Pengertian Olahraga Panjat Tebing : Teknik Peralatan Sejarah

Posted on

Sejarah Pengertian Teknik Peralatan Panjat Tebing – Panjat tebing atau istilah asingnya dikenal dengan Rock Climbing adalahsalah satu dari sekian tidak sedikit olah raga alam bebas dan adalahsalah satu unsur dari memanjat gunung yang tidak dapat dilakukan dengan teknik berjalan kaki tetapi harus memakai peralatan dan teknik-teknik tertentu untuk dapat melewatinya. Pada lazimnya panjat tebing dilaksanakan pada wilayah yang berkontur batuan tebing dengan sudut kemiringan menjangkau lebih dari 45o dan memiliki tingkat kendala tertentu.

Pada dasarnya Panjat Tebing ialah suatu olahraga yang mengkhususkan kelenturan dan kekuatan tubuh, kepandaian serta kemampuan baik memakai Peralatan maupun tidak dalam menyiasati tebing tersebut sendiri dengan memanfaatkan cacat batuan.

Sejarah Pengertian Teknik Peralatan Panjat Tebing
Sejarah Pengertian Teknik Peralatan Panjat Tebing

Pengertian Panjat Tebing

Panjat tebing adalah sebuah olahraga ekstrem dan kegiatan rekreasi yang melibatkan pendakian vertikal pada permukaan tebing atau dinding batu dengan menggunakan peralatan khusus. Kegiatan ini menguji kekuatan fisik, keterampilan teknis, konsentrasi, dan ketahanan tubuh. Peralatan yang digunakan dalam panjat tebing meliputi tali, karabiner, sepatu khusus dengan sol karet yang dapat menempel pada dinding batu, serta alat bantu lainnya.

Panjat tebing biasanya dilakukan di tempat-tempat khusus yang disebut jalur panjat tebing atau dinding panjat tebing. Terdapat berbagai jenis panjat tebing, seperti panjat tebing luar ruangan dan panjat tebing dalam ruangan. Panjat tebing luar ruangan biasanya dilakukan di tebing alam atau bukit-bukit dengan dinding yang sesuai. Sementara itu, panjat tebing dalam ruangan dilakukan di fasilitas olahraga yang dirancang khusus, yang seringkali memiliki dinding buatan dengan pegangan buatan.

Selain sebagai olahraga, panjat tebing juga bisa menjadi aktivitas rekreasi yang sangat menantang dan menyenangkan bagi banyak orang. Kegiatan ini dapat melibatkan berbagai tingkat kesulitan, mulai dari yang cocok untuk pemula hingga yang membutuhkan keterampilan dan pengalaman tingkat lanjut. Panjat tebing mempromosikan kebugaran fisik, keterampilan teknis, serta rasa pencapaian dan keberanian dalam mengatasi tantangan fisik dan mental.

Sejarah Panjat Tebing

Sejarah panjat tebing bisa ditelusuri kembali ke zaman prasejarah ketika manusia pertama kali mulai memanjat tebing dan dinding batu dalam upaya untuk bertahan hidup, menjelajah, atau bahkan hanya untuk rekreasi. Panjat tebing awalnya merupakan keterampilan bertahan hidup, eksplorasi, dan transportasi di lingkungan yang kasar. Namun, dalam beberapa abad terakhir, panjat tebing telah berkembang menjadi olahraga yang lebih terstruktur dan populer. Berikut adalah beberapa poin penting dalam sejarah panjat tebing:

  • Awalnya sebagai Keterampilan Bertahan Hidup: Manusia prasejarah mengembangkan keterampilan memanjat tebing dan dinding batu sebagai cara untuk mencari makanan, melindungi diri dari bahaya, atau menjelajahi lingkungan yang sulit diakses.
  • Pendakian Gunung: Selama berabad-abad, manusia telah mendaki gunung sebagai bagian dari eksplorasi dan pencapaian pribadi. Pendakian gunung menjadi salah satu bentuk panjat tebing yang paling terkenal, dengan pendakian tertinggi di dunia, seperti Mount Everest, menjadi tujuan utama bagi para pendaki.
  • Perkembangan Peralatan: Peralatan panjat tebing berkembang seiring berjalannya waktu. Awalnya, alat-alat sederhana digunakan, seperti tali dan carabiner primitif. Namun, dengan kemajuan teknologi, alat-alat panjat tebing menjadi lebih canggih, seperti sepatu panjat tebing yang dirancang khusus dan peralatan keamanan modern.
  • Munculnya Olahraga Panjat Tebing: Pada abad ke-19, panjat tebing mulai menjadi olahraga yang lebih terstruktur, terutama di Eropa. Para pendaki mencari tantangan panjat tebing yang semakin sulit dan menciptakan rute panjat tebing khusus di dinding batu.
  • Pertumbuhan Populeritas: Pada abad ke-20, panjat tebing semakin populer sebagai olahraga rekreasi dan kompetitif. Organisasi panjat tebing, seperti International Federation of Sport Climbing (IFSC), didirikan untuk mengatur kompetisi panjat tebing.
  • Olimpiade: Panjat tebing resmi menjadi bagian dari program Olimpiade pada Olimpiade Tokyo 2020, menandai pengakuan dan penerimaan olahraga ini di tingkat internasional.

Sejarah panjat tebing menunjukkan bagaimana aktivitas yang awalnya muncul sebagai kebutuhan manusia untuk bertahan hidup dan eksplorasi alam liar telah berkembang menjadi olahraga yang sangat kompetitif dan menuntut. Hari ini, panjat tebing merupakan olahraga yang populer di seluruh dunia, dengan banyak pendaki yang mengejar tantangan dalam berbagai bentuknya, termasuk panjat tebing luar ruangan, panjat tebing dalam ruangan, dan pendakian gunung.

  Pengertian Bola Voli Peraturan Ukuran Sejarah Sistem Pertandingan

Olahraga Panjat Tebing di Indonesia

Panjat tebing mulai dikenal di Indonesia pada tahun 1960-an yang lantas berdiri sejumlah kelompok penyuka alam Universitas Indonesia dan Wanadri yang pada tadinya berpokok pada pekerjaan mendaki Gunung.

Baru selama tahun 1975-an Panjat Tebing sah berdiri sendiri. Beberapa orang urgen yang dominan dalam tonggak kebangkitan Panjat Tebing Indonesia antara beda : Harry Suliztiarto, Agus Resmonohadi, Heri Hermanu dan Deddy Hikmat.

Indonesia mengundang 3 pemanjat tebing proffesional asal Negara Prancis pada tahun 1988 lewat kementrian Negara Pemuda dan Olahraga yang berkolaborasi dengan pusat kebudayaan Prancis (CCF).

Patrick Bernhault, Jean Baptise Tribout dan Corrine Lebrune serta seorang instruktur Teknis Panjat Tebing Jean Harau yang lantas memunculkan ilham untuk menegakkan FGT.

Pada tahun 1988 kantor Kementrian Negara Pemuda dan Olahraga berkolaborasi dengan Pusat Kebudayaan Perancis (CCF) mengundang 3pemanjat profesional Perancis yaitu; Patrick Bernhault, Jean Baptise Tribout dan Corrine Lebrune serta seorang instruktur Teknis Panjat Tebing Jean Harau yang lantas memunculkan ilham untuk menegakkan FGTI.

Pada tahun 1989 Federasi Panjat Tebing Gunung Indonesia (FPTGI) sah berdiri. Setelah sebelumnya sekitar40`an orang dari perkumpulan PA yang terdapat di Jakarta, Bandung, Padang, Medan, Semarang, Yogyakarta, Surabaya dan Ujung Pandang menerbitkan ikrar di Tugu Monas tanggal 21 April 1988.

Pada tahun 1992 FPTGI lantas berubah nama menjadi Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) dan lantas FPTI dinyatakan menjadi anggota Union Internationale des Assosiations d`Alpinisme (UIAA) yang mewadahi organisasi panjat tebing dan gunung internasional. UIIA adalahorganisasi olahraga dunia yang bertaggung jawab pada semua pekerjaan olahraga dunia tergolong Olimpiade.

Pada tahun 1994 secara sah FPTI dinyatakan sebagai induk olahraga panjat tebing oleh KONI (Komite Olahraga Nasional Indonesia).

Seiring berjalannya masa-masa olahraga ini terus merasakan peningkatan dalam jumlah penggemar (rockclimber), perangkat dan media berlatih yang semakin maju dan modern juga dalam hal guna kepentingan komersil laksana : fotografi, cleaning gedung tinggi dan beda sebagainya.

Sistem Pemanjatan

  • Himalayan system

Pemanjatan system Himalayan ini ialah pemanjatan yang dilaksanakan dengan teknik terhubungnya antara titik start (ground) dengan pitch / terminal terakhir pemanjatan, hubungan antara titik start dengan pitch ialah menggunakan tali transport, dimana tali tersebut ialah berfungsi agar hubungan antara team pemanjat dengan team yang dibawah bisa terus dilangsungkan tali transport ini bermanfaat juga sebagai lintasan peralihan team pemanjat pun sebagai jlur suplai perlengkapan ataupun yang lainnya

  • Alpen system

Lain halnya dengan system diatas, jadi antara titik start dengan pitch terakhir sama sekali tidak terhubung dengan tali transpot, sampai-sampai jalur pemanjatan ialah sebagai jalur perjalanan yang tidak akan dilalui kembali oleh team yang dibawah. Maka pendakian dengan system ini benar-benar mesti matang perencanaanya sebab semua keperluan yang menyokong dalam pendakian tersubut mesti diangkut pada saat tersebut juga.

Teknik Pemanjatan

  1. Free Climbing yaitu Tehnik memanjat yang hanya menggunakan keterampilan tangan dan kaki, sedangkan peralatan hanya digunakan untuk mengamankan diri pemanjat itu sendiri bila jatuh dan tidak digunakan untuk menambah ketinggian. Biasanya digunakan pada lomba memanjat.
  2. Bouldering yaitu Tehnik pemanjatan yang dilakukan pada tebing-tebing pendek secara rutinitas, biasanya dilakukan untuk melatih kemampuan seorang climber.
  3. Soloing yaitu Tehnik pemanjatan yang dilakukan baik tebing pendek ataupun tinggi dengan sendiri tanpa menggunakan peralatan.
  4. Aid (Artificial) Climbing yaitu biasanya pada tehnik pemanjatan ini, pemanjat menggunakan secara langsung peralatan untuk menambah ketinggian pemanjatannya. Biasanya digunakan pada pembuatan jalur.

Teknik Dasar Panjat Tebing

Seorang pemanjat mesti dapat memahami tebing yang bakal dipanjat, bagaimana kontur tebing tersebut, apa saja perlengkapan yang nantinya bakal dipergunakan, dan kalau dapat tahu secara rinci bagaimana format pegangan dan celah-celah yang terdapat pada tebing itu yang sangat utama pemanjat mesti dapat menilai jalur pemanjatan, teknik pemasangan dan pemakaian peralatan yang benar, urusan tersebut akan menjadi safety standart formalitas dalam pendakian sehingga menjadi support tambahan untuk kesuksesan dalam mengerjakan pemanjatan.

  Pengertian Asimilasi Proses Syarat Tujuan Contoh

Teknik pendakian dikelompokkan cocok bagian dengan tebing yang dimanfaatkan untuk mendapat gaya andalan dan pegangan, yakni :

1. Face Climbing

Yaitu mendaki pada permukaan tebing dimana masih ada tonjolan atau rongga yang mencukupi sebagai pijakan kaki maupun pegangan tangan

2. Friction / Slab Climbing

Teknik ini melulu mengandalkan gaya gesekan sebagai gaya penumpu

3. Fissure Climbing

Teknik ini memanfaatkan celah yang dipakai oleh anggota badan yang seolah-olah bermanfaat sebagai pasak

Dengan teknik demikian dan sejumlah pengembangan, dikenal teknik-teknik inilah ;

a. Jamming

Teknik mendaki dengan memanfaatkan celah yang tidak begitu lebar. Jari-jari tangan, kaki atau tangan bisa dimasukkan / diselipkan pada celah sampai-sampai seolah-olah serupa pasak

b. Chimneying

Teknik mendaki celah vertical yang lumayan besar. Badan masuk diantara celah dan punggung menempel disalah satu sisi tebing. Sebelah kaki menempel pada sisi tebing depan, dan sebelah lagi menempel ke sisi tebing belakang. Kedua tangan ditaruh menempel pula dan menolong mendorong serta menolong menahan berat badan.

c. Bridging

Teknik mendaki pada celah vertikal yang lebih banyak (gullies). Caranya dengan memakai kedua tangan dan kaki sebagai pegangan pada kedua celah tersebut. Posisi badan mengangkang kaki sebagai tumpuan ditolong juga tangan sebagai penjaga keseimbangan.

d. Lay back

Teknik mendaki pada celah vertical dengan memakai tangan dan kaki. Pada kiat ini jari tangan mengait tepi celah itu dengan punggung oleng sedemikian rupa untuk menanam kedua kaki mendorong kedepan dan lantas bergerak naik silih berganti.

e. Hand traverse

Teknik mendaki pada tebing dengan gerak menyamping (horizontal). Hal ini dilaksanakan bila pegangan yang ideal paling minim dan untuk mendaki vertukal telah tidak memungkinkan lagi. Teknik ini paling rawan, dan tidak sedikit memakan tenaga sebab seluruh berat badan tertumpu pada tangan, sedapat barangkali pegangan tangan ditolong dengan pijakan kaki (ujung kaki) supaya berat badan bisa terbagi lebih rata.

f. Mantelself

Teknik mendaki tonjolan-tonjolan (teras-teras kecil) yang letaknya agak tinggi namun lumayan besar guna diandalkan untuk lokasi brdiri selanjutnya. Kedua tangan dgunakan untuk unik berat badan ditolong dengan pergerakan kaki. Bila tonjolan-tonjolan itu setinggi paha atau dada maka posisi tangan berubah dari unik menjadi mengurangi untuk mengngkat berat badan yang ditolong dengan desakan kaki.

Sebagaimana panjat tebing merupakan memanfaatkan cacat batuan guna menambah elevasi sehingga seorang pemanjat dituntut berani, teliti dan terampil pun dalam keterampilan berfikir yang tepat dalam beraksi dengan suasana yang terbatas untuk menciptakan keputusan menyiasati dan memecahkan persoalan yang dihadapi secara tepat, cepat dan aman.

Gerakan Memanjat

Ada beberapa jenis gerakan yang digunakan pada dinding vertikal :

  1. Lay Back yaitu diantara dua tebing yang membentuk sudut tegak lurus, sering dijumpai retakan yang memanjang dari bawah ke atas. Gerakan ke atas untuk kondisi tebing seperti ini adlah dengan mendorong kaki pada tebing dihadapan kita dan menggeser-geserkan tangan pada retakan tersebut keatas secara bergantian pada saat yang sama. Gerakan ini sangat membutuhkan tenaga yang sangat besar.
  2. Chimey yaitu bila kita menemui dua tebing berhadapan yang membentuk suatu celah yang cukup besar untuk memasukkan tubuh, cara yang dilakukan adalah dengan menyandarkan tubuh pada tebing yang satu dan menekan atau mendorong kaki dan tangan pada dinding yang lain. Chimey terbagi atas beberapa macam yaitu Wriggling, Backing Up dan Bridging.
  3. Wriggling yaitu dilakukan pada celah yang tidak terlalu luas sehingga hanya cukup untuk tubuh saja.
  4. Backing Up yaitu dilakukan pada celah yang sangat luas, sehingga badan dapat menyusun dan bergerak lebih bebas.
  5. Bridging yaitu dilakukan pada celah yang sangat lebar sehingga hanya dapat dicapai apabila merentangkan kaki dan tangan selebar-lebarnya.
  6. Traversing yaitu gaya pemanjatan yang dilakukan ke kiri ataupun ke kanan pada saat melakukan perpindahan gerak jalur pemanjatan.
  7. Undercling yaitu dilakukan apabila menghadapi pegangan terbalik, dimana tangan memegangnya secara terbalik dan menarik badan keluar, kemudian kaki naik mendorong badan keluar. Antara dorongan kaki dan tangan saling berlawanan arah sehingga dapat menimbulkan gerakan keatas.
  8. Cheval yaitu dilakukan pada batu yang yang biasa disebut punggungan (arete), pemanjat yang menggunakan cara ini mula-mula dudk seperti penunggang kuda pada arete, lalu dengan kedua tangan menekan bidang batu dibawahnya, ia mengangkat atau memindahkan tubuhnya keatas atau kedepan.
  9. Slab Climbing yaitu pemanjatan yang dilakukan pada tebing licin yang kondisinya tidak terlalu curam.
  10. Mantleshelf yaitu dilakukan apabila menghadapi suatu tonjolan datar (flat) yang luas sehingga dapat menjadi bidang untuk berdiri.
  Contoh Interaksi Sosial Pengertian Syarat Faktor Bentuk

Jenis Pijakan

Friction step yaitu cara menempatkan kaki pada permukaan tebing dengan menggunakan bagian bawah sepatu (sol) dan mengandalkan gesekan karet sepatu.

Edging yaitu cara kerja kaki dengan menggunakan sisi luar kaki (sepatu). Normalnya daerah penggunaan edging pada kaki sebelah kiri.

Smearing yaitu tehnik berdiri pada seluruh pijakan di tebing.
Heel Hooking yaitu tehnik yang digunakan untuk mengatasi pijakan-pijakan yang menggantung ataupun sulit dijangkau oleh tangan, Dengan kata lain kaki dapat di gunakan sebagai pengganti tangan.

Jenis Pegangan

Open grip yaitu pegangan biasa yang mengandalkan tonjolan pada tebing, biasanya di tonjolan tebing yang agak datar dan lebar.

Cling grip (I) yaitu jenisnya sama dengan di atas namun pegangannya agak sedikit lebih kecil dan mirip dengan mencubit.

Cling grip (II) yaitu jenisnya sama dengan diatas tetapi ditambah dengan menggunakan ibu jari untuk menahan kekuatan tangan.
Vertikal grip yaitu pegangan veritkal yang menggunakan berat badan untuk menariknya kebawah.

Pocket grip yaitu pegangan yang biasa digunakan pada tebing batuan limestone (kapur) yang sering banyak lubang.
Pinch grip yaitu pegangan yang digunakan untuk memegang tonjolan pada tebing, bentuknnya seperti mencubit.

Peralatan Panjat Tebing

  • Tali/Carnmantel berfungsi sebagai pengaman pemanjat apabila terjatuh.
  • Webbing.
  • Carabiner
  • Piton
  • Runners
  • Prusik/sling
  • Harness
  • Hammer
  • Tangga
  • Chock stopper
  • Chock hexentric
  • Friend
  • Tri Cam
  • Bolt
  • Jummar
  • Helm
  • Sky Hook/Fifi Hook
  • Chalk bag

Manfaat Panjat Tebing

Panjat tebing adalah olahraga yang memberikan berbagai manfaat, baik dari segi fisik, mental, maupun emosional. Berikut beberapa manfaat utama dari berpartisipasi dalam olahraga panjat tebing:

  • Peningkatan Kekuatan Fisik: Panjat tebing melibatkan banyak kelompok otot tubuh, termasuk otot tangan, kaki, punggung, bahu, dan inti. Ini membantu meningkatkan kekuatan fisik secara keseluruhan.
  • Keterampilan Teknikal: Panjat tebing melibatkan penggunaan keterampilan teknis, seperti perencanaan rute, mengidentifikasi pegangan, dan mengatur pernapasan. Ini dapat meningkatkan koordinasi dan keterampilan motorik.
  • Kardiovaskular dan Ketahanan: Aktivitas panjat tebing yang intensitasnya bervariasi dapat membantu meningkatkan kardiovaskular serta ketahanan fisik. Hal ini dapat membantu meningkatkan daya tahan tubuh.
  • Peningkatan Keseimbangan: Panjat tebing menguji keseimbangan tubuh dan koordinasi. Pengendara harus memahami bagaimana menyeimbangkan tubuh mereka pada pegangan yang sempit atau tidak merata.
  • Fokus dan Konsentrasi: Panjat tebing memerlukan fokus mental yang tinggi. Pendaki harus merencanakan langkah-langkah mereka dengan cermat dan berkonsentrasi pada rute dan pergerakan mereka.
  • Rasa Pencapaian: Mengatasi rute panjat tebing yang sulit atau mencapai puncak dinding dapat memberikan perasaan pencapaian yang kuat dan peningkatan kepercayaan diri.
  • Pengendalian Emosi: Panjat tebing mengajarkan pengendalian emosi dan mengatasi ketakutan. Ini dapat membantu dalam menghadapi tantangan dalam kehidupan sehari-hari.
  • Rekreasi dan Hiburan: Panjat tebing juga dapat menjadi kegiatan rekreasi yang menyenangkan, yang memberikan kesempatan untuk menjelajahi alam bebas dan menikmati keindahan lingkungan alam.
  • Komunitas dan Pertemanan: Banyak komunitas panjat tebing yang solid di seluruh dunia. Ini memberikan kesempatan untuk berinteraksi dengan orang-orang yang memiliki minat yang sama dan membangun pertemanan.
  • Pengalaman Alam Terbuka: Panjat tebing seringkali memungkinkan para pendaki untuk menikmati alam terbuka dan lingkungan alam yang indah. Hal ini dapat meningkatkan rasa koneksi dengan alam dan lingkungan.

Penting untuk diingat bahwa panjat tebing adalah olahraga yang memerlukan pelatihan, penggunaan peralatan yang tepat, dan pemahaman yang baik tentang keselamatan. Sebelum terlibat dalam panjat tebing, disarankan untuk mendapatkan pelatihan dan pendampingan dari instruktur yang berpengalaman, terutama jika Anda pemula.