Pengertian, Tujuan, Manfaat, Pendidikan Karakter

Pengertian, Tujuan, Manfaat, Pendidikan Karakter – Secara umum, persoalan edukasi karakter bukanlah adalahmasalah baru. Istilah edukasi karakter, pada dasarnya sudah lahir bersamaan dengan kelahiran istilah pendidikan, karena pendidikan tersebut sendiri ialah untuk mengembangkan karakter.

Secara khusus, pada sistem edukasi di negeri ini, ada mata latihan yang menekankan pada hakikat dari edukasi karakter yakni, budi pekerti, aqidah/akhlaq, edukasi agama, edukasi pancasila dll. yang tujuannya untuk menyusun atau kerangka dalam edukasi karakter tersebut sendiri.
Sedangkan secara akademik, edukasi karakter dimaknai sebagai edukasi nilai, edukasi budi pekerti, edukasi moral, edukasi watak yang tujuanya guna mengembangkan kemampuan untuk peserta didik guna dapat menyerahkan keputusan baik-buruk, merawat apa yang baik itu, dan mewujudkan kebaikan tersebut dalam kehidupan keseharian dengan sepenuh hati.

Sehingga dalam muatan edukasi karakter secara psikologis merangkum dimensi moral reasoning, moral feeling, dan moral behaviour atau dalam makna utuh sebagai morality yang merangkum baik yang mempunyai sifat prohibition-oriented morality maupun secara pro-social morality.
Secara pedagogis, edukasi karakter ialah dikembangkan dengan merealisasikan holistic approach, dengan definisi bahwa edukasi karkater efektif tidak dimasukkan kedalam program atau set dari program.

Pengertian Pendidikan Karakter

Pengertian pendidikan yang terbagi ke dalam dua istilah yang hampir sama dan sering digunakan yakni Paedagogie dan paedagigiek. Paedagogie berarti pendidikan, sedangkan paedagogiek berarti ilmu pendidikn. Istilah tersebut berasal dari katak pedagogia yang dalam bahasa yunani berarti pergaulan dengan anak-anak.

Secara sederhana, pengertian pendidikan adalah sebagai usaha manusia untuk menumbuhkan dan mengembangkan potensi-potensi pembawaan, baik jasmani maupun rohani sesuai dengan nilai-nila yang terdapat dalam masyarakat dan kebudayaan.

Menurut Undang (UU) Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) No. 20 Tahun 2003 pasal 1 ayat 1 dalam tim redaksi sinar grafika (2003: 2) disebutkan bahwa : Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Pengertian Pendidikan Menurut Undang – Undang dan Para Ahli

  • UU Sisdiknas

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara.

  • Carter V. Good

Pendidikan adalah proses perkembangan kecakapan seseorang dalam bentuk sikap dan prilaku yang berlaku dalam masyarakatnya. Proses sosial dimana seseorang dipengaruhi oleh sesuatu lingkungan yang terpimpin (khususnya di sekolah) sehingga iya dapat mencapai kecakapan sosial dan mengembangkan kepribadiannya.
Pendidikan Menurut Godfrey Thomson
Pendidikan adalah pengaruh lingkungan atas individu untuk menghasilkan perubahan yang tepat didalam kebiasaan tingkah lakunya, pikiranya dan perasaannya.

  • UNESCO

UNESCO menyebutkan bahwa: “education is now engaged is preparinment for a tife
Society which does not yet exist” atau bahwa pendidikan itu sekarang adalah untuk mempersiapkan manusia bagi suatu tipe masyarakat yang masih belum ada. Konsep system pendidikan mungkin saja berubah sesuai dengan perkembangan masyarakat dan pengalihan nilai-nilai kebudayaan (transfer of culture value). Konsep pendidikan saat ini tidak dapat dilepaskan dari pendidikan yang harus sesuai dengan tuntutan kebutuhan pendidikan masa lalu,sekarang,dan masa datang.

  • Thedore Brameld

‘’Education as power means copetent and strong enough to enable us,the majority of people,to decide what kind of a world‘’. (Pendidikan sebagai kekuatan berarti mempunyai kewenangan dan cukup kuat bagi kita, bagi rakyat banyak untuk menentukan suatu dunia yang macam apa yang kita inginkan dan macam mana mencapai tujuan semacam itu).
Pendidikan Menurut Thedore Brameld
Robert W. richey menyebutkan bahwa; The term “Education” refers to the broad funcition of preserving and improving the life of the group through bringing new members into its shared concem. Education is thus a far broader process than that which occurs in schools. It is an essential social activity by which communities continue to exist. In Communities this function is specialzed and institutionalized in formal education, but there is always the education, out side the school with which the formal process is related. (Istilah pendidikan mengandung fungsi yang luas dari pemelihara dan perbaikan kehidupan suatu masyarakat, terutama membawa warga masyarakat yang baru mengenal tanggung jawab bersama di dalam masyarakat. Jadi pendidikan adalah suatu proses yang lebih luas daripada proses yang berlangsung di dalam sekolah saja. Pendidikan adalah suatu aktivitas sosial yang memungkinkan masyarakat tetap ada dan berkembang. Di dalam masyarakat yang kompleks, fungsi pendidikan ini mengalami spesialisasi dan melembaga dengan pendidikan formal yang senantiasa tetap berhubungan dengan proses pendidikan informal di luar sekolah).

  • Zubaedi

Zubaedi menyebutkan bahwa
“Character education is the deliberate effort to cultivate virtue that is objectively good human qualities that are good for the individual person and good for the whole society.”



Yang memiliki arti bahwa pendidikan karakter adalah usaha sengaja (sadar) untuk mewujudkan kebajikan, yaitu kualitas kemanusiaan yang baik secara objektif, bukan hanya baik untuk individu perseorangan tetapi juga baik untuk masyarakat secara keseluruhan.

  • Kertajaya

Karakter adalah ciri khas yang dimiliki oleh suatu benda atau individu. Ciri khas tersebut adalah asli dan mengakar pada kepribadian benda atau individu tersebut, serta merupakan “mesin” yang mendorong bagaimana seorang bertindak, bersikap, berucap, dan merespon sesuatu.

  • Donie Koesoema

Donie Koesoema mengungkapkan bahwa pendidikan karakter adalah usaha yang dilakukan secara individu dan sosial dalam menciptakan lingkungan yang kondusif bagi pertumbuhan kebebasan individu itu sendiri.

Faktor Pendidikan Karakter

Faktor lingkungan dalam konteks pendidikan karakter memiliki peran yang sangat peting karena perubahan perilaku peserta didik sebagai hasil dari proses pendidikan karakter sangat ditentunkan oleh faktor lingkungan ini. Dengan kata lain pembentukan dan rekayasa lingkungan yang mencakup diantaranya lingkungan fisik dan budaya sekolah, manajemen sekolah, kurikulum, pendidik, dan metode mengajar. Pembentukan karakter melalui rekasyasa faktor lingkungan dapat dilakukan melalui strategi :

  1. Keteladanan
  2. Intervensi
  3. Pembiasaan yang dilakukan secara Konsisten
  4. Penguatan.

Dengan kata lain perkembangan dan pembentukan karakter memerlukan pengembangan keteladanan yang ditularkan, intervensi melalui proses pembelajaran, pelatihan, pembiasaan terus-menerus dalam jangka panjang yang dilakukan secara konsisten dan penguatan serta harus dibarengi dengan nilai-nilai luhur

Tujuan Pendidikan Karakter

Tujuan edukasi karakter ialah penanaman nilai dalam diri murid dan pembaruan tata kehidupan bareng yang lebih menghargai kemerdekaan individu. Tujuan jangka panjangnya tidak lain ialah mendasarkna diri pada tanggapan aktif kontekstual pribadi atas impuls natural sosial yang diterimanya, yang padagilirannya semakin mempertajam visi hidup yang bakal diraih lewat proses pembentukan diri secara terus-menerus.Tujuan jangka panjang ini adalahpendekatan dialektis yang semakin mendekatkan dengan kenyataa yang idea, melewati proses refleksi dan interaksi secara terus menerus antara idealisme, opsi sarana, dan hasil langsung yang bisa dievaluasi secara objektif.

Pendidikan Karakter pun bertujuan menambah mutu penyelenggaraan dan hasil edukasi di sekolah yang mengarah pada pencapaian pembentukan karakter dan akhlak mulia peserta didik secara utuh, terpadu, dan sebanding sesuai dengan standar kompetensi kelulusan. Melalui edukasi karakter, diinginkan peserta didik dapat secara berdikari meningkatkan dan memakai pengetahuaannya, mengkaji dan menginternalisasi serta mempersonalisasi nilai-nilai karakter dan akhlak mulia sampai-sampai terwujud dalam perilaku sehari-hari.

Pendidikan karakter, pada tingkatan institusi, mengarah pada pembentukan kebiasaan sekolah, yakni nilai-nilai yang melandasi perilaku, tradisi, kelaziman keseharian, dan simbol-simbol yang dipraktikkan oleh seluruh warga sekolah masyarakat sekitar. Budaya sekolah adalahciri khas, karakter atau watak, dan citra sekolah itu di mata masyarakat luas.

Tujuan mulia edukasi karakter ini akan dominan langsung pada prestasi anak didik. Berdasarkan keterangan dari Suyanto, ada sejumlah penelitian yang menjelaskan akibat pendidikan karakter terhadap keberhasilan akademik.

Sebuah kitab yang berjudul Emotional Intelligence and School Succes (Joseph Zink dkk., 2001) mengkompilasikan sekian banyak hasil riset tentang pengaruh positif kepintaran emosi anak terhadap keberhasilan di sekolah. DIkatakan bahwa terdapat sederet faktor-faktor penyebab kegagalan anak di sekolah. Faktor-faktor risiko yang dilafalkan ternyata bukan terletak pada kepintaran otak, namun pada karakter, yakni rasa percaya diri, keterampilan bekerja sama, keterampilan bergaul, keterampilan berkonsentrasi, rasa empati, dan keterampilan berkomunikasi.

Hal tersebut sesuai cocok dengan pendapat Daniel Goleman mengenai keberhasilan seseorang di masyarakat. Menurutnya 80% keberhasilan seseorang di masyarakat diprovokasi oleh kepintaran emosi, dan melulu 20% ditentukan oleh kepintaran otak (IQ). Anak-anak yang memiliki masalah dalam kepintaran emosinya bakal mengalami kendala belajar, bergaul, dan tidak bisa mengontrol emosinya. Anak-anak yang bermasalah ini telah dapat disaksikan sejak umur prasekolah, dan andai tidak ditangani bakal terbawa sampai umur dewasa. Sebaliknya, semua remaja yang berkarakter bakal terhindar dari masalah-masalah umum yang dihadapi oleh remaja.
Beberapa negara yang telah merealisasikan pendidikan karakter sejak edukasi dasar di antaranya ialah Amerika Serikat, Jepang, Cina, dan Korea. Hasil riset di negara-negara ini mengaku bahwa implementasi edukasi karakter yang tersusun secara sistematis dominan positif pada pencapaian akademis.

Manfaat Pendidikan Karakter  :

1. Dalam Lingkungan Keluarga.

a. Anak akan menjadi Pribadi yang hormat dan patuh kepada kedua orang tua atau Berbakti kepada kedua Orang Tua.
b. Membentuk pribadi yang bertanggung jawab kepada anggota keluarga (bagi kepala keluarga).

2. Dalam Lingkup Sosial (masyarakat)

a. Anak akan memiliki hubungan yang baik antar Tetangga, Tenggang Rasa atau Tepo Sliro
b. Anak akan memiliki Jiwa sosial yang baik, Ringan tangan atau suka memberikan bantuan kepada warga yang kekurangan.
c. Anak akan Percaya diri untuk Tampil aktif dalam Organisasi kemasyrakatan.

3. Dalam Lingkungan Pemerintahan (Pengabdian kepada Negara)

a. Jika Bekerja sebagai pegawai Negeri di harapkan menjadi pagawai yang Amanah, tidak menyeleweng jabatan terlebih lagi melakukan KORUPSI.
b. Jika dipercaya Oleh rakyat, Seperti anggota DPR/MPR akan memperjuangkan kepentingan rakyat, bukannya memperjuangkan kepentingan pribadi. seperti potret bangsa kita saat ini bayak anggota Dewan yang terlibat kasus suap dan Penggelapan Dana.
c. Jika di Percaya Jadi Pemimpin Diharapkan menjadi pemimpin yang adil, memperjuangkan hak hak rakyat kecil. Dan yang paling penting menjadi pemimpin yang bisa menegakkan keadilan di Negeri ini, Karena krisis kepercayaan di negeri ini sudah hampir musnah, Karena hukum di negeri ini berlaku terbalik yaitu Tajam Kebawah dan Tumpul Keatas.

Share