Ayat Ruqyah : Bacaan Tata Cara Pengertian Macam Hukum Manfaat

Posted on

Ayat Ruqyah : Bacaan Tata Cara Pengertian Macam Hukum Manfaat – Penyembuhan ala Rasulullah SAW yang jadi tren dikala ini merupakan ruqyah yang tidak cuma menyembuhkan penyakit raga namun pula non raga. Ruqyah merupakan pemecahan yang ditawarkan Nabi dalam menanggulangi seluruh berbagai penyakit, serta ruqyah dibolehkan sepanjang tidak memiliki faktor syirik.

Ruqyah ialah sesuatu penyembuhan ala Rasulullah dengan berlindung kepada Allah dari seluruh penyakit baik raga ataupun non raga. Kedua, metode ruqyah merupakan dengan meletakan tangan kanan kepada bagian anggota tubuh yang terasa sakit sembari membaca membaca doa- doa, pesan al- Fatihah, al- Ikhlas, al- Falaq serta al- Nas. Ketiga, ruqyah wajib didasari kepercayaan seluruhnya kepada Allah, meminta proteksi kepada- Nya sebab Dialah Dzat yang Maha mengobati seluruh penyakit. Keempat, ruqyah bisa membagikan pengaruh positif ialah mengobati kesehatan mental ataupun jiwa. Kelima, ruqyah salah satu tindakkan solutif terhadap penyakit warga yang jauh dari Allah tanpa melaksanakan kapitalisasi dengan mengkomersilkan buat dijadikan selaku mata pencaharian dalam penuhi kebutuhan hidup kecuali atas kerelaan penderita ataupun pengidap ruqyah dengan membagikan upah selaku wujud rasa terima kasih serta orang yang meruqyah boleh mengambil upah tersebut dengan tidak memandang besar serta kecilnya upah tersebut atas bawah hasrat ikhlas.

Perkara ruqyah banyak memunculkan kesalahfahaman di golongan warga warga. Mereka memperhitungkan kalau seluruh ruqyah itu boleh serta benar, sementara itu itu tidak lepas dari kedudukan media yang menyuguhkan serta menayangkan wujud seeorang yang sakti, hebat, memiliki kelebihan, sanggup mencegah jin, serta apalagi memiliki jama’ ah ataupun pengikut. Kala memperhitungkan fenomena yang terjalin di Indonesia, hingga tidak susah menemui serta mencari orang yang pintar, serta berpakaian semacam kyai yang melaksanakan aplikasi perdukunan.

Penampilan mereka dibungkus dengan penampilan Islami supaya terkesan benar. Apalagi sebutan penyembuhan Islam juga ditumpukan pada ruqyah,ṭibun al- Nabawi serta sebagainya. Semenjak tahun 1990- an sempat timbul sesuatu ungkapan “ Indunisia Dawlah al- Syirk”( Indonesia merupakan negeri syirik) di suatu majalah yang terbit di Kuwait. Ungkapan ini terdapat benarnya, meski tidak selamanya pas, kenapa?. Sebab sebagian warga Indonesia masih mempunyai keyakinan ataupun kepercayaan yang tidak cocok dengan prinsip tauhid ataupun akidah yang benar. Masih terdapat sebagian mereka yang menjadikan dukun serta paranormal selaku referensi dalam membongkar perkara kehidupan

Pengertian Ruqyah

Sebelum lebih jauh membahas ruqyah syariah, perlu dikemukakan terlebih dahulu definisi atau pengertiannya menurut bahasa dan istilah. Kata ini terdiri dari dua susunan yaitu “ruqyah” dan “syar’iyah”.

Kata “ruqyah” secara bahasa tak lepas dari beberapa makna dari berbagai ahli bahasa Arab berikut. Menurut Al-Jauhari rahimahullah dalam kitab “Mukhtār al-Ṣihāh” (107) kata “ruqyah” adalah kata tunggal (mufrad) yang berarti perlindungan. Dalam kamus “Qomusika Kamus Klasik Kontemporer” (Masnur, 2013: 943), secara bahasa diartikan mantera, azimat, jimat, jampi-jampi dan guna-guna.

Sementara Ibnu Atsir rahimahullah menyebutkan bahwa ruqyah adalah perlindungan yang dipakai oleh peruqyah untuk mengobati penyakit seperti demam, ayan dan yang lainnya (al-Nihāyah fī Gharīb al-Hadīts, II/354).

Senada dengan Al-Jauhari, Ibnu Madzhur menjelaskan bahwa makna “ruqyah” adalah perlindungan yang sudah makruf. Ini seperti yang terdapat dalam suatu sya’ir:

فَمَا تَرَكَا مِنْ عُوْذَةٍ يَعْرِفَانِهَا    وَلَا رُقْيَة اِلَّا بِهِا رَقَيَانِيْ

“Keduanya tidak meninggalkan perlindungan atau ruqyah yang diketahuinya, melainkan keduanya meruqyahku.” (Lisān al-‘Arab, 14/332)

Bentuk plural (jama’) dari kata ini adalah “ruqān”. Bentuk subjeknya disebut “rāqin” yang berarti orang yang meruqyah. Bila ada ungkapan Arab:  Raqā-yarqi-ruqyatan wa ruqyan, maka maknanya adalah meminta perlindung dan meniupkan sesuatu dalam proses perlindungannya. Sedangkan menurut Ibnu Taymiyah dan Ibnu Qayyim, secara bahasa “ruqyah” berarti doa atau permohonan (Zainurrofieq, 2014: 94). Intinya, secara bahasa makna “ruqyah” tak lepas dari perlindungan, doa dan permohonan.

Dalam bahasa Arab, ada kata yang identik atau sering disebut sebagai nama lain dari ruqyah, yaitu: ‘udzah, nusyrah, ‘azimah dan tamīmah.  Di mana satu sama lain secara bahasa ada kemiripan makna. Sedangkan “syar`iyah” secara bahasa berasal dari kata “syari’” yang artinya jalan dan cara. Tambahan kata “yah” di akhir kata adalah berarti penisbatan. Dengan demikian, secara bahasa “ruqyah syar’iyah” berarti perlindungan (doa) yang berdasarkan atau dinisbatkan pada syariat Islam.

Adapun yang dimaksud dengan “ruqyah syar’iyah” menurut istilah syariat Islam adalah sebagai berikut: “Memberikan perlindungan (proteksi) kepada orang yang sakit dengan membacakan sesuatu yang bersumber dari ayat-ayat Al Quran, nama-nama dan sifat-sifat Allah disertai dengan doa-doa sesuai syariat dengan berbahasa Arab –atau yang diketahui maknanya—diiringi tiupan.” (Al-Jaurani, 2006: 69)

Hukum Ruqyah

Hukum ruqyah dalam islam bergantung pada jenis ruqyah yang dilakukan.

  • Ruqyah Syirkiyah = hukumnya haram

Sesuai dengan namanya, ruqyah syirkiyah adalah metode pengusiran jin dari tubuh manusia atau penyembuhan penyakit dengan cara-cara yang mengandung kekufuran. Misalnya membaca jampi-jampi atau mantra dengan bahasa yang tidak jelas. Atau mungkin membaca doa yang tidak ada dalilnya. Dengan disertai penggunaan jimat (semisal keris, bawang putih, bunga-bunga dan sejenisnya) maka hukumnya haram

  • Ruqyah Syariyyah= Hukumnya diperbolehkan

Ruqyah syar’iyah adalah ruqyah yang dilakukan dengan membaca ayat-ayat Al-quran, dzikir atau doa-doa perlindungan yang memiliki dalil jelas sesuai syariat agama. Metode ruqyah yang demikian diperbolehkan dalam islam. Namun tetap kita harus percaya bahwa kesembuhan hanya berasal dari Allah Ta’ala, bukan percaya pada ayat tertentu ya.

Manfaat Ruqyah

Berikut beberapa manfaat ruqyah syariyyah dalam islam dan kehidupan sehari-hari. Diantaranya adalah:

  • Memberikan kebaikan untuk orang lain

Ruqyah memang bukanlah hal yang diwajibkan dalam islam. Namun bila seseorang mampu melakukan ruqyah terhadap orang lain dengan cara yang benar sesuai syariat agama maka berarti ia telah berbuat kebaikan. Yakni menolong orang yang kesusahan.

Nabi Muhammad  shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa diantara kalian mampu memberi manfaat kepada saudaranya, maka berilah padanya manfaat” (HR. Muslim, Ahmad dan Ibnu Majah)

  • Sebagai bentuk keimanan, jika dilakukan tanpa kesyirikan

Mempercayai kebesaran Allah dan kemuliaan kitab suci Al-quran merupakan bentuk iman kepada Allah Ta’ala. Ruqyah yang dilakukan dengan cara benar, yakni menjadikan bacaan al-quran sebagai cara untuk mengusir penyakit berarti menunjukkan bahwa ia percaya kepada Allah (bukan ayat tertentu ya).

Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala juga telah berfirman bahwa Dia menurunkan Al-quran sebagai penyembuh atau penawar bagi umat manusia. Hal ii dijelaskan dalam Surat Al-Isra’ ayat 82 yang artinya:

Baca :  4 Contoh Naskah DRAMA untuk 6 orang

“Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian”. (QS. AL-Isra’:82).

  • Mengusir gangguan setan

Manfaat ruqyah dalam islam berikutnya adalah untuk menyingkirkan gangguan syaiton. Hal ini juga dijelaskan oleh Abdul Khalik Al-atthar yang mengatakan bahwa ruqyah bertujuan untuk memohon pertolongan dari Allah agar kita terhindar dari gangguan sihir.

  • Membentengi Diri

Terdapat banyak doa yang dibacakan saat proses ruqyah, beberapa diantaranya adalah surat yasin dan ayat kursi. Kedua surat ini dapat memberikan perlindungan pada diri sendiri. Untuk membentengi agar dijauhkan dari hal-hal yang jahat.

Dari Ibnu Mas’ud t, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa membaca sepuluh ayat dari empat ayat pertama dari surat al Baqarah dan ayat kursi, kemudian membaca dua ayat sesudahnya dan akhirnya, maka rumah itu tidak dimasuki setan hingga pagi hari.” (HR Thabrani).

  • Obat ampuh untuk berlindung dari kejahatan

Imam Ibnu Qayyim berpendapat bahwa ruqyah adalah obat yang sangat ampuh untuk melindungi dari hal-hal buruk (seperti gangguan syaitan), apabila ruqyah tersebut dilakukan secara syariyyah. Maksudnya, Ruqyah dipraktekkan lewat bacaan-bacaan Al-quran ataupun dzikir. Maka hal ini bisa membantu membersihkan jiwa, bahkan menyembuhkan penyakit di tubuh.

  • Menjaga diri dari segala sesuatu

Beberapa doa yang dianjurkan dibaca saat ruqyah adalah surat Al-ikhlas, An Naas dan Al-Falaq. Membaca ketiga surat tersebut dapat membantu melindungi diri dari segala sesuatu yang buruk, misalnya kejahatan manusia, gigitan binatang ataupun gangguan syaitan.

Dari Abdullah bin Khubaib bahwasahnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ucapkanlah !” Mereka (para shahabat) berkata, “Wahai Rasulullah, apa yang mesti kami ucapkan ?”Nabi bersabda, “Qul huwallaahu ahad (Surat al Ikhlas), surat An Naas, dan al Falaq sebanyak tiga kali di kala pagi dan malam hari, itu cukup bagimu sebagai pelindung dari segala sesuatu.” (HR Tirmidzi).

  • Menyembuhkan penyakit

Metode ruqyah tidak hanya membantu menghilangkan gangguan jin dan syaitan saja. Tetapi juga membantu menghilangkan penyakit di tubuh. Hal ini didasari oleh penelitian yang dilakukan di Texas, Amerika oleh Dr. Dossey. Beliay melakukan suatu uji coba yang ternyata berhasil membuktikkan bahwa doa-doa dapat membantu mencegah perkembangan bakteri dalam tubuh serta menekan pertumbuhan sel kanker.

  • Meningkatkan kesehatan tubuh

Penelitian yang dilakukan oleh Dr. Emoto di Negeri Sakura kembali membuktikkan bahwa bacaan ayat-ayat Alquran dapat meningkatkan kesehatan tubuh manusia. Hal ini tentu sangat luar biasa. Yang mana menunjukkan bahwa kekuatan doa sangat menakjubkan.

  • Mengurangi stres

Membaca doa-doa dari ayat Alquran dan dzikir dapat membantu menenangkan jiwa, termasuk menghilangkan stres dan despresi. Membaca doa tidak harus lewat ruqyah. Saat kita sedang sendirian dianjurkan untuk memperbanyak bacaan doa agar hati lebih tenang.

  • Mengendalikan emosi

Membaca doa dan dzikir juga bisa mengendalikan emosi. Ada banyak faktor yang menjadikan seseorang ingin marah, seperti tekanan dari orang-orang disekitar, rasa sedih berlebihan ataupun karena godaan setan. Nah, untuk menghilangkan emosi tersebut cara terampuh lewat membaca doa dan berdzikir kepada Allah Ta’ala.

  • Membuat hati tenang

Setelah dibacakan doa-doa, biasanya hati orang yang diruqyah akan menjadi lebih tenang dan damai. Hal ini menunjukkan bahwa pengaruh setan sudah tidak ada.

  • Mengamalkan sunnah

Ruqyah tidak apa-apa untuk dipraktekkan jika sesuai syariat agama. Yakni dengan membaca doa-doa ayat Al-quran dan dzikir. Sebab prkaterk ruqyah juga telah ada sejak zaman nabi. Namun jika ruqyah dijadikan perbuatan syirik (percaya terhadap hal-hal lain selain Allah Ta’ala), bahkan berkomunikasi dan mengadakan perjanjian dengan jin, maka hukumnya haram.

  • Menyembuhkan sengatan hewan

Ruqyah tidak hanya menghilangkan gangguan syetan. Penyakit yang diakibatkan sengatan hewan seperti kalajengking juga bisa disembuhkan lewat bacaan doa-doa Al-quran. Selain dengan obat-obatan medis dan traditional, dibantu dengan doa-doa ruqyah, insya Allah luka akibat hewan menyengat perlahan lahan sembuh.

  • Bentuk dzikir kepada Allah Ta’ala

Membaca doa-doa ayat Al-quran merupakan bentuk dzikir kepada Allah. Aktivitas ini dapat mendekatkan diri kepada Sang Khalik. Sehingga perasaan akan lebih tenang dan terhindar dari bisikan setan. Dengan berdzikir, kamu juga akan senantiasa merasa dekat dengan Allah SWT, baik secara jiwa dan juga raga.

  • Mendekatkan diri pada Allah Ta’ala

Ruqyah yang dilakukan sesuai syariat agama membantu kita untuk lebih dekat pada Allah Ta’ala. Tentunya kita dianjurkan untuk memperbanyak membaca doa tidak hanya saat merasa lemah saja. Namun harus setiap saat. Karena dengan mendekatkan diri kepada Allah SWT, kita akan merasa aman dan nyaman karena akan selalu terasa terlindungi dalam hidupnya.

  • Mendapat kekuatan dari Allah Ta’ala

Apabila kita senantiasa berdzikir kepada Allah Ta’ala, maka Allah akan memberikan kekuatan pada kita. Bukan berarti kekuatan yang ajaib. Namun pertahanan diri menjadi lebih sehat, tidak mudah terjerat godaan setan dan terhindar dari kesesatan. Manfaat Dzikir juga dapat dirasakan ketika sedang berada dalam ujian dari Allah SWT,. Dengan berdzikir, kita merasa mendapatkan kekuatan untuk lulus dari ujian-Nya.

  • Senantiasa diingat oleh Allah Ta’ala

Manfaat terakhir apabila kita sering berdzikir adalah kita akan diingat oleh Allah Ta’ala. Sebagaimana firmanNya: “Ingatlah kamu kepada-Ku, niscaya Aku ingat (pula) kepadamu (QS. Al-Baqarah:152). Akan sangat menggembirakan bagi seorang hamba yang senantiasa diingat oleh Allah SWT, sepanjang waktu dalam hidupnya.

Macam-macam Ruqyah

Pada awalnya Rasulullah SAW melarang pengobatan dengan cara ruqyah karena pada masa jahiliyah praktek ruqyah sering dicampurkan dengan syirik dan sihir. Namun, Rasulullah SAW membolehkannya setelah para sahabat memperlihatkan praktek ruqyah yang dibersihkan dari syirik dan sihir. Hal ini dijelaskan oleh beberapa hadis di bawah ini.

Jabir r.a. berkata Rasulullah SAW. Telah melarang ruqyah, maka datanglah keluarga Umar bin Hizam menemui Rasulullah SAW. Mereka berkata, “Wahai Rasulullah, kami mempunyai mantra-mantra yang bisa kami gunakan untuk meruqyah orang yang terkena sengatan kalajengking, namun engkau telah melarang ruqyah.” Perawi berkata, mereka pun memperlihatkan ruqyah tersebut kepada Rasulullah SAW. Setelah melihatnya, beliau bersabda Rasulullah SAW. Setelah melihatnya, beliau bersabda, “Aku piker, tidak apa-apa dalam ruqyah ini. Barangsiapa diantara kalian dapat menolong saudaranya maka lakukanlah.” (H.R. Muslim)

Auf bin Malik al-Aysja’I berkata, Pada zaman jahiliyah kami sering meruqyah, maka kami bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana menurut anda?” Beliau bersabda, “Perlihatkanlah ruqyah kalian kepada kami, tidak apa-apa dengan ruqyah selama tidak terdapat syirik di dalamnya.” (H.R. Muslim)

Bertolak dari hadis-hadis di atas, kita bisa mengelompokkan ruqyah menjadi tiga macam, yaitu :

  • Ruqyah Syirkiyyah
Baca :  Arti pengertian, logo, sejarah lambang tut wuri handayani

Ruqyah syirkiyyah yaitu ruqyah yang masih mengandung unsur-unsur kemusyrikan. Misalnya, membacakan mantra-mantra, jampi-jampi yang bukan dari Al Qur’an dan sunah tapi diambil dari ucapan para nenek moyang atau dukun. Jenis ruqyah seperti ini haram dilakukan karena dikategorikan sebagai ruqyah syirkiyyah.

Auf bin malik al-Asyja’i berkata, pada zaman jahiliyah kami sering meruqyah, maka kami bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana menurut anda? Beliau bersabda, “Perlihatkanlah ruqyah kalian kepada kami, tidak apa-apa dengan ruqyah selama tidak terdapat syirik di dalamnya.” (H.R. Muslim)

  • Ruqyah Sihriyyah

Ruqyah Sihriyyah adalah ruqyah yang menandung sihir. Yaitu ruqyah yang mengandung sihir. Yaitu ruqyah dengan cara membacakan mantra-mantra atau jampi-jampi yang bertujuan untuk memanggil jin dengan maksud agar jin yang dipanggil itu bisa mengusir jin yang ada pada tubuh seseorang yang kesurupan atau kerasukan. Atau jin itu disuruh untuk mengeluarkan penyakit atau memindahkan penyakit pada binatang. Ruqyah seperti ini hukumnya haram karena dikategorikan sebgai ruqyah sihriyyah.

  • Ruqyah Syar’iyyah

Ruqyah Syar’iyyah adalah ruqyah yang dilakukan dengan cara membaca atau membacakan ayat-ayat Al Qur’an atau doa dari Nabi SAW. Kepada orang yang kemasukan jin atau untuk menyembuhkan orang yang sakit. Bacaan atau doa tersebut tidak mengandung unsure kemusyriikan dan tidak mengandung sihir. Tapi benar-benar murni hanya mohon pada Allah SWT. Dengan kekuatan doa dan bacaan ayat suci Al-Qur’an. Ruqyah Syar’iyyah inilah yang diperbolehkan oleh Nabi SAW. Silahkan cermati riwayat sahih berikut.

Jabir r.a. berkata Rasulullah SAW. Telah melarang ruqyah, maka datanglah keluarga Umar bin Hizam menemui Rasulullah SAW. Mereka berkata, “Wahai Rasulullah, kami mempunyai mantra-mantra yang bisa kami gunakan untuk meruqyah orang yang terkena sengatan kalajengking, namun engkau telah melarang ruqyah.” Perawi berkata, mereka pun memperlihatkan ruqyah tersebut kepada Rasulullah SAW. Setelah melihatnya, beliau bersabda Rasulullah SAW. Setelah melihatnya, beliau bersabda, “Aku piker, tidak apa-apa dalam ruqyah ini. Barangsiapa diantara kalian dapat menolong saudaranya maka lakukanlah.” (H.R. Muslim)

Tata Cara Ruqyah

Dirangkum dari berbagai sumber, berikut tata cara meruqyah, terutama untuk meruqyah diri sendiri:

  1. Suci dari hadas besar dan kecil, dan yakin bahwa kesembuhan datangnya dari Allah semata.
  2. Brwudhu, karena membaca ayat-ayat Al Qur’an sebaiknya dilakukan dalam keadaan suci.
  3. Melaksanakan sholat taubat dan sholat hajat masing-masing dua rakaat.
  4. Membaca ayat Al Qur’an dengan niat meruqyah diri sendiri, niat meminta pertolongan dan perlindungan dari Allah Subhanahu wa ta’al.
  5. Membaca Al Fatihah, ayat kursi, surat Al Fatihah, Al Ikhlas, Al Falaq, dan an-Naas.
  6. Membaca doa berikut sebanyak tujuh kali.

بِسْمِ اللَّهِ أَعُوذُ بِعِزَّةِ اللَّهِ وَقُدْرَتِهِ مِنْ شَرِّ مَا أَجِدُ وَأُحَاذِرُ

Bismillahi a’uudza bi’izzatillaahi wa qudratihi min syarri maa ajidu wa uhaadziru.

“Dengan nama Allah, aku berlindung dengan kemuliaan Allah dan kekuasaanNya dari sakit yang aku derita ini.”

  1. Setelah membaca doa tersebut, tiupkan ke tangan, kemudian usapkan tangan ke seluruh tubuh.

Adapula tata cara ruqyah mandiri yang lebih sederhana berdasarkan hadis yang diriwayatkan Ibnu Majah. Berikut tata caranya:

  1. Meletakkan tangan kanan di atas bagian tubuh yang sakit atau yang dirasa ada gangguan.
  2. Membaca bismillah tiga kali
  3. Membaca doa di atas sebanyak tujuh kali dan mengulanginya dalam bilangan ganjil jika sakit belum reda.

Selain cara ruqyah di atas, Nabi Muhammad seringkali melakukan ruqyah untuk dirinya sendiri sebelum tidur. Dirangkum dari hadis yang diriwayatkan oleh Aisyah, berikut cara meruqyah diri sebelum tidur:

  1. Gabungkan kedua telapak tangan, kemudian membaca surat Al Ikhlas, Al Falaq, dan an-Naas, lalu meniupkan ke kedua telapak tangan. Selanjutnya, usapkan tangan ke seluruh bagian tubuh yang dapat dijangkau.

Sebagai perlindungan dari gangguan jin, ruqyah mandiri sangat dianjurkan.

Ruqyah pun ternyata ampuh untuk berbagai jenis penyakit. Dalam beberapa hadis yang membicarakan terapi ruqyah, penyakit yang disinggung adalah pengaruh mata yang jahat (‘ain), penyebaran bisa racun (humah) dan penyakit namlah (humah). Berkaitan dengan masalah ini, Imam An Nawawi berkata dalam Syarah Shahih Muslim mengatakan:

“Maksudnya, ruqyah bukan berarti hanya dibolehkan pada tiga penyakit tersebut. Namun maksudnya bahwa Beliau ditanya tentang tiga hal itu, dan Beliau membolehkannya. Andai ditanya tentang yang lain, maka akan mengizinkannya pula. Sebab Beliau sudah memberi isyarat buat selain mereka, dan Beliau pun pernah meruqyah untuk selain tiga keluhan tadi.” (Shahih Muslim, kitab As Salam, bab Istihbab Ar Ruqyah Minal ‘Ain Wan Namlah)

BACAAN RUQIYAH

Dari Al-Quran

Pertama

Dengan membaca surah Al-Fatihah

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَۙ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِۙ مٰلِكِ يَوْمِ الدِّيْنِۗ اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُۗ اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ ۙ صِرَاطَ الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ ەۙ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّاۤلِّيْنَ

bismillāhir-raḥmānir-raḥīm al-ḥamdu lillāhi rabbil-‘ālamīn ar-raḥmānir-raḥīm māliki yaumid-dīn iyyāka na’budu wa iyyāka nasta’īn ihdinaṣ-ṣirāṭal-mustaqīm ṣirāṭallażīna an’amta ‘alaihim gairil-magḍụbi ‘alaihim wa laḍ-ḍāllīn

“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam, Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang, Pemilik hari pembalasan. Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan. Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” QS. Al-Fatihah: 1-7

Kedua

Membaca ayat kursiy

اللَّهُ لَآ إِلَـٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَىُّ الْقَيُّومُ ۚ لَا تَأْخُذُهُۥ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ ۚ لَّهُۥ مَا فِى السَّمَاوَاتِ وَمَا فِى الْأَرْضِ ۗ مَن ذَا الَّذِى يَشْفَعُ عِندَهُۥٓ إِلَّا بِإِذْنِهِۦ ۚ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ ۖ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَىْءٍ مِّنْ عِلْمِهِۦٓ إِلَّا بِمَا شَآءَ ۚ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ ۖ وَلَا يَئُودُهُۥ حِفْظُهُمَا ۚ وَهُوَ الْعَلِىُّ الْعَظِيمُ ﴿٢٥٥﴾

allāhu lā ilāha illā huw, al-ḥayyul-qayyụm, lā ta`khużuhụ sinatuw wa lā na`ụm, lahụ mā fis-samāwāti wa mā fil-arḍ, man żallażī yasyfa’u ‘indahū illā bi`iżnih, ya’lamu mā baina aidīhim wa mā khalfahum, wa lā yuḥīṭụna bisyai`im min ‘ilmihī illā bimā syā`, wasi’a kursiyyuhus-samāwāti wal-arḍ, wa lā ya`ụduhụ ḥifẓuhumā, wa huwal-‘aliyyul-‘aẓīm

“Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” QS. Al-Baqarah: 255

Baca :  contoh Kata kalimat homograf serta pengertian

Ketiga

Membaca Al-Mu’awwidzaat (surah Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Naas)

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَـٰنِ الرَّحِيمِ

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ ﴿١﴾ اللَّهُ الصَّمَدُ ﴿٢﴾ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ ﴿٣﴾ وَلَمْ يَكُن لَّهُۥ كُفُوًا أَحَدٌۢ ﴿٤﴾

“Katakanlah: Dialah Allah Yang Maha Esa. Allah adalah Ilah yang bergantung kepada-Nya segala urusan. Dia tidak beranak dan tiada pula diperanakkan. Dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia.” (QS. Al-Ikhlas: 1-4)

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَـٰنِ الرَّحِيمِ

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ ﴿١﴾ مِن شَرِّ مَا خَلَقَ ﴿٢﴾ وَمِن شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ ﴿٣﴾ وَمِن شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِى الْعُقَدِ ﴿٤﴾ وَمِن شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ ﴿٥﴾

“Katakanlah: Aku berlindung kepada Rabb yang menguasai Subuh. Dari kejahatan makhluk-Nya. Dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita. Dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul. Dan dari kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki. (QS. Al-Falaq: 1-5)

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَـٰنِ الرَّحِيمِ

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ ﴿١﴾ مَلِكِ النَّاسِ ﴿٢﴾ إِلَـٰهِ النَّاسِ ﴿٣﴾ مِن شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ ﴿٤﴾ الَّذِى يُوَسْوِسُ فِى صُدُورِ النَّاسِ ﴿٥﴾ مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ ﴿٦﴾

“Katakanlah: Aku berlindung kepada Rabb manusia. Raja manusia. Sembahan manusia. Dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi. Yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia. Dari jin dan manusia.” (QS: An-Nas : 1-6)

Caranya: membaca Al-Mu’awwidzaat (Al-Ikhlas, Al-Falaq dan An-Naas), tiupkan ke tangan, lalu usapkan ke wajah.

Keempat : Membaca surah Al-Baqarah

Kelima : Membaca ayat-ayat yang menjelaskan tentang kebatilan sihir

Al-A’raf 117-119

وَأَوْحَيْنَا إِلَى مُوسَى أَنْ أَلْقِ عَصَاكَ فَإِذَا هِيَ تَلْقَفُ مَا يَأْفِكُونَ * فَوَقَعَ الْحَقُّ وَبَطَلَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ * فَغُلِبُوا هُنَالِكَ وَانْقَلَبُوا صَاغِرِينَ

“Dan Kami wahyukan kepada Musa: “Lemparkanlah tongkatmu!”. Maka sekonyong-konyong tongkat itu menelan apa yang mereka sulapkan. Karena itu nyatalah yang benar dan batallah yang selalu mereka kerjakan. Maka mereka kalah di tempat itu dan jadilah mereka orang-orang yang hina.”

Yunus 79-82

وَقَالَ فِرْعَوْنُ ائْتُونِي بِكُلِّ سَاحِرٍ عَلِيمٍ * فَلَمَّا جَاءَ السَّحَرَةُ قَالَ لَهُمْ مُوسَى أَلْقُوا مَا أَنْتُمْ مُلْقُونَ * فَلَمَّا أَلْقَوْا قَالَ مُوسَى مَا جِئْتُمْ بِهِ السِّحْرُ إِنَّ اللَّهَ سَيُبْطِلُهُ إِنَّ اللَّهَ لا يُصْلِحُ عَمَلَ الْمُفْسِدِينَ * وَيُحِقُّ اللَّهُ الْحَقَّ بِكَلِمَاتِهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُجْرِمُونَ

“Fir’aun berkata (kepada pemuka kaumnya): “Datangkanlah kepadaku semua ahli-ahli sihir yang pandai!” Maka tatkala ahli-ahli sihir itu datang, Musa berkata kepada mereka: “Lemparkanlah apa yang hendak kamu lemparkan”. Maka setelah mereka lemparkan, Musa berkata: “Apa yang kamu lakukan itu, itulah yang sihir, sesungguhnya Allah akan menampakkan ketidak benarannya” Sesungguhnya Allah tidak akan membiarkan terus berlangsungnya pekerjaan orang-yang membuat kerusakan. Dan Allah akan mengokohkan yang benar dengan ketetapan-Nya, walaupun orang-orang yang berbuat dosa tidak menyukai(nya).”

Surah Thaha 65-69

قَالُوا يَا مُوسَىٰ إِمَّا أَنْ تُلْقِيَ وَإِمَّا أَنْ نَكُونَ أَوَّلَ مَنْ أَلْقَىٰ قَالَ بَلْ أَلْقُوا ۖ فَإِذَا حِبَالُهُمْ وَعِصِيُّهُمْ يُخَيَّلُ إِلَيْهِ مِنْ سِحْرِهِمْ أَنَّهَا تَسْعَىٰ فَأَوْجَسَ فِي نَفْسِهِ خِيفَةً مُوسَىٰ قُلْنَا لَا تَخَفْ إِنَّكَ أَنْتَ الْأَعْلَىٰ وَأَلْقِ مَا فِي يَمِينِكَ تَلْقَفْ مَا صَنَعُوا ۖ إِنَّمَا صَنَعُوا كَيْدُ سَاحِرٍ ۖ وَلَا يُفْلِحُ السَّاحِرُ حَيْثُ أَتَىٰ

(Setelah mereka berkumpul) mereka berkata: “Hai Musa (pilihlah), apakah kamu yang melemparkan (dahulu) atau kamikah orang yang mula-mula melemparkan?” Berkata Musa: “Silahkan kamu sekalian melemparkan”. Maka tiba-tiba tali-tali dan tongkat-tongkat mereka, terbayang kepada Musa seakan-akan ia merayap cepat, lantaran sihir mereka. Maka Musa merasa takut dalam hatinya. Kami berkata: “janganlah kamu takut, sesungguhnya kamulah yang paling unggul (menang). Dan lemparkanlah apa yang ada ditangan kananmu, niscaya ia akan menelan apa yang mereka perbuat. “Sesungguhnya apa yang mereka perbuat itu adalah tipu daya tukang sihir (belaka). Dan tidak akan menang tukang sihir itu, dari mana saja ia datang”.”

Dari Hadits

Pertama

بِاسْمِ اللهِ أَرْقِيكَ، مِنْ كُلِّ شَيْءٍ يُؤْذِيكَ، مِنْ شَرِّ كُلِّ نَفْسٍ أَوْ عَيْنِ حَاسِدٍ، اللهُ يَشْفِيكَ بِاسْمِ اللهِ أَرْقِيكَ

Bismillaahi arqiika, min kulli syai-in yu’dziika, min syarri kulli nafsin au ‘ainin haasidin, allaahu yasyfiika, bismillaahi arqiika.

“Dengan nama Allah aku meruqyah-mu, dari semua yang menyakitimu, dari kejahatan setiap jiwa dan mata hasad, semoga Allah menyembuhkanmu, Dengan nama Allah aku meruqyah-mu.”

Kedua

اللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ أَذْهِبِ البَاسَ، اشْفِهِ وَأَنْتَ الشَّافِي، لاَ شِفَاءَ إِلَّا شِفَاؤُكَ، شِفَاءً لاَ يُغَادِرُ سَقَمًا

Allaahumma robban-naas, adz-hibil ba’s , isyfihii wa antasy-syaafii([30]), laa syifaa-a illaa syifaa-uka, syifaa-an laa yughoodiru saqoman.

“Ya Allah, Tuhan seluruh manusia, hilangkanlah sakit ini, sembuhkanlah dia dan Engkaulah As-Syafi (Sang Penyembuh), tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan dari-Mu, kesembuhan yang tidak meninggalkan penyakit.”

Ketiga

بِسْمِ اللَّهِ (3×) أَعُوذُ بِاللَّهِ وَقُدْرَتِهِ مِنْ شَرِّ مَا أَجِدُ وَأُحَاذِرُ (7×)

Bismillaah (3x). A’uudzu billaahi wa qudrotihi min syarri maa ajidu wa uhaadzir (7x).

“Dengan nama Allah (3x). Aku berlindung kepada Allah dan kekuasaanNya, dari kejahatan sesuatu yang aku jumpai dan aku khawatirkan([32]) (7x).”

Keempat

أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ، مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ، وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لاَمَّةٍ

A’uudzu bikalimaatillaahit taammati min kulli syaithoonin wa haammatin wa min kulli ‘ainin laammatin

“aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari semua gangguan setan, binatang yang mengganggu dan pandangan mata yang jahat

Kelima

بِسْمِ اللَّهِ، تُرْبَةُ أَرْضِنَا، بِرِيقَةِ بَعْضِنَا، يُشْفَى سَقِيمُنَا، بِإِذْنِ رَبِّنَا

Bismillaah, turbatu ardhinaa, biriiqoti ba’dhinaa, yusyfaa bihi saqiimunaa, bi-idzni robbinaa.

“Dengan nama Allah, debu tanah kami, dengan sedikit ludah kami, bisa menjadi sebab sembuhnya sakit kami, dengan izin Rabb kami.”

Kesimpulan Ruqyah

Ruqyah ialah sesuatu penyembuhan ala Rasulullah dengan berlindung kepada Allah seluruh penyakit baik raga ataupun non raga. Kedua, metode ruqyah merupakan dengan meletakan tangan kanan kepada bagian anggota tubuh yang terasa sakit sembari membaca membaca doa- doa, pesan al- Fatihah, al- Ikhlas, al- Falaq serta al- Nas. Ketiga, ruqyah wajib didasari kepercayaan seluruhnya kepada Allah, meminta proteksi kepada- Nya sebab Dialah Dzat yang Maha mengobati seluruh penyakit apa juga. Keempat, ruqyah bisa membagikan pengaruh positif ialah mengobati kesehatan mental ataupun jiwa. Kelima, ruqyah salah satu tindakkan solutif terhadap penyakit warga yang jauh dari Allah tanpa melaksanakan kapitalisasi dengan mengkomersilkan buat dijadikan selaku mata pencaharian dalam penuhi kebutuhan hidup kecuali atas kerelaan penderita ataupun pengidap ruqyah dengan membagikan upah selaku wujud rasa terima kasih serta peruqyah boleh mengambil upah tersebut dengan ikhlas atas apa yang diterimanya tidak memandang besar serta kecilnya upah tersebut.

Bagikan di Sosial Media

Leave a Reply