cerita rakyat sangkuriang singkat

Cerita Rakyat Sangkuriang Singkat – Gunung Tangkuban Parahu adalah salah satu obyek wisata yang terdapat di Jawa Barat yang terletak di area Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Gunung itu terlihat laksana perahu raksasa yang tertelungkup bila disaksikan dari lokasi wisata itu. Kenapa dinamakan Gunung Tangkuban Parahu? Geografiwan sekaligus Pengamat dan Pecinta Lingkungan, dan dari berbagai sumber menyatakan soal gunung yang dikenal dengan nama Gunung Tangkuban Parahu itu. Menurutnya, gunung itu terlihat bentuknya laksana perahu terbalik sebab ada dua kawah yang bersebelahan antara arah barat dan timur. Artinya, gunung tersebut cuma hanya terlihat laksana perahu terbalik dari arah unsur selatan (Lembang) saja. “Karena terdapat dua kawah yang bersebelahan dengan arah barat dan timur. Jadi, tampak gunung tersebut dari arah unsur selatan seperti perahu terbalik. Itu sebabnya kenapa Gunung Tangkuban Parahu, bentuknya terlihat laksana perahu yang terbalik. Jadi cuma hanya orang yang menyaksikan dari arah unsur selatan yang menyaksikan gunung tersebut seperti perahu yang terbalik.

Tangkuban Perahu tak lepas dari cerita atau dongeng rakyat di daerah tersebut yaitu legenda sangkuriang dikarenakan karena ulah sangkuriang tersebutlah maka terjadilah tangkuban perahu.

Terdapat pesan moral dari cerita ini yaitu bersikaplah untuk jujur karena kejujuran akan membawa kebaikan dan kebahagiaan di kemudian hari. Perbuatan curang akan merugikan diri sendiri serta bisa mendatangkan musibah bagi diri sendiri ataupun orang lain

Sangkuriang

cerita rakyat sangkuriang singkat

 

Pada jaman dahulu kala, terdengarlah kisah dari salah satu putri di jawa berat bernama Dayang Sumbi yang mempunyai anak bernama sangkuriang,pada suatu hari sangkuriang pergi berburu di temani oleh seekor anjing bernama Tumang,tetapi Sangkuriang tidak tahu bahwa anjing itu adalah titisan dewa dan juga sekaligus Bapaknya.
Peda saat berburu Sangkuriang bertemu dangan seekor rusa, Sangkuriang teringat bahwa Ibunya sangat senang hati rusa. Akhirnya Sangkuriang menyuruh Tumang untuk mengejar rusa tersebut, namun Tumang kehilangan jejak rusa tersebut dan Sangkuriang menjadi marah karena Sangkuriang sangat ingin memberikan hati rusa kepada ibunya maka Sangkuriang membunuh Tumang untuk mengambil hatinya dan kemudian ia pulang.
Sesampainya Sangkuriang di rumah ia memberikan hati didapatkanya dari berburu kepada Ibunya untuk di masak. Saat memakanya Dayang Sumbi teringat pada Tumang dan menanyakannya pada Sangkuriang, Sangkuriang menjawab dengan wajah ketakutan “Tumang mati” Dayang Sumbi marah bukan dan memukul kepala Sangkuriang dengan sendok nasi dan mengusirnya dari rumah.
Setelah kejadian itu Dyang Sumbi sangat menyesalinya, ia selalu berdoa dan sangat tekun bertapa hingga suatu hari sang dewata memberikan anugerah kepada Dayang Sumbi yaitu berupa kecantikan abadi dan tidak pernah tua. Setelah di usir Ibunya Sangkuriang berkelana keberbagai tempat, akhirnya Sangkuriang kembali lagi ketempat Dayang Sumbi kemudian kedua orang tersebut pun bertemu.
Sangkuriang akhirnya jatuh hati kepada Dayang Sumbi, Sangkuriang pun melamar Dayang Sumbi dan Dayang Sumbi menerimanya. Pada saat sedang berduan Dayang Sumbi melihat bekas luka di kepala Sangkuriang dan menanyainya kepada Sangkuriang, Sangkuriang menjawab ” ini bekas luka akibat dipukul dengan sendok nasi oleh Ibunya “
mendengar pernyataan tersebut Dayang Sumbi kaget dan memberi tahu sangkuriang bahwa dia adalah Ibunya namun sangkuriang tidak percaya dan tetap berniat menikahinya.
Dayang Sumbi mengajukan permintaan dia minta di buatkan perahu layar dalam sehari tidak buloh lebih, Sangkuriang menyanggupinya dan Sangkuriang membendung sungai Citarum untuk tempat perahunya dalam pembuatanya Sangkuriang mendapatkan bantuan dari jin hasil taklukanya dalam perantauanya, karena bantuan dari jin perahu itupun hampir selesai Dayang Sumbi memohon kepada Dewa. Dayang Sumbi membuat ayam jago berkokok lebih awal, dan akhirnya berhasil jin yang membantu sangkuriang lari ketakutan dan meninggalkan sangkuriang sendirian. Karena kesal perahu itu di tendangnya dan terjatuh diatas gunung dan menyatu dengan gunung dan bernama Gunung Tangkupan Perahu, Sangkuriang akhirnya meninggal karena terjatuh kedalam sungai Citarum.
Share
WhatsApp chat