Pengertian, Sejarah, Teknik Dasar Olahraga Gulat

Pengertian, Sejarah, Teknik Dasar Olahraga Gulat – Gulat adalah jenis olahraga bela diri di mana kontak fisiklah yang dikhususkan dan dimainkan tentunya diantara 2 orang. Pegulat ialah sebutan guna seseorang yang menggeluti olahraga gulat dan menjadi atlet atau pesertanya. Seorang pegulat butuh mengontrol lawan dan menjatuhkan mereka nanti di akhir. Teknik jasmani tentu ialah yang sangat utama di sini untuk dapat menang.

PENGERTIAN GULAT

Gulat adalah salah satu cabang olahraga beladiri pribadi yang berasal dari yunani-romawi. Gulat ialah kontak jasmani antara dua orang, di mana salah seorang pegulat mesti menjatuhkan atau bisa mengontrol musuh mereka. Olahraga gulat indentik dengan dua orang yang saling berhadapan dan berjuang untuk mengalahkan lawanya dengan teknik menarik, mendorong, membanting, menjegal, dan mengunci hingga punggung lawan menempel di atas matras. Teknik-teknik pada dalam gulat dapat mengakibatkan luka yang serius.
Pada tahun 2500 SM cabang olahraga Gulat telah menjadi suatu mata pelajaran di suatu sekolah di Negara Cina dan sekitar tahun 2050 SM gulat juga dipelajari oleh orang-orang Mesir. Sejak Olympiade Kuno, gulat telah menjadi suatu acara pertandingan, walaupun acara tersebut diadakan di dalam acara Pentahlon.

Sejarah Gulat

sejak sebelum Perang Dunia II, Indonesia telah mengenal gulat internasinal. Gulat ini diangkut oleh tentara Belanda. Masyarakat Indoensia ketika tersebut mengenal gulat sebagai tontonan di pasar malam atau pada pesta-pesta di kota besar sebagai acara hiburan.

Tahun 1941 – 1945 sewaktu Indonesia diduduki tentara Jepang, seni bela diri Jepang laksana Judo, Sumo dan Kempo masuk pula ke Indonesia, sampai-sampai gulat secara berangsur-angsur menjadi hilang.

Tahun 1959 di Bandung pernah diselenggarakan pertandingan gulat bayaran antara Batling Ong melawan Muh. Kunyu dari Pakistan. Dari Pakistan pertandingan tersebut mendapat perhatian yang lumayan besar dari pencadu olahraga gulat di Indonesia, terutama masyarakat di kota Bandung. Pertandingan itu diadakan oleh PERTIGU (Persatuan Tinju dan Gulat), sebuah wadah olahraga amatir dan profesional tinju dan gulat di Indonesia. Mengingat pada waktu tersebut pemerintah dalam urusan ini menteri olahraga tidak membernarkan adanya Organisasi Olahraga Tinju dan Gulat bayaran. Terlebih-lebih dengan adanya keperluan nasional dimana Indonesia ditunjuk sebagai tuan lokasi tinggal penyelenggaraan Asian Games IV tahun 1962, maka ketua OC Asian Games menunjuk Kolonel CPM R. Rusli (sekarang Mayjen Purn), untuk menyusun suatu organisasi gulat amatir. Maksudnya Pemerintah bercita-cita supaya Indonesia bisa menerjunkan pada pegulatnya dalam arena Asian Games IV itu. Kol. Rusli yang menemukan mandat dari Ketua OC Asian Games IV tahun 1962 tersebut segera mengemban tugasnya. Dihubunginya sejumlah tokoh olahraga yang terdapat di Bandung diantaranya Batling Ong, Ong Sik Lok, M.Cc. M.F. Siregar, M.Sc., H.B. Alisahbana dan Abdul Djalil.
Selain sejumlah kali menyelenggarakan pertemuan di lokasi tinggal Kol. R. Rusli di jalan Supratman Bandung, maka tepatnya pada tanggal 7 Pebruari 1960 didirikanlah suatu organisasi gulat amatir Indonesia dengan nama Persatuan Gulat Seluruh Indonesia yang disingkat PGSI.
Dengan adanya kejuaraan dunia di Yokohama tahun 1961, maka PGSI menyelenggarakan seleksi nasional guna menilai kesebelasan Indonesia ke kejuaraan dunia yang dilangsungkan pada bulan Juni 1961.
Empat pegulat terpilih dalam seleksi tersebut untuk mewakili Indonesia yakni Rachman Firdaus (kelas 68 kg gaya bebas) Yoseph Taliwongso (kelas 68 kg gaya Yunani-Romawi) Sudrajat (kelas 62 kg gaya bebas) ketiganya dari Bandung, seoran gdari Yogyakarta yaitu Elias Margio (kelas 62 kg gaya Yunani). Mereka ini didampingi oleh Kapten Obos Purwono sebagai kesebelasan manajer serta Batling Ong sebagai pelatih.

Dalam PON V tahun 1961 di Bandung olahraga gulat termasuk di antara cabang olahraga yang dipertandingkan dengan memungut tempat di Bioskop Varia (sekarang Nusantara). Daerah-daerah yang telah memiliki pengurus mengantarkan para pegulatnya juga. Namun Jawa Barat tetap membeli semuanya medali terbanyak.

Tahun 1962 Asian Games IV dilangsungkan di Jakarta. Indonesia menurunkan semua pegulatnya secara full team, mulai dari ruang belajar 52 kg hingga dengan 87 kg. Prestasi semua pegulat anda belum begitu menggembirakan, Indonesia melulu meraih 2 medali perunggu melewati gulat Mujari (kelas 52 kg) dan Rachman Firdaus (kelas 63 kg) yang dua-duanya bertanding dalam gaya Yunani-Romawi.

Dalam Ganefo I (Games of The New Emerging Forces) yang dilangsungkan di Jakarta tahun 1963, Indonesia pun mengikutsertakan pegulatnya. Yoseph Taliwongoso yang bertanding di ruang belajar 70 kg, gaya Yunani-Romawi sukses meraih medali perak, sementara Suharto ruang belajar 97 kg, meraih perunggu.

Tahun 1964 PB. PGSI mengantarkan para pegulatnya ke RRC dan Korea Utara untuk meningkatkan pengalaman. Diantara semua pegulat yang diantarkan itu merupakan Rachman Firdaus, Joseph Taliwongso, Bambang Kantong, Saut Tambunan dan Wachmana.

Tahun 1965 menjelang diselenggarakannya PON VI di Jakarta, hadir pegulat-pegulat yang sarat bakat, laksana Suparman Hamid, Tigor Siahaan, Johny Gozali. Sayang semua pegulat ini belum sempat memperlihatkan kebolehannya dalam arena PON VI yang batal sebab situasi politik dan mengakibatkkan tersendat-sendatnya peradaban para pegulat Indonesia.
Tahun 1966 menjelang Asian Games V di Bangkok, PGSI menyelenggarakan kejuaraan nasional di Bandung. Setelah mengerjakan seleksi yang ketat terpilih pegulat-pegulat Rachman Firdaus, S.H., Ir. Suparman Hamid dan Ir. Saut Tambunan guna memperkuat kontingen Indonesia.
Tahun 1967, diadakan kejuaraan nasional di Surabaya, peluang ini adalahyang terakhir kalinya dihadiri oleh Bapak Gulat Indonesia Batling Ong Hong Liong.
Tahun 1968, adalahtahun yang sepi untuk PGSI sebab tidak adanya pekerjaan tingkat nasional. Kesempatan ini ditunjukkan untuk mempersiapkan diri menghadapi PON VII tahun 1969 di Surabaya.
Tahun 1969, diselenggarakan PON VII di Surabaya dimana semua pegulat dari daerah-daerah Sumatera Utara, DKI Jaya, Jawa Barat, Jawa Tengah, D.I. Yogyakarta, Jawa Timur dan Sulawesi Selatan mengukur kekuatannya dalam arena tersebut. Daam PON VII ini tampak olahraga gulat semakin berkembang bahkan hadir pula wajah-wajah baru yang sarat semangat dan berbakat.
Tahun 1970, PGSI mendapat peluang lagi guna ambil unsur dalam Asian Games VI di Bangkok. Untuk tersebut PGSI mulai merangkai tim dengan terlebih dahulu menyelenggarakan kejuaraan nasional di Bandung. Para pegulat yang terpilih ialah Tigor Siahaan, Sampurno, Darmanto, dan Johny Gozali, tetapi kali ini gulat pun belum sukses memperoleh medali guna disumbangkan di pangkuan Ibu Pertiwi.
Tahun 1971, guna kesatu kalinya dan ternyata adalahterakhir kalinya gulat dipertandingkan pula dalam POM (pkean Olahraga Mahasiswa) di Palembang.
Tahun 1972, menjelang PON VIII di Jakarta, terlebih dahulu diselenggarakan babak kualifikasi untuk daerah-daerah yang bakal ikut serta dalam PON. Bagi pelaksanaannya tahun tersebut juga PGSI mengadakan kejuaraan Nasional di Medan dan untuk pegulat yang lolos dari babak kualifikasi bisa ikut serta dalam PON VIII tahun 1973 di Jakarta.
Dalam PON VIII ini pula dipertandingkan gulat dalam 2 nomor yaitu gaya Yunani-Romawi dan gaya bebas.
Tahun 1973, ini PGSI pun kembali ikut serta dalam kejuaraan gulat di Glanbator, Mongolia dan kesebelasan Indonesia terdiri dari Tigor Siahaan, Syampurno, Johny Gozali dan Darmanto.

Selain tersebut kegiatan internasional yang dibuntuti oleh semua pegulat kita ialah :



  • Tahun 1974 Asian Games VII di Teheran, PGSI mengantarkan pegulat Tigor Siahaan ruang belajar 48 kg dan Johny Gozali ruang belajar 62 kg ; kejuaraan dunia tahun 1978 di Mexico PGSI menerjunkan pegulat-pegulat Suwarto ruang belajar 57 kg, Alfan Sulaiman ruang belajar 62 kg, Tahi Sihombing ruang belajar 68 kg dan Eddy Santoso ruang belajar 74 kg.
  • Tahun 1980, di Rumania PGSI mengantarkan pegulat Suwarto ruang belajar 57 kg, Edison ruang belajar 62 kg dan Alfan Sulaiman ruang belajar 68 kg.
  • Tahun 1982, Asian Games IX di New Delhi, PGSI mengantarkan Rubianto Hado kela s48 kg, Rusdi ruang belajar 57 kg, dan Alfan Sulaiman ruang belajar 62 kg.

Sejak pembentukannya tahun 1960 PGSI telah tidak sedikit melakukan pekerjaan baik lokal, nasional maupun internasional. Frekuensi pertandingan meningkat dan wilayah baru PGSI pun bertambah.

Saat ini di semua Indonesia PGSI memiliki 17 Pengda :
1. Pengda PGSI Sumatera Utara, jalan Karantina 50 Medan,
2. Pengda PGSI Sumatera Barat, jalan Arief Rahman Hakim 6 Padang
3. Pengda PGSI Riau, Kepala Kantor Kecamatan Tebing Tinggi di Selat Panjang
4. Pengda PGSI Sumatera Selatan, GOR KONI Sumatera Selatan jalan Kapten A. Rivai Palembang
5. Pengda PGSI Jawa Barat, jalan Aceh 47- 49 Bandung
6. Pengda PGSI DKI Jaya, Manajer Stadion Utama Senayan Pintu 8 Jakarta
7. Pengda PGSI Jawa Tengah, SGO jalan Atmodirono 2/4 Semarang.
8. Pengda PGSI D.I. Yogyakarta, jalan Dr. Wahidin 20 Yogyakarta
9. Pengda PGSI Jawa Timur, jalan Ngagel Timur II/30 Surabaya
10. Pengda PGSI Kalimantan Tengah , SMOA Negeri Palangkaraya
11. Pengda PGSI Kalimantan Selatan, Kantor Depdikbud Kecamatan Banjar Barat jalan Batu Tiban Banjarmasin.
12. Pengda PGSI Kalimantan Timur, SGO Negeri Samarinda jalan pahlawan Samarinda
13. Pengda PGSI Sulawesi Utara, KONI Propinsi Sulawesi Utara jalan A. Yani Manado.
14. Pengda PGSI Sulawesi Selatan, jalan Hatimurah 2 Ujung Pandang
15. Pengda PGSI Sulawesi Tengah, Sdr. Suwardji SKKP negeri palu.
16. Pengda PGSI Sulawesi Tenggara, Sdr. Watimena jalan Fajarmerantau Kendari.
17. Pengda PGSI Irian Jaya, KONI Irian Jaya Jayapura.

Gaya yang dipertandingkan dan kelasnya

Olahraga gulat mempertandingkan 2 macam gaya yakni gaya bebas dan gaya Yunani-Romawi. Gulat gaya bebas dan gaya Yunani-Romawi setiap meliputi kelas-kelas :
1. Kelas 48 kg
2. Kelas 52 kg
3. Kelas 57 kg
4. Kelas 62 kg
5. Kelas 68 kg
6. Kelas 74 kg
7. Kelas 82 kg
8. Kelas 90 kg
9. Kelas 100 kg
10. Kelas 100 kg, + (over + 100 kg).

Organisasi

Susunan organisasi PGSI berbentuk piramida dan vertikal, berjenjang mulai dari perkumpulan – perkumpulan, pengurus Kabupaten/Kotamadya, Kota (Administratif), Propinsi hingga ke tingkat Pusat.
Di Ibukota Republik Indonesia Jakarta disusun Pengurus Besar Persatuan Gulat Seluruh Indonesia yang disingkat PB. PGSI, di Ibukota Propinsi disusun Pengurus Daerah PGSI yang disingkat Pengda PGSI, di Ibukota Kabupaten/Kotamadya dan Kota Administratif disusun pengurus cabang disingkat Pengcab PGSI, yang setiap pembentukannya oleh kongres, rapat anggota pemilihan pengurus cabang.

Masa kepengurusan besar sangat lama 4 tahun dan pengurus cabang 2 tahun.

Teknik Dasar Gulat

1. Clinch Fighting

Secara etimologi, clinch fighting berarti bertempur dengan memiting. Sangat umum digunakan dalam gulat meski tergolong sulit. Dengan teknik ini lawan tidak akan mampu menggunakan tendangan dan tinjuan sebagai senjata karena tubuhnya sudah tak mampu bergerak dengan leluasa lagi. Teknik ini juga biasa digunakan sebagai peralihan dari model stand-up fighting ke ground fighting. Akan lebih menguntungkan bila kita memiliki berat dan tinggi yang lebih dari lawan.

2. Leverage

Secara harfiah leverage berarti mengambil keuntungan. Jadi, pegulat yang lebih tinggi dari lawannya akan lebih mudah memenangkan pertarungan dengan memanfaatkan jangkauannya yang panjang untuk meraih pergelangan kaki lawan. Dengan teknik ini, pegulat akan mampu mengangkat satu kakinya dari matras dan kemudian menyapu kaki lain lawan agar lawan terjatuh.

Teknik leverage ini terdiri dari beberapa sub-teknik lainnya, yakni:

  • Hip Throws

Teknik ini dilakukan dengan cara membanting bagian pinggang lawan. Setelah memastikan posisi tubuh bagian atas lawan, langkah kaki bisa diposisikan di antara tubuhnya untuk mengambil keuntungan. Dengan bagian pinggang diposisikan di bawah pinggang lawan, kita bisa mengambil gerakan dengan cara mengangkat sedikit tubuh lawan. Setelah itu kita bisa membanting lawan ke arah belakang.

  • Cradles

Teknik ini berfokus pada keuntungan seorang pegulat dalam meletakkan lawan di punggungnya. Pegulat dengan tubuh yang lebih tinggi dan lengan yang lebih panjang bisa melakukan kuncian pada kepala lawan dengan satu lengan. Sementara lengan lainnya bisa diposisikan di bawah salah satu atau kedua kaki. Tangan kemudian bisa dikunci rapat dengan menariknya lebih dulu lalu mengarahkan kepala lawan serta lutut di saat bersamaan.

  • Sprawl

Teknik ini dilakukan dengan cara menarik kedua kaki kita dan menjatuhkan diri ke matras lalu menerkam lawan dengan berada di atasnya saat ia mencoba menyerang. Dengan ukuran tubuh yang lebih tinggi dari lawan, kita bisa meraih bagian bawah tubuh lawan dan mengunci lengannya. Setelah itu, lanjutkan dengan cara membalikkannya hingga bagian pinggang lawan terkunci sehingga dia tidak bisa bergerak.

3. Joint Lock

Dalam teknik ini seorang pegulat hanya perlu mengisolasi sendi lawan agar lawan tidak bisa bergerak. Teknik ini akan memberikan rasa sakit pada bagian sendi dan mampu memicu cedera pada lawan. Risiko yang terjadi antara lain adalah kerusakan otot, ligamen dan tendon. Lawan bahkan berpotensi mengalami patah tulang karena gerakan ini.

4. Grappling Hold

Teknik ini sangat tepat digunakan untuk mengendalikan gerakan dan posisi lawan. Gerakan grappling berfokus pada clinching, submission dan juga pinning.
Itulah informasi singkat tentang empat teknik dasar dalam olahraga gulat. Di era kekinian, gulat sudah banyak dikombinasikan dengan martial arts. Berikutnya, kita akan membahas cabang olahraga lain.

Manfaat Gulat

1. Gulat mengembangkan keterampilan atletik dasar
2. Gulat mengembangkan tanggung jawab pribadi
3. Gulat mengembangkan ketangguhan mental
4. Gulat mengajarkan tentang nutrisi dan pemeliharaan berat badan
5. Gulat menyatukan anak-anak dan membangun persahabatan yang kuat
6. Gulat mengembangkan disiplin

Share