Pengertian Apatis, Penyebab, Ciri, Dampak, Contoh Sikap

Posted on

Secara umum, apatis memiliki makna sebagai suatu kondisi psikologis di mana seseorang kehilangan motivasi, tidak mengerti, acuh tak acuh, atau bahkan tidak peduli terhadap aspek-aspek emosional, sosial, atau kehidupan fisik.

Apatis merupakan respons universal terhadap stres yang mungkin berkaitan dengan objek tertentu, seperti seseorang, kegiatan, atau area tertentu. Perilaku apatis seringkali dikaitkan dengan tekanan mental, dan dapat juga menjadi refleksi dari kurangnya minat seseorang terhadap hal-hal yang dianggap tidak penting.

Perilaku apatis dapat mencerminkan kurangnya semangat atau antusiasme terhadap situasi atau tugas tertentu. Ketika seseorang mengalami tekanan mental, apatis bisa menjadi bentuk pertahanan diri untuk melindungi diri dari stres yang mungkin terasa berlebihan.

Penting untuk diingat bahwa apatis bukanlah kondisi permanen, dan seseorang dapat mengatasi atau mengubahnya melalui dukungan sosial, pemahaman diri, dan upaya untuk mengidentifikasi sumber tekanan. Terapi psikologis atau konseling juga dapat menjadi sarana efektif untuk membantu individu mengatasi apatis dan mengembalikan keseimbangan psikologis mereka.

Menanggapi apatis tidak hanya melibatkan pemahaman terhadap kondisi tersebut tetapi juga memberikan dukungan dan lingkungan yang mendukung individu tersebut untuk kembali terlibat dalam kehidupan mereka dengan lebih positif. Upaya bersama untuk memahami akar penyebab apatis dan mencari solusi bersama dapat menjadi langkah awal dalam mengatasi kondisi ini.

Pengertian Apatis

Apatis adalah suatu kondisi atau sikap ketidakpedulian atau keengganan untuk memberikan reaksi atau tanggapan terhadap situasi atau peristiwa di sekitar. Orang yang apatis mungkin tidak menunjukkan minat atau antusiasme terhadap hal-hal yang biasanya memicu reaksi emosional atau perhatian.

Seseorang bisa menjadi apatis karena berbagai alasan, seperti kelelahan, kekecewaan berulang, rasa putus asa, atau bahkan masalah kesehatan mental. Kondisi ini dapat memengaruhi motivasi, produktivitas, dan kesejahteraan seseorang. Apatis juga dapat mencakup sikap ketidakpedulian terhadap kepentingan sosial atau politik, di mana seseorang mungkin tidak terlibat dalam isu-isu publik atau tidak memiliki keinginan untuk berpartisipasi dalam aktivitas sosial.

Penting untuk memahami bahwa apatis bukanlah keadaan yang tetap, dan seseorang dapat mengatasi atau mengubah sikap ini melalui berbagai cara, termasuk dukungan sosial, perubahan dalam lingkungan hidup, atau pencarian bantuan profesional jika diperlukan.

Pengertian Apatis Menurut Para Ahli

Apatis adalah suatu sikap atau kondisi ketidakpedulian atau keengganan untuk berpartisipasi dalam aktivitas atau menunjukkan perasaan terhadap sesuatu. Berikut adalah beberapa definisi apatis menurut para ahli:

1.Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI):

  • Menurut KBBI, apatis diartikan sebagai sikap yang tidak mau peduli atau acuh tak acuh terhadap segala sesuatu.

2.Kasus Jurnal Psikologi:

  • Dalam konteks psikologi, apatis dijelaskan sebagai keadaan ketidakpedulian atau kurangnya motivasi untuk berpartisipasi dalam aktivitas sosial atau sekitar.

3.Herbert Marcuse (Filosof):

  • Herbert Marcuse, seorang filsuf Jerman, menggunakan konsep “apatis” untuk merujuk pada sikap masyarakat yang acuh tak acuh terhadap isu-isu politik dan sosial, terutama dalam konteks masyarakat konsumeris.
  40 Kumpulan Puisi Pendidikan yang sangat Mendidik dan bermakna

4.Pendapat Psikolog:

  • Psikolog sering mendefinisikan apatis sebagai kurangnya minat, emosi, atau energi untuk terlibat dalam aktivitas atau lingkungan sekitar. Ini dapat muncul sebagai respons terhadap stres, depresi, atau ketidakmampuan untuk mengidentifikasi tujuan atau nilai-nilai yang bermakna.

5.Jean Baudrillard (Sosiolog):

  • Baudrillard, seorang sosiolog Prancis, menyatakan bahwa apatis dapat muncul sebagai hasil dari masyarakat konsumeris yang membanalkan pengalaman dan membuat orang kehilangan rasa keinginan atau aspirasi yang mendalam.

6.Sigmund Freud (Psikoanalisis):

  • Dalam perspektif psikoanalisis, Freud menyoroti konsep apatis sebagai mungkin merupakan pertahanan psikologis terhadap konflik batin atau stres emosional. Individu mungkin menjadi apatis sebagai cara untuk menghindari konfrontasi dengan perasaan atau masalah yang sulit.

7.Rollo May (Psikologi Eksistensial):

  • Dalam psikologi eksistensial, Rollo May menyatakan bahwa apatis bisa muncul ketika seseorang kehilangan rasa tujuan atau makna dalam hidup. Ketidakmampuan untuk menemukan makna dapat menghasilkan perasaan kekosongan dan ketidakberdayaan, yang pada gilirannya dapat menyebabkan apatis.

8.Robert E. Park (Sosiologi):

  • Sebagai seorang sosiolog, Robert E. Park mengaitkan apatis dengan konsep “alienasi,” yaitu perasaan terasing atau terpisah dari masyarakat dan lingkungan sosial. Apatis dapat muncul ketika individu merasa tidak terhubung atau tidak memiliki kepentingan pada struktur sosial di sekitarnya.

9.Psychological Bulletin (Jurnal Psikologi):

  • Dalam artikel yang diterbitkan di jurnal psikologi, apatis dapat dijelaskan sebagai kombinasi dari faktor-faktor emosional, kognitif, dan motivasional. Ini dapat mencakup kurangnya minat, perasaan putus asa, atau bahkan ketidakmampuan untuk merespon stimuli lingkungan dengan respons yang sesuai.

10.Albert Bandura (Psikologi Sosial):

  • Dalam konteks psikologi sosial, Albert Bandura menyumbangkan pemahaman tentang bagaimana pengalaman dan observasi terhadap model-model sosial dapat mempengaruhi apatis. Misalnya, melihat orang lain tidak peduli atau apatis dapat membentuk sikap serupa pada individu yang mengamati.

11.Martin Heidegger (Filsafat Eksistensial):

  • Filsuf eksistensial seperti Heidegger menyoroti konsep “angst” atau kecemasan eksistensial sebagai faktor yang dapat menyebabkan apatis. Kecemasan mengenai makna hidup dan eksistensi dapat menghasilkan sikap ketidakberdayaan atau acuh tak acuh.

Karakteristik atau Ciri-Ciri Orang Apatis

Setiap orang yang mengalami kondisi psikologi yang apatis pada umumnya menunjukkan ciri-ciri yang sama, ciri-ciri tersebut antara lain seperti :

  • Kehilangan minat terhadap banyak hal dalam hidupnya.
  • Ketidakpekaan bahkan ketidakpedulian terhadap orang lain maupun lingkungan sekitarnya.
  • Tidak menunjukkan gairah maupun semangat terhadap banyak hal yang dulunya dianggap menarik.
  • Tidak memperdulikan berbagai aspek yang penting dalam kehidupan manusia, baik aspek emosional, sosial, atau kehidupan fisik.

Penyebab Orang Menjadi Apatis

Ada banyak penyebab seseorang akhirnya memiliki sikap apatis, dan biasanya sikap apatis tersebut lahir karena beberapa hal kurang baik dalam pengalaman hidupnya. Beberapa hal yang menjadi penyebab seseorang menjadi apatis antara lain :

  • Hilangnya Rasa Percaya pada Orang Lain

Hilangnya rasa percaya terhadap orang lain biasanya timbul karena seringnya dikecewakan atau dikhianati oleh orang lain, terlebih jika hal tersebut dilakukan oleh orang-orang terdekat yang di percaya atau orang disayangi.

  • Tekanan Emosional
  Pengertian Mahram : Contoh Hubungan Informasi Lengkap

Tekanan emosional bisa saja dialami seseorang yang menerima perilaku yang tidak menyenangkan dari orang lain, seperti menerima diskriminasi atau karena perundungan (bully) secara terus menerus.

  • Hilang Rasa Percaya Diri

Orang yang kehilangan rasa percaya diri kerap kali menjadi apatis. Merasa dirinya tidak lebih baik dari orang lain karena merasa kurang menarik secara fisik. Terlebih jika kekurangan tersebut menjadi bahan cibiran orang lain terhadap dirinya.

  • Tidak Mendapat Kasih Sayang yang Cukup

Kurang kasih sayang juga dapat menjadikan orang bersikap apatis, apa yang dia dapatkan selama ini dijadikan sebuah standar untuk bagaimana harus bersikap kepada orang lain. Bukan hanya bersikap apatis saja, bahkan terkadang bisa bersikap buruk.

Dampak Buruk Sikap Apatis

Sikap apatis yang ada dalam kehidupan manusia, akan merugikan baik diri sendiri maupun orang lain. Mulai dari kehidupan pribadi, sosial dan politik bahkan negara juga akan terpengaruh jika banyak orang bersikap apatis. Di bawah ini adalah dampak buruk sikap apatis dalam kehidupan manusia, diantaranya :

  • Tidak adanya kontrol sosial sebab semua orang tidak berminat pada berbagai hal.
  • Meningkatkan potensi perpecahan di tengah masyarakat karena kurangnya kebersamaan.
  • Menumbuhkan individualisme dalam suatu masyarakat yang berujung ketidakpedulian satu sama lain.
  • Tidak berkembanganya kehidupan untuk menjadi lebih baik karena kurangnya kesadaran atau kepedulian terhadap diri sendiri, orang lain, dan lingkungan sekitar.

Contoh Apatis

Adapun untuk contoh yang menunjukan tindakan apatis di masyarakat. Antara lain sebagai berikut;

  • Tidak Mengikuti Gotong Royong Padahal di Wajibkan oleh Aparatur Desa

Gotong royong menjadi salah satu upaya kerjasama yang dilakukan sebagai upaya melakukan kegiatan sosial tertentu. Dalam hal ini misalnya saja memindahkan rumah ataupun menjaga kebersihan.

Meski demikian, kadangkala ada seseorang yang tidak hadir dengan tanpa alasan. Ketidakhadirannya tersebut pada hakekatnya memiliki pengaruh yang buruk. Hal ini lantaran dapat menular secara langsung kepada orang lain yang tidak memiliki pondasi kuat.

  • Tidak Mengenal Tentangga

Tindakan apatisme yang sangat mudah ditemukan dalam kehidupan sehari-hari misalnya saja seperti tindak mengenal dengan tetangga yang hidup di lingkungan sekitar, alasannya karena malas dan tindak ingin melangsungkan interkasi sosial.

Ciri khas ini sejatinya lebih terlihat pada masyarakat yang hidup di perkotaan. Misalnya saja anak kost yang merantau ataupun seseorang yang mengontrak sementara waktu.

  • Tidak Mengikuti Musyawarah

Musyawarah yang diselenggarakan dalam pengambilan keputusan tertentu bisa dikatakan sebagai bagian daripada kehidupan masyarakat.

Manakala musyawarah diselenggarakan setidaknya setiap orang harus memahami bahwa keputusan tersebut nantinya akan juga dilakukan/dikerjakan, oleh karena itulah ketidak hadirakan dalam musyawarah dengan tanpa alasan bisa dikatakan bagian daripada apatisme.

  • Tidak Memberikan Bantuan Kepada Tentangga Yang Membutuhkan Padahal Mampu Melakukannya

Contoh lainnya dalam tindakan apatisme ini misalnya saja seperti tidak memabantu kepentingan dan keperluan tentangga yang sedang membutuhkan. Padahal sejatinya ia mampu, sehingga prihal ini memberikan dampak untuk dirinya dikemudian hari yang akhirnya menjadi bagian individu yang terisolasi.

  • Mementingkan Tidur daripada Takziah Kematian
  10 Tokoh Penemu Muslim di Dunia Gambar Keterangan

Ketika ada tentangga ataupun saudara yang meninggal dunia sejatinya setiap manusia haruslah hadir sebagai bentuk bela sungkawa kepada sesama. Kehadirannya perlu untuk dilakukan sebagai rasa solidaritas. Meski demikian ketika memilih untuk tidur daripada menghadirinya bisa dikatakan bagian daripada apatisme.

  • Tidak Memilih Membayar Pajak kepada Pemerintah

Penggambaran lainnya yang dianggap sebagai wujud adanya sikap apatis ialah tidak membayar pajak kepada pemerintahan, lantaran menganggap bahwa apa yang didapatkan selama ini dari adanya pemebangunan belum maksimal. Padahal, sejatinya membayar pajak menjadi peruwutan dari adanya rasa kepedulian.

  • Tidak Memilih Saat Pilkada

Pemilu (Pemilihan Umum) yang dilakukan oleh pemerintahan Indonesia selama 5 tahun sekali dalam jenjang tingkatan Presiden, DPR, DPD, dan DPRD bisa dikatakan sebagai bagian daripada hak masyarakat untuk memiliki keterwakilan dalam sistem pemerintahan. Kadangkala karena menganggap bahwa siapa saja yang memerintah tidak mempunyai kesempatan sama, akhirnya apatisme mucul. Tentusaja hal ini bisa dikatakan merugikan.

Cara Penanganan Sifat Apatis

Penanganan sifat apatis melibatkan pendekatan yang holistik dan memperhatikan faktor-faktor psikologis, sosial, dan lingkungan. Berikut adalah beberapa cara yang dapat dipertimbangkan untuk menangani sifat apatis:

  • Identifikasi Penyebab: Penting untuk mengidentifikasi penyebab apatis secara spesifik. Apakah itu disebabkan oleh stres, depresi, kurangnya motivasi, atau masalah lainnya? Memahami akar masalah akan membantu dalam menentukan pendekatan yang sesuai.
  • Konsultasi dengan Profesional Kesehatan Mental: Jika apatis terkait dengan masalah kesehatan mental, seperti depresi atau kecemasan, konsultasi dengan profesional kesehatan mental seperti psikolog atau psikiater dapat memberikan bimbingan dan dukungan yang dibutuhkan.
  • Terapi Psikologis: Terapi kognitif perilaku (CBT), terapi psikoanalisis, atau terapi lainnya dapat membantu individu mengatasi pemikiran negatif atau pola perilaku yang dapat menyebabkan apatis.
  • Dukungan Sosial: Meningkatkan dukungan sosial dapat membantu mengatasi perasaan terasing dan meningkatkan motivasi. Melibatkan diri dalam kegiatan sosial, berbicara dengan teman atau keluarga, dan mencari dukungan dari lingkungan sosial dapat membantu.
  • Pembentukan Tujuan dan Makna: Membantu individu menemukan tujuan dan makna dalam hidup dapat merangsang minat dan motivasi. Proses ini dapat dilakukan melalui eksplorasi nilai-nilai, minat, dan aspirasi individu.
  • Perubahan Lingkungan: Memodifikasi lingkungan fisik atau sosial dapat membantu merangsang perubahan positif. Ini bisa melibatkan perubahan dalam rutinitas harian, lingkungan kerja, atau kehidupan sosial.
  • Aktivitas Fisik: Olahraga dan aktivitas fisik dapat memiliki dampak positif pada kesejahteraan mental. Latihan fisik dapat meningkatkan kadar endorfin, yang dapat mengurangi gejala apatis.
  • Manajemen Stres: Keterampilan manajemen stres, seperti teknik relaksasi, meditasi, atau yoga, dapat membantu mengatasi stres yang dapat menyebabkan apatis.
  • Pembinaan Diri: Fokus pada pengembangan keterampilan pribadi dan pencapaian kecil dapat membantu meningkatkan rasa pencapaian dan motivasi.
  • Perubahan Pola Pikir: Mendorong individu untuk mengidentifikasi dan mengubah pola pikir negatif atau kognitif yang mungkin menyebabkan apatis.

Setiap individu unik, dan pendekatan yang efektif dapat bervariasi tergantung pada penyebab dan konteks apatis tersebut. Penting untuk mencari bantuan profesional jika apatis tersebut sangat mengganggu kehidupan sehari-hari atau berhubungan dengan masalah kesehatan mental yang lebih serius.