Kamus Translate Bahasa Sunda online

Kamus Translate Bahasa Sunda online – Translate Bahasa Indonesia Ke Bahasa Sunda sangatlah Mudah mengapa sebab salah satu yang sangat bagus,cepat, dan akurat.Adalah dengan menterjemahkan dengan langsung tanpa membuka kamus terjemah terlebih dahulu,cukup paste kemudian atau lantas tekan translate,dan yang lebih canggih lagi dapat translate dari bahasa sunda ke bahasa manapun.Salah satu kehandalan dari kamus ialah bisa anda bawa kemana-mana lewat ponsel anda,mudah dan praktis, lagipula kalau anda punya barang elektronik yang bisa menterjemahkan semua bahasa yang terdapat di dunia ini sangatlah bagus bukan.

Bahasa Sunda adalah merupakan bahasa yang dibuat dan dipakai oleh orang Sunda dalam sekian banyak  keperluan komunikasi kehidupan mereka. Tidak diketahui kapan bahasa ini lahir, namun dari bukti tertulis yang merupakan penjelasan tertua, berbentuk prasasti berasal dari abad ke-14.

Prasasti dimaksud di temukan di Kawali Ciamis, dan ditulis pada batu alam dengan memakai aksara dan Bahasa Sunda (kuno). Diperkirakan prasasti ini ada sejumlah buah dan diciptakan pada masa pemerintahan Prabu Niskala Wastukancana (1397-1475).

Salah satu teks prasasti itu berbunyi “Nihan tapak walas nu siya mulia, tapak inya Prabu Raja Wastu mangadeg di Kuta Kawali, nu mahayuna kadatuan Surawisésa, nu marigi sakuliling dayeuh, nu najur sakala désa. Ayama nu pandeuri pakena gawé rahayu pakeun heubeul jaya dina buana” (inilah peninggalan mulia, sungguh peninggalan Eyang Prabu Adipati Wastukentjana yang bertakhta di Kota Kawali, yang memperindah keraton Surawisesa, yang menciptakan parit pertahanan sekeliling ibukota, yang menyejahterakan semua negeri. Semoga terdapat yang datang lantas membiasakan diri melakukan kebajikan supaya lama berjaya di dunia).

Dapat dijamin bahwa Bahasa Sunda telah dipakai secara lisan oleh masyarakat Sunda jauh sebelum masa itu. Mungkin sekali Bahasa Kw’un Lun yang dinamakan oleh Berita Cina dan dipakai sebagai bahasa pembicaraan di distrik Nusantara sebelum abad ke-10 pada masyarakat Jawa Barat kiranya ialah Bahasa Sunda (kuno), walaupun tidak diketahui wujudnya.

Bukti pemakaian Bahasa Sunda (kuno) secara tertulis, tidak sedikit dijumpai lebih luas dalam format naskah, yang ditulis pada daun (lontar, enau, kelapa, nipah) yang berasal dari zaman abad ke-15 hingga dengan 180. Karena lebih mudah teknik menulisnya, maka naskah lebih panjang dari pada prasasti. Sehingga perbendaharaan katanya lebih tidak sedikit dan struktur bahasanya juga lebih jelas.



Sejarah Bahasa Sunda

Tidak diketahui kapan bahasa ini lahir, namun dari bukti tertulis yang merupakan penjelasan tertua, berbentuk prasasti berasal dari abad ke-14.
Prasasti tersebut di temukan di Kawali Ciamis, dan ditulis pada batu alam dengan memakai aksara dan Bahasa Sunda (kuno). Diperkirakan prasasti ini ada sejumlah buah dan diciptakan pada masa pemerintahan Prabu Niskala Wastukancana (1397-1475).
Salah satu teks prasasti itu berbunyi “Nihan tapak walar nu siya mulia, tapak inya Prabu Raja Wastu mangadeg di Kuta Kawali, nu mahayuna kadatuan Surawisésa, nu marigi sakuliling dayeuh, nu najur sakala désa. Ayama nu pandeuri pakena gawé rahayu pakeun heubeul jaya dina buana” (inilah peninggalan mulia, sungguh peninggalan Prabu Raja Wastu yang bertakhta di Kota Kawali, yang memperindah keraton Surawisesa, yang menciptakan parit pertahanan sekeliling ibukota, yang menyejahterakan semua negeri. Semoga terdapat yang datang lantas membiasakan diri melakukan kebajikan supaya lama berjaya di dunia).
Dapat diduga bahwa Bahasa Sunda telah dipakai secara lisan oleh masyarakat Sunda jauh sebelum masa itu. Mungkin Bahasa Kw’un Lun yang dinamakan oleh Berita Cina dan dipakai sebagai bahasa pembicaraan di distrik Nusantara sebelum abad ke-10 pada masyarakat Jawa Barat kiranya ialah Bahasa Sunda (kuno), walaupun tidak diketahui wujudnya.
Bukti pemakaian Bahasa Sunda (kuno) secara tertulis, tidak sedikit dijumpai dalam format naskah, yang ditulis pada daun (lontar, enau, kelapa, nipah) yang berasal dari zaman abad ke-15 hingga dengan 18. Karena lebih mudah teknik menulisnya, naskah lebih panjang dari pada prasasti, sampai-sampai perbendaharaan katanya lebih tidak sedikit dan struktur bahasanyapun lebih jelas.
Contoh bahasa Sunda yang ditulis pada naskah ialah sebagai berikut:
(1) Berbentuk prosa pada Kropak 630 berjudul Sanghyang Siksa Kandang Karesian (1518) “Jaga rang héés tamba tunduh, nginum twak tamba hanaang, nyatu tamba ponyo, ulah urang kajongjonan. Yatnakeun maring ku hanteu” (Hendaknya anda tidur sebatas penghilang kantuk, minum tuak sebatas penghilang haus, santap sekedar penghilang lapar, janganlah berlebih-lebihan. Ingatlah bila sebuah saat anda tidak mempunyai apa-apa!)
(2) Berbentuk puisi pada Kropak 408 berjudul Séwaka Darma (abad ke-16) “Ini kawih panyaraman, pikawiheun ubar keueung, ngaranna pangwereg darma, ngawangun rasa sorangan, awakaneun sang sisya, nu huning Séwaka Darma” (Inilah Kidung nasihat, guna dikawihkan sebagai obat rasa takut, namanya penggerak darma, untuk membina rasa pribadi, untuk dilaksanakan sang siswa, yang paham Sewaka Darma).
Tampak sekali bahwa Bahasa Sunda pada masa itu tidak sedikit dimasuki kosakata dan diprovokasi struktur Bahasa Sanskerta dari India.
Setelah tersebut masyarakat Sunda mengenal, kemudian menganut Agama Islam, kemudian menegakkan dominasi Agama Islam di Cirebon dan Banten semenjak akhir abad ke-16. Pada masa tersebut muncul karya Carita Parahiyangan. Di dalam naskah tersebut ada 4 kata yang berasal dari Bahasa Arab yakni duniya, niyat, selam (Islam), dan tinja (istinja). Hal ini adalahbukti tertua masuknya kosakata Bahasa Arab ke dalam perbendaharaan kata Bahasa Sunda. Seiring dengan masuknya Agama Islam kedalam hati dan segala aspek kehidupan masyarakat Sunda, kosa kata Bahasa Arab kian tidak sedikit masuk kedalam perbendaharaan kata Bahasa Sunda dan selanjutnya tidak dialami lagi sebagai kosakata pinjaman.
Kata-kata masjid, salat, magrib, abdi, dan saum, contohnya telah dialami oleh orang Sunda, sebagaimana terlukis pada perbendaharaan bahasanya sendiri. Pengaruh Bahasa Jawa sebagai bahasa tetangga dengan bahwasannya sudah ada semenjak Zaman Kerajaan Sunda, sebagaimana terlukis pada perbendaharaan bahasanya. Paling tidak pada abad ke-11 telah dipakai Bahasa dan Aksara Jawa dalam menyebutkan Prasasti Cibadak di Sukabumi. Begitu pula ada sebanyak naskah kuno yang ditemukan di Tatar Sunda ditulis dalam Bahasa Jawa, laksana Siwa Buda, Sanghyang Hayu.
Pengaruh Bahasa Jawa dalam kehidupan berbahasa masyarakat Sunda tampak semenjak akhir abad ke-17 sampai pertengahan abad ke-19 sebagai akibat pengaruh Mataram menginjak wilayah ini. Pada masa itu faedah Bahasa Sunda sebagai bahasa artikel di kalangan kaum elit tersudut oleh Bahasa Jawa, sebab Bahasa Jawa dijadikan bahasa sah dilingkungan pemerintahan. Walaupun begitu Bahasa Sunda tetap dipakai sebagai bahasa lisan, bahasa pembicaraan sehari-hari masyarakat Sunda. Bahkan di kalangan masyarakat kecil khususnya masyarakat pedesaan, faedah bahasa artikel dan bahasa Sunda masih tetap keberadaannya, khususnya untuk menyebutkan karya sastera WAWACAN dengan memakai Aksara Pegon. Konon kabar semenjak abad 17 (Jautuhnya Pajajaran), di tatar Sunda memakai naskah-naskah berbahasa dan beraksara Jawa, berbahasa dan beraksara Arab, serta berbahasa Jawa dan beraksara Pegon.
Di samping itu, tingkatan bahasa atau Undak Usuk Basa dan kosa kata Jawa masuk pula kedalam Bahasa Sunda mengekor pola Bahasa Jawa yang dinamakan Unggah Ungguh Basa. Dengan pemakaian pemakaian tingkatan bahasa terjadilah stratifikasi sosial secara nyata.
Kemudian pada Jaman Amangkurat I distrik dominasi sedikit-demi sedikit di berikan kepada Belanda.
Bahasa Sunda mulai tidak sedikit digunakan berpulang kepada abad ke-19. Karena Belanda juga sebelumnya memandang Urang Sunda melulu sebagai orang Jawa gunung yang hidup didaerah barat pulau Jawa. Raffles, Gubernur jendral Inggris di Jawa mendorong untuk mengerjakan penelitian mengenai sejarah dan kebudayaan lokal. Dalam bukunya, The History of Java, Raffles mengaku bahasa Sunda itu ialah sebagai varian dari bahasa Jawa, bahkan ada pun yang menyinggung bahasa Sunda sebagai bahasa Jawa Gunung dibagian barat.
Pada masa selanjutnya semua cendekiawan Belanda yang berstatus pejabat pemerintah, swasta dan semua penginjil mengejar sunda sebagai etnis sendiri. Pengetahuan etnografi ini paling dibutuhkan, sangat tidak guna mempermudah komunikasi antara Belanda dengan Pribumi. Peristiwa penemuan ini ditunjang pula oleh upaya pemerintah kolonial berkolaborasi dengan semua Sarjana Belanda, membagi Nusantara kedalam distrik Budaya yang berbeda-beda, antara beda Jawa, Sunda, Madura – setiap dengan bahasa mereka sendiri.
Belanda pastinya mempunyai tujuan, sebab masing-masing distrik mempunyai potensi alam yang berbeda. Seperti wilayah Priangan paling penting dari sisi ekonomi, sebab sebagai penghasil kopi. Belanda mendorong semua elite lokal guna menjalankan roda administrasinya sendiri, serta mendorong guna belajar edukasi formal. Dari sini semua Bumiputra menyadari, bahwa memang terdapat perbedaan bahasa dan kebiasaan diantara mereka.
Pada tahun 1829 M, Andries de Wilde, seorang pengusaha perkebunan di Sukabumi mengerjakan studi etnografi tentang wilayah Priangan. Ia berasumsi bahwa bahasa sunda adalahbahasa tersendiri. Cuplikan pendapatnya, inilah ini :
Bahasa yang dituturkan diwilayah ini ialah bahasa sunda. Bahasa ini bertolak belakang dengan bahasa Jawa dan Melayu. Namun demikian, ada tidak sedikit kata-kata yang pelan-pelan masuk atau dipungut dari kedua bahasa yang dinamakan belakangan. Aksara yang digunakan para ulama ialah Arab ; tidak sedikit pemimpin lokal pun menegenal bahasa tersebut ; andai tidak menggunakan aksara itu, warga pada umumnya menggunakan aksara Jawa.
Kemudian dalam revisi yang dilakukannya pada tahun 1830, ia mengumpulkan tidak sedikit kata-kata Sunda tentang pertanian, adat istiadat, dan Islam. Hasil penelitiannya semakin meneguhkan bahwa Sunda ialah etnis tersendiri.
Bahasa Sunda resmi dinyatakan sebagai bahasa yang berdikari mulai pada tahun 1841, ditandai dengan diterbitkannya kamus bahasa Sunda yang kesatu (Kamus bahasa Belanda-Melayu dan Sunda). Kamus itu diterbitkan di Amsterdam, dibentuk oleh Roorda, seorang Sarjana bahasa Timur. Sedangkan senarai kosa kata Sunda dikoleksi oleh De Wilde.
Kemudian Roorda menciptakan pernyataan :
Pertama-tama (kamus) ini bermanfaat, terutama supaya dapat lebih kenal dekat dengan bahasa yang sampai kini pengetahuan anda mengenainya paling sedikit dan tidak sempurna ; bahasa tersebut dituturkan di distrik barat pulau Jawa, yang oleh warga setempat dinamakan Sunda atau Sundalanden, yang bertolak belakang dari bahasa di wilayah unsur timur pulau tersebut ; bahasa tersebut sangat bebeda dengan yang layak disebut bahasa jawa dan pun melayu, yakni bahasa yang dipakai orang-orang asing di kepulauan Hindia Timur.
Sejak pertengahan abad ke 19 Bahasa Sunda mulai dipakai lagi sebagai bahasa artikel di sekian banyak tingkat sosial orang Sunda, tergolong penulisan karya sastera. Pada akhir abad ke 19 mulai masuk pengaruh Bahasa Belanda dalam kosakata maupun ejaan menyebutkannya dengan aksara Latin sebagai akibat dibukanya sekolah-sekolah untuk rakyat asli oleh pemerintah. Pada tadinya kata BUPATI misalnya, ditulis boepattie laksana ejaan Bahasa Sunda dengan memakai Aksara Cacarakan (1860) dan Aksara Latin (1912) yang diciptakan oleh orang Belanda. Selanjutnya, masuk pula kosakata Bahasa Belanda ke dalam Bahasa Sunda, laksana sepur, langsam, masinis, kitab dan kantor.
Dengan diajarkannya di sekolah-sekolah dan menjadi bahasa komunikasi antar etnis dalam pergaulan masyarakat, Bahasa Melayu pun merasuk dan memprovokasi Bahasa Sunda. Apalagi setelah ditetapkan sebagai bahasa persatuan dengan nama Bahasa Indonesia pada Tahun 1928. Sejak tahun 1920-an telah ada keluhan dari para berpengalaman dan pemerhati Bahasa Sunda, bahwa sudah terjadi Bahasa Sunda Kamalayon, yakni Bahasa Sunda bercampur Bahasa Melayu.
Sejak tahun 1950-an pemakaian Bahasa Sunda sudah bercampur dengan Bahasa Indonesia khususnya oleh orang-orang Sunda yang menetap di kota-kota besar, laksana Jakarta dan Bandung. Banyak orang Sunda yang bermukim di kota-kota sudah meninggalkan pemakaian Bahasa Sunda dalam kehidupan keseharian di lokasi tinggal mereka. Walaupun begitu, tetap hadir pula di kalangan orang Sunda yang dengan gigih memperjuangkan eksistensi dan fungsionalisasi Bahasa Sunda di tengah-tengah masyarakatnya dalam urusan ini Sunda dan Jawa Barat. Dengan semakin banyaknya orang dari family atau suku bangsa beda atau etnis beda yang menetap di Tatar Sunda kemudian berkata dengan Bahasa Sunda dalam pergaulan “sehari-harinya. Karena itu, kiranya eksistensi Bahasa Sunda terus berlanjut.

SUNDA ONLINE

Nah untuk online nya agar mempermudah anda dalam kosa kata bahasa sunda anda dapat menggunakan translate bahasa sunda google dengan mengunjungi situs

  • https://translate.google.com/m/translate?hl=su

Contoh jika saya menggunakan kata saya pergi ke pasar maka hasilnya akan terlihat seperti gambar berikut :

Atau juga dapat mengunjungi situs
  • http://kamus-sunda.com/penerjemah.html
Bahkan anda dapat merubah satu susunan kalimat sekaligus dalam bahasa sunda yang anda inginkan
Share

Leave a Reply