34 Provinsi Permainan Tradisional ,Cara Bermain, Gambar,Keterangan

34 Provinsi Permainan Tradisional ,Cara Bermain, Gambar,Keterangan- Negara kita Indonesia memangmemiliki beragam budaya, adat istiadat, dan masih banyak lagi, namun tidak hanya sebatas itu Indonesia juga memiliki keanekaan ragam flora dan fauna.Permainan tradisional Indonesia harus nya masuk dalam daftar kebudayaan daerah yang perlu dilestarikan oleh anak bangsa, Indonesia sendiri memiliki permainan tradisional dari berbagai daerah dengan jumlah yang tidak sedikit. Akan tetapi jangan sampai seiring dengan kemajuan teknologi permainan tradisional sedikit demi sedikit mulai punah dan tidak dimainkan lagi.Permainan tradisional ini lebih mendidik dibandingkan permainan jaman sekarang yang bergelut dengan game saja. Untuk mengenang dan membangkitkan permainan tradisional agar terus bisa dimainkan oleh anak-anak sekarang, akan kita bahas bersama permainan tradisional yang satu ini.Jangan lupa dishare agar menjadi kebudayaan Indonesia.

34 Provinsi Permainan Tradisional & Cara Bermain

1.Permainan Tradisional Aceh

Geulayang Tunang

Aceh memang daerah sejuta pesona dan tradisi. Bukan hanya dalam konteks keagamaan, dalam sisi budayanya yang masih kental akan unsur tradisionalis juga kerap diwarnai oleh berbagai unsur yang sangat menarik bila ditelusuri. Salah satunya adalah lomba menaikkan layangan yang dikenal dengan ‘Tunang Layang’ atau kadang disebut ‘Geulayang Tunang’.

Dalam bingkai sejarah, lomba layangan sudah lama menjadi kebiasaan dan tradisi masyarakat Aceh bahkan tercatat lomba yang satu ini sudah terlebih dahulu ada sebelum nusantara terbentuk.

Tunang layang merupakan gelaran lomba masyarakat Aceh yang biasanya dilakukan setelah masyarakat selesai memanen padi di sawah. Adapun alasan mengapa perlombaan ini dilakukan pada musim pasca panen, adalah karena pada saat ini biasanya musim kemarau tiba dan sawah kering tak berair. Meskipun di Aceh terdapat beragam jenis dan tipe layangan, namun layangan yang diperbolehkan mengikuti perlombaan adalah jenis layangan Aceh.

2.Permainan Tradisional Provinsi Sumatera Utara

Zondag Maandag

Ciri permainan ini adalah melompat dengan satu kaki di dalam kotak. Zondag Mandaag, yang dikenal dengan beragam nama menyebar di seluruh pelosok Nusantara saat pemerintahan Hindia Belanda. Kini permainan zandag mandaag, menjadi permainan tradisional yang tidak pernah lekang oleh waktu. Dimainkan oleh seluruh anak-anak dari pedesaan sampai anak-anak di perkotaan.

Zondag Mandaag merupakan permainan rakyat yang hingga kini masih sering dimainkan. Agar tidak kehilangan warisan budaya, di sekolah-sekolah dasar tetap diperkenalkan kumpulan permainan tradisional khas Indonesia yang juga termasuk warisan budaya kita.

3.Permainan Tradisional Sumatera Barat

Badia batuang

Badia batuang adalah mainan yang terbuat dari sebatang bambu berdiameter luar sekitar 15 cm, ketebalan sekitar 1-1,5 cm dan memiliki panjang sekitar 4-5 buku bambu (1 buku bambu sekitar 30cm bagi bambu dewasa). Biasanya dipilih bambu yang tidak terlalu tua dan tidak terlalu muda. Badia batuang biasanya dimainkan oleh anak-anak berumur 8-13 tahun. Alat ini mirip seperti meriam jaman penjajahan kolonial Belanda, begitupun bunyinya. Cara mengoperasikannya  adalah dengan memasukan kain-kain robek kedalam bambu yang telah dilubangi berukuran 2×2 cm di bagian bawahnya dan disirami minyak tanah secukupnya sebagai bahan bakarnya.

4.Permainan Tradisional Provinsi Riau

Lulu Cina Buta

Lulu Cina Buta Permainan ini diambil dari kata dasar ” buta ” yang berarti tidak dapat melihat . Permainan ini dilakukan oleh anak laki-laki dan perempuan Sekolah Dasar , permainan ini menggunakan alat yang sederhana yaitu cukup dengan selembar sapu tangan . Kemudian membuat batas lingkaran di tanah sebesar garis tengah sekitar 21/2 meter sebagai lapangan bermain . Permainan lulu cina buta paling sedikit diikuti oleh 3 orang anak dan bias pula sampai 6 orang anak jumlahnya . Untuk menentukan siapa yang jadi ” buta ” maka diadakan terlebih dahulu hompipa yang kalah dalam hompipa dialah yang menjadi ” buta ” . Oleh salah satu temannya si buta yang kalah dalam hompipa tadi ditutup matanya menggunakan sapu tangan dengan beberapa lipatan dan ujung sapu tangan diikat dibelakang kepala si buta

5.Permainan Tradisional Provinsi Kepulauan Riau

Perahu jong

Kepulauan Riau memiliki sejumlah permainan tradisional yang saat ini masih terus dilestarikan. Salah satunya adalah permainan Jong. Pemainan rakyat khas melayu ini masih bisa ditemukan di tengah masyarakat melayu.

Jong merupakan permainan dengan menggunakan replikas perahu layar, kendati demikian perahu tersebut juga bisa berlajar ratusan meter.

Jong memiliki panjang 1,5 meter, sedangkan tinggi layar mencapai 2 meter. Sedangkan lebar perahu hanya sejengkal orang dewasa. Jong biasanya terbuat dari jenis kayu pilihan yaitu kayu pulai.

6.Permainan Tradisional Provinsi Jambi

tejek-tejekan

Permainan tradisional tejek-tejekan adalah permainan anak tradisional yang populer di Indonesia, khususnya dimasyarakat pedesaan. Permainan ini dapat ditemukan diberbagai wilayah di Indonesia baik di Sumatera, Jawa, Bali, Kalimantan dan Sulawesi. Disetiap wilayahnya dikenal dengan nama yang berbeda, seperti Pacih di Aceh, Setatak di Riau, Tejek-tejekan di Jambi, Cak Ingking Gerpak di Sumatera Selatan, Odik di Jawa Timur, Siki Doka di Nusa Tenggara Timur, dan paling populer sebagai Englek.

Permainan ini bernama tejek-tejekan karena cara bermainnya dengan mengangkat kaki sebelah ke atas sambil melompta-lompat ke tempat yang sudah ditentukan. Permainan ini terdapat di seluruh daerah Jambi, khususnya di wilayah Jambi permainan ini disebut Cingkling.

7.Permainan Tradisional Provinsi Sumatera Selatan

Main Ilu Apui

Main Ilu Apui Nama permainan ini adalah “Ilu Apui” (bahasa Lampung yang artinya sebagai berikut Ilu = minta, Apui = api. Jadi dapat diartikan ke dalam bahasa Indonesia = “Minta Api”). Permainan ini dilakukan oleh anak laki-laki dan anak perempuan, tetapi lebih sering dilakukan oleh anak-anak perempuan. Usia para peserta permainan ini adalah berkisar antara 7 sampai dengan 12 tahun dan dimainkan oleh paling sedikit 4 (empat) orang anak. Tidak dipergunakan alat, tetapi dapat pula digunakan alat bantu berupa sepotong kayu atau sepotong tongkat pendek. Kadang kala tanpa memerlukan sama sekali alat bantu tersebut di atas. Jalannya Permainan Mula-mula peserta permainan ini berkumpul dan mengadakan undian atau suit. Mereka yang terakhir kalah dalam suit maka dialah yang menjadi “tukang rampas” dalam permainan ini. Kalau misalnya terdapat 5 orang anak yang mengikuti permainan ini, berarti ada 4 orang anak yang menang dan yang terakhir 1 (satu) orang anak. Pada mulanya dibuat suatu lingkaran di tanah atau lantai dengan kapur yang mempunyai diameter lebih kurang 225 cm, kemudian di dalam lingkaran tersebut dibuat pula sebuah lingkaran lain yang berjarak lebih kurang 75 cm dari lingkaran yang pertama tadi; yang berarti bahwa lingkaran yang kedua ini berdiameter 150 cm.

8.Permainan Tradisional Provinsi Bangka Belitung

Tak Tek

Tak Tek adalah salah satu jenis permainan tradisional yang cukup populer di Provinsi Bangka Belitung. Permainan yang juga terdapat di Jawa dan tempat-tempat lainnya di Indonesia ini (meskipun dengan penyebutan yang berbeda) dikenal merata hampir di setiap daerah yang ada di Bangka Belitung.

9.Permainan Tradisional Provinsi Bengkulu

EKET PUN PISANG

Salah satunya Permainan ini berasal dari kota Bengkulu yaitu permainan “eket pun pisang”, yang sangat popular di kalangan masyarakat Bengkulu, arti dari Permainan Eket Pun Pisang ini adalah (eket=rakit, pun=batang, pisang=pisang). masyarakat Bengkulu itu sendiri mempunyai budaya melayu dimana permainan ini pada dulunya diciptakan dari nenek moyang terdahulu, sehingga masih dimanfaatkan bagi sebagian masyarakat Bengkulu sampai saat ini, al ini pun disebabkan adanya perbedaan budaya dan lingkungan eksternal dan internal dari masing-masing individu dan masyarakat. Sehingga permainan ontong pisang ini pun sangat berbeda dari permaina-permainan lainnya, dimana permainan ini di tindak lanjuti dari pemerintah supaya permainan ini tidak punah maka harus dijaga dan dilestarikan sebagai salah satu aset bangsa indonesia.

10.Permainan Tradisional Provinsi Lampung

Kakhecekhan

Kakhecekhan” atau disebut juga “Tukar Selendang”.Permainan ini biasa dilakukan oleh muda-mudi di Lampung. Tujuan diadakannya permainan ini adalah agar para peserta permainan ini dapat mengenal satu sama lain. Selain itu juga, diadakannya permainan ini bertujuan untuk mencari jodoh.

11.Permainan Tradisional Provinsi DKI Jakarta / Betawi

Kukuruyuk Ayam

Permainan kukuruyuk ayam merupakan jenis permainan yang pemainnya menirukan suara kokok ayam jantan. Beberapa daerah yang memainkan kukuruyuk ayam adalah seperti Condet, Sudimara, Ciledug, dan Kebayoran Lama. Permainan kukuruyuk ayam juga dikenal dengan nama adu ayam. Biasanya peserta permainan adalah anak-anak laki yang berusia belasan tahun.

Pemain dibagi ke dalam dua kelompok dengan jumlah masing-masing anggota yang tak terbatas. Pembagian regu dilakukan seadil mungkin agar setiap anggota regu memiliki lawan yang sepadan. Alat yang digunakan dalam permainan ini adalah dua buah kain sarung. Arena bermain berupa lapangan terbuka atau tanah yang luas.

Setiap regu memiliki bebato. Ketika permainan akan dimulai, bebato menunjuk anggota regunya yang akan dikurung dalam sarung kemudian berjongkok. Salah satu ujung sarung pemain tersebut diikat. Kemudian kedua bebato membawa kurungan sarung menuju garis batas dan berhenti. Anggota yang dikurung harus menirukan suara kokok ayam jantan.

Kedua bebato berunding dan mengangkat kurungannya. Jika kondisi kedua jagonya sebanding, maka permainan dapat dimulai. Akan tetapi jika tidak sebanding, maka harus diganti dengan yang sebanding. Kemudian kedua jago tersebut beradu kedua telapak tangan dan salah satu kakinya (kaki kanan) diikat ke belakang. Kedua jago saling mendorong untuk menjatuhkan, namun masing-masing tidak boleh melewati garis batas. Pemenang adalah pemain yang dapat menjatuhkan dan dapat diadu dengan lawan yang lainnya.

12.Permainan Tradisional Provinsi Jawa Barat

Cingciripit

Cingciripit ini biasanya dilakukan oleh-anak-anak sebelum memulai permainan untuk menentukan urutan dalam bermain atau menentukan siapa yang menjadi eméng (kucing).

Cara melakukan cingciripit: Anak-anak berkumpul membentuk lingkaran, kemudian salah seorang diantara mereka (biasanya) orang yang ‘dituakan’ dalam kelompok membuka telapak tangan, kemudian satu persatu anak meletakan jarinya di tangan tersebut, mereka akan ngawih (bernyanyi) bersama dengan syair.

Lirik Lagu Cingciripit:

Cing ciripit satulang sabawang,

Saha nu kajepit tunggu lawang.

atau ..

Cing ciripit Tulang bajing kacapit

Kacapit ku bulu paré

Bulu paré sesekeutna

Jol pa dalang mawa wayang

Jrék-jrék nong, Jrék-jrék nong.

Ketika lagu hampir berakhir, pemain bersiap-siap untuk mengangkat jarinya, karena bila jari tertangkap oleh tangan si pemimpin tadi maka dia kalah dan menjadi eméng atau kucing.

13.Permainan Tradisional Provinsi Banten

Terompah Panjang

Terompah panjang adalah permainan olahraga tradisional yang mempergunakan kayu panjang dengan ukuran tertentu sebagai alat mengadu kecepatan dengan menempuh jarak yang telah ditentukan. Sebagaimana permainan tradisional egrang, permainan terompah panjang ini juga sudah cukup dikenal oleh hampir seluruh masyarakat Indonesia dan sering dilombakan pada acara peringatan kemerdekaan Republik Indonesia pada bulan Agustus.

Permainan ini dilakukan oleh tiga atau lima orang dalam sepasang terompah. Panjang terompah disesuaikan dengan jumlah pelaku yang akan mempergunakannya. Labar kayu 10 cm dengan ketebalan 2,5 cm. Pengait kedua kaki pelaku dibuat dari karet ban, dengan labar 7 cm. Sedangkan panjang karet disesuaikan dengan lingkar kaki. Pengait kaki ini dipaku dengan kuat di kedua sisi kayu. Jarak antara karet pengait dengan ujung depan dan ujung belakang kayu sepanjang 20 cm, sedangkan jarak antar karet pengait yang satu dengan lainnya 40 cm. Sehingga, apabila dalam satu kayu mempergunakan tiga karet pengait kaki, maka panjang keseluruhan kayu tersebut adalah 141 cm. Lain halnya, apabila dalam satu kayu mempergunakan lima karet pengait kaki, panjang keseluruhan kayu tersebut adalah 235 cm.

14.Permainan Tradisional Provinsi Jawa Tengah

Tekongan

Permainan Tekongan ini bisa dibilang permainan yang murah meriah karena tak perlu mengeluarkan budget khusus. Tekongan hanya membutuhkan keuletan dan kemampuan berlari yang cukup gesit para pemainnya. Ya, karena sepanjang permainan, pemain harus berlari dan berkelit dengan cepat.

Entah sejak kapan permainan ini ada, namun memang tekongan adalah permainan warisan leluhur, tepatnya di daerah Klaten, Jawa Tengah. Aturan permainannya mirip dengan petak umpet, hanya saja medianya berbeda.

Aturan bermain tekongan begini. Pertama pemain tekongan minimal dua orang. Ya.. Tapi kalau pemainnya dua orang saja sepertinya kurang seru. Semakin banyak yang bermain maka akan semakin seru. Bermainlah tekongan di tanah lapang. Siapkan pecahan genteng atau yang disebut dengan wingko. Masing-masing pemain harus punya satu wingko. Kemudian, buatlah lingkaran di tanah sebagai pusat permainan. Nah barulah setelah itu, masing-masing pemain melemparkan wingko ke arah lingkaran yang telah dibuat tadi. Pemain yang jarak wingkonya paling jauh dari lingkaran, ialah yang menjadi penjaga.

Selanjutnya, para pemain yang tidak menjadi penjaga harus bersembunyi secepatnya selama penjaga menata wingko secara vertikal, tepat di tengah lingkaran. Setelah penjaga selesai menata wingko, maka ia harus mencari pemain-pemain yang bersembunyi. Jika ia menemukan salah seorang pemain yang bersembunyi, maka ia harus memekikkan kata “tekong” dengan diikuti nama pemain. Tidak berhenti sampai disitu, penjaga harus berlari menuju lingkaran tempat wingko ditumpuk disertai dengan teriakan “gong”, tanda bahwa ia telah menyentuh lingkaran.

15.Permainan Tradisional Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Cublak-cublak Suweng

Permainan ini dimainkan olehbeberapa anak/orang, tetapi minimal tiga orang. Akan tetapi lebih baik antara 6 sampai delapan orang. Tujuan dari permainan ini adalah Pak Empo menemukan anting (suweng) yang disembunyikan seseorang.

Pada awal permaianan beberapa orang berkumpul dan mengundi/ menentukan salah satu dari mereka untuk menjadi Pak Empo. Biasanya pengundiannya melalui pingsut/encon/undian biasa. Setelah ada yang berperan sebagai pak Empo. Maka mereka semua duduk melingkar. Sedangkan Pak Empo berbaring telungkup di tengah-tengah mereka. Masing-masing orang menaruh telapak tangannya menghadap ke atas di punggung pak Empo.

Salah seorang dari mereka mengambil kerikil atau benda (benda ini dianggap sebagai anting). Lalu mereka semua bersama-sama menyanyikan cublak-cublak suweng sambil memutar kerikil dari telapak tangan yang satu ke yang lainnya. begitu terus sampai lagu tersebut dinyanyikan beberapa kali (biasanya 2-3 kali).

Setelah sampai di bait terakhir …Sir-sir pong dele gosong pak Empo Bangun dan pemain lainnya pura-pura memegang kerikil. Tangan kanan dan kiri mereka tertutup rapat seperti menggenggam sesuatu. Hal ini untuk mengecoh pak Empo yang sedang mencari ”suwengnya”. Masing-masing pemain mengacungkan jari telunjuk dan menggesek-gesekkan telunjuk kanan dan kiri (gerakannya) persis seperti orang mengiris cabe. Mereka semua tetap menyanyikan Sir-sir pong dele gosong secara berulang-ulang sampai pak Empo menunjuk salah seorang yang dianggap menyembunyikan anting.

Ketika pak Empo salah menunjuk maka permainan dimulai dari awal lagi (pak Empo berbaring). Dan ketika pak Empo berhasil menemukan orang yang menyembunyikan antingnya maka orang tersebut berganti peran menjadi pak Empo. Permainan selesai ketika mereka sepakat menyelesaikannya.

16.Permainan Tradisional Provinsi Jawa Timur

Jamuran

Jamuran adalah permainan yang berasal dari Jawa Timur. Permainan tradisional yang satu ini biasa dimainkan oleh anak perempuan maupun laki-laki, permainan jamuran ini biasanya dimainkan di waktu sore hari di halaman, lapangan atau tempat yang mempunyai luas yang cukup besar untuk bermain permainan ini.

Cara memainkan permainan ini tidak begitu sulit, karena untuk bermain permainan ini kamu tidak perlu menggunakan alat atau benda apapun, kamu hanya perlu mengikuti permainan, sebagai syarat dari permainan hanya cukup dengan minimal 8 pemain atau lebih, jika pemain banyak permainan akan seru.

Pertama tentukanlah pemain yang akan berperan sebagai jamur, caranya bisa dengan berunding atau homponpah, setelah selesai menentukan jamur bentukalah lingkaran dan pemain yang menjadi jamur berdiri di tengah-tengah lingkaran tadi.

Pemain lainnya mengelilingi jamur sambil berjalan dengan diiringi nyanyi dan tepuk tangan mengikuti irama. Apabila nyanyian sudah selesai maka jamur akan mengatakan sesuatu dan nantinya semua pemain yang berbaris melingkari jamur harus mengikuti dan menuruti perintahnya.

Misalkan jamur berkata “jamur bangunan” maka nantinya pemain yang melingkar tadi akan berhamburan dan membentuk sebuah bangunan. Pemain yang tidak berubah menyerupai bangunan akan menggantikan peran pemain yang menjadi jamur.

Apalagi jika jamur mngatakan kata “jamur patung” makan pemain harus berubah seolah-olah menjadi patung dan tidak dieprbolehkan untuk bergerak, apabila ada yang bergerak maka akan menggantikan peran pemain yang menjadi jamur.

17.Permainan Tradisional Provinsi Bali

Megoak Goakan

Permainan tradisional Bali yang satu ini telah menyebar luas seantero nusantara, dengan nama yang beda dan mungkin di daerah lain ada sedikit modifikasi dalam permainan ini. Permainan Megoak Goakan hampir mirip seperti permainan Ular-ularan, yang sering di mainkan anak 90an ke bawah.

Permainan Megoak Goakan paling sedikitnya terdiri dari 7 orang atau lebih, dengan cara 6 orang buat satu barisan sedangkan yang satunya lagi bertugas sebagai Si Goak. 6 orang yang baris, satu sama lain harus saling memegang pinggang temannya yang berada di depan, selama permainan berjalan, pegangan itu tidak boleh terlepas.

Biasanya orang yang paling kuat, bertugas sebagai kepala barisan, karena untuk menjada ekor atau barisan paling belakang agar tidak tertangkap oleh Si Goak. Si Goak bertugas menangkap barisan paling belakang, dan biasanya permainan ini menggunakan waktu, untuk meminimalkan berapa lama Si Goak harus menangkap ekor barisan.

Apabila dalam jangka waktu yang ditentukan misal, 5 menit Si Goak tidak bisa menangkap ekor atau barisan paling belakang, maka Si Goak dinyatakan kalah. Begitu pula sebaliknya, apabila Si Goak bisa menangkapnya maka kemenangan berpihak pada Si Goak.

Permainan ini bisa juga dimainkan oleh dua regu atau kelompok, dengan cara permainan setiap kepala barisan dari kelompok itu saling mengejar ekor atau barisan paling belakang dari lawan. Serta menjaga ekornya agar tidak terkena oleh kepala barisan lawan.

Permainan ini lebih seru apabila dimainkan di tempat yang sedikit berair dan berlumpur. Misalnya, pesawahan dan lain-lainnya.

Lebih banyak peserta yang bermain dalam permainan ini, maka permainan pun akan lebih seru.

18.Permainan Tradisional Provinsi Nusa Tenggara Barat

DENGKLEN

Dengkleng adalah permainan tradisional di Lingkungan Sebok, Kelurahan Dalam, Kecamatan Taliwang, Kabupaten Sumbawa Barat, Provinsi Nusa Tenggara Barat

Permainan ini mungkin sudah tidak asing lagi bagi kita, karena permainan in sudah pernah kita mainkan khususnya anak perempuan, hanya saja penyebutannya yang berbeda-beda di setiap daerah yang mempunyai permainan seperti ini. Permainan dengkleng adalah permainan yang memerlukan keseimbangan yaitu melompat dengan satu kaki melewati kotak-kotak dengan langkah-langkah dan aturan tertentu, Kotak-kotak itu berisi nomor-nomor yang harus dilewati. Contoh pada gambar dari permainan diatas.

Langkah-langkah dalam permainan dengkleng yaitu setiap kotak harus dilewati satu persatu dengan cara melemparkan batu atau pecahan keramik sebagai tanda dengan syarat tidak boleh menginjak kotak yang ada batunya, begitu seterusnya hingga ke puncak yaitu angka 9. Apabila permainan telah selesai ke angka 9, pemain boleh memilih kotak yang boleh disinggahi atau diiinjak dengan cara memilihnya dengan melempar batu, lalu ditandai dengan gambar bintang. Apabila kotak sudah penuh dengan bintang (kecuali angka 9) maka permainan dianggap selesai dan pemain yang dianggap menang apabila mempunyai banyak bintang di setiap kotaknya.

19.Permainan Tradisional Provinsi Nusa Tenggara Timur

Rangkuk Alu atau Rangku Alu

Rangkuk Alu sendiri merupakan permainan tradisional yang menggunakan bambu sebagai alat permainannya yang dikreasikan dengan berbagai gerakan sehingga menghasilkan sebuah kreasi seni yang khas. Tari ini merupakan salah satu tarian tradisional dari daerah Manggarai, Flores, Nusa Tenggara Timur(NTT) .

Dalam permaianan tersebut, bambu disusun dan dimainkan secara diayunkan seperti menjepit beberapa orang pemain. Salah satu atau dua pemain melompat-lompat menghindari jepitan dari bambu tersebut.

Saat melompat-lompat menghindari jepitan, pemain seakan melakukan gerakan tari. Dari situlah awal terbentuknya gerakan dasar Tari Rangkuk Alu ini. Gerakan penari dan pemain bambu tersebut kemudian dipadukan dengan irama musik dan lagu daerah sehingga menghasilkan seni yang khas, yaitu Tari Rangkuk Alu.

Tari Rangkuk Alu tidak hanya sekedar permainan biasa, akan tetapi tarian ini juga bisa menjadi sarana edukasi dan pembentukan diri. Tujuan dari tarian ini yaitu dapat melatih kelincahan dan melatih ketepatan dalam bertindak. Selain itu bagi masyarakat di sana, tarian ini tentu juga mengandung nilai-nilai filosofis dan spiritual di dalamnya.

20.Permainan Tradisional provinsi Kalimantan Barat

CANG CERICIT

permainan cang cericit ini berasal dari Pontianak, Kalimantan barat. Permainan ini dimainkan oleh 4 orang. Sebelum permainan dimulai 4 orang tersebut harus suit atau hom pimpa siapa yang kalah dialah yang jadi.

Cara memainkan permainan cang cericit ini adalah letakan tangan dipunggung yang kalah dan memutarkan atau mengoper sebuah benda dan menyanyikan sebuah lagu cang cericit tersebut apabila lagu tersebut habis dan selesai pula memutar benda tersebut. Setelah selesai  yang kalah harus mencari benda tersebut. Apabila si pencari gagal mencari benda tersebut si pencari harus mengulangi permainan tersebut sampai dapat. Apabila si percari telah dapat benda tersebut yang menyembunyikan benda tersebut akan menggantikan posisi sebagai si pencari kembali.



21. Permainan Tradisional Provinsi Kalimantan Tengah

Manyipet

Perkataan Manyipet dalam bahasa Dayak Ngaju jika diterjemahkan kedalam Bahasa Indonesia berarti menyumpit. Dari nama tersebut dapat diketahui bhwa kegiatan utama permainan ini adalah menyumpit, yakni suatu kepandaian membidikkan anak sumpitan (damek) ke suatu sasaran dengan menggunakan sebuah sumpitan. Permaianan mentumpit sebagai suatu permainan guna melatih keterampilan biasanya dilakukan pada waktu siang hari

22.Permainan Tradisional Provinsi Kalimantan Selatan

BALOGO

Balogo merupakan salah satu nama jenis permainan tradisional suku Banjar di Kalimantan Selatan. Permainan ini dilakukan oleh anak-anak sampai dengan remaja dan umumnya hanya dimainkan kaum pria.

Nama permainan balogo diambil dari kata logo, yaitu bermain dengan menggunakan alat logo. Logo terbuat dari bahan tempurung kelapa dengan ukuran garis tengah sekitar 5-7 cm dan tebal antara 1-2 cm dan kebanyakan dibuat berlapis dua yang direkatkan dengan bahan aspal atau dempul supaya berat dan kuat. Bentuk alat logo ini bermacam-macam, ada yang berbentuk bidawang (bulus), biuku (penyu), segitiga, bentuk layang-layang, daun dan bundar.

Dalam permainnannya harus dibantu dengan sebuah alat yang disebut panapak atau kadang-kadang beberapa daerah ada yang menyebutnya dengan campa, yakni stik atau alat pemukul yang panjangnya sekitar 40 cm dengan lebar 2 cm. Fungsi panapak atau campa ini adalah untuk mendorong logo agar bisa meluncur dan merobohkan logo pihak lawan yang dipasang saat bermain.

Baca :  contoh Kata dan kalimat homograf serta pengertian

Permainan balogo ini bisa dilakukan satu lawan satu atau secara beregu. Jika dimainkan secara beregu, maka jumlah pemain yang “naik” (yang melakukan permainan) harus sama dengan jumlah pemain yang “pasang”

(pemain yang logonya dipasang untuk dirobohkan) Jumlah pemain beregu minimal 2 orang dan maksimal 5 orang. Dengan demikian jumlah logo yang dimainkan sebanyak jumlah pemain yang disepakati dalam permainan.

Cara memasang logo ini adalah didirikan berderet ke belakang pada garis-garis melintang. Karenanya inti dari permainan balogo ini adalah keterampilan memainkan logo agar bisa merobohkan logo lawan yang dipasang. Regu yang paling banyak dapat merobohkan logo lawan, mereka itulah pemenangnya.

Sebagai akhir permainan, pihak yang menang disebut dengan “janggut” dan boleh mengelus-elus bagian dagu atau jenggot pihak lawan yang kalah sambil mengucapkan teriakan “janggut-janggut” secara berulang-ulang yang tentunya membuat pihak yang kalah malu, tetapi bisa menerimanya sebagai sebuah kekalahan.

23.Permainan Tradisional Provinsi Kalimantan Timur

pindah bintang

Pindah Bintang adalah sebuah permainan tradisional dari Kalimantan Timur. Permainan yang biasanya dimainkan oleh anak-anak, remaja, dan bahkan dewasa ini, diperkirakan dibawa ke tanah Melayu pada Masa Kolonial. Permainan Pindah Bintang terinspirasi dari bintang-bintang dilangit yang berkelap kelip, seakan-akan bintang itu bergerak dan berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Para pemain yang memainkan Pindah Bintang akan menirukan gerak bintang dengan melompat-lompat dan berlari dari satu ruang menuju ruang lainnya.

Pada permainan Pindah Bintang ini tidak perlu menggunakan alat-alat tetapi hanya sebuah lingkaran yang digambar pada lantai atau tanah. Dalam permainan ini siapa pun bisa ikut bermain dan tidak terbatas pemainnya. Permainan pindah bintang juga tidak mengenal perbedaan jenis kelamin. Kaitan permainan ini berkaitan dengan pembelajaran PJOK yang mengandalkan kekuatan fisik seperti berlari, sesuai dengan KD yang diacu adalah memahami konsep variasi dan kombinasi gerak dasar atletik jalan, lari, lompat, dan lempar dengan kontrol yang baik melalui permainan dan atau olahraga tradisional.

Permainan ini mengandalkan kecepatan dan ketepatan juga kreatifitas dari para peserta. Setiap peserta yang kalah atau yang ajak akan diberiakan kartu soal dan wajib menjawab soal tersebut. Nilai yang paling ditonjolkan dari permainan ini adalah kecepatan dalam bertukar tempat dengan teman dan tidak pernah kalah. Dapat bermain adil dan tidak merugikan peserta lainnya dan bermain sesuai dengan aturan yang telah ditentukan oleh guru.

24.Permainan Tradisional Provinsi Kalimantan Utara

Ukau

Ukau adalah permainan menggunakan batu kerikil kecil yang berjumlah 5 buah. Permainan ini dapat dimainkan oleh beberapa orang sekaligus. Tidak ada aturan yang membatasi permainan ini. Permainan diawali dengan melempar secara pelan 5 batu tersebut ke lantai atau tanah. Ambil salah satu batu kemudian lempar ke atas dan secara bersamaan ambil 1 batu yang tergeletak di bawah. Lakukan hingga batu yang di bawah habis. Langkah selanjutnya tidak berbeda, hanya batu yang diambil berjumlah sekaligus 2 buah, kemudian dilanjutkan 3. Selanjutnya, jika ingin mengambil 4 batu sekaligus karena 1 batu menjadi lemparan, 4 batu tersebut harus ditelungkupkan menjadi 1 bersamaan dengan melempar satu batu yang telah dipilih. Jadi, awalnya 5 batu tersebut berada di telapak tangan, kemudian lempar ke atas salah satu batu pelempar dan telungkupkan 4 batu ke tanah dan segeralah menangkap batu yang dilempar tadi. Langkah permainan yang selanjutnya adalah 5 batu tersebut dilempar ke atas dan ditangkap menggunakan punggung tangan. Jika sudah ada di punggung tangan, lempar lagi batu tersebut dan tangkap menggunakan telapak tangan menghadap ke depan, bukan menunggu jatuh ketika telapak tangan terbuka ke atas. Pemain akan dianggap mati atau gagal jika tidak bisa menangkap batu pada masing-masing tahap permainan kecuali tahap penangkapan dengan punggung tangan. Jika salah satu pemain gagal, maka itu waktunya pemain lain menjalankan permainan. Begitu seterusnya hingga seluruh pemain menyelesaikan permainan ini.

25. Permainan Tradisional Provinsi Sulawesi Utara

Ceklen

Permainan Ceklen (Bekel) biasa dimainkan oleh anak-anak perempuan di hampir seluruh wilayah Indonesia. Biasanya, permainan ini dimainkan oleh dua hingga lima orang anak dengan biji bia atau kerang laut. Anak-anak akan duduk bersila di lantai untuk memainkan permainan. Sebelum bermain, mereka harus melakukan suten (suit) untuk mencari siapa pemain pertama yang akan memulai permainan.

Setelah menentukan giliran siapa yang mulai lebih dulu, permainan dimulai dengan melemparkan bola keatas dan menghamparkan bia. Setelah bola memantul sekali, bola harus diambil kembali.

Kemudian, pemain harus mengambil satu per satu bia yang terhampar secara langsung. Setelah terambil semua, biji dihamparkan kembali dan diambil kali ini sekaligus dua buah bia. Begitu selanjutnya sampai sejumlah bia yang dimainkan. Setalah mengambil bia secara langsung selesai, maka kini pemain harus mengubah bia menjadi bentuk terbuka atau tertutup tertentu sebelum diambil. Urutan posisinya adalah buka mulai dari buka 1 sampai buka 6 selanjutnya tutup bia mulai dari 1 sampai 6. Bia yang dipergunakan umumnya berjumlah 6 sampai 10 bia.

Pemain akan kehilangan gilirannya apabila bola memantul lebih dari sekali, tidak dapat menangkap bola, tidak dapat menggambil bia, tidak bisa mengubah salah satu bia menjadi posisi tertentu saat sudah mencapai tahap membuka dan menutup bia yang harus diambil. Pemenangnya adalah yang mencapai tahap paling tinggi.

26.Permainan Tradisional Provinsi Sulawesi Barat

Maggaleceng

Permainan maggaleceng adalah permainan yang menggunakan kayu panjang yang tebalnya kurang dari 10 cm, berdiameter sekitar 20 cm dan panjang 50 cm. Kayu tersebut diberi lubang-lubang (bundar) dengan kedalaman kurang lebih 5 cm. Jumlah lubang seluruhnya adalah 12 buah, dengan rincian 10 lubang dibuat jejer dua (masing-masing jejer 5 lubang), kemudian dua lubang yang agak besar disetiap ujungnya. Permainan ini juga menggunakan biji-biji pohon buah asam atau kerikil yang jumlahnya  antara 50-70 biji, untuk mengisi lubang-lubang yang tersedia. Biji-biji atau kerikil tersebut nantinya dibagi menjadi dua untuk setiap masing-masing pemain. Permainan maggaleceng dapat dilakukan oleh anak-anak dan orang dewasa laki-laki maupun perempuan. Namun saat ini, secara umum permainan maggaleceng dimainkan oleh kaum perempuan, terutama anak-anak yang berusia 6 sampai 12 tahun. Kaum laki-laki sangat jarang memainkannya. Dahulu permainan maggaleceng hanya dimainkan di teras atau beranda rumah. Namun, sekarang ini permainan maggaleceng dapat dimainkan dimana saja dan kapan saja, karena tidak memerlukan tempat yang khusus. Jadi bisa dimainkan di beranda rumah, atau di balai-balai rumah adat. Waktu memainkannya pun bisa pagi, siang, sore atau malam hari.

Manggasing adalah permainan yang menggunakan kayu yang telah dibentuk dengan model tertentu, dan kemudian diputar dengan menggunakan “kararrang (tali)”, kemudian para pemain saling melempar gasing.

Permainan manggasing ini biasanya dimainkan kedalam dua tim (kelompok) dengan berbagai macam aturan.

Cara Bermain Permainan Maggaleceng

Jumlah pemain tergantung dari jumlah papan permainan maggaleceng yang tersedia. Untuk satu papan permainan hanya dapat dimainkan oleh dua orang. Tiap lubang kecil diisi dengan 5 biji yang biasanya terbuat dari biji-bijian atau kerikil, kecuali lubang induk yang dibiarkan kosong. Setelah menentukan siapa yang akan mulai lebih dulu, maka permainan dimulai dengan memilih salah satu lubang dan menyebarkan biji yang ada di lubang tersebut ke tiap lubang lainnya searah jarum jam. Masing-masing diisi dengan satu biji atau kerikil. Bila biji atau kerikil terakhir jatuh di lubang yang ada biji atau kerikil lain maka biji atau kerikil yang ada di lubang tersebut diambil lagi untuk diteruskan mengisi lubang-lubang selanjutnya. Jangan lupa untuk mengisikan biji ke lubang induk kita setip melewatinya. Sedangkan lubang induk lawan tidak perlu diisi. Bila biji terakhir ternyata masuk ke lubang induk kita, berarti kita masih bisa memilih lubang lainnya untuk memulai lagi, tetapi jika ternyata saat biji terakhir diletakkan pada salah satu lubang kosong, berarti giliran untuk lawan kita. Bila lubang tempat biji terakhir itu ada di salah satu dari 5 lubang yang ada di baris kita, maka biji yang ada diseberang lubang tersebut beserta 1 biji terakhir yang ada di lubang kosong akan menjadi milik kita dan akan masuk dalam lubang induk kita. Setelah semua baris kosong, maka permainan dimulai lagi dengan mengisi 5 lubang milik kita, masing-masing dengan 5 biji dari biji yang ada di lubang induk kita. Dimulai dari lubang yang terdekat dengan lubang induk, bila tidak mencukupi maka lubang lainnya dibiarkan kosong dan selama permainan tidak boleh diisi..

Peraturan Permainan

  1. Jika biji atau kerikil yang terakhir kena lubang yang kosong didaerahnya sendiri, sementara lubang lawan berisi, maka bijinya diambil sebagai kemenangan pihak sendiri.
  2. Apabila biji atau kerikil persis habis pada lubang lawan yang berisi tiga biji, maka bijinya diambil sebagai kemenangan lawan.
  3. Masing-masing lubang tidak digunakan sebagai tempat biji atau kerikil kemenangan

27.Permainan Tradisional Provinsi Sulawesi Tengah

TILAKO

sukubangsa yang bernama Kaili. Di kalangan mereka ada satu jenis permainan yang disebut sebagai tilako, yaitu sebuah permainan berjalan menggunakan alat yang terbuat dari bambu dan pelepah sagu atau tempurung kelapa. Tilako disamping nama sebuah permainan juga sekaligus nama alat yang digunakan untuk permainan tersebut. Tilako itu sendiri merupakan gabungan dari dua kata, yaitu “ti” dan “lako”. “Ti” adalah kata awalan yang menunjukkan kata kerja dan “lako” secara harafiah berarti “langkah/jalan”. Dalam permainan ini “tilako” adalah alat yang dipakai untuk melangkah atau berjalan. Permainan ini dalam dialek Rai disebut kalempa yang juga merupakan gabungan dari dua kata, yaitu “ka” dan “lempa”. “Ka” adalah kata awalan yang menunjukkan kata kerja dan “lempa” berarti “langkah”.

Pemain

Permainan tilako dapat dikategorikan sebagai permainan anak-anak. Pada umumnya permainan ini dilakukan dilakukan oleh anak laki-laki yang berusia 7–13 tahun. Jumlah pemainnya 2–6 orang.

Tempat dan Peralatan Permainan

Permainan tilako ini tidak membutuhkan tempat (lapangan) yang khusus. Ia dapat dimainkan di mana saja, asalkan di atas tanah. Jadi, dapat di tepi pantai, di tanah lapang atau di jalan. Luas arena permainan tilako ini hanya sepanjang 7–15 meter dan lebar sekitar 3-4 meter.

Peralatan yang digunakan adalah dua batang bambu bata (volo vatu) yang relatif lurus dan sudah tua dengan panjang masing-masing antara 1,5-3 meter. Cara membuatnya adalah sebagai berikut. Mula-mula bambu dipotong menjadi dua bagian yang panjangnya masing-masing sekitar 2½-3 meter. Setelah itu, dipotong lagi bambu yang lain menjadi dua bagian dengan ukuran masing-masing sekitar 20-30 cm untuk dijadikan pijakan kaki. Selanjutnya, salah satu ruas bambu yang berukuran panjang dilubangi untuk memasukkan bambu yang berukuran pendek. Setelah bambu untuk pijakan kaki terpasang, maka bambu tersebut siap untuk digunakan.

Aturan Permainan

Aturan permainan tilako dapat dibagi menjadi dua, yaitu perlombaan lari dan pertandingan untuk saling menjatuhkan dengan cara saling memukulkan kaki-kaki bambu. Perlombaan adu kecepatan biasanya dilakukan oleh anak-anak yang berusia antara 7-11 tahun dengan jumlah 2–5 orang. Sedangkan, permainan untuk saling menjatuhkan lawan biasanya dilakukan oleh anak-anak yang berusia antara 11-13 tahun dengan menggunakan sistem kompetisi.

Jalannya Permainan

Apabila permainan hanya berupa adu kecepatan (lomba lari), maka diawali dengan berdirinya 3-4 pemain di garis start sambil menaiki bambu masing-masing. Bagi anak-anak yang kurang tinggi atau baru belajar bermain tilako, mereka dapat menaikinya dari tempat yang agak tinggi atau menggunakan tangga dan baru berjalan ke arah garis start. Apabila telah siap, orang lain yang tidak ikut bermain akan memberikan aba-aba untuk segera memulai permainan. Mendengar aba-aba itu, para pemain akan berlari menuju garis finish. Pemain yang lebih dahulu mencapai garis finish dinyatakan sebagai pemenangnya.

Sedangkan, apabila permainan bertujuan untuk mengadu bambu masing-masing pemain, maka diawali dengan pemilihan dua orang pemain yang dilakukan secara musyawarah/mufakat. Setelah itu, mereka akan berdiri berhadapan. Apabila telah siap, peserta lain yang belum mendapat giliran bermain akan memberikan aba-aba untuk segera memulai permainan. Mendengar aba-aba itu, kedua pemain akan mulai mengadukan bambu-bambu yang mereka naiki. Pemain yang dapat menjatuhkan lawan dari bambu yang dinaikinya dinyatakan sebagai pemenangnya.

28.Permainan Tradisional Provinsi Sulawesi Tenggara

Lojo/Pelojo

Permainan lojo ini menggunakan alat yang terbuat dari tempurung kelapa yang dilubangi. Permainan lojo ini biasa dimainkan oleh anak laki-laki. Dan untuk perempuan biasa disebut dengan pebudo.

29.Permainan Tradisional Provinsi Sulawesi Selatan

Maccuke

Berasal dari bahasa Bugis yaitu cukke yang artinya ungkit. Dengan demikian, maccukke berarti bermain ungkit. Permainan cukke termasuk permainan musiman yang umumnya dilakukan sedudah panen sampai pada waktu menjelang turun ke sawah dan dilakukan pada siang hari.

Maccuke atau Cangke merupakan permainan menggunakan kayu sebagai alat bermain yang terdiri dari indo’ cukke (kayu panjang) dan anak cukke (kayu kecil).

Konsep permainan yang kerap disebut Mappeppe Kayu ini menggunakan dua potong kayu, satu berukuran kecil sebagai anak cukke dan lainnya berukuran panjang.

Permainan ini kerap dilakukan oleh tiga orang atau lebih. Disaat salah satu pemain maccukke, maka pemain lainnya menjadi penangkap kayu yang dicungkil.

Cara bermainnya, pemain mencungkil anak cukke yang diletakkan pada sebuah lubang sejauh mungkin. Sementara pemain lawan akan berusaha menangkapnya dan melemparkan kembali anak cukke untuk dipukul sekuat mungkin kearah pelempar oleh si pemukul.

Permainan ini butuh keahlian dalam menangkap benda melayang yang bergerak cepat di udara. Selain itu, harus ekstra waspada, karena bisa jadi anak cukke yang emluncur ke arah pemain gagal ditangkap dan mengenai bagian tubuh dan menimbulkan luka.

30.Permainan Tradisional Provinsi Gorontalo

BILU-BILULU

Permainan hadang versi gorontalo. Bilu-bilulu, adalah nama burung kecil yang gesit, konon berasal dari nama seorang anak laki-laki yang sedang memburu burung tersebut. Permainan ini digelar dimana saja dan kapan pun, pada saat terang bulan, di pantai juga di tumpukan jerami. Dimainkan oleh tiga anak berusia lima hingga 14 tahun. Dua orang berperan sebagai pemburu/penghadang, satu orang berperan sebagai burung, yang bertugas mengumpulkan sesuatu, tanpa harus tersentuh oleh si pemburu. Jika tersentuh, maka permainan terhenti, si pemburu yang menyentuh mengambil peran sebagai burung.

31.Permainan Tradisional Provinsi Maluku

LEMON NIPIS

Permainan ini dinamai sesuai dengan lagunya. Lagu Lemon nipis seperti berikut.

lemon nipis

taguling-guling

guling apa dilobang cacing

saratus digulung-gulugn

dua ratus dikawalinya-linya-linya-linya

Permainan ini dimainkan oleh banyak orang, dua orang akan membentuk sebuah lorong dengan tangan mereka yang terangkat ke udara membentuk mulut lorong. Kemudian yang lain akan berbaris kebelakang dan pemain yang dibelakang akan meletakkan tangan mereka dipundak pemain didepan.

Mereka akan menyanyikan lagu Lemon Nipis sambil berjalan bagaikan kereta masuk-keluar lorong yang dibuat dua pemani lain sampai pada lirik terakhir yang diulang-ulang dan ada satu pemain yang akan masuk dalam lingkaran yang dibuat dua pemain yang membuat lorong tadi. Si pemain yang tertangkap akan memilih untuk menjadi anak buah siapa, yang disebelah kana atau kiri dan ia akan berdiri dibelakang juragannya sambil memegang pundaknya. Permainan akan dimainkan terus sampai tinggal satu pemain dan pemain itu dinyatakan kalah.

32.Permainan Tradisional Provinsi Maluku Utara

Gole-Gole

Gole-gole berarti kelincahan tendangan silat tempurung dengan belakang kaki. Golegole ini permainan tradisional yang di mainkan oleh remaja muda-mudi. Biasanya permainan ini di adakan, apabila ada sesuatu acara yang menghendaki bantuan muda-mudi untuk menolong mengukur (memarut) kelapa dalam jumlah banyak. Seusai membantu mengukur kelapa, terdapat banyak tempurung (batok kelapa). Oleh muda-mudi ini, tempurung itu di gunakan untuk memainkan gole-gole. Cara bermain: Gole-gole di mainkan oleh dua kelompok, masing-masing lima orang. Untuk mencari kelompok yang akan memulai permainan itu, di adakan suten (pengundian dengan unjuk jari) oleh kapten dari dua kelompok. Kelompok yang menang suten itulah yang memulai permainan. Di depan ke lima pemain itu, berjarak 7 m, tertumpuk 5 tempurung dengan jarak samping tempurung 2 m. Masing-masing pemain menghadapi tumpukan tempurungnya dan dia harus menembak tempurungnya ke tumpukan di depannya dengan tendangan silat belakang kakinya. Di haruskan ke limanya menembakkan tempurungnya. Bila kena pada sasaran, maka di hitung 5 punt (angka) dan mereka harus melanjutkan permainannya pada babak ke dua. Apabila hanya 1 orang saja yang pada waktu menembakkan tempurungnya kena, maka hanya di hitung 1 punt dan kesempatan waktu di berikan pada kelompok ke 2. Jika babak pertama tadi telah dapat di selesaikan oleh salah satu kelompok, mereka akan melanjutkan permainan ke babak ke 2, yaitu kelima pemain tadi menghadapi salah satu tumpukan tempurung yang di tengah berarak 2 meter. Di atas tumpukan tempurung tersebut di letakkan sesuatu yang harus di jatuhkan oleh salah satu pemain. Jika babak ini dapat di selesaikan dengan baik, permainan berlanjut pada babak ke 3. Kelima pemain yang telah menyelesaikan kedua babak tadi berhadapan dengan kelima pemain lawannya, yaitu dengan mengetuk tumpukan tempurung tersebut sambil lari menembus garis hadangan lawannya, dengan tidak sedikit pun salah satu dari anggota badannya tersentuh lawan. Apabila tubuh mereka dapat di sentuh (tek) oleh lawannya, maka di nyatakan bou. Bou ini dapat di tembus jika kawannya yang tidak tersentuh oleh lawannya kembali pada babak pertama tadi dengan menendangkan tembakan tempurungnya pada tumpukan tempurung dan kena, maka tertembuslah bou kawannya dan puntnya tidak di hitung.

  • Babak pertama mencari 5 punt
  • Babak kedua mencari 1 punt
  • Babak ketiga mencari 5 punt

Kelompok yang di anggap menang ialah mereka yang mengumpulkan puntnya pada babak pertama tidak mengulang atau terhitung pada sedikit atau banyak pengulangan. Begitu juga pada babak kedua, berapa orang yang tembakannya tepat. Pada babak ketiga, semua lolos dari bou atau berapa bou. Dari ketiga babak itu, di tambahkan angka puntnya menurut waktu dan kesempatan. Syarat ini di tetapkan sebelum pertandingan oleh juri.

DODENGO

Dodengo adalah pertarungan satu lawan satu. Permainan dodengo mirip dengan tarian perang (cakalele), biasanya permainan ini di adakan pada waktu selesai shalat Idul Fitri atau Idul Adha. Dodengo merupakan pra-pelatihan untuk melatih dan menguji ketangkasan dan kelincahan seseorang. Umumnya permainan ini hanya di mainkan oleh laki-laki. Alat yang di gunakan yaitu perisai (salawaku) dan sepotong gaba yang panjangnya 50 cm. Kedua alat tersebut berfungsi sebagai alat penangkis dan pemukul. Selain itu, pertandingan dodengo di iringi dengan bunyi-bunyian tifa dan gong. Cara bermainnya yaitu satu orang pemain berhadapan dengan satu pemain lainnya dan masing-masing saling memperlihatkan kelincahan dan ketangkasannya dalam menjatuhkan lawannya dengan cara memasukan pukulan gabanya ke kepala atau pundak lawan. Satu kali permainan kurang dari 10 menit sedangkan untuk perhitungan angka kemenangan, pemain di saring dengan putaran bertarung dengan cara menghitung angka yang teranyak di juarakan.

DODORABE

Dodorabe berarti tembak-menembak, biasanya di mainkan oleh anak-anak dan remaja. Permainan ini di laksanakan hanya pada saat musim jambu air karena jambu yang masih kecil itulah yang menjadi peluru senjata dodorabe tersebut. Alat yang di gunakan terbuat dari ruas bambu yang lubang dalamnya maksimal garis tengah 1 cm. Pangkal ruasnya yang berbuku di pakai sebagai gagang bilah pendorong peluru.

Cara bermain: Pemain dodorabe terdiri atas dua kelompok, masing-masing lima orang. Keduanya berhadapan dengan jarak 2 m dan jarak ke belakang dari kelompok tersebut 3 m sebagai garis penalti (garis mati). Apabila salah satu anggota kelompok ketika di serang lawan mundur melewati garis mati, maka ia di nyatakan gugur (tidak lagi turut bermain), tinggal anggota yang tersisa yang melanjutkan permainan sampai di nyatakan juri selesai. Kelompok penyerang tidak di perkenankan memasuki garis mati. Kalau demikian, ia di beri peringatan, dengan cara di berikan kartu kuning. Kelompok di nyatakan menang apabila ia tidak mundur sampai ke garis mati atau sisa kawannya masih lebih banyak ketika juri mengisyaratkan waktu bermain telah habis.

33.Permainan Tradisional Provinsi Papua Barat

Patah Kaleng

Patah Kaleng merupakan permainan tradisional warga Papua. Luas lapangan saat dimainkan tidak ditentukan. Bisa setengah lapangan bola sesungguhnya, bisa juga dengan ukuran yang sangat kecil. Kaleng, kerap menggunakan bekas minuman atau makanan, diletakkan pada kedua sisi. Dimainkan oleh dua kelompok dengan jumlah tak beraturan. Tidak ada wasit juga hakim garis. Waktu permainan tidak diatur. Bisa 2 jam, bahkan 3 jam. Bolanya dari apa saja. Yang penting berbentuk bulat, ringan dan bisa ditendang. Skor antara dua kelompok terkadang melebihi dari 5. Gol bagi mereka adalah ketika bola yang ditendang mengenai dan menjatuhkan kaleng. Disitulah kegembiraan itu muncul. Kala matahari terbenam, kedua kelompok akan pulang. Permainannya dilanjutkan pada keesokan harinya dengan melanjutkan skor yang telah diperoleh. Simple dan tidak membutuhkan aturan. Akibatnya, “pertarungan” Patah Kaleng tak sedikit memberi hadiah luka pada pemain. Ada yang terpesosok, mengaduh kesakitan, tapi ada juga yang enjoy saja.

34.Permainan Tradisional Provinsi Papua

KAYU MALELE

Permainan Kayu Malele merupakan salah satu permainan tradisional yang berasal dari Kabupaten Biak Numfor. Permainan ini selain menyenangkan juga melatih anak dalam beritung milai dari 1 sampai 1000 atau 5000. Permainan Kayu malele dapat di kategorikan sebagai permainan yang cukup berbahaya. Pemainan ini berbahaya bagi anak-anak yang belum mengetahui cara bermainnya. Permainan ini dapat di mainakan di halaman rumah atau juga di lapangan.

Untuk dapat memainkan permainan ini di butuhkan

  • Kayu berukuran 20 cm  1 batang
  • Kayu berukuran  50 cm  1 batang
  • Lubang  sedalam 10 cm, lebar lubang 4 cm dan panjang lubang 15 cm

Cara bermain:

Sebelum  memainkan permainan ini, terlebih dahulu di bentuk kelompok yang masing-masing terdiri dari 3-5 orang. Untuk menentukan kelompok yang bermain pertama, di lakukan undian yang biasa di sebut  suten. Suten di lakukan oleh kedua ketua kelompok. Kelompok yang kalah dalam suten, bertugas mejaga kayu yang akan di ayung dan di pukul oleh kelompok yang bermain

Share
WhatsApp chat