Apatis : Pengertian, Penyebab, Ciri, Dampak, Contoh Sikap

Posted on

Secara universal, makna apatis ini adalah sesuatu keadaan psikologis yang mana seorang kehabisan motivasi, tidak paham, acuh tidak acuh ataupun pula tidak perduli terhadap aspek emosional, sosial, ataupun kehidupan raga.

Komentar lain pula terdapat yang berkata penafsiran apatis ialah sesuatu kondisi psikologis yang mana seorang ataupun orang itu tidak perduli terhadap aspek- aspek berarti di dalam kehidupan manusia, semacam aspek emosional, raga, dan kehidupan sosial.

Apatis ini ialah respon universal terhadap stress yang dapat berpusat terhadap objek tertentu, misalnya yakni kepada seorang, kegiatan, ataupun pula area. Perilaku apatis kerap dihubungkan dengan tekanan mental, dan dapat pula ini ialah refleksi atas kurang berminatnya seorang itu terhadap hal- hal yang dikira tidak berarti.

Pengertian Apatis

Definisi Apatis merupakan suatu keadaan psikologis dimana seorang tidak paham serta berlagak acuh tidak acuh ataupun tidak perduli terhadap aspek emosional, sosial, ataupun raga yang berhubungan dengan kehidupan sosial manusia.

Apatis merupakan suatu respon universal terhadap stress yang bisa berpusat terhadap sesuatu objek tertentu, contohnya semacam kepada manusia ataupun kepada kegiatan yang terdapat di lingkungannya.

Perilaku yang demikian masih berkaitan dengan tekanan mental, cuma saja ditunjukkan dengan perilaku cuek ataupun kurang berminatnya seorang terhadap hal- hal yang baginya tidak berarti.

Definisi Apatis Menurut Para Ahli

Untuk dapat lebih memahami mengenai arti apatis, mari kita kita pengertian apatis menurut pandangan para ahli berikut ini, diantaranya :

  • Littre dan Robin

Littre dan Robin menjelaskan bahwa dalam ilmu kedokteran sikap apatis adalah kondisi psikologis dimana seseorang sudah memiliki ketumpulan moral, bahkan hingga tidak sensitif terhadap kesenangan dan rasa sakit.

  • Luis Rey
Baca :  Pengertian Contoh Cara hemat Energi Listrik Gambar Penjelasan

Luis Rey menjelaskan bahwa dalam bidang ilmu psikologi, arti apatis adalah kondisi kejiwaan dimana seseorang menunjukkan ketidaktertarikan, ketidakpedulian dan ketidakpekaan terhadap kehidupan sosial, emosional, atau fisik.



  • Albertine Minderop

Albertine Minderop menjelaskan bahwa arti apatis adalah sebuah sikap dimana seseorang menarik diri dan seolah-olah pasrah pada keadaan.

  • Fritz Solmitz

Fritz Solmitz menjelaskan bahwa arti apatis adalah suatu ketidakpedulian seseorang karena tidak memiliki minat khusus terhadap aspek-aspek tertentu, seperti aspek fisik, emosional, dan kehidupan sosial.

Karakteristik atau Ciri-Ciri Orang Apatis

Setiap orang yang mengalami kondisi psikologi yang apatis pada umumnya menunjukkan ciri-ciri yang sama, ciri-ciri tersebut antara lain seperti :

  • Kehilangan minat terhadap banyak hal dalam hidupnya.
  • Ketidakpekaan bahkan ketidakpedulian terhadap orang lain maupun lingkungan sekitarnya.
  • Tidak menunjukkan gairah maupun semangat terhadap banyak hal yang dulunya dianggap menarik.
  • Tidak memperdulikan berbagai aspek yang penting dalam kehidupan manusia, baik aspek emosional, sosial, atau kehidupan fisik.

Penyebab Orang Menjadi Apatis

Ada banyak penyebab seseorang akhirnya memiliki sikap apatis, dan biasanya sikap apatis tersebut lahir karena beberapa hal kurang baik dalam pengalaman hidupnya. Beberapa hal yang menjadi penyebab seseorang menjadi apatis antara lain :

  • Hilangnya Rasa Percaya pada Orang Lain

Hilangnya rasa percaya terhadap orang lain biasanya timbul karena seringnya dikecewakan atau dikhianati oleh orang lain, terlebih jika hal tersebut dilakukan oleh orang-orang terdekat yang di percaya atau orang disayangi.

  • Tekanan Emosional

Tekanan emosional bisa saja dialami seseorang yang menerima perilaku yang tidak menyenangkan dari orang lain, seperti menerima diskriminasi atau karena perundungan (bully) secara terus menerus.

  • Hilang Rasa Percaya Diri

Orang yang kehilangan rasa percaya diri kerap kali menjadi apatis. Merasa dirinya tidak lebih baik dari orang lain karena merasa kurang menarik secara fisik. Terlebih jika kekurangan tersebut menjadi bahan cibiran orang lain terhadap dirinya.

  • Tidak Mendapat Kasih Sayang yang Cukup
Baca :  20 Sekolah kedinasan di Indonesia,Cara Pendaftaran

Kurang kasih sayang juga dapat menjadikan orang bersikap apatis, apa yang dia dapatkan selama ini dijadikan sebuah standar untuk bagaimana harus bersikap kepada orang lain. Bukan hanya bersikap apatis saja, bahkan terkadang bisa bersikap buruk.

Dampak Buruk Sikap Apatis

Sikap apatis yang ada dalam kehidupan manusia, akan merugikan baik diri sendiri maupun orang lain. Mulai dari kehidupan pribadi, sosial dan politik bahkan negara juga akan terpengaruh jika banyak orang bersikap apatis. Di bawah ini adalah dampak buruk sikap apatis dalam kehidupan manusia, diantaranya :

  • Tidak adanya kontrol sosial sebab semua orang tidak berminat pada berbagai hal.
  • Meningkatkan potensi perpecahan di tengah masyarakat karena kurangnya kebersamaan.
  • Menumbuhkan individualisme dalam suatu masyarakat yang berujung ketidakpedulian satu sama lain.
  • Tidak berkembanganya kehidupan untuk menjadi lebih baik karena kurangnya kesadaran atau kepedulian terhadap diri sendiri, orang lain, dan lingkungan sekitar.

Contoh Apatis

Adapun untuk contoh yang menunjukan tindakan apatis di masyarakat. Antara lain sebagai berikut;

  • Tidak Mengikuti Gotong Royong Padahal di Wajibkan oleh Aparatur Desa

Gotong royong menjadi salah satu upaya kerjasama yang dilakukan sebagai upaya melakukan kegiatan sosial tertentu. Dalam hal ini misalnya saja memindahkan rumah ataupun menjaga kebersihan.

Meski demikian, kadangkala ada seseorang yang tidak hadir dengan tanpa alasan. Ketidakhadirannya tersebut pada hakekatnya memiliki pengaruh yang buruk. Hal ini lantaran dapat menular secara langsung kepada orang lain yang tidak memiliki pondasi kuat.

  • Tidak Mengenal Tentangga

Tindakan apatisme yang sangat mudah ditemukan dalam kehidupan sehari-hari misalnya saja seperti tindak mengenal dengan tetangga yang hidup di lingkungan sekitar, alasannya karena malas dan tindak ingin melangsungkan interkasi sosial.

Ciri khas ini sejatinya lebih terlihat pada masyarakat yang hidup di perkotaan. Misalnya saja anak kost yang merantau ataupun seseorang yang mengontrak sementara waktu.

  • Tidak Mengikuti Musyawarah
Baca :  Pengertian HAM Hak Asasi Manusia menurut para ahli

Musyawarah yang diselenggarakan dalam pengambilan keputusan tertentu bisa dikatakan sebagai bagian daripada kehidupan masyarakat.

Manakala musyawarah diselenggarakan setidaknya setiap orang harus memahami bahwa keputusan tersebut nantinya akan juga dilakukan/dikerjakan, oleh karena itulah ketidak hadirakan dalam musyawarah dengan tanpa alasan bisa dikatakan bagian daripada apatisme.

  • Tidak Memberikan Bantuan Kepada Tentangga Yang Membutuhkan Padahal Mampu Melakukannya

Contoh lainnya dalam tindakan apatisme ini misalnya saja seperti tidak memabantu kepentingan dan keperluan tentangga yang sedang membutuhkan. Padahal sejatinya ia mampu, sehingga prihal ini memberikan dampak untuk dirinya dikemudian hari yang akhirnya menjadi bagian individu yang terisolasi.

  • Mementingkan Tidur daripada Takziah Kematian

Ketika ada tentangga ataupun saudara yang meninggal dunia sejatinya setiap manusia haruslah hadir sebagai bentuk bela sungkawa kepada sesama. Kehadirannya perlu untuk dilakukan sebagai rasa solidaritas. Meski demikian ketika memilih untuk tidur daripada menghadirinya bisa dikatakan bagian daripada apatisme.

  • Tidak Memilih Membayar Pajak kepada Pemerintah

Penggambaran lainnya yang dianggap sebagai wujud adanya sikap apatis ialah tidak membayar pajak kepada pemerintahan, lantaran menganggap bahwa apa yang didapatkan selama ini dari adanya pemebangunan belum maksimal. Padahal, sejatinya membayar pajak menjadi peruwutan dari adanya rasa kepedulian.

  • Tidak Memilih Saat Pilkada

Pemilu (Pemilihan Umum) yang dilakukan oleh pemerintahan Indonesia selama 5 tahun sekali dalam jenjang tingkatan Presiden, DPR, DPD, dan DPRD bisa dikatakan sebagai bagian daripada hak masyarakat untuk memiliki keterwakilan dalam sistem pemerintahan. Kadangkala karena menganggap bahwa siapa saja yang memerintah tidak mempunyai kesempatan sama, akhirnya apatisme mucul. Tentusaja hal ini bisa dikatakan merugikan.


Bagikan di Sosial Media