Proses Pembekuan Darah Pada manusia

Proses Pembekuan Darah Pada manusia – Pembekuan darah adalah hal yang menakutkan dan dapat menyebabkan kematian. Tentu siapa juga tak ingin urusan itu terjadi pada tubuhnya. Namun, apa sebetulnya pembekuan darah ini dan siapa saja yang berisiko? Darah adalah cairan dan saat ia membeku dan mengeras menjadi padat, itu dirasakan sebagai bekuan darah. Ada sejumlah jenis pembekuan darah. Ada yang terbentuk di vena dalam unsur bawah tubuh, laksana bagian kaki yang merangsang deep vein thrombosis (DVT). Ini ialah jenis bekuan darah yang bisa terlepas dan berlangsung ke unsur paru serta mengakibatkan embolisme paru (PE) dan merangsang kematian. “Risiko kematian ialah nyata, terutama andai pembekuan ini tidak segera diatasi,” kata Nesochi Okeke-Igbokwe, MD, seorang dokter penyakit dalam di NYU Langone Medical Center.
Proses Pembekuan Darah Pada manusia

Proses pembekuan darah biasanya disebut dengan hemostatis. Proses ini terjadi sebab adanya trauma pada pembuluh darah, pembuluh darah merasakan terputusnya integritas tubuhnya. Pada proses pembekuan darah atau hemostatis terdapat 4 fase yang mesti dilalui, yakni :



  • Fase kesatu dari proses pembekuan darah atau hemostatis ialah terjadinya kontradiksi pembuluh darah yang merasakan cedera, urusan ini dilaukan guna memperkecil aliran darah distal terhadap cedera yang terjadi
  • Fase kedua dari proses pembekuan darah atau hemostatis ialah pembentukan penyumbat yang dilakuakan oleh trombosit dengan kerenggangan yang relatif pada lokasi terjadinya ceder, urusan ini dilaksanakan sebagai reaksi spontan tubuh terhadap kolagen yang mengikat trombosit sebagai upaya mebebaskan tromboxan dan ADP. Hal ini dilaksanakan untuk memicu trombosit lain supaya melekat pada trombosit yang sebelumnya telah terikat pada kolagen. Baca: Peredaran darah manusia
  • Fase ketiga dari proses pembekuan darah atau hemostatis ialah pembentukan dari thrombus merah atau bekuan darah.
  • Fase keempat dari proses pembekuan darah atau hemostatis ialah disolusi atau pelarutan beberapa atau pelarutan semua bekuan.

Faktor terjadinya pembekuan darah.

1. Duduk dalam masa-masa lama 
Biasanya ini terjadi saat kita berpergian dengan pesawat, mengemudi atau mengemudikan mobil atau menguras waktu yang lama di depan komputer ,di lokasi kerja atau rumah. “Berdirilah dan bergerak masing-masing 30 atau 40 menit masa-masa duduk Anda. Menggunakan otot-otot kaki dapat menolong menjaga darah vena kita tetap mengalir. Meregangkan dan memanjangkan kaki dapat menolong dengan baik,” kata dokter Glenn Harnett.
2. Kehamilan
Jumlah estrogen yang berlebihan dan bersirkulasi dalam tubuh sekitar kehamilan dapat meningkatkan sejumlah hal pembekuan darah. Di samping itu, kehamilan menambah tekanan di unsur vena panggul dan kaki. “Risiko pembekuan darah dari kehamilan bisa berlanjut sampai 6 minggu sesudah melahirkan,” kata Harnett. Atasi dengan aktif bergerak – berjalan, prenatal yoga dan latihan jasmani lainnya sekitar masa kehamilan dan sesudah melahirkan.
3. Tinggi dan berat badan
Obesitas menciptakan risiko terpapar DVT meningkat dampak penurunan mobilitas yang disertai sirkulasi yang buruk. Di samping itu, tidak sedikit orang yang tidak tahu bahwa tinggi badan pun memainkan peran. “Perempuan yang tingginya lebih dari 170 cm dan laki-laki lebih dari 180 cm risikonya lebih tinggi sebab makin tinggi, kian jauh untuk darah mengerjakan perjalanan mengerjakan grativasi. Penurunan sirkulasi darah dapat mengakibatkan darah terkumpul sehingga merangsang pembekuan,” kata Harnett.
4. Memiliki irama jantung tak teratur
Irama jantung yang tidak teratur seringkali tidak menimbulkan fenomena dan tidak jarang tak terdeteksi. Padahal, situasi ini dapat menambah risiko pembekuan darah. Irama jantung tak tertata mungkin merintangi darah yang dipompa ke ventrikel. Darah bisa menjadi lamban dan mulai menggenang di ruang atas, berpotensi mengakibatkan pembentukan bekuan.
5. Pil KB
Estrogen dan progestin dalam kontrasepsi oral tertentu pun dapat menambah faktor-faktor fokus pembekuan darah. Demikian pun dengan sejumlah terapi pengganti hormon yang dapat menambah risiko penggumpalan.
6. Kanker
Beberapa jenis kanker menambah jumlah zat tertentu di dalam darah yang mengakibatkan pembekuan. Berdasarkan keterangan dari penelitian, kanker otak, ovarium, pankreas, usus, perut, paru-paru dan ginjal mempunyai risiko tertinggi untuk terpapar DVT.
7. Pasca operasi
Operasi besar, khususnya untuk pinggul Anda, perut unsur bawah dan kaki, menambah risiko DVT Anda, kata Harnett. Operasi itu akan menciptakan Anda sedangkan waktu tidak bergerak. Di samping itu, masing-masing trauma besar atau cedera kaki dapat menambah risiko cedera pembuluh darah yang menuju produksi darah beku.
8. Riwayat family 
Beberapa orang mewarisi gangguan yang menciptakan darah mereka gampang membeku. Berdasarkan keterangan dari penelitian Mayo Clinic, situasi ini barangkali tidak mengakibatkan masalah kecuali digabungkan  dengan satu atau lebih hal risiko.
9. Usia
Meskipun DVT bisa terjadi pada seluruh usia, semakin tua Anda, risikonya semakin tinggi.
10. pola Hidup tidak sehat

Baca :  Cara Membuat Alat Penjernih Air Dengan Bahan Alam

Kegunaan Pembekuan darah pada luka

Proses Pembekuan darah di dalam tubuh dinamakan dengan proses koagulasi. Proses ini menciptakan darah yang awalnya berbentuk cair berubah jadi menggumpal dan menyusun gel. Proses ini urgen untuk mencegah supaya tubuh tidak kehilangan tidak sedikit darah ketika terjadi luka atau cedera.
Saat terjadi perdarahan, entah tersebut sedikit atau banyak, tubuh Anda bakal langsung menyerahkan sinyal ke benak untuk mengerjakan proses koagulasi. Dalam urusan ini, unsur tubuh yang paling diandalkan untuk dapat membekukan darah ialah trombosit (keping darah) dan protombin (protein dalam darah yang menciptakan darah menggumpal).
Jadi begini proses darah dapat membeku, menggumpal, sampai tidak terjadi perdarahan lagi.
Ketika luka terjadi dan menerbitkan darah, maka tersebut tandanya pembuluh darah (endothelium) rusak. Nah, saat tersebut juga trombosit segera menempel pada pembuluh darah yang rusak tersebut dan menyusun sumbatan, sehingga dapat menghentikan darah yang keluar.
Di ketika yang bersamaan trombosit akan memicu protein dalam darah untuk menciptakan benang-benang halus yang dinamakan dengan fibrin. Benang fibrin ini bakal bergabung dengan trombosit guna memperkuat sumbatan.
Nah, ketika jaringan kulit yang merasakan luka berangsur-angsur membaik, maka trombosit dipungut kembali oleh darah. Sementara benang fibrin yang sebelumnya terbentuk pun bakal hancur, sampai-sampai tidak terdapat lagi sumbatan pada luka.

Share
WhatsApp chat