahwa masa satu tahun adalah 365,242196 hari. Sementara itu, hitungan terakhir untuk masa satu tahun adalah 365,242190 hari. Sebuah nilai yang tidak jauh berbeda dari perhitungan Umar Khayyam berabad-abad sebelumnya.
Sejak tahun 1079, Umar Khayyam mulai menerbitkan hasil penelitiannya berupa tabel astronomi yang dikenal sebagai Zij Malik Syah. Adapun di bidang matematika, khususnya mengenai aljabar, ia juga menghasilkan sebuah karya, seperti al-Jabr (Algebra). Di kemudian hari, karya ini diedit dan diterjemahkan dalam bahasa Perancis. Al-Jabr dianggap sebagai sebuah sumbangan terbesar Umar Khayyam bagi negerinya dan perkembangan ilmu matematika.
Umar Khayyam adalah orang pertama yang mengklasifikasikan persamaan tingkat satu (persamaan linier) dan memikirkan pemecahan masalah persamaan pangkat tiga secara ilmiah. Selain itu, Umar Khayyam juga telah memperkenalkan sebuah persamaan parsial untuk ilmu aljabar dan geometri. Ia membuktikan bahwa suatu masalah geometri tertentu dapat diselesaikan dengan sejumlah fungsi aljabar. Pada abad XVX dan XVII, persamaan semacam ini justru lebih banyak digunakan oleh para ahli matematika Eropa. Hal ini merupakan bukti bahwa Umar Khayyam dan pengikutnya, Nashiruddin al-Thusi, telah berhasil mendahului para ahli matematika Barat. Karya Khayyam lainnya adalah Jawami al-Hisab. Karya ini memuat referensi paling awal tentang Segitiga Pascal dan menguji balik postulat V yang menyangkut teori garis sejajar, suatu hal mengenai geometri Euclides yang sangat mendasar.
Sebagai seorang muslim, Umar Khayyam termasuk kelompok moderat. Ia mempunyai pandangan yang berbeda dengan kebanyakan muslim pada waktu itu. Dengan kemampuannya bersastra, Khayyam juga menulis sejumlah puisi yang menggambarkan kisah hidupnya. Puisi tersebut termuat dalam karyanya yang berjudul Rubaiyat. Kini, karya tersebut masih tersimpan di negeri kelahirannya. Sementara itu, karya sastra Khayyam yang lain telah banyak diterjemahkan dalam bahasa Inggris, antara lain oleh Fitz Gerald pada tahun 1839.

10.Tsabit Bin Qurrah

Tsabit bin Qurrah lahir pada tahun 833 di Haran, Mesopotamia. Ia dikenal sebagai ahli geometri terbesar pada masa itu. Tsabit merupakan salah satu penerus karya al-Khawarizmi. Beberapa karyanya diterjemahkan dalam bahasa Arab dan Latin, khususnya karya tentang Kerucut Apollonius. Tsabit juga pernah menerjemahkan sejumlah karya ilmuwan Yunani, seperti Euclides, Archimedes, dan Ptolomeus.
Karya orisinal Archimedes yang diterjemahkannya berupa manuskrip berbahasa Arab, yang ditemukan di Kairo. Setelah diterjemahkan, karya tersebut kemudian diterbitkan di Eropa. Pada tahun 1929, karya tersebut diterjemahkan lagi dalam bahasa Jerman. Adapun karya Euclides yang diterjemahkannya berjudul On the Promises of Euclid; on the Propositions of Euclid dan sebuah buku tentang sejumlah dalil dan pertanyaan yang muncul jika dua buah garis lurus dipotong oleh garis ketiga. Hal tersebut merupakan salah satu bukti dari pernyataan Euclides yang terkenal di dunia ilmu pengetahuan. Selain itu, Tsabit juga pernah menerjemahkan sebuah buku geometri yang berjudul Introduction to the Book of Euclid.
Buku Elements karya Euclides merupakan sebuah titik awal dalam kajian ilmu geometri. Seperti yang dilakukan para ilmuwan muslim lain, Tsabit bin Qurrah pun tidak mau ketinggalan mengembangkan dalil baru tersebut. Ia mulai mempelajari dan mendalami masalah bilangan irasional. Dengan metode geometri, ia ternyata mampu memecahkan soal khusus persamaan pangkat tiga. Sejumlah persamaan geometri yang dikembangkan Tsabit bin Qurrah mendapat perhatian dari sejumlah ilmuwan muslim, terutama para ahli matematika. Salah satu ilmuwan tersebut adalah Abu Ja’far al-Khazin, seorang ahli yang sanggup menyelesaikan beberapa soal perhitungan dengan menggunakan bagian dari kerucut. Para ahli matematika menganggap penyelesaian yang dibuaat Tsabit bin Qurrah sangat kreatif. Tentu saja, hal tersebut disebabkan Tsabit bin Qurrah sangat menguasai semua buku karya ilmuwan asing yang pernah diterjemahkannya.
Tsabit bin Qurrah juga pernah menulis sejumlah persamaan pangkat dua (kuadrat), persamaan pangkat tiga (kubik), dan beberapa pendalaman rumus untuk mengantisipasi perkembangan kalkulus integral. Selain itu, ia melakukan sejumlah kajian mengenai parabola, sebelum kemudian mengembangkannya. Dalam bukunya yang berjudul Quadrature of Parabola, ia menggunakan bentuk hitungan integral untuk mengetahui sebuah bidang dari parabola.
Selain mahir matematika, Tsabit juga ahli astronomi. Ia pernah bekerja di Pusat Penelitian Astronomi yang didirikan oleh Khalifah al-Ma’mun di Baghdad. Selama bekerja di sana, Tsabit meneliti gerakan sejumlah bintang yang disebut Hizzatul I’tidalain, yang ternyata mempengaruhi terjadinya gelombang bumi setiap 26 tahun sekali. Sejak 5000 tahun yang lalu, para ahli perbintangan Mesir telah menemukan sebuah bintang yang bergerak mendekati Kutub Utara, yang disebut Alfa al-Tanin. Pada tahun 2100 nanti, bintang tersebut akan menjauhi Kutub Utara. Pada tahun 14000, akan muncul kembali sebuah bintang utara yang bernama an-Nasr. Bintang tersebut adalah bintang utara yang paling terang.
Tsabit juga memimpin sebuah penelitian pada masa pemerintahan Khalifah al-Rasyid. Tsabit mengukur luas bumi dengan menggunakan garis bujur dan garis lintang secara teliti. Penemuan Tsabit tersebut memberikan inspirasi pada para pelaut, seperti Colombus, untuk melakukan pelayaran keliling dunia yang dimulai dari Laut Atlantik. Berkat penemuan tersebut, para pelaut bisa memastikan kalau mereka tidak akan tersesat dan kembali ke tempat semula, yaitu Laut Atlantik. Penemuan penting Tsabit yang lain adalah jam matahari. Jam ini menggunakan sinar matahari untuk mengetahui peredaran waktu dan menentukan waktu shalat. Tsabit juga membuat kalender tahunan berdasarkan sistem matahari.
Tsabit bin Qurrah meninggal dunia pada tahun 911 di Baghdad.

Share
WhatsApp chat