Pengertian, Contoh, Manfaat, Tujuan, Akulturasi Menurut Para Ahli

Pengertian, Contoh, Manfaat, Tujuan, Akulturasi Menurut Para Ahli – Istilah akulturasi atau acculturation, ataupun culture contact ialah proses dimana suatu kumpulan masyarakat dengan sebuah kebudayaannya dihadapkan dengan unsur-unsur dari sebuah kebudayaan asing dengan sedemikian rupa, sampai-sampai (dalam masa-masa yang lumayan lama) lambat-laun diterima dan diubah ke dalam kebudayaan sendiri tanpa mengakibatkan hilangnya jati diri kebudayaan tersebut sendiri.Akulturasi juga dipisahkan dari percampuran yang pada ketika sama dilangsungkan dalam semua misal akulturasi, tidak melulu sebagai suatu gejala yang kadang memungut tempat tanpa tipe kontak antara orang yang diutamakan dalam pengertian diatas, tetapi pun membangun melulu satu aspek proses akulturasi.

Proses akulturasi sudah hadir sejak dulu kala dalam sejarah kehidupan insan di bumi ini. Penelitian-penelitian seputar masalah akulturasi hadir dalam ranah ilmu antropologi lebih dari satu abad yang lalu. Sebelumnya, tidak sedikit sarjana antropologi biasanya tertarik bakal kebudayaan suku-suku bangsa di luar Eropa Kegiatan riset yang menyimak masalah akulturasi di mulai selama tahun 1910. Dan merasakan perkembangan yang pesat pada penghujung tahun 1920. Bersifat deskriptif, yakni melukiskan satu peristiwa akulturasi yang kongkrit pada satu atau sejumlah suku bangsa tertentu yang sedang mendapat pengaruh unsur-unsur kebudayaan Eropa-Amerika.

Pengertian, Contoh, Manfaat, Tujuan, Akulturasi Menurut Para Ahli

 

Pengertian Akulturasi

Akulturasi adalah proses bercampurnya dua budaya atau lebih yang mana unsur-unsur dari kebudayaan asli masih terlihat dan tidak hilang.Istilah Akulturasi berasal dari bahasa Latin “acculturate” yang artinya tumbuh dan berkembang bersama-sama.Akulturasi juga dapat diartikan sebagai masuknya budaya asing ke dalam suatu masyarakatyang mana sebagian menerima dan sebagian lagi menolak.

Pengertian Akulturasi Menurut Para Ahli

 

  • Suyono

Pendapat mengenai pengertian Akulturasi datang dari pengamat Suyuno yang dikutip dalam buku Rumondor (1995:208) yang menyebutkan bahwa Akulturasi merupakan suatu proses transfer penerima dari beragam unsur budaya yang saling bertemu dan berhubungan serta menumbuhkan proses interaksi budaya yang tanpa meninggalkan budaya aslinya.

  • Nardy

Berbeda dengan Suyono, Nardy lebih mengartikan Akulturasi sebagai bagian dari proses sosial yang muncul dari sekelompok masyarakat dengan kebudayaannya dan bertemu dengan kelompok masyarakat lain tentunya dengan kebudayaan mereka  (asing) dan berbaur yang menciptakan interaksi sosial sehingga lambat laun diterima oleh dan disatukan menjadi kebudayaan bersama tanpa menghilangkan identitas budaya itu sendiri.

  • Hasyim

Akulturasi menurut Hasyim juga merujuk ke perpaduan dua budaya dalam kehidupan yang berjalan seiringan sertai damai dan tetap melestarikan unsur budaya aslinya. Hasyim menambahkan jika proses akulturasi ini berlangsung saat sekelompok masyarakat yang tengah melakukan transmigrasi mengadakan interaksi dengan penduduk asli yang kemudian secara bertahap meleburkan dua budaya dan tetap menjaga budaya aslinya.

  • Harsoyo

Mengutip pendapat dari Harsoyo mengenai definisi pengertian Akulturasi yang merupakan suatu fenomena bersumber dari sebuah hasil kontak secara langsung dan continue antara sekelompok masyarakat yang memiliki budaya masing-masing dan menimbulkan perubahan dalam kebudayaan dari masing-masing dengan tetap menjaga keaslian unsurnya.

  • Koentjaraningrat

Menuruut Konetjaraningrat, Akulturasi lebih ke sebuah proses terjadinya perubahan budaya dari hasil kontak antar kelompok masyarakat dengan kebudayaan tertentu dan asing dengan tahapan secara bertahap dan terus menerus tanpa menghilangkan unsur budaya sendiri atau kepribadian dari kebudayaan tersebut.

  • Lauer

Pendapat Lauer mengenai Akulturasi lebih ke pembentukan pola baru dari hasil penyatuan dua budaya yang disebabkan kesamaan dominan budaya tersebut dan interaksi baik dari masyarakat itu sendiri yang kemudian mengarah ke masing-masing budaya dengan tetap mempertahankan keaslian nilainya.

  • Sumandiyo Hadi (2006:35)

Hal tersebut juga serupa seperti pendapat yang dikemukakan oleh Sumandiyo Hadi dalam buku terbitannya dihalam 35 mengenai pengertian Akulturasi dan Inkulturasi yang merupakan dua hal dengan saling memiliki kaitan yang erat.
Sumandiyo menambahkan jika Akulturasi merupakan bagian bentuk perubahan dari kebudayaan yang dapat dilihat ataupun ditandai dengan adanya kontak dan interaksi antar budaya baik menerima maupun memberi yang sebelumnya dilakukan oleh kelompok masyarakat yang membawa masing-masing kebudayaan tersebut.

  • Bee dalam Hadi (2006; 35)

Menurut pandangan Bee yang dikutip dari buku Hadi, tokoh tersebut mengatakan jika akulturasi merupakan sebuah perubahan budaya dari dua sistem budaya yang saling berinteraksi. Bee juga menambahkan bahwasanya Akulturasi terjadi dengan ciri proses perubahan yang diiringi dengan difusi, inovasi maupun invensi yang mencerminkan sebuah konsep dengan lebih menunjukkan sisi kondisi kehidupan sosial budaya dari kelompok masyarakat tersebut.

  • Kroeber

Kroeber juga menuturkan pengertian akulturasi yang merupakan bagian dari perubahan kebudayaan akibat penyatuan dua kebudayaan yang memiliki tingkat persamaan tinggi antar budaya yang satu dengan budaya yang lain tanpa menghilangkan budaya atau unsur aslinya.

  • Murdock

Terakhir definisi akulturasi menurut Murdock yang lebih ke sebuah modifikasi secara daptif dari beragam elemen maupun unsur dari budaya yang diakibatkan dari sebuah proses interaksi antar kelompok yang membawa kebudayaan dengan tingkat persamaan unsur yang besar.

  • Merriem

modifikasi budaya individu, kelompok, atau orang-orang dengan mengadaptasi atau meminjam sifat-sifat dari budaya lain, akulturasi imigran ke kehidupan Amerika; juga: penggabungan budaya sebagai akibat dari kontak yang berkepanjangan

Manfaat Akultrasi

Dapat melahirkan gagasan-gagasan baru bagi perkembangan masyarakat nusantara dan menghasilkan budaya baru tetapi tidak budaya lama tidak hilang

Tujuan Akultrasi

Tujuan utama akulturasi, seperti yang dikemukakan bersama-sama oleh Herkovits, Linton, dan Redfield, yang penulis kutip dari Muhammad Fauzy, adalah fenomena yang akan terjadi tatkala kelompok-kelompok individu yang memiliki budaya yang berbeda terlibat dalam kontak yang berlangsung secara tangan pertama (langsung), disertai perubahan terus-menerus, sejalan pola-pola budaya asal dari kelompok itu atau dari kedua kelompok itu dibawah definisi itu, akulturasi dibedakan dari perubahan budaya yang hanya merupakan salah satu aspeknya, dan asimilasi dan yang pada saat tertentu merupakan suatu fase awal akulturasi.

 



Contoh-contoh Akulturasi

1. Seni Bangunan
Seni bangunan sebagai salah satu misal akulurasi tampak dari bangunan candi. Ini sebagai wujud akulturasi antara kebiasaan asli Indonesia dengan kebiasaan Hindu-Budha. Candi sendiri ialah bentuk perwujudan akulturasi yang terjadi diantara Indonesia dengan India. Candi yang tergolong hasil bangunan pada zaman megalitikum yakni bangunan punden berundak. Bagian ini mendapat pengaruh langsung dari kebiasaan Hindu Budha. Contoh lainnya laksana yang dapat kalian lihat pada candi Borobudur. Di candi ini memiliki sekian banyak  macam barang yang dikubur yang tidak jarang disebut dengan bekal kubur. Ini yang menciptakan candi tidak hanya bermanfaat sebagai makam saja tetapi pun sebagai lokasi tinggal dewa. Sedangkan pada candi Budha, justeru dijadikan lokasi pemujaan dewa, sampai-sampai tidak bakal kalian temukan peti pripih maupun abu jenazah yang ditanam di dekat candi atau didalam bangunan stupa.

2. Seni Tarian
Selanjutnya ialah seni tarian, salah satunya ialah Tari Betawi. Orang Betawi tersebar dan bermukim di sekian banyak  daerah di Jakarta. Mulai bermukim di pesisir, tengah kota bahkan terdapat yang berlokasi tinggal di pinggir kota. Perbedaan lokasi tinggal berikut yang menciptakan perbedaan kelaziman serta karakter yang menyebabkan akibat negatif pembiasan sosial. Tidak melulu itu saja, interaksi dengan suku lain pun mempengaruhi ciri khas untuk orang Betawi. Tidak heran andai tari yang dibuat menjadi berbeda. Yang sangat terasa ialah contoh akulturasi kebiasaan seni tari dianatar orang Betawi dengan negara Cina dimana mereka sukses menciptakan tari cokek, lenong, serta gambang kromong.

Baca :  Keutamaan Membaca Al Qur’an serta Tujuan,Manfaat, dalil hadist

3. Seni Berpakaian
Di samping seni tari, akulturasi juga dapat terjadi pada seni berpakaian. Seperti Adat Betawi, orang Betawi seringkali mengenakan sejumlah jenis pakaian. Tapi yang sangat sering digunakan yaitu pakaian adat dengan tutup kepala atau destar. Serta baju jas yang memblokir leher dengan bawahannya berupa celana panjang. Bagi melengkapi pakaiannya, lelaki Betawi akan menggunakan selembar kain batik yang dilingkarkan pada pinggang. Tidak ketinggalan dicantumkan sebilah belati pada unsur depan perut.
Berbeda dengan semua wanita yang memakai kebaya, selendang panjang serta dilengkapi dengan penutup kepala dan pun kain batik. Bagi pakaian pengantin, bakal lebih tampak hasil akulturasinya. Mengingat sekian banyak  kelompok etnislah yang menyusun adat masyarakat Betawi. Pakaian guna penganti pria seringkali terdiri dari sorban, kemudian ada jubah panjang serta celana panjang. Baju ini tidak sedikit dipengaruhi dengan kebiasaan Arab. Berbeda dengan pakaian pengantin perempuan yang menggunakan syangko atau penutup muka. Dengan baju model encim serta rok panjang, ini bakal terlihat akulturasi dengan kebudayaan Cina. Yang lebih menarik lagi ialah terompah atau alas kaki guna pengantin lelaki dan perempuan yang diprovokasi kebudayaan Arab.

4. Adat Kebiasaan
Tidak melulu itu, adat kebiasaan pun ada yeng terkena misal akulturasi budaya. Seperti halnya membagi rezeki pada ketika hari raya. Ini adalahhasil dari proses akulturasi dengan kebiasaan Tionghoa serta Islam. Memberikan dengan ketulusan hati ialah bagian terpenting ketika menjalankan keharusan menjadi manusia. Bahkan lebih estetis lagi bila segala kebaikan yang kalian kerjakan di hari raya. Menjalankan tradisi ini menjadi unsur dari mengerjakan kebajikan. Tradisi ini bahkan diwariskan leluhur serta terus dilangsungkan karena memilikig nilai-nilai moral bertujuan baik. Salah satu yang menjadi tradisi pada ketika Lebaran yakni berbagi rezeki.

5. Makam
Makam pun menjadi salah satu misal dari proses akulturasi. Terlebih lagi untuk para raja yang mempunyai bentu laksana istana bahkan diserupakan dengan orangnya. Serta dilengkapi dengan keluarga, pembesar, bahkan pengiring terdekat. Budaya pribumi Indonesia ini tampak pada gugusan cungkup yang diserahkan menurut hubungan keluarga. Pengaruh kebiasaan Islam dapat kalian lihat pada huruf serta bahasa Arab, laksana pada Makam Puteri Suwari di Leran, Gresik serta pada Makam Sendang Dhuwur di atas bukit, Tuban.

6. Seni Rupa
Akulturasi pada bidang seni rupa juga dapat kalian lihat pada seni kaligrafi maupun seni khot. Yang adalahseni dari perpaduan seni lukis dengan seni ukir. Yang seringkali memakai huruf Arab estetis serta penulisan yang bersumber untuk ayat-ayat suci pada Al Qur’an. Sedangkan faedah seni kaligrafi yakni buat motif batik, serta dekorasi pada masjid-masjid. Tidak ketinggalan keramik, keris, nisan, bahkan dekorasi pada mimbar serta masih tidak sedikit lagi.

7. Aksara dan Sastra
Seni sastra yang terdapat Indonesia pada zaman Islam juga tidak sedikit terpengaruh sastra Persia. Di Sumatra, contohnya memiliki karya sastra berisikan pedoman-pedoman hidup. Seperti kisah Amir Hamzah, Bayan Budiman serta 1001 Malam yang familiar itu. Hasil akulturasi pada seni sastra, diantara beda sebagai berikut. Suluk merupakan buku yang membentangkan serta menekankan pada doktrin tasawuf, laksana Suluk Wujil, Suluk Sukarsa. Lalu terdapat Hikayat yang adalahsaduran kisah wayang. Selanjutnya terdapat Babad, adalahhikayat yang berisikan sejarah. Seperti Babad Tanah Jawi yang berisikan sejarah Pulau Jawa. Dan terakhir adanya Kitab-kitab beda yang berisikan doktrin moral serta bimbingan hidup, andaikan Taj us Salatin.

8. Sistem Kalender
Pada zaman Khalifah Umar bin Khatab telah diputuskan kalender Islam yang memakai perhitungan berdasar peredaran bulan yang lebih dikenal dengan tahun Hijriah. Tahun 1 Hijrah (H) sama dengan tahun 622 M, sedangkan pada ketika yang sama di Indonesia pun sudah menggunakan perhitungan tahun Saka (S) yang didasari dengan peredaran matahari. Tahun 1 Saka adalahtahun yang bertepatan dengan dengan tahun 78 M.

9. Seni Musik dan Tari
Akulturasi pun terjadi pada seni musik yang dapat kalian lihat pada musik qasidah atau gamelan ketika upacara Gerebeg Maulud. Bagi seni tari kalian dapat melihatnya pada tari Seudati, dimana tarian ini diiringi sholawat nabi. Lalu terdapat kesenian Debus yang seringkali diawali dengan pembacaan Al Qur’an serta berkembang pesat di Banten, Aceh, dan Minangkabau.

10. Sistem Pemerintahan
Pada zaman Hindu pusat kekuasaan ialah raja sampai-sampai raja dirasakan sebagai titisan dewa. Oleh sebab itu, hadir kultus “dewa raja”. Apa yang disebutkan raja ialah benar. Demikian juga misal perilaku anti sosial pada zaman Islam, pola itu masih berlaku melulu dengan corak baru. Raja tetap sebagai penguasa tunggal karena dirasakan sebagai khalifah, segala perintahnya mesti dituruti.

11. Bahasa
Selain tersebut kalian dapat melihat persoalan lingkungan hidup dalam menyaksikan misal akulturasi kebiasaan bahasa, laksana pada pemakaian bahasa sansekerta. Dimana masih dapat kalian temukan sampai sekarang yang mana bahasa Sansekerta di antara yang memperkaya perbendaharaan pada bahasa Indonesia. Penggunaan bahasa Sansekerta dapat kalian temukan pada prasasti laksana batu bertulis, yang adalahpeninggalan kerajaan Hindu dan Budha pada abad 5 – 7 M, Sedangkan bikin aksara dapat kalian lihat pemakaian huruf Pallawa, dari huruf Pallawa berikut yang lantas berkembang menjadi huruf Jawa Kuno atau kawi serta huruf aksara pada Bali dan Bugis.

12. Religi/Kepercayaan
Sistem keyakinan di Indonesia ternyata pun mengalami akulturasi. Hal ini terjaadi sebelum agama Hindu-Budha berkembang ke Indonesia yaitu keyakinan menurut Animisme serta Dinamisme. Dengan hadirnya agama Hindu – Budha masuk ke dalam Indonesia, masyarakat Indonesia pun menyimpulkan untuk mulai menganut serta meyakini agama tersebut.
Tetapi, agama Hindu – Budha yang berkembang ternyata merasakan akulturasi dari perpaduan keyakinan Animisme dengan Dinamisme. Sehingga agama Hindu serta Budha yang berkembang di Indonesia tidak sama dengan agama Hindu dan Budha pada bangsa India.

13. Organisasi Sosial Kemasyarakatan
Wujud akulturasi pun ternyata hingga pada bidang organisasi sosial kemasyarakatan. Yang dapat kalian lihat pada organisasi politik. Yaitu pada sistem pemerintahan di Indonesia, setelah muncul serta pengaruh bangsa India. Dengan pengaruh kebudayaan India berikut yang menciptakan sistem pemerintahan di Indonesia pada tadinya bentuk kerajaan. Dimana kerajaan seringkali diperintah oleh seorang raja dan pun turun temurun.

14. Peralatan Hidup
Yang terakhir menemukan akulturasi ialah peralatan hidup, perlengkapan hidup sendiri terdiri dari lokasi tinggal serta perabotan didalamnya. Dimana perabotan serta format rumah di Indonesia didapatkan dari proses akulturasi Indonesia dengan bangsa China. Yang mana kalian dapat menemukan sekian banyak  macam porselen mulai dari perlengkapan makan sampai guci.

Share
WhatsApp chat