100 Kumpulan Puisi Ibu Menyentuh Hati Bait Panjang dan Pendek

Posted on

Ibu ialah seseorang yang paling menyukai kita di dunia ini. Pengorbanannya guna kita sungguhlah luar biasa. Bahkan sebesar apapun pengorbanan yang saya dan anda lakukan untuk beliau, tersebut tidak terdapat bandingannya dengan pengorbanan seorang ibu untuk anaknya.

Ibu ialah tempat anda bersandar di ketika kita lagi terpuruk dalam menjalani hidup ini. Tapi terkadang di ketika kita mendapat kebahagiaan, anda lupa berbagi dengan ibu. Padahal dari suatu do’a ibu lah anda diberi anugrah kebahagiaan itu oleh Tuhan.

Bahkan semua ustadz bilang, bahwa restu/ridho Allah tersebut tergantung dari restunya orang tua, khususnya ibu.Ibu akan mengerjakan apapun supaya bisa menyaksikan anaknya meraih keberhasilan dan kesuksesan.

Bahkan dengan taruhan nyawanya sekalipun. Karena kemauan dan asa seorang ibu ialah melihat anaknya dapat jadi orang yang sukses dan berhasil tanpa menginginkan imbalan apapun dari anaknya.Jadi buatlah ibu anda bangga dan bahagia menyaksikan kita berhasil dan sukses kelak.

BUNDAKU SAYANG

Engkau s’lalu ada untuku…
Menemaniku dalam suka dan duka..
Menemani hari-hari ceriaku…Bunda……
Engkau s’lalu membimbingku..
Mengajariku untuk berahlak mulia..Dalam keseharianku….Bunda ….
Engkau bagai malaikat bagiku…
Engkau juga sahabat bagiku…
Ketulusan yang ada dalam dirimu….
Membuat aku bangga pada dirimuBunda…
Aku s’lalu menyayangimu
Jasamu takakan pernah bisa terbalas oleh ku…
Namun aku akan berusaha menjadi anak kebanggaan mu…..

BAGAI MALAIKAT TANPA SAYAP

Engkau inspirasiku..
Aku berkelena ke ujung dunia
Bayangmu selalu ada disampingku
Secerca harapan darimuKu jadikan pedoman di setiap langkahku
Dalam doamu selalu tersebut namaku
Kau tameng dalam hidupku
Kau penyemangat terbaik dalam hidupkuKau bagai malaikat tanpa sayap untukku
Engkau segalanya untukku
Aku tanpamu bagai angin tanpa arah
Engkau bagai lautan samudera
Tempat mencurahkan segala kegundahan hatiIbu…Terimakasih atas kasih sayangmu
Terimakasih atas perjuanganmu
Terimakasih atas perhatianmu
Terimakasih atas setiap tetesan keringat yang tercurah untuk anakmu
Terimakasih atas pengorbananmuIbu..Maafkan amarahku
Maafkan keegoisanku
Maafkan kenakalanku
Maafkan aku atas airmatamu

Ibu.. engkau cahaya penerang dalam hidupku
Jika orang bertanya padaku siapa pahlawanku? Pastilah engkau Ibu jawbanku..

SAATKU MENUTUP MATA

Saat ku menutup mata bunda…
Aku tak ingin mata itu melihat ku dengan penuh air…..
Saat ku menutup mata bunda…
Aku tak ingin hati itu seakan tergores…..
Saat ku menutup mata bunda…
Aku ingin bibir itu terseyum…..
Aku tidak ingin engkau terluka…..Bunda…
Mungkin ini adalah lihatan yang sangat bagimu…….
Tapi aku tak ingin melihat dengan seakan tak sanggub melepaskanku….Bunda….
Aku hanya ingin engkau merelakan ku…..
Dan mengantar kan aku pulang ke rumah ku dengan senyum mu…Saat ku menutup mata bunda….
Aku ingin kau tau bahwa ku…
Menyayangimu….
Bahwa ku …
Mencintai mu….
Aku bahagia bisa jadi anak mu….

BUNDA DALAM CAHAYA

Dia wanita bernama cahaya
Hatinya memancar
Tergurat dalam doa-doa
Tangan Kecilnya mengantar kami
di gerbang cahaya

Dia berjalan dengan cinta
Dia berjalan menerjang luka
Bahkan dia menempuh tanpa
batas rasa

Dia-lah Ibu dari segala cahaya
Ibu dari semua luka kami
Ibu dari Jejak yang terukir
dalam tinta sejarah

MATA AIR CINTA

Ibu…
Memelukmu adalah kenyamananku
Melukis senyummu adalah keinginanku
Mencintaimu sudah tentu kewajibanku

Namun terkadang
Melawanmu menjadi kebiasaanku
Bahkan ku menyiakanmu dan
Melupakanmu sebagai seorang ibu
Tanpa kusadari begitu teririsnya hatimu

Harusnya aku menjadi pelindung
Bukan menjadi anak yang tak tahu untung
Harusnya aku menjadi anak yang penurut
Bukan menjadi anak yang banyak nuntut

Aku masih sangat ingat
Ketika itu tak ada biaya untuk berangkat
Dari kampung menuju perkotaan yang padat
Waktu itu hujan begitu lebat
Kakimu kau paksa menapak
Hanya bermodal payung rusak
Ibu menjelajah rumah ke rumah dengan hati terisak

Tak peduli petir menyambar
Ibu tetap berjalan dengan sabar
Meski tubuhmu sudah gemetar
Ibu masih mengetuk pintu warga sekitar

Terimakasih sang pencipta
Kau beri aku seorang wanita tangguh
Yang selalu mengusap air mata
Ketika ku dilanda derita
Yang punya hati sebening permata
Dan yang menjadi mata air cinta

  Pengertian Contoh Recount Text Fungsi Macamnya

BOCAH NAKAL

Ku tatap wajahmu di keremangan malam
Wajah tuamu yang mulai kusam
Kulihat dengan jelas kerut keningmu
Yang dulu tak pernah tampak

Tanganmu yang kuat
Kian lemah seiring usia
Langkah mu yang dulu tegap
Kini rapuh dan membungkuk

Maafkan aku ibu
Di saat semua orang berfikir aku telah dewasa
Aku masih jadi bocah nakal pembuat ulah
Aku masih menyuguhkanmu cerita duka

Yang kelak akan jadi gurauan manja
Kala aku jadi anakmu yang berguna

TANGISAN AIR MATA BUNDA

Dalam senyummu kau sembunyikan lelahmu
Derita siang dan malam menimpamu
tak sedetik pun menghentikan caramu
Untuk bisa memberi harapan baru bagiku

Seonggok cacian selalu menghampirimu
secerah hinaan tak perduli bagimu
selalu kau teruskan cara untuk masa depanku
mencari harapan baru kembali bagi anakmu

Bukan setumpuk Emas yang kau menginginkan di dalam kesuksesanku
bukan gulungan duit yang kau minta di dalam kesuksesanku
bukan juga sebatang perunggu di dalam kemenanganku
tapi permohonan hatimu membahagiakan aku

Dan yang selalu kau berkata terhadapku
Aku menyayangimu saat ini dan pas aku tak kembali bersama denganmu
aku menyayangimu anakku bersama dengan ketulusan hati ku.

PUISI PULANGLAH IBU

Tubuhmu kaku…
Matamu kaku…
Mulutmu membisu…
Nafasmu terhenti sudah…

Aku tahu…
Ibu telah pergi ke alam sana…
Yang tak pernah ada dalam bayanganku…
Juga ku dengar bisikan…

Oh Ibu…
Tak lama ibu telah terkubur ditanah merah…
Hanya sendiri…
Dukaku ibu pasti tau menjalar sekujur tubuh…
Biarlah ibu pulanglah dengan tenang.
Pernah aku ditegur
Katanya untuk kebaikan
Pernah aku dimarah
Katanya membaiki kelemahan
Pernah aku diminta membantu
Katanya supaya aku pandai

Ibu…
Pernah aku merajuk
Katanya aku manja
Pernah aku melawan
Katanya aku degil
Pernah aku menangis
Katanya aku lemah

Ibu…
Setiap kali aku tersilap
Dia hukum aku dengan nasihat
Setiap kali aku kecewa
Dia bangun di malam sepi lalu bermunajat
Setiap kali aku dalam kesakitan
Dia ubati dengan penawar dan semangat
Dan Bila aku mencapai kejayaan
Dia kata bersyukurlah pada Tuhan
Namun…
Tidak pernah aku lihat air mata dukamu
Mengalir di pipimu
Begitu kuatnya dirimu…

Ibu….
Aku sayang padamu…
Tuhanku…
Aku bermohon padaMu
Sejahterakanlah dia
Selamanya…

MAAFKAN AKU, IBU

Akulah sang pengukir mimpi
Yang menghendaki pergi berasal dari sunyi
Yang hanyut oleh gelisah
Dan ditelan rasa bersalah
Ibu, kaulah matahariku
Terang dalam gelapku

Kau tuntun aku di jalur berliku
Yang penuh oleh batu
Ucapanmu bagaikan kamus hidupku
Aku berteduh dalam naungan do’amu
Memohon ampunan darimu

Karena ridho Allah adalah ridhomu
Aku senang memilikimu Ibu
Karena engkau sinar hidupku
Kaulah kunci berasal dari kesuksesanku
Ibu, maafkan aku

UNTUK IBU

Ibu…
Maaf jika aku selalu membuatmu sakit selama 9 bulan berada di perutmu
Ibu…
Maaf jika aku selalu menangis saat aku lapar dan haus
Ibu…
Maaf jika aku selalu merepotkanmu disaat aku belajar berjalan
Ibu…
Terima kasih selalu mendengarkan ocehanku saat aku mulai bisa berbicara
Ibu…

Aku kini telah menjadi dewasa
Maaf jika aku tak pernah ada waktu untukmu
Maaf jika aku membuatmu merasa kesepian tanpa perhatian dariku
Aku pun tak pernah bisa membalas semua kasih sayangmu sejak aku di kandunganmu
Sampai akhirnya aku tersadar kau telah tiada

Aku selalu berdoa untukmu ibu
Orang yang selalu mencintaiku dgn tulus
Tak pernah aku menyesal hidup dari rahim mu
Dengan cinta dan kasihmu aku tumbuh dewasa seperti ini

Yaallah, dekatkan selalu dia di sisimu
Yaallah, berilah dia tempat terindah di surgamu
Karna kami sangat mencintainya
Terimakasih kasih ibu untuk cintamu yang tlah kau berikan padaku selama ini

Dari anakmu tercinta
ILOVEYOU IBU

RINDU IBU

Wajah lembut penuh kasih sayang
Senantiasa menemani di saat ketakutan
Selalu ada di saat aku menangis kesakitan
Tak pernah lelah hadapi kenakalan demi kenakalan yang kubuat
Hanya tersenyum ketika semua orang memarahiku

Ibu
Aku merindukan saat-saat itu lagi
Aku menginginkan kau temani aku lagi seperti dulu
Semenjak ibu tiada
Tak ada lagi yang mampu menopang hidup ku
Rasanya tak sanggup aku berdiri

Bu, aku sungguh belum siap hadapi dunia yang kejam ini tanpamu
Bahkan aku tak pernah mencoba hidup tanpamu
Bu, apa ibu marah padaku?
Apa aku sudah terlalu menyusahkanmu?
Apa ibu sudah benar-benar lelah?
Semenjak terakhir kepergianmu, ibu tak pernah lagi datang
Tak pernah sekalipun walau hanya didalam mimpi

  Apresiasi terhadap Seni Rupa Terapan Nusantara

Ibu
Aku ingin bertemu hanya sekejap saja
Belum sempat kuucapkan terima kasihku
Belum sempat ku katakan aku sangat mencintai ibu

Bu, ku mohon datang sebentar saja
Peluk aku dan katakana ibu juga sangat menyayangiku
Aku sungguh sangat merindukan ibu

PUISI IBU

Di punggungmu ku bersandar dari rasa lelahku
Di pelukanmu ku berbaring dari rasa sesalku
Telah jauh jarak yang memisahkan kita
Membentang kerinduan di dalam hati

Aku merindukanmu bunda
Telah kucoba mengumpulkan keindahan dunia
Untuk ganti kehadiranmu
Telah kucoba mencari yang terbaik
Untuk mengisi kerinduanku
Namun semua itu tiada guna
Karena kau tidak bisa tergantikan juga

Aku merindukanmu bunda
Dunia takkan mampu menggantikanmu
Dunia takkan bisa mengusikmu
Hanya kau bunda yang selalu didalam hatiku
Hanya kau bunda yang selalu ada di dalam kepalaku

Aku merindukanmu bunda
Dunia pun tidak berarti dengankehadiranmu
Dunia tidak bisa menopang hati
Dan luasnya kasih sayangmu
Karena kau lah yang memperintah hidupku
Begitu indah setiap detik dalam pelukanmu
Begitu indah setiap detik di dalam pangkuanmu

Aku merindukanmu bunda
Rasa rinduku padamu takkan bisa dikalahkan waktu
Rasa sayangku padamu tidak akan bisa dikalahkan jarak
Aku akan menemuimu
Segera setelah menyelesaikan tugas-tugasku

JASA SEORANG IBU

Ibu…
kau membimbingku selama satu tahun
kau begitu baik padaku walaupun aku suka marah-marah

Ibu…
kau begitu ceria dan rajin berasal dari terhadap guru yang lain
Ibu…
kau yang pintar, baik, ramah, cantik, dan sopan

Ibu…
kalau aku sebabkan keliru tolong maafkan aku
karena aku cuma kesal karna aku selalu diejek

Ibu…
kalau aku kembali sedih kau menghibur aku
kalau aku kembali kesal kau menghiburku

Ibu…
terimakasih atas jasa-jasamu jikalau aku
masih sempat bertemu bersama dengan ibu
aku amat inginkan memeluk ibu

“Bunga Kasih Ibu”

Di pelukmu, dunia berhenti berputar,
Ibu, bunga kasih nan abadi.
Judul puisi ini, hiasi di hati,
Sebuah penghargaan untukmu, sang penjaga.

Pelita hati yang takkan pudar,
Dalam senyummu, cahaya abadi.
“Bunga Kasih Ibu” kumuliakan,
Sepenuh hati, hiasi puisi ini.

Penuh kasih dalam setiap hembusan nafas,
Engkau, ibu, penuntun setia.
Judul puisi ini seiring dengan rindu,
Rindu pada hangatnya belaianmu.

Bunga kasih nan harum mekar,
Dalam pelukanmu, setiap luka sembuh.
“Bunga Kasih Ibu” merdu di jiwa,
Sebuah puisi untukmu, ibu tercinta.

“Ratapan Kasih Ibu”

Di hening malam yang penuh cinta,
Terukir wajahmu dalam cahaya bulan.
Ibu, tukang pelukis rasa,
Mengisi hidupku dengan warna kelembutan.

Di pelukanmu, terasa hangatnya surga,
Dalam lelahmu, tersimpan banyakkasih.
Ibu, pahlawan tak bernama,
Berjuang tanpa pamrih, setulus hati.

“Ratapan Kasih Ibu” namamu yang agung,
Sebuah lagu dalam setiap langkah.
Kau bagai bunga yang tak pernah layu,
Di taman hati, kau bersinar begitu indah.

Di dalam doamu, aku merajut mimpi,
Mimpi indah di tengah malam yang sepi.
Engkau adalah pelita dalam kegelapan,
Ibu, engkaulah sinar abadi di dalam hati.

Terima kasih, Ibu, atas segala pengorbanan,
Sebuah puisi untukmu, takkan pernah cukup.
Ratapan kasih ini, menyatu dalam doa,
Ibu, di setiap detak jantung, namaMu selalu kucinta.

“Kasih Ibu, Menyinari Hidupku”

Di antara bintang-bintang malam yang bersinar,
Terhampar kasih, dalam sentuhan Ibu tercinta.
Dalam pelukanmu, dunia jadi nyaman,

Wajah lelahmu penuh arti,
Cermin perjuangan, yang tak terungkap kata.
Kau adalah sang pahlawan tanpa tanda jasa,
Karya terindah, sebuah puisi tak terkata.

Tangan halusmu mengajariku jalan,
Di setiap langkah, kelembutanmu terasa.
Kau tak pernah lelah, meski malam berganti pagi,

Dalam cahaya bulan yang memeluk bumi,
Kukenang kasihmu, tanpa batas dan kias.
Engkau adalah pelita dalam kegelapan,

Terima kasih, Ibu, tak terhingga,
Puisi ini hanya sedikit ungkapan.
Judulnya sebagai penghormatan,

“Melodi Kasih Ibu”

Di antara senja yang merayap perlahan,
Terpancar kasih dalam sepasang mata.
Ibu, engkau sinar dalam kegelapan,
Judul cinta, yang tak pernah terkalahkan.

Dalam peluk hangatmu, dunia terasa tenteram,
Ibu, pahlawan tanpa tanda jasa di pundak.
Judul kisah hidupmu, epik nan agung,
Melodi kasihmu, merdu dalam hati.

Wajahmu penuh tanda waktu,
Namun pancaran kelembutan tak terkalahkan.
Judul pengorbanan, terpahat di setiap garis,
Ibu, penjaga rahasia di malam sunyi.

Dalam lagu luhur yang engkau nyanyikan,
Judulnya tak lain hanyalah “Ibu”.
Melodi kasih yang tak tergantikan,
Menyatu dalam harmoni kehidupan.

Oh, ibu, engkaulah pahlawan sejati,
Dalam judul kasih, tak ada yang kalah.
Melodi indahmu terukir dalam hati,
Sebagai pujaan dalam puisi kehidupan ini.

“Kasih Ibu, Sinar Terang Hidupku”

Di sepanjang jalan waktu yang panjang,
Terhampar kisah kasih yang abadi.
Ibu, engkau pemilik hati yang suci,
Puisi ini kupersembahkan untukmu.

  Pengertian AMDAL Tahapan Tujuan Manfaat Jenis Contoh Tahapan Lengkap

Judulnya sebuah sinar terang,
Kasih ibu, pancaran cahaya di kehidupanku.
Engkau pahlawan tanpa tanda jasa,
Mengajarkan arti cinta sejati.

Langkahku diiringi doamu,
Terbangun dari mimpi-mimpi indah.
Di malam gelap atau pagi yang cerah,
Engkau tetap pelindung setia.

Saat ku jatuh dan tak mampu bangkit,
Ibumu datang, mengangkatku dengan lembut.
Kasihmu tak terhingga, seperti lautan yang luas,
Terukir dalam kalbu, tak terhapus oleh waktu.

Oh, ibu, bagaimana kata-kata bisa cukup,
Untuk mengungkap betapa besarnya rasa syukur?
Judul puisi ini hanyalah sekelumit doa,
Agar kasihmu selalu menyinari hidupku.

“Elegi Untuk Ibu”

Di peluk asmara waktu yang berlalu,
Terhanyut dalam sentuhan kasihmu.
Ibu, pelita di malam kelam,
Judul mulia dalam puisi hatiku.

Kau, pembentuk impian di malam sunyi,
Bimbingan cinta, tiada lelah hingga nanti.
Wajah lelah, tersirat kekuatan,
Dalam matamu, dunia kujumpai cinta sejati.

Judul puisi ini takkan cukup besar,
Untuk ungkapkan betapa agung kasihmu.
Karya tak ternilai, ibu penuh keindahan,
Di syair ini, doa dan cinta mekar indah.

Engkau, taman bunga di khatulistiwa hati,
Puisi ini, ungkapan terima kasih tanpa batas.
Judul terhormat, untukmu, ibu tercinta,
Dalam bait-bait cinta, syukur terucap abadi.

“Perjalanan Cinta Abadi”

Di setiap langkah langmu, Ibu,
Terukir kisah cinta abadi.
Judulnya, nyala lilin suci,
Menyinari jalan yang tak terbatas.

“Ratu Hati yang Abadi”

Oh, Ibu, ratu hati yang abadi,
Di relung jiwamu, cinta tak terhingga.
Judul puisi ini, melambangkan
Kelembutan dalam setiap kasihmu.

“Dewi Pengasuh Dunia”

Ibu, dewi pengasuh dunia,
Kau corakkan warna-warna kehidupan.
Judul puisi, penghormatan tulus,
Bagi sosok yang tak pernah ternilai.

“Purnama Kasih Ibu”

Purnama bersinar di malam hatimu,
Cahayanya, sentuhan kasihmu.
Judul puisi ini, sujud syukur,
Untukmu, Ibu, purnama kasih abadi.

“Dewi Kasih Ibu”

Di balik tirai waktu yang berjalan,
Sebuah kisah indah terukir dalam rasa.
“Dewi Kasih Ibu,” begitu kumuliakan,
Puisi cinta, dalam hati selalu bersarana.

Dewi kasih tak kenal lelah,
Menyulam benang kasih di setiap detak.
Ibunda, engkau sinar di kegelapan malam,
Menyinari hati, bagai bintang yang tak pernah redup.

Pelukmu hangat, seperti embun pagi,
Membasahi keringnya hati yang terluka.
Jejak langkahmu, petunjuk hidup yang pasti,
Begitu dalam, tak tergantikan oleh yang lain.

Wajahmu bagai pelita di tengah malam,
Menerangi lorong kehidupan yang gelap.
“Dewi Kasih Ibu,” doa terucap dalam nyanyian,
Semoga engkau bahagia di taman cinta abadi.

Dalam pelukanmu, dunia terasa tenang,
Seperti damai yang mengalir dalam sungai.
“Dewi Kasih Ibu,” judul suci nan indah,
Melambangkan kebesaran kasih sepanjang masa.

“Kasih Ibu Abadi”

Di alam yang sunyi, di sisi malam,
Berkilau bintang, nyanyian kasih ibu.
Sebuah puisi untukmu, ibu tercinta,
Judulnya tak lain, “Kasih Ibu Abadi.”

Dalam pelukmu, dunia bertasbih,
Wajah lelahmu, taburan bintang-bintang.
Kau adalah matahari dalam kegelapan,
Judul puisi ini, tak lebih, tak kurang.

Kasihmu, ibu, tak terukur kata,
Sebuah sinar di setiap langkah perjalanan.
Dalam tawa dan tangisan, kau tegar,
“Kasih Ibu Abadi,” sungguh, tak ternilai harta.

Bunga-bunga mekar di taman hatimu,
Bibirmu melantunkan lagu kasih yang suci.
Judul puisi ini, jadi saksi bisu,
Bahwa kasih ibu, abadi dan tiada tanding.

“Sang Permaisuri Hati”

Di lautan waktu yang tak berhenti,
Terhampar kisah indah tentangmu, Ibu.
Sebuah puisi dari alam batin,
Merayakan keagungan kasih yang suci.

Sang permaisuri hati, jelita dan tulus,
Tak tergantikan pesona kasih ibu.
Dalam senyumu, dunia terang benderang,
Di pelukmu, terasa damai dan hangat.

Engkau adalah matahari di pagi hari,
Menerangi jalanku, memberi sinar terang.
Bibirmu melantunkan lagu-lagu kasih,
Membuat hati ini terhanyut dalam harmoni.

Ibu, engkaulah pelita di malam gulita,
Menuntun langkah dengan kelembutan tangan.
Kasihmu bagaikan bunga mekar di musim semi,
Menghiasi hidupku, memberi warna pada hariku.

Dalam doa-doa yang engkau panjatkan,
Terukir harapan untuk anak-anakmu.
Sang ibu, pahlawan tanpa tanda jasa,
Terima kasih untuk kasih tak terhingga.

“Sang Pemeluk Kasih”

Di sudut hatiku ada sejuta cerita,
Diceritakan oleh sentuhan ibu tersayang.
Dalam pelukan hangatmu, dunia terang benderang,
Engkau, sang pemeluk kasih, di setiap detik yang berlalu.

Wajahmu bagai bulan purnama berseri,
Menyinari malam gelap dalam hidupku.
Bibirmu lembut menyusuri doa-doa,
Mengalirkan harapan, menyentuh hati yang resah.

Ibu, engkau pahlawan tanpa tanda jasa,
Menyulam kasih dalam setiap langkah.
Tak kenal lelah, tak terhitung waktu,
Hanya untuk cinta, ibu terus berkorban.

Di balik senyummu, terukir pelajaran,
Kelembutanmu menyiratkan kekuatan.
Kau adalah pohon yang tegar berdiri,
Memberi naungan dalam derasnya badai.

Dalam pelukanmu, terasa damai,
Seolah dunia hanya ada kita berdua.
Saat hatiku gelisah dan ragu,
Engkau datang dengan senyuman penuh cahaya.

Oh, ibu, engkaulah bintang dalam gelap,
Pemandu jalan di setiap liku kehidupan.
Dalam puisi ini, kusyukuri kehadiranmu,
“Sang Pemeluk Kasih,” wahai ibu tercinta.