5 Tahap Proses Molting pada Krustasea


5 Tahap Proses Molting pada Krustasea – Untuk tumbuh dan berkembang, krustasea akan melakukan molting, sehingga cangkang lamanya terlepas dan digantikan dengan cangkang baru yang akan menutupi seluruh bagian tubuhnya. Semakin sering krustasea mengalami molting, maka semain cepat pula perkembangannya, karena bobot badan benih krustasea tersebut akan bertambah setiap kali mengalami molting.

Molting atau proses ‘ganti kulit’ merupakan proses alamiah yang terjadi pada setiap jenis krustasea. Sebagai hewan dengan eksoskeleton atau kerangka luar, krustasea perlu mengganti kerangkanya tersebut jika tubuhnya membesar, karena kerangka luar yang mengandung kitin dan kapur tidak ikut tumbuh seiring pertumbuhan tubuhnya.

Untuk itu hewan jenis krustasea harus keluar dari kerangka lamanya dan membentuk kerangka baru. Molting merupakan proses yang rumit, dalam perjalanannya proses ini banyak melalui proses bersifat hormonal. Setidaknya ada dua jenis hormone yang terlibat dalam proses molting ini, yaitu hormone Ecdysis dan Molt Inhibiting Hormone.

Proses molting pada krustasea terdiri dari 5 tahapan, yaitu fase pre-molt, molt, post molt, intermolt awal dan intermolt akhir. Fase – fase tersebut antara lain :
1) Fase pre-molt, yakni fase pengumpulan ion kalsium dalam lambung yang berasal dari jaringan kulit maupun dari lingkungan perairan, akibat dari pengumpulan ion kalsium ini terbentuk kerikil kapur berwarna putih yang disebut dengan gastrolith

2) Fase molt, yakni fase pelepasan cangkang dan pengangkutan ion kalsium untuk memenuhi jaringan kulit baik dari luar maupun dari dalam tubuh, sehingga ketika mencapai fase ini, lingkungan perairan akan menjadi asam (pH rendah) karena pengaruh dari pengangkutan ion kalsium untuk memenuhi jaringan kulit pada pembentukan eksoskeleton baru

3) Fase post-molt ialah fase dimana gastrolith yang terbentuk dalam lambung diuraikan oleh asam lambung untuk memenuhi kalsium tubuh karena telah berkurang setelah digunakan untuk pembentukan eksoskeleton baru. Pada fase ini biasanya hewan krustasea akan kembali memakan eksoskeleton lama yang telah ditanggalkannya untuk memenuhi kebutuhan kalsium tubuh, karena penguraian gastrolith tidak cukup

4) Fase intermolt awal ialah fase dimana tubuh krustasea akan mengalami homeostatis kalsium, yakni proses yang bertujuan untuk menyeimbangkan kandungan ion kalsium tubuh dengan ion kalsium diperairan. Selain itu, pada fase ini terjadi pula pertumbuhan jaringan somatik antara periode sesudah ganti kulit (post molt) dan awal antara ganti kulit

5) Fase intermolt akhir ialah fase dimana kondisi tubuh berada dalam keadaan normal, dan ion kalsium terdapat pada hepatopankreas
Molting sendiri akan terjadi pada udang atau kepiting yang sehat. Oleh karena itu, lama periode perkembangan pada setiap stadia krustasea, biasanya ditentukan oleh waktu antara ganti kulit (intermolt). Semakin singkat periode intermolt, maka laju perkembangan larva atau benih cenderung semakin cepat.

Periode antar ganti kulit (intermolt) pada krustasea dapat berlangsung selama kurang dari 24 jam hingga 2 atau 3 hari. Frekuensi pergantian cangkang akan selalu beriringan dengan pertambahan umur, pada saat masih kecil, molting terjadi setiap hari, saat juvenil terjadi setiap 10 hari, sedangkan setelah dewasa terjadi 4 – 5 kali setahun, ketika sudah menjadi induk dan pernah memijah biasanya melakukan molting 1 – 2 kali setahun.

Lama periode ganti kulit disebabkan oleh faktor dalam termasuk hormon, dan faktor luar seperti suhu dan ketersediaan pakan. Setiap molting, cherax kehilangan lebih dari 90% kalsium yang berasal dari eksoskeleton, akibatnya cherax menyerap kalsium dari makanan dan air tempat tinggalnya.

Udang galah mengalami molting setiap 20 – 40 hari. Frekuensi molting dipengaruhi oleh kondisi fisik udang, jenis kelamin, kualitas dan kuantitas pakan, dan kualitas air . Selama proses molting, udang galah cenderung tidak aktif dan akan sering berdiam dalam tempat persembunyiannya untuk menyusun kontraksi otot, membengkokkan abdomen dan melepaskan kaki renang.

Kulit yang masih baru biasanya masih tipis dan lembek kurang lebih selama 3-6 jam. Pertumbuhan yang sangat cepat terjadi pada saat kulit baru masih lembek dengan bantuan penyerapan air yang banyak. Pada saat itu keadaan udang sangat lemah sehingga mudah diserang udang lainnya dan dapat terjadi kanibalisme jika tidak terdapat suatu pelindung sebagai tempat berlindung.

Advertsiment
5 Tahap Proses Molting pada Krustasea | jati | 4.5